Anda di halaman 1dari 16

Kelompok 9

1. Ana Permata Dewi


2. Serly Rizki P.
3. Syafira Puti Yolanda
4. Uswatun Hasanah
5. Zuwita Lessy Saputri
 Memahami cara pengujian wadah gelas untuk
sediaan parenteral
 . Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan,
emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu
sebelum digunakan yang disuntikkan dengan
cara merobek jaringan ke dalam kulit atau
melalui kulit atau selaput lendir.
 :Ampul dan botol kecil dan botol (vial,botol
penusuk,botol kapsolut)
Uji wadah gellas untuk
injeksi ada tiga yaitu :
Pemeriksaan batas kebasaan
Pemeriksaan batas arsen
Pemeriksaan batas timbal
 WADAH DAN TUTUP KARET
 Ada 2 macam wadah untuk larutan injeksi :
 1. Wadah takaran tunggal (single dose) ialah ampule : 1 mL, 2 mL,
5 mL, 10 mL, dibuat dari gelas dan ditutup dengan peleburan.
 2. Wadah takaran berganda ialah vial atau flacon dibuat dari gelas
dengan tutup karet dan di luarnya ditutup dengan tutup (kap)
dari aluminium.
 3. Untuk infus dengan botol infus, biasanya 500 mL.
 Syarat gelas
 1. Harus netral artinya tidak mengeluarkan alkali hingga dapat
menaikkan pH larutan injeksi.
 2. Untuk ampul harus mudah dilebur, pada waktu menutup
ampul.
 3. Tidak mudah pecah, dan untuk ampul pada waktu dipotong
tidak mengeluarkan pecahan gelas yang lembut.

 Alat :
 1. Autoclave
 2. Glassware
 3. Botol infus kaca
 4. Alumunium foil
 5. Bunsen
 6. Tabung reaksi
 7. Penjepit kayu
 Bahan :
 1. Air bebas CO2
 2. H2SO4 0,01N
 3. Aquadest
 4. Aceton
 5. Indikator metil merah
 6. Asam Hipofosfit encer
 7. Asam Klorida
 8. Natrium Sulfida
 BATAS KEBASAAN
 Dibuat aqua bebas CO2
 Disiapkan 3 botol infus volume 250 mL
 Dibilas bagian dalam dengan aquadest dan aqua bebas CO2 secara
bergantian hingga dirasa sempurna (maksimal 4 kali untuk masing-
masing larutan pembilas)
 Diisi setiap botol dengan aqua bebas CO2 hingga masing-masing botol
90% terisi
 Ditutup mulut botol dengan alumunium foil yang sudah dibilas dengan
aseton
 Botol diautoclave pada 1150C selama 20 menit
 Dikeluarkan botol, didinginkan sebentar, kemudian 100 mL isi botol
dituang dalam Erlenmeyer untuk titrasi.
 Ditambahkan 5 tetes indikator metil merah, kemudian dilakuka titrasi
menggunakan H2SO4 0,01 N
 Dilakukan titrasi blangko menggunakan 100 mL aqua bebas CO2
 Uji Batas Kebasaan

 Volume botol : 500 ml


 Volume sampel: 450 ml
Sampel Volume H2SO4 (ml) 0,01N
Blanko 0,35 ml
Sampel 1 4,75 ml
Sampel 2 5,15 ml
Sampel 3 3,40 ml
 - Untuk wadah berkapasitas hingga 100 ml dibutuhkan tidak lebih dari
1,5 ml H2SO4 0,01 N
 - Untuk wadah berkapasitas > 100 ml diperlukan tidak lebih dari 0,5 ml
H2SO4 0,01 N
 Kadar kebasaan = Vsampel - Vblanko

 Replikasi 1  kadar kebasaan = 4,75 ml – 0,35 ml

 = 4,40 ml
 Replikasi 2  kadar kebasaan = 5,15 ml – 0,35 ml

 = 4,80 ml
 Replikasi 3  kadar kebasaan = 3,40 ml – 0,35

 = 3,05 ml
 *) Karena lebih dari 0,5 ml untuk volume botol 500 ml, maka botol infus
tidak layak digunakan karena kadar basanya terlalu tinggi.

