Anda di halaman 1dari 40

MATA MERAH DENGAN

VISUS NORMAL
PENDAHULUAN
• Keluhan tersering
• Terjadi akibat perubahan warna bola mata
• Normalnya sklera terlihat putih
• Terjadi akibat
• Bertambahnya asupan
• Pada kasus infeksi/peradangan
• Berkurangnya pengeluaran
• Terganggunya pengeluaran spt pada perdarahan
subkonjungtiva
ANATOMI
INJEKSI
Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliar
Asal A. Konjungtiva A. Siliar
posterior
Memperdari Konjungtiva Bulbi Kornea segmen
anterior
Lokalisasi Konjungtiva Dasar konjungtiva
Warna Merah Ungu
Arah aliran/lebar Ke perifer Ke sentral
Konjungtiva Ikut Tidak
digerakkan
Dengan epinefrin Menciut Tidak menicut
Penyakit Konjungtiva Kornea, iris, glaukoma
Sekret + -
Visus Normal Menurun
MATA MERAH DENGAN VISUS
NORMAL
• Pterigium
• Pseduopterigium
• Pinguektela
• Episkleritis
• Skleritis
• Perdarahan subkonjungtiva
• konjungtivitis
PTERIGIUM
•Etiologi dan Faktor resiko
Definisi
a. Faktor intrinsic
• Pterigium merupakan
Faktor intrinsik meliputisuatu
factorpertumbuhan fibrovaskular
herediter, beberapa defisiensi,
konjungtiva yang bersifatdegeratif dan invasif. Pertumbuhan
ini misalnya
biasanya defisiensi vitamin A, bertanggung jawab terhadap
terletak pada celah kelopak bagian nasal
perubahan
ataupun mukosa
temporal lakrimal danyang
konjungtiva pergantian
meluas selke
epitel kornea-
daerah
konjungtiva dan dipertimbangkan sebagai factor intrinsic.
kornea
b. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik karena terpapar dengan UV light dan
• Epidemiologi
mikrotrauma kronis pada permukaan mata yang sering
• disebabkan
Penyakitoleh pekerjaan
ini sering pasien.
ditemui padaPengaruh
daerah pemaparan
dengan iklim
mikrotrauma
tropis. Penyakitdiinilingkungan kerja misal seperti
sangat berhubungan allergen,
dengan angin,
faktor
lingkungan
debu, rokokyang
dan berhubungan
stimuli toksik lain,dengan pekerjaan
petani, pelaut, dan
tukang gaya
kayu
hidup pasien.
termasuk Terutama
dalam kelompok eksposure
beresiko terhadap sinar UV dan
tinggi terhadap
iritasi kronis dari mata
pemaparan.Infeksi karena
mikroba danpekerjaan.
virus tidak signifikan tetapi
pada populasi tertentu terdapat predisposisi kerusakan
konjungtiva
• Gambaran Klinis dan Klasifikasi
• Gambaran morfologis dari pterigium dan
keterlibatan kornea, menimbulkan klasifikasi dari
beberapa bentuk klinis. Ada tiga tipe utama. Klasifikasi
dibagi berdasarkan evolusi dan keparahan gambaran
klinis (dari stadium awal sampai stadium lanjut)

• Small Primary Pterigium (type 1)


