Anda di halaman 1dari 23

Referat

POLIP NASI
Fidel Hermanto (406161008)
Louis Tengdyantono (406161048)
Anatomi
Kerangka tulang terdiri dari:
 1) Tulang hidung (os nasalis)
 2) Prosesus frontalis os maksila
 3) Prosesus nasalis os frontal
Kerangka tulang rawan terdiri dari:
 1) Sepasang kartilago nasalis
lateralis superior
 2) Sepasang kartilago nasalis
lateralis inferior (kartilago ala
mayor)
 3) Beberapa pasang kartilago ala
minor
 4) Tepi anterior kartilago septum.
Fisiologi
Fungsi fisiologis hidung adalah:
1. Sebagai jalan nafas
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
3. Sebagai penyaring dan pelindung
4. Indra penghidu
5. Resonansi suara (Fonetik)
6. Proses bicara
7. Refleks nasal
Fungsi sinus paranasal antara lain:
a) Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
b) Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
c) Membantu keseimbangan kepala
d) Membantu resonansi suara
e) Sebagai peredam perubahan tekanan suara
f) Membantu produksi mukus
Definisi
 Berasal dari kata Yunani
 “poly” yang berarti “banyak”
 “pous” yang berarti “berkaki”
 Berbentukseperti anggur
 Permukaan halus,
kekuningan
 Merupakan salah satu bentuk
peradangan kronis
Epidemiologi
 Prevalensi kasus  2%
 Meningkat seiring usia dengan usia puncak 50 tahun
 Laki-laki:perempuan  2:1
 Lebih sering muncul pada individu dengan kelainan jalur
nafas tertentu
 Berdasarkan penelitian  sebagian besar kasus polip
bersifat ringan dan kronis
Etiologi
RHINITIS ALERGIK
PENYAKIT
Anak
GRUP %
0.1
Dewasa 1.5
RHINITIS NON ALERGIK 5
ASMA (DEWASA) Alergik 5
Non alergik 13
INTOLERANSI NSAID 36-72
INTOLERANSI NSAID DAN ASMA 80
RHINOSINUSITIS ALERGI FUNGAL >80
CHURG-STRAUSS SYNDROME 50
KISTA FIBROSIS Anak-anak 10
Dewasa 40
PRIMARY CILIARY DYSKINESIA 40
Patofisiologi
 Belum diketahui patofisiologi pasti polip
 Polip berasosiasi dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf
otonom, serta presdiposisi genetik
 Teori Bernstein:
 Terjadi prolapse sub mukosa dan reepitelisasi akibat peradangan
atau turbulensi aliran udara di kompleks osteomeatal
 Terbentuk kelenjar baru
 Peningkatan penyerapan Na yang berakibat retensi cairan dan
terbentuk polip
Patofisiologi
 Teori lain:
 Ketidak seimbangan saraf vasomotor  peningkatan
permeabilitas kapiler dan ggn regulasi vascular 
pelepasan sitokin dan sel mast  edema
 Proses yang berlangsung lama dapat membentuk polip
akibat pengaruh gravitasi  membentuk tangkai
Grading
Pembagian polip nasi menurut Mackay dan Lund (1997),
yaitu:
 Stadium 0: Tidak ada polip, atau polip masih berada
dalam sinus.
 Stadium 1 : Polip masih terbatas di meatus media.
 Stadium 2 : Polip sudah keluar dari meatus media,
tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga
hidung.
 Stadium 3: Polip yang masif.
Gejala klinis
 Hidung tersumbat
 Rhinore dan postnasal drip
 Anosmia atao hyposmia
Diagnosa
 Anamnesis
 Gejala klinis
 Riwayat penyakit lain
 Riwayat alergi
 PF
 Rinoskopi anterior  massa berwarna pucat di meatus
media dan mudah digerakan
Diagnosa
 Pemeriksaan penunjang
 Endoskopi
 Radiologi (foto polos, CT scan)
Penatalaksanaan
 Tujuan terapi  mehilangkan keluhan, mencegah
rekurensi dan komplikasi
 Medikmentosa  kortikosteroid
 Bedah  Polipektomi
Kesimpulan
 Polip nasi adalah massa lunak yang mengandung cairan di
dalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, agak
transparan, permukaan licin mengkilat, bertangkai, yang
terjadi akibat inflamasi mukosa.
 Polip nasi merupakan penyebab tersering dari obstruksi hidung
dan dapat menyebabkan anosmia.
 Faktor yang menjadi penyebab polip nasi yaitu intoleransi
NSAID, rhinosinusitis alergi fungal, asma, kista fibrosis, diskinesia
siliaris primer (Kartagener’s Syndrome), young’s Syndrome
(kronik sinusitis, bronkiektasis polip nasal, azoospermia), rhinitis
alergi dan non alergi, rhinosinusitis kronik, dan Churg-Strauss
Syndrome.
 Diagnosis polip nasi ditegakkan dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Anamnesis didapatkan adanya hidung
tersumbat yang selanjutnya dapat menginduksi rasa penuh
atau tekanan pada hidung dan rongga sinus. Kemudian
dirasakan hidung yang berair (rinorea) mulai dari yang jernih
sampai purulen, hiposmia atau anosmia serta dapat juga
dirasakan nyeri kepala daerah frontal. Pada pemeriksaan fisik
rinoskopi anterior didapatkan massa translusen pada rongga
hidung, sekret mukus dan polip multipel atau soliter.
 Tatalaksana polip nasi dapat dengan cara konservatif yaitu
pemberian kortikosteroid dan operatif yaitu pembedahan
polipektomi.