Anda di halaman 1dari 36

KLASIFIKASI PENYAKIT MALARIA

 MALARIA TROPIKA
(P. falciparum)
 MALARIA TERSIANA
(P. vivax dan P. ovale )
 MALARIA KUARTANA
(P. malariae)
SIKLUS HIDUP PLASMODIUM
KLASIFIKASI ANTIMALARIA
 SKIZONTOSID JARINGAN
- Kloroguanid
 SKIZONTOSID DARAH;
- klorokuin
- kuinin
- meflokuin
- halofantrin
- qinghaosu (artemisinin)
- Antifolat dan antibiotik (kurang efektif dan lambat)
 GAMETOSID
- Klorokuin dan kina
 SPORONTOSID
- primakuin dan kloroguanid
KLOROKUIN
 AKTIVITAS ANTIMALARIA
 hanya efektif terhadap parasit dalam fase eritrosit
 P. vivax, P. malariae, P. ovale dan P. falciparum yang sensitif
klorokuin
 MEKANISME KERJA
 Menghambat aktivitas polimerase heme plasmodia
 HEME PLASMODIA
 Heme plasmodia berperan dalam mendetoksifikasi heme
ferriprotoporphyrin IX menjadi bentuk hemozoin yang toksik
 Heme merupakan senyawa yang bersifat membranolitik dan
terbentuk dari pemecahan hemoglobin di vakuol makanan
parasit. Peningkatan heme di dalam parasit menimbulkan
lisis membran parasit.
KLOROKUIN …………
 RESISTENSI
 banyak ditemukan pada P. falciparum.
 melibatkan berbagai mekanisme genetik yang kompleks dan masih
diteliti hingga kini.
 verapamil, desipramin, dan klorfeniramin dapat memulihkan
sensitivitas plasmodium yang resisten terhadap klorokuin, tetapi
Memerlukan penelitian lebih lanjut
KLOROKUIN …………
 FARMAKOKINETIK
 Absorpsi p.o. lengkap dan cepat dan makanan mempercepat
absorpsi ini
 Kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 3-5 jam.
 Banyak diikat di jaringan terutama di hati, limpa, ginjal, paru,
dan jaringan bermelanin
 Metabolisme dalam tubuh berlangsung lambat sekali dan
diekskresi melalui urin.
 Metabolit utamanya, monodesetil klorokuin, juga
mempunyai aktivitas anti malaria.
 Sejumlah kecil klorokuin masih ditemukan dalam urin
bertahun-tahun setelah pemberian dihentikan.
KLOROKUIN …………
EFEK SAMPING
 sakit kepala ringan, gangguan pencernaan, gangguan
penglihatan, dan gatal-gatal
 Pengobatan kronik sebagai terapi supresi juga menimbulkan
sakit kepala, penglihatan kabur, diplopia, erupsi kulit likenoid,
rambut putih dan perubahan gambaran EKG.
 Pemberian >250 mg/hari untuk jangka lama dapat
menimbulkan ototoksisitas dan retinopati yang menetap.
Retinopati ini diduga berhubungan dengan akumulasi klorokuin
di jaringan yang kaya melanin.
 Dosis tinggi parenteral yang diberikan secara cepat dapat
menimbulkan toksisitas terutama pada sistem kardiovaskular
berupa hipotensi, vasodilatasi, penekanan fungsi miokard, yang
pada akhirnya dapat menimbulkan henti jantung
KLOROKUIN …………
 KONTRAINDIKASI
 hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, gangguan
saluran cema, neurologik dan darah yang berat
 Pada pasien dengan defisiensi G6PD, dapat rnenyebabkan
hemolisis
PIRIMETAMIN
 Dibanding proguanil
 merupakan skizontosid darah kerja lambat yang mirip
 lebih kuat karena bekerja langsung
 waktu paruh lebih panjang.
 dapat diberikan seminggu sekali, sedangkan proguanil harus
diberikan setiap hari.
 Kombinasi dengan Sulfadoksin digunakan untuk
profilaksis dan supresi malaria, terutama karena strain P.
falciparum yang resisten klorokuin.
 tidak memperlihatkan efektivitas yang jelas terhadap P.
falciparum di jaringan hati.
