Anda di halaman 1dari 18

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

(KDRT)
Oleh :
Fahmi Arifatul (1502450046)
Widya Iswara (1502450047)
Lutfiantika P. (1502450048)
Pengertian

Menurut Hasbianto bahwa


kekerasan dalam rumah
tangga adalah suatu bentuk
penganiayaan secara fisik
maupun emosional atau
psikologis, yang merupakan
suatu cara pengontrolan
terhadap pasangan dalam
kehidupan rumah tangga
Bentuk-Bentuk Kekerasan dalam
Rumah Tangga

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004


tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah
tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :
1. Kekerasan Fisik
a. Kekerasan fisik berat
 Cedera berat
 Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari
 Pingsan
 Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit
disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati.
 Kehilangan salah satu panca indera.
 Mendapat cacat.
 Menderita sakit lumpuh.
 Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih
 Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.
 Kematian korban.
b. Kekerasan fisik ringan, berupa menampar,
menjambak, mendorong, dan perbuatan
lainnya yang mengakibatkan:
 Cedera ringan
 Rasa sakit dan luka fisik yang tidak masuk
dalam kategori berat
 Melakukan repitisi kekerasan fisik ringan
dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan
berat
2. Kekerasan Psikis

a. Kekerasan psikis berat


 berupa tindakan pengendalian
 manipulasi
 eksploitasi
 kesewenangan
 perendahan dan penghinaan dalam bentuk pelarangan,
pemaksaan dan isolasi sosial
 tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau
menghina
 penguntitan
 kekerasan dan atau ancaman kekerasan fisik
 seksual dan ekonomis
b. Kekerasan psikis ringan

 a) Ketakutan dan perasaan terteror.


 b) Rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri,
hilangnya kemampuan untuk bertindak
 c) Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi
seksual
 d) Gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya, sakit
kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis)
 e) Fobia
3. Kekerasan Seksual

a. Kekerasan seksual berat


 Pelecehan seksual dengan kontak fisik
 Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban
atau pada saat korban tidak menghendaki.
 Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai,
merendahkan dan atau menyakitkan.
 Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk
tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu.
 Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan
posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi.
 Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa
bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera.
b. Kekerasan seksual ringan
berupa pelecehan seksual secara verbal seperti
 komentar verbal
 gurauan porno
 Siulan
 ejekan dan julukan dan atau secara non verbal,
seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun
perbuatan lainnya yang meminta perhatian
seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat
melecehkan dan atau menghina korban.
4. Kekerasan Ekonomi

Kekerasan ekonomi mencakup


penelantaran dalam rumah tangga
dan juga mengakomodasi
pelarangan bekerja yang
menyebabkan ketergantungan
ekonomi.
Faktor-faktor Penyebab Kekerasan
dalam Rumah Tangga
 Pembelaan atas kekuasaan laki-laki
Diskriminasi dan pembatasan dibidang
ekonomi
Beban pengasuhan anak
Wanita sebagai anak-anak
 Orientasi peradilan pidana pada laki-laki
Cara Penanggulangan Kekerasan
dalam Rumah Tangga

Pendekatan kuratif Pendekatan Preventif


Perlindungan bagi Korban KDRT
1. Perlindungan oleh kepolisian berupa perlindungan
sementara yang diberikan paling lama 7 (tujuh) hari,
dan dalam waktu 1 X 24 jam sejak memberikan
perlindungan, kepolisian wajib meminta surat
penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
2. Perlindungan oleh advokat diberikan dalam bentuk
konsultasi hukum, melakukan mediasi dan negosiasi di
antara pihak termasuk keluarga korban dan keluarga
pelaku (mediasi), dan mendampingi korban di tingkat
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dalam
sidang pengadilan (litigasi), melakukan koordinasi
dengan sesama penegak hukum, relawan pendamping,
dan pekerja sosial(kerja sama dan kemitraan).
3. Perlindungan dengan penetapan pengadilan dikeluarkan dalam
bentuk perintah perlindungan yang diberikan selama 1 (satu)
tahun dan dapat diperpanjang.
4. Pelayanan tenaga kesehatan penting sekali artinya terutama
dalam upaya pemberian sanksi terhadap pelaku KDRT. Tenaga
kesehatan sesuai profesinya wajib memberikan laporan tertulis
hasil pemeriksaan medis dan membuat visum et repertum atas
permintaan penyidik kepolisian atau membuat surat keterangan
medis lainnya yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat
bukti.
5. Pelayanan relawan pendamping diberikan kepada korban
mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan seorang atau
beberapa relawan pendamping
6. Pelayanan pekerja sosial diberikan dalam bentuk
konseling untuk menguatkan dan memberi rasa aman
bagi korban, memberikan informasi mengenai hak-hak
korban untuk mendapatkan perlindungan, serta
mengantarkan koordinasi dengan institusi dan
lembaga terkait.
7. Pelayanan oleh pembimbing rohani diberikan untuk
memberikan penjelasan mengenai hak, kewajiban dan
memberikan penguatan iman dan takwa kepada
korban.
Pengertian KDRT menurut UU

Menurut Pasal 1 dari Undang-Undang No. 23 Tahun


2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
Tangga (PKDRT), kekerasan adalah setiap perbuatan
terhadap seseorang terutama perempuan, yang
berkaitan timbulnya kesengsaraan atau penderitaan
secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran
rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.
Penegakan hukum KDRT ditinjau dalam
Prespektif Sosiologis Hukum
• Pendekatan sosiologi hukum menunjukan bahwa
hukum Negara bukanlah satu-satunya acuan
berperilaku dalam masyarakat. Dalam kenyataannya,
“hukum-hukum” lain yang menjadi acuan berprilaku
tersebut justru diikuti secara efektif oleh masyarakat,
dikarenakan hukum itulah yang mereka kenal, hidup
dalam wilayah sendiri, diwariskan secara turun-
temurun dan mudah diikuti dalam pratik sehari-hari.
Sukar untuk mereka bayangkan bahwa ada hukum lain
yang lebih dapat diandalkan daripada hukum yang
mereka miliki sendiri, terlebih bila hukum datang dari
domain yang “ asing”, yang mengklaim diri sebagai
otoritas tertinggi yaitu negara.