Anda di halaman 1dari 52

PRE EKLAMPSIA

DEFINISI

Hipertensi yang disertai proteinuria


dan/atau edema yang terjadi setelah
umur kehamilan 20 minggu.
EPIDEMIOLOGI

• 85% dari semua kasus pre eklampsia adalah


wanita nulipara, walaupun morbiditas dan
mortalitasnya lebih tinggi pada multipara dengan
umur tua.
• Wanita berumur < 20 tahun memiliki insiden 5x
lebih besar drpd yang berusia > 20 tahun
• Dari 23 kematian ibu di RS Sanglah selama kurun
waktu 3 tahun (2002 – 2004) ditemukan 6
kematian ibu (26%) yang berhubungan dengan
pre eklampsia / eklampsia.
FAKTOR PREDISPOSISI

• Primigravida
• Hyperplasenta : kehamilan ganda, diabetes
mellitus, mola hidatidosa, hidrops fetalis, bayi
besar
• Pernah menderita preeklampsi/eklampsi, riwayat
keluarga pernah menderita
preeklampsi/eklampsia
• Umur yang ekstrim
• Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang
sudah ada sebelum hamil
PATOGENESIS

1. Teori kegagalan invasi tropoblas (kegagalan


remodeling arteria spirales)
2. Teori iskemik plasenta, radikal bebas, dan
kerusakan endoted
3. Teori maladaptasi imunologik
4. Teori defisiensi mikronutrien
5. Teori Defisiensi Genetik
6. Teori adaptasi kardiovaskular
7. Teori inflamasi
DIAGNOSIS PRE EKLAMPSIA RINGAN

• Hipertensi
– Tekanan darah > 140/90 mmHg dan kurang
dari 160/110
– Kenaikan tekanan darah sistolik > 30 mmHg
– Kenaikan tekanan darah diastolik > 15 mmHg
• Proteinuria 0,3 g/L dalam 24 jam atau
secara kualitatif sampai +2
DIAGNOSIS PRE EKLAMPSIA BERAT
• TD sistol > 160 mmHg dan diastol > 110 mmHg.
• Proteinuria > 5 g/L dalam 24 jam atau kualitatif +4
• Oligouria. Jumlah produksi < 500 cc /24 jam yang disertai
↑ kreatinin darah
• Adanya sindroma HELLP
• Sianosis
• PJT
• Adanya keluhan subjektif
– Gangguan visus: mata berkunang-kunang
– Gangguan serebral: kepalapusing
– Nyeri epigastrium pada kuadran kanan atas abdomen
– Hiperefleks
PENATALAKSANAAN
PRE EKLAMPSIA RINGAN

1. Rawat jalan (UK < 37 minggu)


– Banyak istirahat (berbaring/tidur miring)
– Diet biasa
– Dilakukan pemeriksaan fetal assessment (USG dan
NST) setiap 2 minggu
– Pemeriksaan laboratorium: darah lengkap, homosistein,
urin lengkap, fungsi ginjal, gula darah acak
– Kunjungan ulang setiap 1 minggu
– Jika terdapat peningkatan proteinuria dirawat sebagai
pre eklampsia berat
PRE EKLAMPSIA RINGAN

2. Rawat tinggal
– Kriteria untuk rawat tinggal
• Hasil fetal assessment meragukan atau jelek sehingga dalam hal
ini harus dilakukan terminasi
• Kecenderungan menuju pre eklampsia berat
• Bila dalam 2x kunjungan tidak ada perbaikan (2 minggu)
– Evaluasi atau pengobatan selama rawat tinggal
• Tirah baring total
• Pemeriksaan laboratorium: darah lengkap, homosistein, fungsi
hati/ginjal, urin lengkap
• Dilakukan fetal assessment
• Dilakukan pemeriksaan indeks gestosis
PRE EKLAMPSIA RINGAN

3. Evaluasi hasil pengobatan berdasarkan hasil dari


fetal assessment. Bila didapatkan hasil:
– Jelek, dilakukan terminasi kehamilan
– Ragu-ragu, dilakukan evaluasi tilang NST kesejahteraan
janin, 1 hari kemudian
– Baik
• Penderita dirawat sekurang-kurangnya 4 hari
• Bila preterm penderita dipulangkan
• Bila aterm dengan PS baik (lebih dan 5), dilakukan terminasi
dengan drip oksitosin
PRE EKLAMPSIA RINGAN

– Bila didapatkan keluhan subjektif seperti di


bawah ini, dirawat sebagai pre eklampsia berat
• Nyeri ulu hati
• Mata berkunang-kunang
• Iritabel
• Sakit kepala
– Bila umur kehamilan aterm (lebih dari 37 mg)
Iangsung dilakukan terminasi kehamilan
PRE EKLAMPSIA BERAT

