Anda di halaman 1dari 25

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kekambuhan Pasien Halusinasi Di Puskesmas

Rejoso

SKRIPSI

Oleh :
Kiky Dwi Effendi
NIM : 13110303

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


STIKES SATRIA BHAKTI
NGANJUK
2016
BAB I PENDAHULUAN

Proses perawatan yang melibatkan pasien dan dukungan keluarga akan


membantu proses intervensi dan menjaga pasien halusinasi tidak kambuh
kembali setelah pulang. Khusus untuk keluarga yang memiliki anggota
keluarga dengan gangguan jiwa, sangat penting merencanakan rencana
pulang pasien dengan dukungan keluarganya. Jipp dan Sine (1986) Masalah
(dalam Nasir dan Muhith, 2011). Sedangkan diketahui angka
kekambuhan pada pasien halusinasi adalah 25%–50%. Di antara
penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor dukungan keluarga
dan pasien itu sendiri (Hidayati, 2012).

Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya pada tahun 2011 terdapat


pasien halusinasi sebanyak 90 pasien atau 32% menduduki
peringkat kedua. Dan berdasarkan data tahunan Dinkes Kabupaten
Skala Nganjuk menujukan bahwa pada tahun 20016 bulan Januari-
Desember pasien jiwa berjumlah 2.345 jiwa. Di Puskesmas rejoso
di bulan februari 2017 terdapat pasien halusinasi sebanyak 45
pasien, 15 pasien rawat inap dan 30 pasien rawat jalan di poli jiwa
Puskesmas Rejoso.
Kekambuhan adalah istilah medis yang mendiskripsikan tanda-tanda dan gejala
kembalinya suatu penyakit setelah suatu pemulihan yang jelas (Yakita, 2003). Menurut
Agus (2001)
penyebab kekambuhan pasien skizofrenia dan halusinasi adalah faktor psikososial
Kronologi yaitu pengaruh lingkungan keluarga maupun sosial. konflik dari keluarga bisa menjadi
pemicu stres pasien. Keadaan itu semakin parah jika lingkungan sosialnya tidak
mendukung Ryanto (2007) (dalam Hidayati, 2012).
Resspon pasien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak
aman, gelisan, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu
mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata
(Trimeilia, 2011)

Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan asuhan


keperawatan pada pasien halusinasi. Dukungan keluarga selama pasien di
rawat di rumah sakit sangat dibutuhkan sehingga pasien termotivasi untuk
sembuh. Demikian juga saat pasien tidak lagi dirawat di rumah sakit (dirawat
di rumah). Keluarga yang mendukung klien secara konsisten akan membuat
pasien mampu mempertahankan program pengobatan secara optimal.
Namun, jika keluarga tidak mampu merawat pasien saat di rumah, mereka Solusi
akan kambuh bahkan untuk memulihakannya lagi akan sangat sulit (Keliat
dan Akemat, 2009).
Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian tentang
”Hubungan keluarga dengan kekambuhan pasien halusinasi di Puskesmas
Rejoso”.
Apakah ada hubungan antara
dukungan keluarga dengan Rumusan
kekambuhan pasien halusinasi Masalah
di Puskesmas Rejoso?

Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan
kekambuhan pasien halusinasi di Puskesmas Rejoso.
Tujuan Khusus
Tujuan
1. Mengidentifikasi dukungan keluarga pada pasien dengan
halusinasi di Puskesmas Rejoso.
2. Mengidentifikasi kekambuhan pasien dengan halusinasi
di Puskesmas Rejoso.
3. Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan
kekambuhan pasien halusinasi di Puskesmas Rejoso.
BAB II
Landasan Teori

KONSEP DUKUNGAN
KELUARGA

KONSEP DASAR HALUSINASI

KONSEP KEKAMBUHAN
Faktor-faktor pencetus halusinasi

1. Faktor predisposisi
Kerangka Konsep
a. Faktor perkembangan
Pasien halusinasi
b. Faktor sosiokultural

c. Faktor biologis
Faktor kekambuhan gangguan jiwa:
d. Faktor psikologis
•Klien
•Dokter e. Faktor genetik dan pola asuh
•Perawat puskesmas/Rumah sakit
2. Faktor presipitasi

a. Dimensi fisik
•Keluarga
b. Dimensi emosional
•Dukungan keluarga:
•Dukungan instrumental c. Dimensi intelektual
•Dukungan penilaian d. Dimensi sosial
•Dukungan informasional
•Dukungan emosional e. Dimensi spiritual

Kekambuhan pasien Halusinasi •Pasien dapat memilih cara


merasakan sensasi palsu berupa: mengatasi halusinasinya
•Suara •Pasien dapat memilih cara
•Penglihatan mengedalikan halusinasinya
•Pengecapan •Keluarga dapat
•Perabaan mendemonstrasikan cara
•Penciuman perawatan klien halusinasi
dirumah
•Keluarga dapat berpartisipasi
dalam perawatan pasien
halusinasi
HIPOTESIS