 Tidak dapat memusnahkan gametosit semua jenis
plasmodia
PIRIMETAMIN…………
 MEKANISME KERJA
 menghambat enzim dihidrofolat reduktase plasmodia
 bekerja dalam rangkaian reaksi sintesis purin, sehingga
penghambatannya menyebabkan gagalnya pembelahan inti
pada pertumbuhan skizon dalam hati dan eritrosit.

 RESISTENSI
 pada penggunaan yang berlebihan dan jangka lama
 mutasi pada gen-gen yang menghasilkan perubahan asam
amino sehingga mengakibatkan penurunan afinitas
pirimetamin terhadap enzim dihidrofolat reduktase
plasmodia.
PIRIMETAMIN…………
 FARMAKOKINETIK
 Penyerapan di saluran cerna berlangsung lambat tetapi
lengkap.
 Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma dicapai dalam
waktu 4-6 jam.
 Konsentrasi obat yang berefek supresi dapat menetap di
dalam darah selama kira-kira 2 minggu.
 Obat ini ditimbun terutama di ginjal, paru, hati, dan limpa,
 ekskresi lambat dengan waktu paruh kira-kira 4 hari.
 Metabolitnya diekskresi melalui urin.
PIRIMETAMIN…………
 EFEK SAMPING DAN KONTRA INDIKASI
 Pada dosis besar dapat terjadi anemia makrositik Gejala ini
akan hilang bila pengobatan dihentikan, atau dengan
pemberian asam folinat (leukovorin).
 Untuk mencegah anemia, trombositopenia, dan leukopenia,
leukovorin ini dapat pula diberikan bersamaan dengan
pirimetamin
 Pirimetamin dosis tinggi bersifat teratogenik pada hewan
coba, tetapi pada manusia belum terbukti. Pemberian
pirimetamin sebaiknya disertai pemberian suplemen asam
folat.
PRIMAKUIN
 AKTIVITAS ANTIMALARIA
 penyembuhan radikal malaria vivaks dan ovale, karena
bentuk laten jaringan plasmodia ini dapat dihancurkan oleh
primakuin.
 memperlihatkan aktivitas terhadap fase eritrosit. Malaria
vivaks
 Golongan 8-aminokuinolin memperlihatkan efek
gametosidal terhadap ke 4 jenis plasmodium, terutama P.
falciparum.
PRIMAKUIN…………
 MEKANISME ANTIMALARIA
 Kemungkinan yang terjadi adalah primakuin berubah
menjadi elektrofil yang bekerja sebagai mediator oksidasi-
reduksi.
 membantu aktivitas antimalaria melalui pembentukan
oksigen reaktif atau mempengaruhi transportasi elektron
parasit.
 RESISTENSI
 Beberapa strain P. vivax telah resisten
 Bentuk skizon jaringan dari strain ini tidak dapat lagi
dimusnahkan dengan pengobatan standard tunggal, tetapi
pengobatan berulang dengan dosis yang ditinggikan
misalnya 30 mg primakuin basa per hari selama 14 hari untuk
penyembuhan radikai
PRIMAKUIN…………
 FARMAKOKINETIK
 Setelah pemberian p.o. segera diabsorpsi, dan didistribusikan
luas ke jaringan.
 Primakuin tidak pernah diberikan parenteral karena dapat
mencetuskan terjadinya hipotensi yang nyata
 Metabolisme beriangsung cepat dan hanya sebagian kecil
diekskresi ke urin dalam bentuk asal.
PRIMAKUIN…………

 EFEK SAMPING
 yang paling berat adalah anemia hemolitik akut pada pasien
yang mengalami defisiensi ehzim glukosa-6-fosfat dehi-
drogenase (G6PD)
 Hemolisis kadang-kadang terjadi pada pasien
hemoglobinopati tertentu atau gangguan metabolisme
glukosa dalam eritrosit.
 Pada dosis yang lebih tinggi dapat timbul spasme usus dan
gangguan lambung.
PRIMAKUIN…………

 KONTRAINDIKASI
 pasien dengan penyakit sistemik yang berat yang cenderung
mengalami granulositopenia misalnya artritis reumatoid dan
lupus eritematosus
 Tidak dianjurkan diberikan bersamaan dengan obat lain yang
dapat menimbulkan hemolisis dan obat yang`dapat
menyebabkan depresi sumsum tulang
KINA DAN ALKALOID SINKONA
 Kina (kuinin) ialah alkaloid penting yang diperoleh dari
kulit pohon sinkona
 kina sudah dapat disintesis, tetapi cara pembuatannya
sulit dan mahal sehingga sumber alam masih tetap
dipertahankan
 Kina mengandung 2 pasang isomer, kina dan kuinidin
serta sinkonin dan sinkonidin
 Kuinidin sebagai antimalaria lebih kuat dari kina, tetapi
juga tebih toksik.