• Merupakan stadium awal dari pterigium. Lesi hanya
terbatas pada limbus dan menginvasi kornea marginal.
Pada bentuk ini, gejala jarang terjadi. Bentuk stasioner
dengan progresi yang sangat lambat.
• Advanced primary with no optical axis involvement
(Type II
• Tipe yang paling sering terjadi. Infiltrasi ke sekeliling
dapat dilihat oleh mata. Kapiler yang
berdilatasimembentuk vaskularisasi yang menyebar
sampai ke internal canthus. Progresi terjadi dan iritasi
menjadi mudah terjadi. Dapat terjadi penurunan visus
karena astigmatisme yang terinduksi akibat dari
opasitas kornea perifer dan perubahan film lakrimal
sehingga terdapat difraksi besar terhadap cahaya dan
sensitifitas kontras yang berkurang.
• Advanced primary with optical axis involvement (Type 3)
• Bentuk paling lanjut dari pterigium. Berinvasi sampai ke
axis optikal. Pertumbuhan pterigium, dengan apex
menginvasi lapang pupil dan menginfiltrasi stroma
kurang lebih 30% dari ketebalan kornea. Penurunan
penglihatan biasanya terjadi dan disebabkan oleh
kombinasi astigmatisme terinduksi dan keterlibatan axis
optikal.
• Diagnosa
• Pasien biasa tidak datang dengan
keluhan apabila masih pada tipe
1. Pada pasien tipe 2 dan 3 dapat
terjadi keluhan visus yang
menurun. Selain itu karena
pterigium ini mudah meradang,
pada saat fase peradangan akan
ditemukan tanda-tanda iritasi non
spesifik seperti fotofobia, sensasi
benda asing, dan mata berair
secara kontinyu. Dapat juga
timbul rasa nyeri yang di provokasi
oleh mikroulserasi kornea pada
bagian kepala dari pterygium.
• Pada pterygium yang berprogresi
terus menerus kadang dapat
terjadi penglihatan ganda akibat
terganggunya motilitas okular
karena jaringan konjungtiva yang
terluka.
• Pengobatan
• Tindakan non bedah
• Tindakan non bedah meliputi pemberian lubrikasi dengan tetes mata
buatan atau tetes mata dekongestan untuk mengurangi keluhan
iritasi, tetes mata dan salep steroid juga dapat di berikan untuk
mengurangi reaksi peradangan. Tetes mata vasokonstriktor juga
dapat diberikan untuk mengurangi keluhan mata merah. Obat-obat
ini tidak menghambat progresifitas pterigium.

• Tindakan bedah
• Pengobatan pterigium tipe progresif yang merah, tebal dan
meradang lebih sulit bila dibandingkan dengan tipe nonprogresif
yang putih, tipis dan avaskular. Beberapa peneliti menganjurkan
pemberian obat-obat, seperti obat steroid topikal sebelum tindakan
bedah.
• Tindakan bedah dapat dilakukan bila pterigium menyebabkan
gangguan visus, keluhan iritasi kronik, gangguan pergerakan bulbus
okuli yang mengakibatkan diplopia dan gangguan kosmetik.
• Pembedahan pterigium dilakukan menurut enam cara yaitu : Avulsi,
Trasposisi apeks pterigium, Rotasi flep konjungtiva, Bare sclera,
Cangkok konjungtiva otologus dan cangkok membran amnion
homologus
• Prognosis
• Biasanya sering terjadi rekurensi. Apabila terjadi rekurensi maka harus
dilakukan keratoplasty untuk menggantikan lapisan bowman kornea
yang sakit. Apabila tidak akan terus menjadi substrat untuk
pertumbuhan pterigium baru.
PSEUDOPTERIGIUM
• Definisi
• Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea
yang cacat.
• Epidemiologi dan Etiologi
• Biasa terjadi saat penyembuhan tukak kornea,
sehinggadapat terjadikonjungtivalisasi dari permukaan
kornea (lapisan fibrovaskular dapat menutupi seluruh
kornea).
• Penampakan Klinis dan Diagnosis
• Gambaran klinis sama dengan pterygium namun
pterygium biasanya terjadi dibagian nasal atau temporal
saja sedangkan pseudopterygium dapat terjadi dari sisi atas
atau sisi bawah. Selain itu pada pseudopterygium dapat
diselipkan sonde dibawahnya.
• Biasanya pada pasien terdapat riwayat kelainan
kornea seperti tukak kornea.
• Pengobatan
• Bisa dengan melakukan lisis dari adhesinya, eksisi
pada konjugtiva yang terluka, dan penutupan
defeknya dengan “free conjunctival graft” yang
didapat dari bagian temporal.
PINGUEKULA
• Definisi
• Penebalan kuning keabuan pada konjungtiva bulbi karena degenerasi
hyalin pada jaringan sub mukosa konjungtiva

• Epidemiologi
• Merupakan perubahan yang cukup sering ditemukan pada konjungtiva.
• Etiologi
• Biasanya karena sering mendapat rangsangan sinar matahari, debu
dan angin panas.

• Gambaran Klinis
• -Letak penebalan ini terdapat di celah kelopak mata di bagian nasal
• -Gejala yang timbul dari tidak ada keluhan sampai dapat terjadi
lakrimasi, rasa terbakar, rasa mengganjal.

