Anda di halaman 1dari 43

UNDANG-UNDANG PERKOPERASIAN

PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Disampaikan oleh :
HENRA SARAGIH, SH.,MH
Kasub Bidang Produk Perundang-undangan Pusat
Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM

Disampaikan pada acara :


Sosialisasi UU Perkoperasian Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
Cirebon, 24-25 November 2014
1
ALASAN PERUBAHAN
Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian selama
ini menunjukan beberapa kekurangan sebagai berikut :

a. Terjadinya krisis identitas dan jatidiri koperasi, yang memerlukan


penegakan kembali jati diri koperasi sebagai dasar dan tuntunan
bagi pemulihan kembali kehidupan perkoperasian.
b. Undang-undang UU no.25/1992 tentang Perkoperasian belum
mampu mengembangkan permodalan dan kredibilitas badan
hukum koperasi.
c. UU no. 25 tahun 1992 kurang mengakomodasi ketentuan
ketentuan yang diperlukan guna mendorong Koperasi menjadi
Badan Hukum yang kuat, efisien, produktif dan bermanfaat
bagi anggota dan masyarakat, sehingga perlu disusun
Rancangan Undang-undang Perubahan atas Undang-undang
Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
BEBERAPA HAL YANG DIATUR DALAM UU NO.17/2012 TENTANG
PERKOPERASIAN

1. Pemuatan Nilai dan Prinsip Koperasi yang 9. Selisih Hasil Usaha (SHU) dan penggunaan
berlaku secara Internasional (pasal 5 - 6) Cadangan untuk menutup defisit usaha (pasal 79)

2. Pendirian Koperasi dengan Akta Notaris(pasal 9) 10. Pencantuman Jenis Koperasi di dalam AD Koperasi
(pasal 82)
3. Nama Koperasi (pasal 17)
11. Jenis Koperasi (4): Produsen, Konsumen, KSP dan
4. Anggota Koperasi sebagai pemilik sekaligus Jasa (pasal 83)
sebagai pelanggan. /pengguna jasa (Pasal 26)
12. KSP harus memperoleh izin Usaha, hanya melayani
5. Keanggotaan Koperasi dicatat dalam Buku Daftar anggota, dapat menjadi peserta program
Anggota (pasal 26) penjaminan simpanan Koperasi. Calon anggota
harus sudah menjadi anggota (selambatnya 3
6. Pengawas mengusulkan dan memberhentikan bulan) (Pasal 88-95)
(sementara) Pengurus (pasal 50)
13. LPS KSP (Pasal 94)
7. Pengurus dipilih dari orang perseorangan, baik
anggota maupun non anggota (pasal 55) 14. Lembaga Pengawasan KSP (Pasal 100)

8. Modal Awal terdiri dari Setoran Pokok (SP) dan 15. Dewan Koperasi Indonesia (pasal 115)
Sertifikat Modal Koperasi (SMK) (pasal 66)
16. Sanksi Administratif (Pasal 120)
Sandingan :
PERANGKAT ORGANISASI KOPERASI
UU NO. 25/1992 UU NO. 17/2012

RAPAT ANGGOTA (RA) RAPAT ANGGOTA (RA)

PENGAWAS PENGAWAS
(Ketua, Sekretaris dan Anggota)

Pengendali

- - - - - PENGURUS - - - - -
PENGURUS
Eksekutif
Alternatif 1 : Dirut dan beberapa
(Ketua, Sekretaris, Bendahara) Direktur (menurut fungsi usaha)

PENGELOLA Alternatif 2 : GM dan beberapa


Manager (menurut fungsi usaha)

4
Arah Pengembangan Jenis – Jenis Koperasi

Akan Sampai Mana.??


Visi Misi Punya pabrik
Ada
Punya produk
Produsen Punya HKI Ijin – Ijin

Akan Sampai Mana.??


Visi Misi Jadi distributor
Konsumen Jadi agen Ada
Jadi pengecer Ijin – Ijin
Punya outlet

Akan Sampai Mana.??


Visi Misi Maskapai
Ada
Jasa Transportasi
Hotel Ijin – Ijin
Dan lain – lain

Akan Sampai Mana.??