KINA ALKALOID DAN SINKONA…………

 MEKANISME KERJA
 gugus kuinolin yang dimiliki bekerja di dalam organel
melalui penghambatan aktivitas heme polimerase,
sehingga terjadi penumpukan substrat yang bersifat
sitotoksik yaitu heme
 merupakan base lemah, sehingga memiliki kepekatan
yang tinggi di dalam vakuola makanan P. falciparum.
KINA ALKALOID DAN SINKONA…………
 FARMAKODINAMIK
 berefek skizontosid darah dan juga berefek
gametositosid terhadap P. vivax clan P. malariae, tetapi
tidak untuk P. falciparum.
 Untuk terapi supresi dan pengobatan serangan klinis,
kedudukan kina sudah tergeser oleh antimalaria lain
yang lebih aman dan efektif
 kina bersama pirimetamin dan sulfadoksin masih
merupakan regimen terpilih untuk P. falciparum yang
resisten terhadap klorokuin
 tidak digunakan untuk profilaksis malaria
KINA ALKALOID DAN SINKONA…………
 FARMAKOKINETIK
 diserap baik terutama melalui usus halus bagian atas
 Distribusinya luas, tetapi kurang ke paru, ginjal, dan
limpa serta menembus sawar uri.
 Sebagian besar di metabolisme di hati, sehingga yang
diekskresi dalam bentuk utuh di urin hanya sedikit
sekali.
 Pada infeksi akut terjadi peningkatan α1 glycoprotein
yang mengikat fraksi bebas konsentrasi plasma,
menurun menjadi 5-10%. Hal ini dapat mengurangi
toksisitas, tapi juga dapat mengurangi keberhasilan
terapi, bila kadar bebasnya sampai di bawah KHM
KINA ALKALOID DAN SINKONA…………
EFEK SAMPING
 sering menyebabkan sinkronisme, yang gejalanya mirip salisilismus
yaitu tinea pedis , sakit kepala, gangguan pendengaran, pandangan
kabur, diare dan mual.
 Pada orang yang hiperreaktif, sinkronisme terjadi setelah dosis
pertama, tetapi biasanya ringan berupa rona (flushing), gatal-gatal,
dan bercak merah (rash), demam, gangguan lambung, sesak napas,
gangguan pendengaran dan penglihatan.
 Kadang-kadang timbul idiosinkrasi berupa hemogiobinemia dan
asma.
 reaksi hipersensitivitas kina dapat terjadi pada pasien malaria yang
hamil.
 Kina dan kuinidin merupakan perangsang kuat sel pankreas,
sehingga terjadi hiperinsulinemia dan hipoglikemia berat.
KINA ALKALOID DAN SINKONA…………
INDIKASI
 Terapi malaria P. falciparum yang resisten terhadap klorokuin,
secara oral, dan biasanya dikombinasi dengan doksisiklin, atau
klindamisin atau sulfadoksinpirimetamin. Jika gagal (setelah 48
jam ) dosis diturunkan 30%-50% untuk mencegah akumulasi
dan toksisitas obat.
ANTIMALARIA LAIN
PROGUANIL
 Proguanil atau kloroguanid merupakan turunan
biguanid yang berefek skizontosid mefalui mekanisme
antifolat.
 Penggunaan mudah dan hampir tanpa efek sampling.
 mudah sekali timbul resistensi
 Untuk profilaksis, dipakai dalam kombinasi dengan
klorokuin sebagai regimen altematif untuk meflokuin.
ANTIMALARIA LAIN…………
MEFLOKUIN
 Untuk mencegah dan mengobati malaria yang resisten
klorokuin dan P. falciparum yang resisten dengan banyak
obat.
 Tidak diindikasikan untuk mengobati malaria falsiparum
berat.
 Meflokuin memiliki aktivitas skizontosid darah yang kuat
terhadap P. falciparum clan P. vivax, tetapi tidak aktif
terhadap fase eksoeritrosit clan gametosit.
 Mekanisme kerja mirip dengan kuinin.
 hanya diberikan secara oral, karena pemberian parenteral
dapat menyebabkan iritasi lokal yang berat.