• Diagnosis
• -Pada inspeksi dapat terlihat penebalan kuning keabuan pada limbus
mata arah jam 3 dan jam 9 yang mana dasar dari penebalannya terletak
paralel dengan limbus kornea.
• Diferensial Diagnosis
• Merupakan suatu temuan yang cukup jelas

• Pengobatan
• Tidak perlu diberikan pengobatan kecuali bila
meradang dapat diberi anti inflamasi.
EPISKLERITIS
• Definisi
• Reaksi radang jaringan ikat vascular yang terletak antara
konjungtiva dan permukaan sklera.
• Etiologi
• Reaksi hipersensitivitas ( toksik, alergik, atau infeksi)
terhadap penyakit sistemik : TBC, rheumatoid arthritis, SLE,
polyarthritis nodosa, inflammatory bowel disease,
sarcoidosis, Wegener's granulomatosis, herpes zoster virus
atau sifilis.
• Terjadi spontan atau idiopatik
• Terutama pada anita usia pertengahan.
• Klasifikasi
• Epiksleritis simple
• Episkleritis nodular
• Tanda dan gejala
• Umumnya unilateral
• Mata kering
• Rasa sakit ringan yang mengganjal
• Gambaran khusus : benjolan
setempat dengan batas tegas dan
warna merah ungu di bawah
kojungtiva yang apabila
konjungtiva atasnya ditekan akan
menimbulkan rasa sakit yang
menjalar disekitar mata.
• Kadang-kadang,
ada bintil putih translusen terpusat d
idaerah yang
meradang (episkleritis nodular)
• Perjalanan penyakit akut,
beberapa minggu-bulan, dapat
berulang.
• Pembuluh darah mengecil dengan
vasokonstriktor.
• Tatalaksana
• Self-limiting disease, dapat sembuh sendiri sekitas 2-3
minggu tanpa pengobatan.
• Vasokonstriktor Fenilefrin 2,5% topikal
• Pada keadaan berat diberi kortikosteroid tetes mata
(prednisolone acetate 1% atau fluorometholone acetate)
, sistemik, atau salisilat.
• Kompres dingin dan artificial tears untuk menyamankan
mata.
• Untuk epiksklertis nodular dapat diberi OAINS untuk
meringankan inflamasi.
SKLERITIS
• Definisi
• Peradangan (inflamasi) yang melibatkan sklera.

• Etiologi
• Pada 50% kasus berhubungan dengan penyakit sistemik. Lebih sering
disebabkan oleh penyakit jaringan ikat, pasca herpes, sifilis, gout.
Terkadang disebabkan oleh tuberculosis, bakteri (pseudomonas),
sarkoidosis, hipertensi, benda asing, dan pasca bedah.
• Biasanya kondisinya berat, destruktif dan mengancam penglihatan
• Penting utk mengobati peny sistemiknya
• Skleritis posterior melibatkan sklera posterior sampai ora serata
• Mengancam kebutaan

• Klasifikasi
• Skleritis anterior difus , nodular, nekrotik dengan inflamasi, nekrotik
tanpa inflamasi.
• Skleritis posterior.
• Tanda dan gejala :
• Biasanya bilateral, sering pada
perempuan
• Perasaan sakit yang berat yang dapat
menyebar ke dahi, alis, dan dagu
• Terkadang penderita bangun dari
tidurnya karena nyeri kambuh.
• Mata merah berair
• Fotofobia dengan penglihatan
menurun
• Onset mendadak
• Kondisi berat, nyeri menetap,
• Pemb drh slera tdk menghilang dg
tetes phenylephrine 10%
• Penglihatan kabur, diplopia, nyeri saat
ada gerakan bola mata
• Tidak mengeluarkan kotoan.
• Terlihat benjoan berwarna sedikit biru
jingga, terkadang mengenai seluruh
lingkaran kornea sehingga terlihat
sebagai skleritis anular.
• Dalam kasus yang parah skleritis
nekrosis, slklera dapat menjadi
transparan karena peradangan kronis,
mengungkapkan biru gelap yang
mendasari koroid tersebut.
• Manajemen
• Medikasi topical tidak cukup untung pengobatan skleritis.
• Selain obat sikoplegik (scopolamine 0,25% atau atropine 1%) ,juga
diberi OAINS (ibuprofen 600mg)
• Jika peradangan parah atau necrotizing, atau jika non-steroidals
sendiri gagal untuk menekan peradangan, gunakan steroid
sistemik seperti prednison oral 80 mg kafein QD selama dua sampai
tiga hari, lalu perlahan-lahan tapering off 10 sampai 20mg setiap
hari.

