Anda di halaman 1dari 21

Kelompok 5 :

 Abe D. Febridipa
 Ai Pratiwi
 Anisha Fauziah
 Satrio Haryono
 Teguh Kusuma
 Winda Wati
Tanaman sawi merupakan jenis
sayuran yang digemari oleh semua
golongan masyarakat. Permintaan
terhadap tanaman sawi selalu
meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan
kesadaran kebutuhan gizi. Sawi
sebenarnya dapat ditanam pada
semua musim, baik dimusim
penghujan maupun dimusim
kemarau dan umumnya dapat
tumbuh dengan baik pada daerah
dataran rendah maupun dataran
tinggi.
Di negara Indonesia tanaman sawi banyak
dibudidayakan petani karena sawi memilki
prospek pasar yang baik serta di Indonesia
iklimnya sangat mendukung terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman
sawi. Berdasarkan data statistik pertanian
secara nasional kemampuan produksi
tanaman sawi Indonesia 8–10 ton/ha (BPS
Sulawesi Tenggara, 2010).
Perdagangan internasional menyebut sawi
hijau dengan sebutan green mustard,
chinese mustard, indian mustard ataupun
sarepta mustard. Orang Jawa, Madura
menyebutnya dengan sawi, sedang orang
Sunda menyebut sasawi. Petani kita hanya
mengenal 3 macam sawi yang biasa
dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi
jabung), sawi hijau, dan sawi huma.
Sekarang ini masyarakat lebih mengenal
caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada
pula jenis sawi keriting dan sawi sawi
monumen.
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Capparales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica rapa var parachinensis L.
Alat yang digunakan antara lain :
- Cangkul
- Tali rafia
- Ember
- Kored
- Embrat
- Mulsa
- Label
- Patok
- Cutter
Bahan yang digunakan :
- Benih sawi hijau
- Air
- Tanah
- Pupuk kompos , pupuk urea , pupuk KCl, pupuk TSP
Untuk setiap hektar lahan tanam, dibutuhkan
benih sawi sebanyak 750 gram atau sekitar
675 mg/petak.
Pada umumnya benih sawi yang baik yaitu :
o memiliki bentuk bulat,
o kecil,
o warna kulit coklat kehitaman,
o agak keras,
o dan permukaannya licin mengkilap.
Benih sawi yang akan digunakan untuk bercocok
tanam harus memiliki kualitas yang baik. Jika
benih tersebut didapat dari membeli, maka saat
membeli harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut, yaitu :
 lamanya penyimpanan,
 kadar air,
 varietas,
 suhu
 dan tempat untuk menyimpan.
Secara umum proses pengolahan tanah untuk
budidaya sawi hijau yaitu :
 melakukan penggemburan tanah
 dan pembuatan bedengan.

Pengemburan tanah dilakukan lewat pencangkulan


guna memperbaiki struktur tanah, sirkulasi udara, dan
pemberian pupuk dasar guna memperbaiki fisik serta
kimia tanah yang tujuannya untuk menambah
kesuburan lahan. Tanah yang akan digemburkan
harus bersih dari semak belukar, rerumputan,
bebatuan, atau pepohonan yang tumbuh.
Lahan tersebut juga harus bebas dari naungan,
karena tanaman sawi menyukai cahaya
matahari secara langsung. Kemudian tanah
dicangkul sedalam 30 cm dan diberi pupuk
organik, yaitu kompos sebanyak 10 ton untuk
setiap hektar lahan atau sekitar 7,5-9 kg/petak.
Kompos diberikan saat dilakukan
penggemburan tanah agar pupuk organik
tersebut dapat cepat merata dan bercampur
dengan tanah yang akan digunakan.
Seminggu sebelum proses penanaman, lakukan
pemupukan terlebih dahulu dengan menggunakan :
 Kompos sebanyak 10 ton/hektar atau sama
dengan7,5-9 kg/petak,
 Ditambah dengan TSP (P2O5 36%) 100 kg/hektar
atau sama dengan 0,25 kg/petak
 KCl (K2O) 75 kg/hektar atau sama dengan 0,112
kg/petak.
Benih yang telah disiapkan dan diseleksi
sebelumnya, ditanam di atas bedengan
dengan luas 3 m x 3 m dan tinggi bedeng
berkisar antara 20 - 30 cm. penanaman
dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5 cm ,
untuk jarak tanam dalam bedengan adalah 30
x 30 cm.
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan tergantung pada
kondisi musim. Jika musim penghujan datang
dan curah hujan berlebihan, maka pengurangan
air harus dilakukan. Tetapi jika sebaliknya, yakni
jika air kurang karena datangnya musim
kemarau, maka harus dilakukan penambahan
air, agar kebutuhan air tanaman sawi tercukupi.
Jika tidak terlalu panas, penyiraman dapat
dilakukan sehari sekali, bisa pada pagi hari atau
sore hari.
b. Penjarangan , yaitu dengan mencabut tanaman
yang tumbuh terlalu rapat. Penjarangan
dilakukan setelah 2 minggu penanaman.
c. Penyulaman yaitu penggantian tanaman yang
mati atau terserang hama dan penyakit dengan
tanaman baru, proses penyulaman ini dapat
dilakukan 2 minggu setelah tanam. Selain
penyulaman, dilakukan pula penyiangan yang
dapat dilakukan 1 atau 2 minggu setelah
penanaman atau disesuaikan dengan
keberadaan gulma pada bedengan. Jika dirasa
perlu, pada saat melakukan penyiangan, lakukan
pula penggemburan dan pengguludan tanah.
d. Pemupukan
Selama proses pemeliharaan, perlu pula
dilakukan pemupukan tambahan, yakni
setelah 3 minggu masa tanam. Pupuk yang
diberikan berupa pupuk urea sebanyak 50
kg/hektar atau sekitar 0,099 kg/petak. Cara
pemupukan dapat dilakukan dengan
melarutkan satu sendok teh (sekitar 25
gram) ke dalam 25 liter air.
Pada umur 40-50 hari dari umur semai,
tanaman sawi sudah dapat dipanen. Cara
untuk memanen sawi ada beberapa macam,
yakni: memotong pangkal batang, mencabut
seluruh tanaman, atau memetik daunnya
satu per satu.
Beberapa aktifitas yang dilakukan pada pasca
panen, diantaranya adalah:
 Membawa hasil panen sesegera mungkin ke
tempat yang teduh agar tidak cepat layu
karena sinar matahari,
 Bersihan sawi tersebut dengan membuang
tanah yang melekat pada sawi atau dengan
memotong bagian yang tidak penting,
kemudian cucilah dengan menggunakan air
guna memperpanjang kesegaran sawi,
 Sortir hasil panen dengan membuang
kotoran gulma serta sawi yang kurang baik,
 Sawi yang telah disortir tersebut selanjutnya
disusun dengan posisi berdiri, dan tidak
terlalu rapat,
 Beri percikan air secukupnya agar sawi tidak
layu dan siap dipasarkan.