Anda di halaman 1dari 25

DATA EKONOMI MAKRO

DOSEN PENGAMPU:
D R . ( C ) I S WA D I , M . P D

DISUSUN OLEH:
1 . M E R I YA M A D E L L A
2 . TA S H I K A R Y U O T O
3 . U LV I A N I Z A K I A

P R O G R A M S T U D I A K U N TA N S I
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI TRIBUANA
2018
PDRB

1. Konsep dan Defenisi


PDRB merupakan penjumlahan nilai output bersih
perekonomian yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan
ekonomi di suatu wilayah tertentu (provinsi dan
kabupaten /kota), dan dalam satu kurun waktu tertentu
(satu tahun kelender). Kegiatan ekonomi yang dimaksud
kegiatan pertanian, pertambangan, industri pengolahan,
sampai dengan jasa.
2. Metode Penghitungan

Ada metode yang dapat dipakai untuk menghitung PDRB, yaitu metode langsung dan
metode tidak langsung.

A. Metode Langsung

B. Pendekatan Produksi

C. Pendekatan Pendapat

D. Pendekatan Pengeluaran

E. Metode Tidak Langsung/Alokasi


a. Klasifikasi Lapangan Usaha
Seperti diketahui PDRB adalah penjumlahan/agregasi dari seluruh
NTB yang dihasilkan oleh setiap kegiatan/lapangan usaha.

Dengan demikian dalam penyajian buku ini kegiatan


ekonomi/lapangan usaha dirinci menjadi:

1) Pertanian,
2) Pertambangan dan Penggalian,
3) Industri Pengolahan,
4) Listrik, Gas dan Air Minum,
5) Konstruksi,
6) Perdagangan, Restoran dan Hotel,
7) Pengangkutan dan Komunikasi,
8) Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan
9) Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan
b. Penghitungan Atas Dasar Harga Berlaku

PDRB atas dasar harga berlaku merupakan jumlah


seluruh NTB atau nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan
oleh unit-unit produksi dalam suatu periode tertentu,
biasanya satu tahun, yang dinilai dengan harga tahun yang
bersangkutan.

c. Penghitungan Atas Dasar Harga Konstan

Penghitungan atas dasar harga konstan pengertiannya sama


dengan atas dasar harga berlaku, tetapi penilaiannya dilakukan dengan
harga suatu tahun dasar tertentu. NTB atas dasar harga konstan
menggambarkan perubahan volume/kuantum produksi saja. Pengaruh
perubahan harga telah dihilangkan dengan cara menilai dengan harga
suatu tahun dasar tertentu.
• Pada dasarnya dikenal empat cara penghitungan nilai tambah atas dasar harga konstan.
Masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Revaluasi
Dilakukan dengan cara menilai produksi dan biaya antara masing-masing tahun
dengan harga pada tahun dasar. Hasilnya merupakan output dan biaya antara atas dasar harga
konstan. Selanjutnya nilai tambah atas dasar harga konstan, diperoleh dari selisih antara output
dan biaya antara atas dasar harga konstan.

b. Ekstrapolasi
Nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara
mengalikan nilai tambah pada tahun dasar dengan indeks produksi.

c. Deflasi
Nilai tambah atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara membagi nilai tambah
atas dasar harga berlaku masing-masing tahun dengan indeks harga.

d. Deflasi Berganda
Dalam deflasi berganda yang dideflasi adalah output dan biaya antaranya,
sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara hasil deflasi
tersebut.
3. Kegunaan Statistik Pendapatan Regional

Dari data PDRB, dapat juga diturunkan beberapa indikator ekonomi penting lainnya,
seperti :

1. Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Harga Pasar , yaitu PDRB dikurangi dengan
seluruh penyusutan atas barang-barang modal tetap yang digunakan dalam proses produksi
selama setahun.

2. Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Biaya Faktor Produksi, yaitu produk
domestik regional neto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung neto.

3. Angka-angka per kapita, yaitu ukuran-ukuran indikator ekonomi sebagaimana diuraikan


diatas dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.
• Konsep PDRB :

A. Wilayah Domestik dan Regional


Pengertian domestik/regional disini dapat merupakan Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota.
Transaksi Ekonomi yang akan dihitung adalah transaksi yang terjadi di wilayah domestik suatu daerah
tanpa memperhatikan apakah transaksi dilakukan oleh masyarakat (residen) dari daerah tersebut atau
masyarakat lain (non-residen).