• Penyulit
• Keratitis perifer
• Glaukoma
• Granuloma subretina
• Uveitis
• Keratitis sklerotikan
PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA
• Definisi
• Pembuluh darah pada konjungtiva yang rapuh dan pecah
yang mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva (daerah
dibawah konjungtiva) . Tampak sebagai patch merah
terang (paling banyak) atau merah gelap.

• Etiologi
• Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi pada semua ras,
umur, dan jenis kelamin dengan proporsi yang sama.
Beberapa penyebab yang daat menyebabkan
perdarahan subkonjungtiva antaralain,
1. Spontan/idiopatik biasanya yang ruptur adalah pembuluh
darah konjungtiva.
2. Batuk, berusaha, bersin, muntah.
3. Hipertensi. Pembuluh darah konjungtiva merupakan
pembuluh darah yang rapuh,sehingga jika ada kenaikan
tekanan mudah ruptur sehingga menyebabkan perdarahan
subkonjungtiva.
4. Gangguan perdarahan yang diakibatkanoleh penyakit
hati, diabetes, SLE, dan kekurangan vitamin C, gangguan
faktor pembekuan.
5. Penggunaan antibiotik, NSAID, steroid, vitamin D,
kontrasepsi.
6. Infeksi sistemik yang menyebabkan demam seperti
meningococcal septicemia, scarlet fever, typhoid fever,
cholera, rickettsia, malaria, dan virus (misal influenza,
smallpox, measles, yellow fever, sandfly fever).
7. Gejala sisa dari operasi mata.
8. Trauma.
9. Menggosok mata.
• Tanda dan Gejala
• Pasien datang dengan keluhan matanya yang bagian putih merah,
pusing, berair, dalam waktu 24 jam sejak munculnya warna merah,
bentuknya semakin membesar, kemudian mengecil, awalnya merah
cerah lama-lama berwarna agak gelap . Hal yang harus ditanyakan
adalah adanya riwayat trauma, mengangkat benda berat, batuk kronis,
hipertensi.

• Tanda yang tampak pada pemeriksaan antara lain:


• Tampak adanya perdarahan di sklera dengan warna merah terang (tipis)
atau merah tua (tebal).
• Tidak ada tanda peradangan, kalaupun adanya biasnya peradangan
yang ringan.
• Lingkungan sekitar peradangan tampak normal.

• Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah:
• Penlight. Pada konjungtiva bulbi tampak adanya patch kemerahan.
• Tekanan darah untuk mengetahui risiko hipertensi.
• Cek darah lengkap untuk memastikan adanya gangguan pembekuan
darah.

• Tatalaksana
• Perdarahan subkonjungtiva sebenarnya tidak memerlukan pengobatan
karena darah akan terabsorbsi dengan baik selama 3 -4 minggu. Tetapi
untuk mencegah perdarahan yang semakin meluas beberapa dokter
memberikan vasacon (vasokonstriktor) dan multivitamin. Airmata buatan
untuk iritasi ringan dan mengobati faktor risikonya untuk mencegah risiko
perdarahan berulang.
GEJALA TAMBAHAN

• Sekret • Sitologik
• Limfosit monosit
▫ Air • Neutrofil
▫ Purulen • Eosinofil
▫ Hiperpurulen • Sel epitel dgn badan inklusi
• Sel raksasa multinuklear
▫ Lengket • Makrofag raksasa
▫ serous • keratinisasi
KONJUNGTIVITIS
Klinik & Viral Bakteri Klamidia Atopik
Sitologi
Gatal Minim Minim Minim Hebat
Hyperemia Umum Umum Umum Umum
Air mata Profuse Sedang Sedang Sedang
Eksudat Sedang Banyak Banyak Sedikit
Demam Kadang Kadang Tidak ada Tidak ada
Adenopati Sering Jarang Sering Tidak ada
Pewarnaan Monosit Bakteri, PMN PMN, Eosinofil
kerokan plasma sel,
badan
inklusi
KLASIFIKASI