Ha : Ada pengaruh dukungan keluarga dengan


J
kekambuhn pasien halusinasi di Puskesmas Rejoso

Kabupaten Nganjuk.
METODE PENELITIAN

DESAIN PENELITIAN WAKTU DAN TEMPAT

Penelitian ini dilakukan


Penelitian ini pada tanggal 5 sampai 6
menggunakan Maret 2017, Tempat
penelitian dilaksanakan di
pendekatan dengan Puskesmas Rejoso
Cros-sectional Kabupaten Nganjuk
Populasi
Semua pasien Halusinasi yang rawat inap dan keluarga atau yang kontrol di poli jiwa di
Puskesmas Rejoso 45

Tehnik Sampling
Total sampling

Sampel
Semua penderita Halusinasi dan keluarga di Puskesmas Rejoso 45

Pengumpulan Data
Variabel Independen : Dukungan Keluarga dengan menggunakan kuesioner
Variabel Dependen : Kejadian Kekambuhan pada Penderita Halusinasi menggunakan
kuesioner

Pengolahan Data dan Analisa Data


Editing, Coding, Scoring, dan Tabulating, Uji hipotesis Koefisien kontingensi

Hasil
Hasil uji statistik Koefisien Kontingensi didapatkan hasil p value = 0,015 ≤ ɑ = 0,05

Kesimpulan
Ada hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien halusinasi di
Puskesmas Rejoso
IDENTIFIKASI POTENSIAL
VARIABEL

Dalam penelitian ini variable

Variabel Independen independennya adalah Dukungan


keluarga pasien halusinasi

Dalam penelitian ini variable

dependennya adalah kekambuhan


Variabel Dependen
pasien halusinasi
Definisi Operasional
Variabel Definisi Indikator Alat Ukur Skala Skor
Independen: Suatu bentuk Bentuk dukungan keluarga : Kuesioner Ordinal Selalu = 4
Dukungan Keluarga dukungan, perhatian, 1. Dukungan Sering= 3
Variabel
danmotivasi yang Definisi
InstrumentalIndikator Alat Ukur Skala Skor
Kadang-kadang=2
Operasional
diberikan oleh anggota
Independen : Sebuah2. Dukungan
terapi SOP Observasi Nominal 1: Tidak Tidak pernah = 1
terapi okupasi pekerjaan dengan dilakukan
keluarga terdekat. Informasional (Nurslam,2008)
kerajinan kerajinan tangan 2:
tangan yang3. berbentuk
Dukungan Penilaian Dila Baik= 79-100%
membuat kuka
4.
kemoceng Dukungan
yang Emosional n Cukup=56-78%
berguna untuk Kurang=<56%
meningkatkan
kemampuan
kognitif daya
Dependen : keadaan ingatGejala
pasien pasien. kekambuhan: Kuesioner Nominal  Jawaban Ya: 1
Dependen : Kemampuan Menguji aspek Pengamatan Ordinal 1. Nilai
Kekambuhan pasien dimana muncul
kemampuan gejala merasakan sensasi palsu
seseorang untuk kognitif dan fungsi (Observasi) 24-30 =  Jawaban Tidak: 0
Halusinasi daya ingat
yang sama seperti mengingat
berupa: mental : dengan normal  Prosentase
sesuatu atau 1. Orientasi MMSE 1. Nilai
sebelumnya dan 1.
kejadian Suara
yang 2. Registrasi 17-23 = Jawaban
telah terjadi 3.Perhatian dan Kemungkin
mengakibatkan pasien 2. Penglihatan  Jika YA kambuh
kalkulasi an
harus dirawat kembali 3. Pengecapan
4.Mengingat gangguan  Jika TIDAK Tidak
kembali kognitif
4. Perabaan5. Bahasa 1. Nilai
Kambuh
5. Penciuman 0-16 =
Gangguan
kognitif
BAB IV

a. Data Umum
1. Karakteristik responden berdasarkan usia
Karakteristik keluarga responden berdasarkan
usia
42% 27%

31% USIA
40-49
50-59
>60

Berdasarkan gambar 4.1 didapatkan bahwa dari 45 pasien hampir setengahnya 19 keluarga pasien (42%) yaitu
berusia 50-59 tahun
2. Karakteristik responden berdasarkan jenis pendidikan
Karakteristik pendidikan keluarga responden
20%
Tidak Sekolah
36%
sd
31%
SMP
9% 4% SMA
Perguruan Tinggi

Berdasarkan gambar 4.2 didapatkan bahwa dari 45 pasien hampir setengahnya 16 keluarga pasien (36%) yaitu
berpendidikan SD.
3. Karakteristik tempat tinggal responden