B. Produk Domestik
Semua barang dan jasa sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang beroperasi di
wilayah domestik, tanpa memperhatikan apakah faktor produksinya berasal dari atau dimiliki oleh
penduduk dareha tersebut, merupakan produk domestik daerah yang bersangkutan.

C. Produk Regional
Produk regional merupakan produk domestik ditambah dengan pendapatan dari
faktor produksi yang diterima dari luar daerah/negeri dikurangi dengan pendapatan dari
faktor produksi yang dibayarkan ke luar daerah/negeri. Jadi produk regional merupakan
produk yang ditimbulkan oleh faktor produksi yang dimiliki oleh residen.

D. Residen dan Non-Residen


Unit institusi yang mencakup penduduk/rumah tangga, perusahaan, pemerintah
lembaga non-profit, dikatakan sebagai residen bila mempunyai/melakukan kegiatan ekonomi
di suatu wilayah (Indonesia). Suatu rumah tangga, perusahaan, lembaga non profit tersebut
mempunyai/melakukan kegiatan ekonomi di suatu wilayah jika memiliki tanah/bangunan
atau melakukan kegiatan produksi di wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (minimal
satu tahun).
Untuk menghitung angka-angka PDRB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan,
yaitu :

1. Menurut Pendekatan Produksi


PDRB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh
berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu
tahun).
Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9
lapangan usaha (sektor) yaitu :

o Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan


o Pertambangan dan Penggalian
o Industri Pengolahan
o Listrik, Gas dan Air Bersih
o Konstruksi
o Perdagangan, Hotel dan Restoran
o Pengangkutan dan Komunikasi
o Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan
o Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi
sub-sub sektor.
2. Menurut Pendekatan Pendapatan
PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi
yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu
(biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa
tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan
pajak langsung lainnya.

3. Menurut Pendekatan Pengeluaran


PDRB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari :
o pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba
o pengeluaran konsumsi pemerintah
o pembentukan modal tetap domestik bruto
o perubahan inventori, dan
o ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi,
jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan
harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. PDRB yang
dihasilkan dengan cara ini disebut sebagai PDRB atas dasar harga pasar, karena di
dalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto.
Metodologi PDRB Pengeluaran

1. Metodologi Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

A. PDRB Tahunan
Penghitungan PKRT selama ini didasarkan pada hasil Susenas. Akan tetapi, karena
data pengeluaran rumah tangga dari Susenas cenderung underestimate khususnya untuk
kelompok bukan makanan dan makanan jadi, maka perlu dilakukan penyesuaian
(adjustment).

B. PDRB Triwulan
Penghitungan PKRT triwulanan atas dasar harga (adh) berlaku didasarkan pada
nilai PKRT triwulan sebelumnya dikalikan dengan Indeks Konsumsi Triwulanan hasil
SKKRT. Untuk memperoleh PKRT triwulanan atas dasar harga (adh) konstan digunakan
metode deflasi, dengan deflator IHK 12 kelompok COICOP yang sesuai.
2. Metodologi Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

a. Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)


Baik penghitungan tahunan maupun triwulanan, metodologinya sbb: Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah atas dasar harga berlaku (ADHB) = output-penjualan barang dan jasa
+ social transfer in kind purchased market production. Output non pasar dihitung melalui
pendekatan biaya-biaya yang dikeluarkan, seperti belanja pegawai, belanja barang, belanja
bantuan sosial dan belanja lain-lain.

b. Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)


Baik penghitungan tahunan maupun triwulanan, metodologinya sbb: Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan Metode
Deflasi dan Ekstrapolasi
3. Metodologi Pembentukan Modal Tetap Bruto
Estimasi nilai PMTB dapat dilakukan melalui metode langsung maupun tidak
langsung. Pendekatan "langsung" adalah dengan cara menghitung pembentukan modal (harta
tetap) yang dilakukan oleh berbagai sektor ekonomi produksi (produsen) secara langsung.
Sedangkan pendekatan "tidak langsung"adalah dengan menghitung berdasarkan alokasi dari
total penyediaan produk (barang dan jasa) yang menjadi barang modal pada berbagai sektor
produksi, atau disebut juga sebagai pendekatan "arus komoditi".