Akut Kronis
•bakterial •Trakoma
•Bakterial akut
•Gonore
•Angular
•viral
•Epidemik
•Demam
•Herpetic
•Jamur
•Alergi
KONJUNGTIVITIS BAKTERIAL AKUT
Etiologi
• Streptokokus, Corynebacterium Diphterica, Pseudomonas, Neisseria, dan
Haemophilus,

Gejala
• Konjungtivitis Mukopurulen dan konjungtivitis purulen
• Hiperemi Konjungtiva
• Edema Kelopak
• Papil dan Kornea jernih

Diagnosis
• Pemeriksaan sediaan langsung,

Terapi
• Antibiotik tunggal seperti Neosporin, basitrasin, gentamicin, kloramfenikol,
tobramisin, eritromisin dan sulfa.
• Bila pengobatan tidak memberikan hasil dengan antibiotik setelah 3-5 hari maka
pengobatan dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan mikrobiologi
KONJUNGTIVITIS GONORHEA
Etiologi
• Neisseria gonorrhea,

Epidemiologi
• Penyakit yang tersebar luas di seluruh
dunia secara endemic

Patofisiologi
• Pada neonates infeksi terjadi pada
saat berada pada jalan lahir,
• Pada bayi infeksi terjadi ditularkan
oleh ibu yang menderita penyakit
tersebut
• Pada orang dewasa penyakit ini
didapatkan dari penularan penyakit
kelamin sendiri.
Gejala
• Secret purulen padat dengan masa inkubasi 12 jam
hingga 5 hari
• Konjungtivitis kemotik
• Pada orang dewasa terdapat 3 stadium
• Infiltratif
• Supuratif
• Penyembuhan
• Pada orang dewasa penyakit ini berlangsung selama 6
minggu

Diagnosis
• Pemeriksaan secret dengan pewarnaan metilen biru,
dan Dengan pewarnaan gram t
• Pemeriksaan sensitivitas pada agar darah dan coklat
Terapi
• Secret dibersihkan dan kemudian diberi salep penisilin
tiap 15 menit.
• Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk
larutan penisilin G 10.000 – 20.000 unit/ml setiap 1 menit
sampai 30 menit, kemudian diberi salep
• Antibiotik sistemik

Penyulit
• Tukak kornea marginal
• Perforasi kornea
KONJUNGTIVITAS ANGULAR
Definisi
• Konjungtivitis pada daerah kantus interpalpebra disertai ekskoriasi kulit
di sekitar daerah meradang

Etiologi
• Moraxella axenfeld

Gejala
• Secret mukopurulen dan pasien sering mengedip

Penatalaksanaan:
• Tetrasikin atau basitrasin

Penyulit:
• Blefaritis
KONJUNGTIVITIS VIRAL
Etiologi
• Biasanya disebabkan Adenovirus, Herpes simpleks, Herpes zoster,
Klamidia, New castle, Pikorna, Enterovirus, dan sebagainya.

Manifestasi Klinis
• Terdapat sedikit kotoran pada mata, lakrimasi, sedikit gatal, injeksi,
nodul preaurikular bisa nyeri atau tidak, serta kadang disertai sakit
tenggorok dan demam. Terdapat folikel atau papil, sekret yang
serous atau mukoserous, perdarahan subkonjungtiva (”small and
scattered”), limadenopati preaurikuler dan infiltrat kornea.