Karakteristik tempat tinggal responden

38%
62% orang tu

saudara

Berdasarkan gambar 4.3 didapatkan bahwa dari 45 pasien sebagian besar 28 pasien (62%) yaitu tinggal bersama orang
tua.
b. Data Khusus

a. Dukungan keluarga

Kategori Dukungan Frekuensi Presentase %

31 68.9
Baik
8 17.8
Cukup
6 13.3
Kurang
45 100.0
Jumlah

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa dari 45 pasien sebagian besar 31 pasien (68,9%)
yaitu mempunyai dukungan keluarga yang baik.berusia 50-59 tahun.
b. Kekambuhan pasien
halusinasi

Kategori Kekambuhan Frekuensi Presentase %


25 55.6

Kambuh
20 44.4

Tidak Kambuh
45 100.0

Jumlah

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa dari 45 pasien sebagian besar 25 pasien (55,5%) yaitu
kambuh.
c. Hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien halusinasi

Dukungan Kekambuhan Responden Total


Keluarga
Kambuh Tidak Kambuh
N % N % N %
Baik 13 28.9 18 40 31 68.9
Cukup 6 13.4 2 4.4 8 17.8
Kurang 6 13.3 0 0 6 13.3
Total 25 55.6 20 44.4 45 100
p value = 0,015 dengan α = 0,05 r = 0,396

Berdasarkan hasil penelitian tabel 4.3 menunjukan sebagian besar dukungan keluarga baik dari 31 pasien (68,9
%), 18 pasien yang tidak kambuh (40 %), 13 pasien kambuh (28,9 %), sebagian kecil dukungan keluarga cukup
dari 8 pasien (17,8 %), yang kambuh 6 orang (13,4 %), 2 pasien tidak kambuh (4.4 %), dan sebagaian kecil
dukungan keluarga kurang dari 6 pasien (13,3 %), 6 pasien kambuh (13,3 %) 0 pasien yang tidak kambuh.
Dari hasil analisa statistik dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 didapatkan hasil ρ = 0,015 atau ρ ≤ α dengan r =
0,396 artinya Ha diterima, maka dukungan keluarga ada hubungan dengan kekambuhan pasien halusinasi.
Pembahasan
1. Dukungan keluarga pasien halusinasi di Puskesmas Rejoso

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan sebagian besar responden


mempunyai dukungan keluarga baik sebanyak 31 orang (68,9%). Dari 31 orang
19 keluarga responden (42,2%) keluarga responden berusia 50-59 tahun dengan
ρ value = 0,131, 16 keluarga responden (35,6%) berpendidikan terakhir SD
dengan ρ value = 0,207, 28 responden (62,2%) responden tinggal bersama orang
tua dengan ρ value = 0,524. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor
usia, pendidikan, tempat tinggal tidak mempengaruhi dukungan keluarga.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga ada dua. Yaitu faktor Instrinsik, faktor
Ekstrinsik. Faktor instrinsik meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, dukungan dalam dirinya
sendiri. Faktor ekstrinsik meliputi, lingkungan dan sosial, fasilitas, media, fisik dan mental,
situasi dan kondisi, program dan aktivitas (Widayatun dan Rusmi, 1999).
Pada penelitian Anita Puspitasari (2014) mengatakan bahwa dari data
demografi menunjukan tidak ada hubungan dengan dukungan keluarga,
tetapi dari faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga anita
beropini bahwa selain dari data demografi yang mempengaruhi dukungan
keluarga adalah dari faktor lingkungan

Pada penelitian Ari Purwaningsih (2012) mengatakan bahwa dari data demografi menunjukan
tidak ada hubungan dengan dukungan keluarga, tetapi dari faktor-faktor yang mempengaruhi
dukungan keluarga ari beropini bahwa selain dari faktor instrinsik dukungan keluarga juga
dipengaruhi oleh faktor ekstrrinsik yaitu lingkungan sosial, fasilitas, media, fisik dan mental,
situasi kondisi serta program aktifitas.

Dari uraian diatas dapat diasumsikan bahwa usia, pendidikan, dan tempat tinggal dapat mempengaruhi
dukungan keluarga. Akan tetapi tidak semua yang cukup umur, berpendidikan yang tinggi, dan yang
bertempat tinggal dengan keluarga akan mempunyai dukungan yang buruk. Karena juga bisa dikarenakan
dipengaruhi oleh lingkungan, fasilitas, media, ataupun faktor eksterinsik yang lainnya.
2. Kekambuhan pasien halusinasi di Puskesmas Rejoso