Visi Misi Ada
KSP Jelas terpisah
Ijin – Ijin
5
Sinopsis : JENIS KOPERASI

Penyediaan Barang/jasa
kebutuhan anggota dan Penyediaan Jasa Kebutuhan
Non Anggota Anggota dan non anggota Penyediaan layanan SP
hanya Kepada Anggota

KOPERASI KOPERASI
KONSUMEN PRODUSEN
KOPERASI
SIMPAN
KOPERASI PINJAM (KSP)
JASA
Penyediaan Input dan
Pemasaran Hasil
produksi anggota

Sektor
SEKTOR RiiL Keuangan
6
Sandingan Modal Koperasi
UU. NO. 25/1992 UU.NO. 17/2012 (Pasal 66 – 77)
(1) Modal Koperasi terdiri dari modal sendiri dan
modal pinjaman. 1) Modal Awal : Setoran Pokok dan Sertifikat
(2) Modal sendiri dapat berasal dari: Modal Koperasi (SP dan SMK)
a. simpanan pokok;
b. simpanan wajib; 2) Hibah;
c. dana cadangan;
d. hibah.
(3) Modal pinjaman dapat berasal dari: 3) Modal Penyertaan;
a. anggota;
b. Koperasi lainnya dan/atau anggotanya; 4) Selain hal di atas Modal Koperasi dapat
c. bank dan lembaga keuangan lainnya; berasal :
d. penerbitan obligasi dan surat hutang a.Anggota;
lainnya;
e. sumber lain yang sah. b.Koperasi lainnya dan/atau Anggotanya;
c.bank dan lembaga keuangan lainnya;
(4) Selain modal itu Koperasi dapat pula d.penerbitan obligasi dan surat hutang
melakukan pemupukan modal yang berasal lainnya; dan/atau
dari modal penyertaan.
e.Pemerintah dan Pemerintah Daerah
(5) Ketentuan mengenai pemupukan modal yang Ketentuan lebih lanjut mengenai modal Koperasi
berasal dari modal penyertaan diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 sampai dengan
Pasal 76 diatur dalam Peraturan Pemerintah

7
JUDICIAL REVIEW TERHADAP
UU NO. 17 TAHUN 2014
1. 28/PUU-XI/2013 oleh Gabungan Koperasi Pegawai RI
(GKPRI) Jawa Timur, Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD)
Jawa Timur, Pusat Koperasi Wanita (PUSKOPWANJATI) Jawa
Timur, Pusat Koperasi An-Nisa Jawa Timur, Pusat Koperasi
Buera Asakinah Jawa Timur, Gabungan Koperasi Susu
Indonesia (GKSI) Jawa Timur, Agung Haryono (Anggota
KPRI Universitas Negeri Malang) Jawa Timur, dan Mulyono
(Pensiunan Pegawai TELKOM) Jawa Timur.
2. 60/PUU-XI/2013 oleh Suroto, dkk dan Lembaga Bantuan
Hukum (LBH) Jakarta.
3. 65/PUU-XI/2013 oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia
(KNPI) Cimahi-Jawa Barat.
HAL – HAL YANG DIJADIKAN PERTIMBANGAN OLEH
MAHKAMAH KONSTITUSI ATAS PERMOHONAN UJI MATERI
TERHADAP UNDANG – UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2012
TENTANG PERKOPERASIAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

1. Terhadap difinisi Koperasi sesuai Undang – Undang Nomor 17


tahun 2012 (pasal 1 angka 1) yang berbunyi Koperasi adalah
badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan
hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya
sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi
aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial dan
budaya sesuai dengan nilai prinsip koperasi. Oleh Mahkamah
Konstitusi dianggap Koperasi hanya akan menguntungkan
perseorangan, tidak berorientasi pada anggota dan masyarakat.

Hal tersebut tidak benar, karena untuk mendirikan Koperasi harus


20 orang dan dalam definisi disebutkan untuk kepentingan
bersama berdasarkan prinsip dan nilai Koperasi.
2. Pengawas mengusulkan pengurus (Pasal 50 ayat
1 huruf (a)) oleh Mahkamah Konstitusi dianggap
kelebihan dan mengurangi hak anggota dapat
mencalonkan diri sebagai pengurus.
Pengangkatan dan pemberhentian pengurus
ditetapkan dalam Rapat Anggota, sedangkan
sistemnya Anggota dapat mengusulkan kepada
Pengawas untuk diseleksi, selanjutnya untuk
ditetapkan dalam Rapat Anggota.
3. Pengurus dapat dipilih dari orang perseorangan
baik anggota maupun non anggota (Pasal 55 ayat
1) dianggap oleh Mahkamah Konstitusi
mengurangi hak anggota menjadi pengurus.