• Pemeriksaan Penunjang
• Pada pemeriksaan sitologi ditemukan sel raksasa dengan
pewarnaan Giemsa, kultur virus, dan sel inklusi intranuklear.
• Komplikasi
• Keratitis. Virus herpetik dapat menyebabkan parut pada
kelopak; neuralgia; katarak; glaukoma; kelumpuhan sarafIlI,
IV, VI; atrofi saraf optik; dan kebutaan.
• Analgesik untuk menghilangkan rasa sakit.
• Demam faringokonjungtiva biasanya sembuh sendiri dalam 10 hari.
• • Penatalaksanaan
Pasien keratokonjungtivitis epidemika , pencegahan penularan
• Bersifat
saat simtomatik
pemeriksaan adalahdan antibiotik
penting. diberikan
Penyakit untuk
ini berlangsung 3-4
mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dalam dua minggu
minggu.
akan sembuh
• Konjungtivitis New dengan se
Castle sembuh sendiri dalam waktu kurang dari 7
hari.
• Konjungtivitis viral akut biasanya disebabkan Adenovirus
• Konjungtivitis
dan dapat hemoragik
sembuh akut sembuh
sendiri dalam 5-7hanya
pengobatan hari bersifat
suportif, berupa kompres, astringen, dan lubrikasi.
• Konjungtivitis herpetik sembuh sendiri. Penatalaksanaannya
dengan debriment kornea atau salep mata idosuridin
4x/hari selama 7-10 hari atau salep Acyclovir 3% 5x/hari
selama 10 hari dan diobati dengan obat antivirus, asiklovir
400 mg/hari selama 5 hari.
KONJUNGTIVITIS JAMUR
Etiologi:
• Candida spp. (biasanya Candida albicans)

Epidemiologi:
• Jarang terjadi, umumnya tampak sebagai bercak putih

Faktor risiko:
• Pasien yang mengalami diabetes mellitus atau pasien immunocompromised.

Diagnosis:
• Kerokan menunjukkan reaksi radang sel polimorfonuklear

Terapi
• Amphotericin B (3-8 mg/ml) dalam larutan air atau dengan pemberian nystatin
kulit 100.000 unit/g 4-6 kali sehri
KONJUNGTIVITIS ALERGI
• Konjungtivitis alergi adalah radang konjungtiva
akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi.

Etiologi
• Reaksi hipersensitivitas tipe cepat (tipe I) atau
lambat (tipe IV), atau reaksi antibodi humoral
terhadap alergen. Pada keadaan yang berat
merupakan bagian dari sindrom Steven
Johnson,

Manifestasi Klinis
• Mata merah, sakit, bengkak, panas, berair,
gatal, dan silau. Sering berulang dan menahun
bersamaan dengan rinitis alergi. Biasanya
terdapat riwayat atopi sendiri atau dalam
keluarga. Pada pemeriksaan ditemukan injeksi
ringan pada konjungtiva palpebra dan bulbi
serta papil besar pada konjungtiva tarsal yang
dapat menimbulkan komplikasi pada
konjungtiva. Pada keadaan akut dapat terjadi
kemosis berat.
Pemeriksaan Penunjang
• Pada pemeriksaan sekret ditemukan sel-sel eosinofil. Pada
pemeriksaan darah ditemukan eosinofilia dan peningkatan
kadar serum IgE.

Penatalaksanaan
• Biasanya penyakit akan sembuh sendiri. Pengobatan
ditujukan untuk menghindarkan penyebab dan
menghilangkan gejala. Terapi yang dapat diberikan
misalnya vasokonstriktor lokal pada keadaan akut
(epinefrin 1: 1.000), astringen, steroid topikal dosis rendah
dan kompres dingin untuk menghilangkan edemanya.
• Untuk pencegahan diberikan natrium kromoglikat 2%
topikal 4 kali sehari u
• Pada kasus yang berat dapat diberikan antihistamin dan
steroid sistemik.
TRAKOMA

• Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular


kronik yang disebabkan oleh Chlamydia trachromatis.
• Cara penularan penyakit ini adalah melalui kontak
langsung dengan sekret penderita trakoma atau
melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk,
alat-alat kecantikan dan lain-lain. Masa inkubasi rata-
rata 7 hari (berkisar dari 5 sampai 14 hari),
• Keluhan pasien adalah fotofobia, mata
gatal, dan mata berair. Menurut
klasifikasi Mac Callan, penyakit ini
berjalan melalui empat stadium:
• 1. Stadium insipien
• 2. Stadium established (dibedakan atas
dua bentuk)
• 3. Stadium parut .
• 4. Stadium sembuh.
• Pengobatan trakoma dengan tetrasiklin
salep mata, 2-4 kali sehari, 3-4 minggu,
sulfonamid diberikan bila ada penyulit.
Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi
dan makanan yang bergizi dan higiene
yang baik mencegah penyebaran.
• Penyulit trakoma adalah enteropion,
trikiasis, simblefaron, kekeruhan kornea,
dan xerosis/keratitis sika.