ANTIMALARIA LAIN…………
HALOFANTRIN
 Merupakan fenantrena metanol yang secara struktur mirip
dengan kina
 Digunakan sebagai pilihan selain kina dan meflokuin
untuk mengobati serangan akut malaria yang resisten
klorokuin dan P. falciparum yang resisten terhadap
berbagai obat.
 Efektivitas tinggi sebagai skizontosid darah, tetapi tidak
untuk fase eksoeritrosit dan gametosit
ANTIMALARIA LAIN…………
TETRASIKLIN
 Doksisiklin digunakan untuk profilaksis bagi daerah-
daerah endemik yang terjangkit P. falciparum yang resisten
dengan berbagai obat.
 Digunakan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan
malaria falciparum yang resisten terhadap klorokuin tanpa
komplikasi, dengan dosis 2 kali 100 mg/hari per oral selama
7 hari.
 Doksisiklin tidak dianjurkan diberikan pada anak usia
kurang 8 tahun, wanita hamil dan mereka yang
hipersensitif terhadap tetrasiklin.
ANTIMALARIA LAIN…………
KOMBINASI SULFADOKSINPIRIMETAMIN
 Mekanisme kerja : mencegah pembentukan asam folinat (asam
tetrahidrofolat) dari PABA pada plasmodia.
 Penggunaan :
 P. falciparum yang sudah resisten terhadap klorokuin.
 Sebagai terapi tambahan untuk kina dalam mengatasi
serangan akut malaria, guna memperpendek masa pemberian
kina serta mengurangi toksisitasnya.
 Terapi presumptif untuk malaria falsiparum.
 Kontraindikasi :
 Penggunaan rutin untuk keperluan kemoprofilaksis malaria
 Ibu menyusui, anak berusia <2 bulan, clan pasien yang
mempunyai riwayat bereaksi buruk terhadap sulfonamid.
ANTIMALARIA LAIN…………
ARTEMISININ DAN DERIVATNYA
 merupakan senyawa trioksan yang diekstrak dari tanaman
Artemisia annua (qinghaosu).
 Menunjukkan sifat skizontosid darah yang cepat in vitro
maupun in vivo sehingga digunakan untuk malaria yang
berat.
 ikatan endoperoksida dalam senyawa ini berperan dalam
penghambatan sintesis protein
 Obat yang paling efektif, aman, dan kerjanya cepat untuk
kasus malaria berat terutama yang disebabkan oleh P.
falciparum yang resisten tefiadap klorokuin dan obat-obat
lainnya, serta efektif untuk malaria serebral.
ANTIMALARIA UNTUK TERAPI SLE
 Terapi antimalaria kadang-kadang dapat efektif apabila OAINS
tidak dapat mengendalikan gejala-gejala SLE.
 Diberikan dosis tinggi untuk memperoleh keadaan remisi.
 Antimalaria dapat mengatasi beberapa manifestasi klinis,
seperti arthalgia, pleuritis, inflamasi pericardial, fatique, dan
leukopenia.
 Mekanisme antimalaria diduga menggangu aktivitas limfosit T
dan mengurangi produksi zat radang lain yang disebut sitokin.
 Dosis dan durasi penggunaan tergantung dari respon pasien,
toleransi terhadap efek samping, dan potensi terjadinya
toksisitas renal yang dapat terjadi pada penggunaan jangka
panjang.
 Efektivitas antimalaria terhadap SLE bekerja dengan
cara menganggu pemprosesan antigen di makrofag
dan sel penyaji antigen yang lain dengan
meningkatkan PH di vakuola lisosomal, juga
menghambat fagositosis, migrasi netrofil dan
metabolisme membran fosfolipid
 Antimalaria dideposit didalam kulit dan mengabsorbsi
sinar UV.
 Obat-obat antimalaria sangat baik untuk mengatasi
lupus kutaneus, baik lupus kutaneus subakut, maupun
lupus diskoid.
 Antimalaria mempunyai efek sunblocking,
antiinflamasi, dan imunosupresan.
 Pada penderita yang resisten terhadap antimalaria,
dapat dipertimbangkan pemberikan glukokortikoid
sistemik
 Pada pasien SLE dapat diberikan antimalaria 1x 1 tablet
klorokuin 250 mg dimana dalam 250 mg klorokuin
terdapat 150 mg klororokuin basa