Hal tesebut tidak tepat, manakala anggota tidak


ada yang memenuhi kwalifikasi kompetensi
untuk mengelola dalam bidang usaha yang
dilakukan oleh Koperasi, maka Pengurus dapat
dipilih dari non anggota dengan persetujuan
Rapat Anggota apabila Rapat Anggota tidak
setuju terhadap pengurus non anggota, maka hal
tersebut tidak akan dilaksanakan, jadi sifatnya
opsional.
4. Pengurus dapat diberhentikan sementara
oleh pengawas (Pasal 63 ayat 1) dianggap
oleh Mahkamah Konstitusi melampaui
kewenangan rapat anggota.

Hal tersebut tidak tepat, karena sifatnya


sementara, dan pengurus diberi kesempatan
membela diri, selanjutnya pemberhentian
pengurus harus mendapat penetapan dari
Rapat Anggota.
5. Setoran pokok dibayarkan oleh anggota pada saat
yang bersangkutan mengajukan sebagai anggota dan
tidak dapat dikembalikan (Pasal 67 ayat 1) dianggap
oleh Mahkamah Konstitusi merampas kepemilikan
anggota.

Hal tersebut tidak benar, bahwa setoran pokok


merupakan uang pendaftaran yang hanya dibayar
sekali dengan nilai nominal yang seminimal
mungkin dan besarnya harus mendapat persetujuan
dari Rapat Anggota, dan tidak dapat dikembalikan
karena dipakai untuk mendukung biaya-biaya
pengeluaran koperasi pada saat pembentukan
koperasi.
6. Setiap anggota koperasi harus membeli Sertifikat
modal koperasi yang jumlah minimumnya
ditetapkan dalam anggaran dasar (Pasal 68 ayat
1), oleh Mahkamah Konstitusi dianggap akan
bepotensi seseorang menguasai koperasi dengan
kepemilikan Sertifikat Modal Koperasi karena
koperasi seolah – olah sudah seperti perseroan
terbatas.
Hal tersebut tidak benar, karena system di
Koperasi 1 anggota 1 suara ( one man one
vote ) bukan berdasar jumlah kepemilikan SMK
7. Koperasi dapat menerima modal penyertaan
dari : masyarakat berdasarkan perjanjian
penempatan modal penyertaan (Pasal 75 ayat
1 huruf (b)) oleh Mahkamah Konstitusi
dianggap sebagai media pihak luar untuk
melakukan intervensi terhadap koperasi.
Hal tersebut tidak benar, karena modal
penyertaan diatur berdasarkan perikatan
perdata pada Pasal 1320 dan 1338 KUH
Perdata.
8. Koperasi dilarang membagikan kepada anggota
Surplus hasil usaha yang berasal dari transaksi
dengan non anggota (Pasal 78 ayat 2) dianggap
oleh Mahkamah Konstitusi mengurangi hak
anggota menikmati Surplus Hasil Usaha (SHU).

Pendapat MK tidak tepat, karena MK tidak


membaca norma yang diatur pada Pasal 78 ayat
(3) UU 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian,
SHU dari non anggota digunakan untuk
meningkatkan pelayanan kepada anggota.
Artinya tetap menikmati secara tidak langsung
dalam bentuk pelayanan.
9. Dalam hal terdapat defisit hasil usaha pada
koperasi simpan pinjam, anggota wajib
menyetor tambahan sertifikat modal koperasi
(Pasal 80) dianggap oleh Mahkamah
Konstitusi ada ketidakadilan.
Hal tersebut wajar bagi KSP untuk menambah
SMK, karena penambahan modal tersebut di
maksudkan untuk selalu mempertahankan
ratio kecukupan modal, yang merupakan
syarat dalam lembaga keuangan.
10.Jenis koperasi dibagi menjadi koperasi
konsumen, koperasi produsen, koperasi jasa
dan koperasi simpan pinjam (Pasal 83), oleh
Mahkamah Konstitusi penentuan jenis
koperasi tersebut merupakan bentuk
pembatasan usaha koperasi.
Pendapat MK tidak tepat, karena Koperasi
diminta untuk memilih jenis yang paling
utama, jadi bisa fokus terhadap kegiatan
usahanya.
KOPERASI PASCA PEMBATALAN
UU NO. 17 TAHUN 2012
Jenis Badan Hukum

