Anda di halaman 1dari 13

BAB 14

AGAMA: ELEMEN BUDAYA


DALAM HARMONISASI
AKUNTANSI INTERNASIONAL
Pengantar
Perbedaan Negara dapat menghambat
harmonisasi Internasional

Keadaan Perbedaan profil


ekonomi dari pihak pemakai

Sifat-sifat Struktur
organisasi profesi
bisnis lokal
Budaya: Indiosinkratis dan Tradisional
- Merujuk pada semua faktor sosial, politik,
dan faktor lain yang mempengaruhi
perilaku individu.
- Agama sebagai salah satu faktor budaya,
tetapi pengaruh terhadap perkembangan
akuntansi dan struktur bisnis belum dikaji
secara mendalam.
Tradisi Islam
1. Mazhab Hanafi : menguji motif, argumen,
atau alasan yang mendasari setiap tindaka
yang biasa dari Rasul
2. Mazhab Maliki : menekankan pada tradisi
Arab
3. Mazhab Syafii : menekankan pada
pendapat umum dari hakim Islam pada
masanya
4. Mazhab Hambali : menekankan pada
interpretasi yang rasional terhadap Al-
Quran
Bisnis Dalam Islam
QS :An-Nisa 4: 33 “hai orang-orang beriman
biarlah diantara kamu berjalan dan
berdagang dengan cara yang saling
menguntungkan”

Hadits Tirmizi 12:4 “sesungguhnya pedagang


yang jujr akan bersama Rasul dan orang
beriman, Syuhada di hari kiamat”
Peraturan Islam tentang Dagang

Islam mengharuskan seorang muslim dalam


berdagang untuk mecapai tujuan yang
universal yaitu keadilan, kebaikan, dan
kejujuran.
Bentuk Klasik dari Organisasi Bisnis Islam

1. Kerja sama keuangan, buruh, dan reputasi


2. Penyertaan Modal (syarika mal)
3. Penyertaan Tenaga kerja (syarika A’mal)
4. Kerja sama berdasarkan reputasi (sharika
wujuh)
5. Mudaraba
6. Murabaha
Implikasi pada Prakek dan Teori
Akuntansi dan Keuangan Barat
Pengaturan penggunaan hasil kekayaan menurut
hukum syariah :
1. Penggunaan yang terus menerus
2. Membayar zakat sesuai dengan harga pasar
3. Pengunaan yang bermanfaat
4. Tidak digunakan untuk erugikan orang lain
5. Pemiliknya harus sesuai dengan hukum islam
6. Penggunaanya tidak boleh boros dan takabur
7. Penggunaan untuk diri sendiri dibenarkan
8. Pemindahan kekayaan harus sesuai dengan
hukum warisan islam
Lanjutan...
Al-Baqarah 2:275 “mereka yang
memakan riba tidak akan berdiri kecuali
seperti berdirinya setan yang gila. Itu
disebabkan mereka mengadakan
perdagangan dengan mengandung riba,
tetapi Tuhan menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba”
Riba dilarang karena kemungkinan
peminjam menginvestasikan uang dan
mendapatkan laba.
Pelarangan riba membawa implikasi
penting dalam harmonisasi Standar
Akuntansi, sejauh harmonisasi dianggap
penting untuk menerapkan standar
akuntansi Barat dimana prinsip bunga
merupakan bagian yang integral
Barat mengadopsi sistem Time Value of
Money, yang tidak ada dalam islam.
Bisnis dapat bertahan dalam konsep
kerangka Islam tanpa menggunakan
penjelasan tentang perubahan harga, yang
berarti bahwa penilaian aset dan penjelasan
perubahan harga berdasarkan perhitungan
bunga bukanlah elemen yang penting dan
sistem moneter dan perhitungan keuangan,
juga bukan merupakan elemen kunci dalam
proses pengambilan keputusan dalam mana
tradisi bisnis di Barat.
Selanjutnya, pembiayaan modal
merupakan satu-satunya sumber keuangan
yang terbuka bagi muslim dalam kegiaatan
bisnis keunagan. Cara khusus untuk
meningkatkan dana modal dan implikasi
untuk struktur organisasi bisnis di lihat dari
praktek Rasulullah dan para Sahabatnya
serta Ulama Islam.
Kesimpulan
Pelarangan riba, pada khususnya
merupakan elemen budaya yang menambah
kerumitan pada harmonisasi akuntansi dengan
menggunakan terminologi barat.
konsep bisnis yang sesuai dengan prinsip
islam yang berkembang dalam sistem moneter
baik dinegara muslim maupun non-muslim
menyebabkan perlunya intropeksi non-muslim
Agama secara umum dan islam secara
khusus memiliki potensi untuk memperluas
pengaruh budaya yang dominan dalam kajian
harmonisasi internasional akuntansi.