Dari hasil penelitian 4.2 menunjukan hampir setengahnya pasien sebanyak 18


reponden (40%) tidak kambuh. Dari keluarga pasien 19 orang (42,2%) berusia 50-59 tahun
dengan ρ value = 0,657, keluarga pasien berusia 50-59 tahun dengan ρ value = 0,131, 16
keluarga pasien (35,6%) berpendidikan terakhir SD dengan ρ value = 0,661, 28 pasien (62,2%)
responden tinggal bersama orang tua dengan ρ value = 0,783.
Menurut Sullinger (dalam keliat, 1996) mengidentifikasi 4 faktor penyebab pasien
kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa, yaitu: Pasien, Dokter, Penanggung jawab pasien,
Pengetahuan keluarga. Ekspresi emosi yang tinggi dari keluarga diperkirakan menyebabkan
kekambuhan yang tinggi pada pasien. Hal lain adalah pasien mudah dipengaruhi ole stress yang
menyenangkan maupun yang menyedihkan.
Tindakan keluarga dalam merawat pasien terhadap periode kekambuhan. Hospitalisasi
yang lama memberi konsekuensi kemunduran pada pasien yang ditandai dengan hilangnya
motivasi dan tanggung jawab, apatis, menghindari dari kegiatan dan hubungan sosial. (Keliat,
1996)
Menurut Agus (2001) penyebab kekambuhan pasien halusinasi adalah faktor
psikososial yaitu pengaruh lingkungan keluarga maupun sosial.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
faktor usia, pendidikan, tempat tinggal tidak
mempengaruhi kekambuhan pasien halusinasi.
Tetapi kekambuhan bisa terjadi jika
lingkungan sosial yang tidak menerimanya
atau pasien yang menghindari kegiatan
lingkungan.
3. Hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien halusinasi

Hasil analisis data hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan


pasien halusinasi didapatkan ρ value sebesar 0,015, hal ini menunjukan bahwa
ρ Value sebesar 0,015, nilai ρ value < α = 0,05 artinya menolak H0 dan
menerima Ha, ada hubungan antara hubungan dukungan keluarga dengan
kekambuhan pasien halusinasi.
Keluarga pasien perlu mempunyai sikap yang positif untuk mencegah
kekambuhan pada pasien gangguan jiwa. Keluarga perlu mempunyai sikap
menerima pasien, memberikan respon positif kepada pasien, menghargai
pasien sebagai anggota keluarga dan menumbuhkan sikap tanggung jawab
kepada pasien. (Keliat, 1996).
Sedangkan diketahui angka kekambuhan pada pasien halusinasi adalah
25%–50%. Di antara penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor
dukungan keluarga dan pasien itu sendiri. Keluarga adalah support system
terdekat dan 24 jam bersama-sama dengan pasien (Hidayati, 2012).
Lebih dari dua puluh uji klinis telah menunjukkan bahwa intervensi
keluarga menyebabkan hasil yang lebih baik bagi individu dengan skizofrenia
dan halusinasi termasuk mengurangi risiko kambuh dan keparahan gejala, serta
peningkatan kepatuhan minum obat ( Dixon, Adams & Lucksted 2000 ; Firaun,
Mari, Rathbone & Wong, 2004 ).
• Berdasarkan penelitian di Puskesmas Rejoso
menggambarkan ada hubungan dukungan
keluarga dengan pasien halusinasi, artinya
semakin rendah dukungan keluarga yang
diberikan maka semakin sering pula pasien
halusinasi mengalami kekambuhan.
Sebaliknya jika dukungan keluarga semakin
banyak yang diberikan maka semakin
berkurang pasien halusinasi mengalami
kekambuhan.
BAB V

A. Kesimpulan

1. Sebagian besar dukungan keluarga pasien halusinasi


di Puskesmas Rejoso adalah baik sebanyak 31
(68,9%).
2. Hampir setengahnya pasien halusinasi di Puskesmas
Rejoso adalah tidak kambuh sebanyak 20 pasien
(44,4%).
3. Ada hubungan dukungan keluarga dengan
kekambuhan pasien halusinasi dengan kekambuhan
pasien halusinasi di Puskesmas Rejoso dari
didapatkan nilai signifikan p value = 0,015 < α =
0,05.
B. Saran

1. Bagi peneliti
Diharapkan memberikan pengalaman dalam pengembangan kemampuan
ilmiah khususnya pada penelitian tentang hubungan dukungan keluarga
dengan tingkat kekambuhan pasien halusinasi.
2. Bagi Puskesmas
Diharapkan memberikan gambaran tentang pelaksanaan dukungan keluarga
dalam merawat anggota yang mengalami halusinasi.
3. Bagi Keluarga
Diharapkan memberikan informasi dan meningkatkan kemampuan keluarga
melaksanakan tindakan dalam merawat anggota keluarga yang mengalami
halusinasi.
4. Bagi Peneliti Lain
Diharapkan sebagai bahan masukan bagi semua pembaca dan peneliti lebih
lanjut tentang hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kekambuhan
pasien halusinasi.
TERIMAKASIH