a. Pendekatan secara langsung


Penghitungan PMTB secara langsung dilakukan dengan cara menjumlahkan
seluruh nilai PMTB yang terjadi pada setiap sektor kegiatan ekonomi (lapangan usaha).
Barang modal tersebut dinilai atas dasar harga pembelian, yang di dalamnya sudah termasuk
biaya-biaya yang dikeluarkan, seperti biaya untuk transportasi, biaya instalasi, pajak-pajak
serta biaya-biaya lain yang berkaitan dengan pengadaan barang modal tersebut.

b. Pendekatan secara tidak langsung


Penghitungan pembentukan modal dengan cara tidak langsung disebut juga sebagai
pendekatan melalui arus komoditas (commodity flow approach). Pendekatannya adalah
dengan menghitung nilai produk barang yang dihasilkan oleh berbagai sektor ekonomi
(supply) yang kemudian dialokasikan sebagian menjadi barang modal.
METODOLOGI EKSPOR – IMPOR

A. PDB Tahunan
Secara umum, penghitungan ekspor-impor barang luar negeri dalam PDB Provinsi
identik dengan penghitungan pada lembar kerja ekspor-impor dalam PDRB. Namun, langkah
awal yang harus dilakukan dalam penghitungan ekspor-impor PDB Provinsi adalah
rekonsiliasi sumber data utama ekspor-impor kepabeanan bersama Provinsi lainnya di bawah
koordinasi Bidang Neraca dan Distribusi BPS Provinsi.

PDRB : TUJUAN PENGHITUNGAN PENDAPATAN RAGIONAL


Dengan tersedianya statistik pendapatan regional secara berkala dapat diketahui antara lain:
a. Tingkat Pertumbuhan ekonomi.
Apabila angka-angka statistik pendapatan regional disajikan atas dasar harga
konstan, akan menunjukkan laju pertumbuhan perekonomian suatu daerah, baik itu secara
menyeluruh maupun sektor demi sektor.

b. Tingkat kemakmuran suatu daerah.


Pertumbuhan perekonomian yang tinggi belum menjamin kemakmuran yang tinggi
bagi masyarakatnya oleh karena mungkin perkembangan penduduknya juga cukup tinggi.
Tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita lebih menunjukkan perkembangan kemakmuran,
sebab bila dilihat dari sudut konsumsi, berarti masyarakat akan mempunyai kesempatan
untuk menikmati barang dan jasa yang lebih banyak atau yang lebih tinggi kwalitasnya.
c. Tingkat Inflasi dan Deflasi
Salah satu masalah pokok yang selalu dihadapi oleh pemerintah adalah besarnya
tingkat inflasi yang melonjak setiap tahun. Peningkatan pendapatan yang diterima
masyarakat apabila diikuti oleh tingkat inflasi yang tinggi tidak akan mempunyai arti apa-
apa, oleh karena dengan adanya inflasi yang tinggi mengakibatkan kemampuan daya beli
dari pendapatan (uang) yang diterima akan menurun, dan sebaliknya untuk deflasi.
Penyajian atas dasar harga konstan bersama-sama dengan penyajian atas dasar harga
berlaku antara lain dapat dipakai sebagai indikator untuk melihat tingkat inflasi ataupun
deflasi yang terjadi.

d. Gambaran struktur perekonomian


Dari angka-angka yang disajikan menurut sektor dapat dilihat struktur
perekonomian suatu daerah, apakah merupakan daerah agraris atau industri. Berdasarkan
data dari masing-masing sektor dapat dilihat peranan atau sumbangannya, terhadap jumlah
pendapatan secara keseluruhan. Apabila pendapatan suatu daerah disajikan berdasarkan
penggunaannya maka dapat dilihat besarnya hubungan pendapatan dengan tingkat
konsumsi, pembentukan modal, perubahan stok, ekspor dan impor.
Indeks Harga Konsumen

