Anda di halaman 1dari 12

“Apoteker Salah Beri Obat, Pensiunan Ini

Meninggal Beberapa Hari Kemudian”

KELOMPOK 1 :

ABU HASAN ALHASRI ( 1401001)


AFIFATUS SHOLIHAH (1401002)
EGY MEITRIANING YUDHIATI( 1401015)
MUTHUIA (1401031)
RESA ENELIA (1401044)

DOSEN PEMBIMBING : ERNIZA PRATIWI, M.Farm,Apt


 Pasien bernama Edlie George Masters (83) sungguh tragis. Ia
meninggal beberapa hari setelah apoteker langganannya keliru
memberikan obat resep.Masters yang merupakan seorang pensiunan
ini awalnya meminta parasetamol untuk meredakan nyeri pada
kakinya yang sakit. Tak sanggup berjalan untuk membeli obat, ia
pun menelepon apotek di area dekat rumahnya untuk memesan obat.

 Sang apoteker yang bertugas kala itu, Matthew Hurcomb, menerima


resep tersebut. Ia datang beberapa jam kemudian, tapi kemudian tak
ada jawaban dari rumah Masters. Hurcomb pun kembali ke apotek.
Malam harinya, Hurcomb berniat mengantarkan kembali obat
pesanan ke rumah Masters. Namun sayangnya, ia keliru
mengambil obat dan tak memeriksa nama pasien yang tertera.
Alih-alih parasetamol, Hurcomb justru memberikan
obat Verapamil. Obat ini sendiri biasanya diresepkan
untuk mengobati tekanan darah tinggi. Ketika kemudian
Hurcomb menyadari kesalahannya, ia kembali melaju ke
rumah Masters dan meyakinkannya bahwa meskipun salah
tapi obat Verapamil tersebut tidak akan memberi efek yang
merugikan.

Namun beberapa jam kemudian Masters mengeluh sesak


napas dan dilarikan ke Birmingham City Hospital keesokan
harinya. Tragisnya, kakek dari 8 orang cucu ini meninggal
dunia sekitar lima hari kemudian karena kerusakan pada
ginjalnya.Koroner setempat menyatakan Masters
meninggal sebagai akibat dari adanya interaksi antara
Verapamil dan obat-obatan yang biasanya ia konsumsi.
Jenis Pelanggaran Yang Dilakukan

Ada dua hal yang menjadi pokok permasalahan dalam kasus


tersebut, berikut permasalahan yang dilakukan :

1.Sebelum memberikan obat,apoteker tidak memeriksa nama pasien


terlebih dahulu

2.Apoteker salah memberikan obat,seharusnya parasetamol,teteapi yang


diberikan adalah verapamil
Dasar Hukum Pelanggaran

Dalam Studi kasus diatas perbuatan yang dilakukan oleh


apoteker merupakan pelanggaran karena bertentangan dengan
peraturan perundangan yang berlaku, yang dalam hal ini diatur
dalam :

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK


INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 STANDAR
PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36


TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35
TAHUN 2014

Standar yang dipersyaratkan ini menjadi tolak


ukur untuk menilai kelalaian apoteker dalam memberikan
obat. Secara umum, standar-standar pelayanan
Kefarmasian itu antara lain adalah:

1.Peran Apoteker dituntut untuk meningkatkan


pengetahuan, keterampilan, dan perilaku agar dapat
melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk
interaksi tersebut antara lain adalahpemberian informasi
obat dan konseling kepada pasien yang membutuhkan.
LANJUTAN . . . .

2.Apoteker harus memahami dan menyadari


kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan
(medication error) dalam proses pelayanan dan
mengidentifikasi,mencegah, mengatasi masalah
terkait Obat (drug related problems), masalah
farmakoekonomi,dan farmasi sosial
(sociopharmacoeconomy)
Sedangkan secara khusus ( PASAL 3 AYAT 3) , terkait
pemberian obat, standar pelayanan kefarmasian atau yang khususnya
dikenal sebagai Pelayanan farmasi klinik yang wajib dipatuhi apoteker
adalah:
1. Pengkajian Resep (administrasi, kesesuaian farmasetik dan
pertimbangan klinis)

2. dispensing ( penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi obat)

3. Pelayanan Informasi Obat (PIO);

4. konseling;

5. Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care);

6. Pemantauan Terapi Obat (PTO); dan

7. Monitoring Efek Samping Obat (MESO).


Dari KETUJUH pelayanan farmasi klinik di atas, terkait
dengan kasus ini , kami akan berfokus pada poin kedua
tentang penyerahan obat. Inilah hal-hal yang wajib dilakukan
apoteker setelah penyiapan obat dan menyerahkan obat
kepada pasien :

1. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan


pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket,
cara penggunaan serta jenis dan jumlah obat (kesesuaian antara
penulisan etiket dengan resep);

2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;

3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;

4. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat;


5. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang
terkait dengan obat antara lain manfaat obat, makanan dan
minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara
penyimpanan obat dan lain-lain;

6. Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan


cara yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat
mungkin emosinya tidak stabil;

7. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau


keluarganya;

8. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf


oleh apoteker (apabila diperlukan);

9. Menyimpan resep pada tempatnya;

10. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien.


KODE ETIK APOTEKER INDONESIA

Di samping itu, profesi apoteker juga


mengacu pada Kode Etik Apoteker Indonesia dan
apabila apoteker lalai dalam melaksanakan kewajiban
dan tugasnya maka apoteker dapat dikenakan sanksi
oleh Ikatan Apoteker Indonesia. Pasal 9 KODE ETIK
APTEKER INDONESIA: seorang apoteker dalam
melakukan praktik krfarmasian harus mengutamakan
kepentingan masyarakat,menghormati hak asai pasien
dan melindungi makhluk insani .
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN

Pasien yang dirugikan dapat melaporkan apoteker yang


bersangkutan kepada pihak berwajib untuk diproses secara
pidana atau melakukan gugatan. BAB XX KETENTUAN
PIDANA : Pasal 190 Dalam hal perbuatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya
kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan
kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).