Dengan Teritorial
(1) Publik
Tanpa Teritorial

PT
(2) Privat / Perdata Koperasi

Yayasan
20
Hal – hal mendasar yang harus
Dipahami oleh Penggiat Koperasi

21
Prinsip Badan Hukum Privat
1. Punya tujuan (visi, misi)
2. Punya anggota yang

1
sadar sebagai pemilik
3. Punya kekayaan
Koperasi adalah 4. Punya alat kelengkapan
organisasi
Badan Hukum Privat
5. Punya sistem
pengawasan intern
6. Punya usaha yang
utama /
berkesinambungan
7. Punya cara membagi
keuntungan

22
Pelanggan
1. Menuntut pelayanan
2. Tidak peduli dengan bagaimana
perusahaannya

2
3. Tidak memperoleh keuntungan
perusahaan
Pelanggan
&
Pemilik
Pemilik
1. Merasa ikut mendirikan
2. Menggunakan/memanfaatkan
3. Membesarkan
4. Menjaga kelangsungan
hidupnya
5. Memperoleh pembagian
keuntungan
23
- Prinsip Badan Hukum :
a. Didirikan oleh orang
dewasa
b. Ada instansi yang
mengesahkan
c. Diumumkan dalam

3
berita negara
Paguyuban d. Diumumkan dalam
tambahan berita negara
VS e. Tidak dapat bubar
Badan Hukum begitu saja

- Paguyuban tidak mengenal itu


a. Tidak wajib buat laporan
keuangan
b. Tidak wajib audit
c. Tidak wajib pajak
d. Tidak wajib rapat anggota24
- Good System :
a. Aturan mainnya jelas
b. Tidak ada jabatan
bertentangan yang
dirangkap

4
c. Tidak ada pemangku
jabatan yang punya
Good System konflik kepentingan
d. Transparansi, akuntable
&
- Good Person :
Good Person a. Dijabat oleh orang –
orang yang kompeten
sesuai bidang tugasnya
b. Selalu ada capacity
building
c. Mutasi yang terencana
d. Ada jenjang karier
25
- Prinsipnya :
a. Kewenangan diikuti

5
tanggung jawab
b. Kewenangan itu
Check dikontrol
c. Kesalahan diikuti
& dengan sanksi
d. Laporan menjadi suatu
Balance hal yang wajib
e. Tidak ada pengambilan
keputusan tanpa
keputusan tim
f. Tidak ada otoriter

26
1. Perputaran Uang sektor riil

6
Perbedaan
Sektor Riil dan 2. Perputaran Uang sektor
moneter
Sektor Moneter Uang Pinjaman
Uang Angsuran

Uang Tabungan

Uang Pengambilan

3. Tidak dapat
dicampur
27
7
Perbedaan - Badan Hukum adalah :
Legalitas Lembaga
Badan Hukum
& - Ijin Usaha : Legalitas
Ijin Usaha Usaha

28
8
1. Sanksi Administrasi dan
Regulasi
Denda
v.s Law
2. Sanksi Pidana
Enforcement
a. Kurungan
b. Denda

29
1. Produktivitas
KOP

Swasta

9
BUMD
Koperasi Masuk
Mainstream BUMN
Ekonomi Local
Nasional
2. Distribusi atau Pemasaran
KOP

BUMD Swasta

BUMN
30
- Terdiri dari :
a. Simpanan pokok -> rep
pengguna jasa
b. Simpanan wajib -> rep
pemilik
c. Cadangan
d. Hibah

10 Prinsip Ekuitas - Prinsipnya


a. Melekat pada lembaga
sejak berdiri sampai
bubar
b. Tidak boleh diambil tapi
dapat dialihkan
c. Ada instrumen
penghimpunan yang
dinamis
d. Mempunyai nilai tunai
31
Offisialisasi Deofisialisasi Otonomi
- Diklat -