1. Perawatan konservatif
2. Perawatan aktif
PERAWATAN KONSERVATIF
• Bila UK < 37 minggu tanpa adanya keluhan subjektif
dengan keadaan janin baik.
• Pengobatan dilakukan di kamar bersalin (selama 24 jam)
– Tirah baring
– Infus ringer laktat yang mengandung 5% dekstrose, 60-125 cc/jam
– Pemberian MgSO4
– Diberikan antihipertensi
– Pemeriksaan laboratorium tertentu (fungsi hati dan ginjal), dan
jumlah produksi urine 24 jam 6). Konsultasi dengan bagian
penyakit dalam, bagian mata, bagian jantung, dan yang lain
sesuai dengan indikasi
PEMBERIAN MGSO4
• Dosis awal : MgSO4 40% 10 gr (im), dilanjutkan
dengan MgSO4 40% 5 gr (im) tiap 6 jam sampai
dengan 24 jam
• Dosis pemeliharaan: MgSO4 40% 5 gr tiap 6 jam
sampai 24 jam
• Ingat! harus selalu tersedia Ca glukonas 10%
sebagai antidotum
ANTIHIPERTENSI
• Bila sistolik > 180 mmHg atau diastolik >110 mmHg
digunakan injeksi 1 ampul clonidine yang dilarutkan
dengan 10 cc larutan. Mula-mula disuntikan 5 cc perlahan-
lahan selama 5 menit, 5 menit kemudian tekanan darah
diukur, bila belum ada penurunan maka diberikan lagi 5 cc
intravena dalam 5 menit sampai tekanan diastolik normal,
dilanjutkan dengan nifedipine 3x10 mg

• Bila sistolik < 180 mmHg dan diastolik < 110 mmHg
antihipertensi yang diberikan adalah nifedipine 3x10 mg
PERAWATAN KONSERVATIF
• Perawatan konservatif dianggap gagal bila:
– Adanya tanda-tanda impending eklampsia (keluhan
subjektif)
– Kenaikan progresif dari tekanan darah
– Adanya sindroma HELLP
– Adanya kelainan fiingsi ginjal
– Penilaian kesejahteraan janin jelek
PERAWATAN KONSERVATIF

• Penderita boleh pulang bila penderita sudah


mencapai perbaikan dengan tanda-tanda pre
eklampsia ringan, perawatan dilanjutkan sekurang-
kurangnya selama 3 hari lagi
• Bila keadaan penderita tetap, dilakukan
pematangan paru dilanjutkan dengan terminasi
PERAWATAN AKTIF

Indikasi
– Hasil penilaian kesejahteraan janin jelek
– Adanya keluhan subjektif
– Adanya sindroma HELLP
– Kehamilan aterm (sama dengan atau lebih dari 37 mg)
– Apabila perawatan konservatif gagal
– Dalam 24 jam setelah pengobatan konservatif di kamar
bersalin tekanan darah tetap > 160/110 mmHg
PERAWATAN AKTIF

• Pengobatan medisinal
– Segera rawat inap
– Tirah baring miring ke satu sisi
– Infus ringer laktat yang mengandung dekstrose 5%, 60-125 cc/jam
– Pembenan anti kejang MgSO4, dosis awal MgSO4 20%, 4 gr (iv) dan
MgSO4 40% 10 gr (im), dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan
MgSO4 40% 5 g (im) setiap 6 jam s/d 24 jam pasca persalinan
– Pemberian anti hipertensi berupa clonidine (iv) dilanjutkan dengan
nifedipine 3x10 mg atau metildopa 3 x 250 mg, dapat
dipertimbangkan bila:
• Sistolik > 180 mmHg
• Diastolik > 110 mmHg
PERAWATAN AKTIF
• Pengobatan obstetrik
– Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif setiap
penderita dilakukan pemeriksaan kesejahteraan janin
– Tindakan SC dilakukan bila:
• Hasil kesejahteraan janin jelek
• Penderita belum inpartu dengan PS jelek (kurang dari 5)
• Kegagalan drip oksitosin
– Induksi dengan drip oksitosin dikerjakan dengan NST
baik dan PS baik
– Pada pre eklampsia berat persalinan harus terjadi dalam
24 jam
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
ANAMNESIS
ANAMNESIS
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Khusus
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Khusus
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
LABORATORIUM
Darah Lengkap
USG
USG
DIAGNOSIS

TERAPI
LAPORAN OPERASI
LAPORAN OPERASI
PEMBAHASAN
ANAMNESIS

Teori Kasus

.
ANAMNESIS

Teori Kasus
ANAMNESIS

Teori Kasus
PEMERIKSAAN FISIK

Teori Kasus
PEMERIKSAAN FISIK

Teori Kasus
PEMERIKSAAN PENUNJANG (LAB)

Teori Kasus
PEMERIKSAAN PENUNJANG (USG)

Teori Kasus
DIAGNOSIS

Teori Kasus
TERAPI

Teori Kasus
TERAPI

Teori Kasus
KESIMPULAN
TERIMA KASIH