Uji timbal
 Tidak muncul warna coklat, berarti wadah tersebut bebas dari timbal dan
dapat digunakan untuk larutan injeksi
 Dari jurnal yang didapat dilakukan uji paktikum wadah gelas untuk injeksi.praktikum ini bertujuan
untuk memahami cara pengujian wadah gelas sediaaan parenteral dan untuk memahami batasan
wadah gelas yang digunakan untuk injeksi dan cara pengujiannya.Pada praktikum ini dilakukan uji
terhadap wadah gelas dengan menggunakan uji batas kebasaan dan batas timbal. pada saat uji,hal
pertama yang dilakukan yaitu membuat aqua bebas CO2. Air bebas CO2 dibuat dengan mendidihkan
aquadest dalam keadaan tertutup agar tidak terpengaruh oleh CO2 dari udara.digunakan air ini
karena, jika tidak menggunakan air bebas CO2 maka, CO2 dalam larutan akan mempengaruhi
keasaman dari botol/ kebasaan botol akan berkurang, sehingga analisa akan sulit dilakukan karena
botol dan larutanya telah bersifat basa terlebih dahulu sebelum dititrasi dengan H2SO4.lalu,disiapkan
3 buah botol infus dengan volume 500ml. Kemudian,botol tersebut Dibilas bagian dalamnya dengan
aquadest dan aqua bebas CO2 (max 4x untuk masing-masing pambilas).stelah botol dibilas,isi tiap
botol dengan menggunakan aqua bebas CO2 sampai 90% penuh hal ini bertujuan untuk menghindari
pecahnya botol karena tekanan dari dalam botol saat pemanasan.kemudian,tutup mulut botol dengan
alluminium foil yang sebelumnya telah dibilas dengan aceton. Penutupan ini bertujuan untuk
mencegah masuknya CO2 dari udara. Sedangkan aceton untuk membilas alumunium foil agar
alumunium menjadi steril karena sifatnya sebagai antiseptik selain itu, karena sifatnya yang mudah
menguap, aceton lebih dipilh sebagai agen pensteril alumunium.lalu,sterilkan botol dengan cara di
Autoclave pada suhu 121°C selama 15 menit. Tetapi didalm jurnal suhu pensterilan gelas didelam
autoclave adalah 1700C selama kurun waktu 1 jam,kami mengambil suhu 1210C dalam waktu 15
menit karena suhu tersebut lebih lazim digunakan untuk mensterilkan wadah dan waktunya lebih
singkat.setelh di Autoclave,botol yang sudah steril dikeluarkan dan didinginkan.kemudian ambil 100
ml air lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer dan segera ditutup dengan plastik. Hal ini dilakukan
untuk mempersiapkan titrasi dan mencegah udara kontak dengan larutan,lalu tambahkan 5 tetes
indikator MR.
 Untuk melakukan titrasi, plastik cukup disobek sedikit agar titran dapat masuk.
Indikator yang digunakan adalah indikator metil merah. Indikator ini akan
menunjukkan warna merah saat titik akhir titrasi tercapai.lalu di tirasi dengan
mengguakan larutan titran H2SO4 dan terbentuk warna merah muda. dasar reaksi ini
adalah netralisai. Semakin banyak H2SO4 yang digunakan menunjukkan banyaknya
basa yang harus dinetralkan.lalu dilakukan titrasi blanko terhadap 100 ml aqua bebas
CO2 yang tidak diautoclave, indikator MR dan H2SO4. titrasi blanko digunakan
untukmengetahui banyaknya volume H2SO4 yang dipakai dan digunakan untuk
menghitung kadar kebasaan.
 Menurut teoritis untuk uji batas kebasaan didapat kan hasil bahwa jika Untuk wadah
berkapasitas > 100 ml diperlukan tidak lebih dari 0,5 ml H2SO4 0,01 N tetapi pada saat
percobaan,botol yang digunakan adalah botol dengan kapasitas 500 ml dan nilai dari
H2SO4 0,01 N adalah > 0,5 ml sehingga infus tidak layak digunakan karena kadar basa
yang terdapat pada botol tersebut sangat tinggi.
 Kemudian dilakukan uji timbal, ambil air bebas CO2 steril kemudian ditambahkan
larutan HCl PPb dan larutan Na. Sulfida. Reaksi antara timbal dan sulfida akan
menyebabkan terbentuknya warna coklat. Dari jurnal yang kami dapat Pada uji batas
kebasaan, diperoleh volume H2SO4 yang digunakan pada ketiga sampel botol adalah
lebih dari 0,5 ml yaitu, 4,40, 4,08 dan 3,05 ml. Hal ini menunjukkan tingginya kadar basa
dalam botol. Sehingga botol yang diuji tidak layak digunakan sebagai wadah injeksi.
Sedangkan pada uji batas timbal, ketiga sampel tidak terbentuk warna coklat setelah
direaksikan dengan peraksi. Hal ini menunjukan bahwa botol bebas dari unsur timbal.
Meskipun wadah terbebas dari timbal, dari uji batas kebasaan wadah sangat tidak
memenuhi standart, maka wadah botol ini tidak dapat digunakan untuk wadah injeksi.
 Dari jurnal praktikum, dapat disimpulkan
bahwa wadah gelas yang di uji tidk memenuhi
syarat uji batas kebasaan,dan wadah gelas
tersebut tidak mengandung timbal. Terbukti
dengan tidak terbentuknya warna coklat pada
saat dilakukan uji batas timbal.