- Pameran -

11
Tahap-Tahap - Study Banding - -
Pengembangan
Koperasi - Bimtek - -

- Dll - Pameran -

- Audit

... % ... % ... %


a. Musuh Koperasi tahun
1940-an
b. Musuh Koperasi tahun
1950-an

12
c. Musuh Koperasi tahun
Tidak Sadar
1960-an
Musuh Koperasi d. Musuh Koperasi tahun
Sudah Berubah 2000-an
- Kuat
- Besar
- Modern
- Asing
- High tech
- Efisien 33
Konspirasi Oligarkhi
Oligarkhi
Oligarkhi Pengusaha
Pengusaha Negara Hitam
Kuning

13
Tujuan

Oligarkhi Oligarkhi /
Pengusaha Undang -Undang Kekuasaan
Mewaspadai Putih

Konspirasi Pemerintah

Oligarkhi Pemburu
Pemburu Potensi
Rente Kekayaan Proyek
Negara

Koperasi
Besar

Rakyat

Koperasi
Kecil

34
Konspirasi Oligarkhi

Oligarkhi
Oligarkhi Pengusaha
Pengusaha
Negara Hitam
Kuning

Tujuan

Oligarkhi Oligarkhi /
Pengusaha Undang -Undang Kekuasaan
Putih

Pemerintah

Potensi Pemburu
Pemburu
Rente Kekayaan Proyek
Negara

Koperasi
Besar

Rakyat

Koperasi
Kecil 35
Mengapa Harus Koperasi
Badan Hukum

Koperasi dapat PT
ijin usaha Dapat Ijin Usaha

• Selamanya tidak akan pindah • Kepemilikan dapat berpindah –


kepemilikan pindah

• Manfaat tidak akan berpindah, tetap • Manfaat bisa jatuh ke


untuk rakyat sekelompok orang tertentu
36
Arah Pengembangan Koperasi

67th ... dst Punya izin


One Entity
One Bussines
Ekuitas Usaha dan One risk
NPWP dengan Efisien
Check yang
KLU yang benar
Good System
& dinamis
& Balance
BH. P Good Person

- Akuntabilitas
- Mematuhi peraturan perundang – undangan
- Tanggung jawab sebagai pengguna dan pemilik BH
67 Tahun - Hak dan kewajiban anggota
- Nilai dan prinsip koperasi
- Azas kekeluargaan

37
STANDAR KEMAMPUAN DAN KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN

- Audit
- Penilaian kesehatan
- Pemeringkatan koperasi
- Perpajakan koperasi
- Proposal pengembangan usaha koperasi
- Sistem Pengawasan Internal Koperasi
5. Laporan keuangan koperasi
4. Managemen
3. ART/Persus – persus internal
2. Perubahan AD Koperasi (P,P,P,P)
1. Pendirian Koperasi
38
SEBAGAI BADAN HUKUM DAN BADAN USAHA
KOPERASI TIDAK CUKUP HANYA MENGERTI URUSAN PERKOPERASIAN SAJA
TETAPI JUGA HARUS MENGERTI UU SEKTOR & UU LAIN DALAM DUNIA USAHA

Keterangan :
I. Persiapan : Kelembagaan, Management, S & P , Modal
II. Memiliki izin usaha
III. Pemantapan aktivitas usaha serta menempatkan
diri sebagai pelaku dunia usaha
IV. Persiapan orientasi produk golbal, pasar global
V. Siap export MEA, Global
I II III IV V
Undang – Undang Lain yang Perlu
Diperhatikan oleh pengelola Koperasi

25/1992 21/2011
Perkoperasian 21/2008 23/2014
OJK
Perbankan 1/2013 6/2014 Pemda
Syariah LKM Desa

10/1998 08/2010 3/2014 7/2014


40/2007
Perbankan PT PPTPPU Perindustrian Perdagangan
(Pencucian Uang)

40
PENGELOLAAN SEBUAH BADAN HUKUM DAN BADAN USAHA
GOOD SYSTEM
(+)

(-) (+)
BAD PERSON GOOD PERSON

(-)
BAD SYSTEM
Penutup
Koperasi Harus Melakukan Transformasi dari :
-Mind set Paguyuban -> Badan Hukum
-Managemen Tradisional -> Modern
-Kegiatan Serba Usaha -> Focus
- Pengelolaan Sambilan -> Full Time
- Semaunya -> Comply Regulasi

“Koperasi sebagai Badan Hukum


harus selalu melakukan self improvment”
42
43