A. Indeks Harga Konsumen: Pengertian, Rumus dan Cara Penghitungannya


 Ilmu akuntansi dan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari penghitungan terhadap angka-
angka. Misalnya saja ketika perusahaan ingin mengetahui tingkat likuiditasnya, maka
diperlukan rumus dan contoh rasio likuiditas untuk mengetahui taraf kemampuan
perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya.
 Pengertian analisis rasio laporan keuangan yaitu semacam alat yang diperlukan untuk
memeriksa dan membandingkan hubungan-hubungan yang ada pada unit-unit
informasi dalam laporan keuangan.Tujuan dan contoh analisis laporan keuangan
adalah dapat menjadi pertimbangan bagi investor untuk berinvestasi di suatu
perusahaan. Investor butuh informasi tersebut untuk menilai kelayakan suatu
perusahaan, apakah konsisten dengan keuntungannya atau tidak.

B. Apa Itu Indeks Harga Konsumen?


 Indeks harga konsumen adalah indeks yang menghitung harga rata-rata barang dan
jasa yang telah dikonsumsi konsumen. Indeks harga konsumen juga merupakan ukuran
yang dapat memberi informasi tentang rata-rata konsumsi konsumen akan barang dan
jasa dari kelompok tertentu seperti transportasi, makanan dan obat medis.
Barang dan jasa yang dikonsumsi pekerja profesional, pekerja mandiri (self-employment),
warga miskin, pengangguran dan pensiunan di suatu negara masuk dalam statistik indeks
harga konsumen.

Sedangkan barang dan jasa yang dikonsumsi pasukan bersenjata, petani,


narapidana dan pasien rumah sakit jiwa tidak termasuk dalam statistik indeks harga
konsumen. Barang dan jasa yang masuk dalam penghitungan dibagi ke dalam delapan
kelompok besar yaitu:

• Makanan
• Perumahan
• Pakaian
• Transportasi
• Biaya Perawatan Medis
• Rekreasi
• Pendidikan
• Barang dan Jasa Lainnya
C. Rumus dan Contoh Penghitungan Indeks Harga Konsumen
Indeks harga konsumen dapat dihitung dengan cara berikut ini:

𝑃𝑛
IHK = x 100% =
𝑃𝑜

Keterangan:
IHK = Indeks Harga Konsumen
Pn = Harga sekarang
Po = Harga tahun dasar

Contohnya : Pada tahun 2012 suatu barang memiliki harga Rp.8.000 per unit. Sedangkan
pada tahun dasar yaitu tahun 2010 harga barangnya adalah RP.6.000 per unit. Maka indeks
harga konsumen pada tahun tersebut adalah sebagai berikut:

𝑅𝑝 8.000
IHK = x 100% = 125
𝑅𝑝 6000
Menghitung Laju Inflasi
Hasil penghitungan indeks harga konsumen dapat digunakan untuk menghitung tingkat
atau laju inflasi pada periode tertentu. Berikut adalah rumus dan cara penghitungannya:

HKn −HKn −1
Inflasi = x 100%
HKn −1

Keterangan
HKn = Indeks Harga Konsumen pada tahun n
HKn-1 = Indeks Harga Konsumen satu tahun sebelum tahun n

Contohnya, Indeks harga konsumen di akhir tahun 2009 adalah 135,17 sedangkan indeks
harga konsumen di tahun 2010 naik menjadi 139,91. Maka tingkat inflasi di tahun 2011
yaitu:

139,91 −135,17
Tingkat inflasi pada tahun 2011 = x 100% = 3,506%
135,17
Tujuan Indeks Harga

Adapun tujuan indeks harga dalam perekonomian suatu negara adalah sebagai berikut :
Sebagai petunjuk atau indikator yang dapat digunakan dalam mengukur kegiatan
perekonomian secara umum. Indeks harga perdagangan dasar dapat memberi gambaran
trend atau kecenderungan dalam perdagangan. Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks
Harga Biaya Hidup dapat digunakan untuk penetapan gaji karyawan dan perubahannya.
Indeks Harga yang berlaku bagi petani, baik yang diterima ataupun yang dibayar,
merupakan gambaran bagi petani tersebut apakah petani tersebut makmur atau semakin
melarat. Indeks Harga umumnya digunakan pedagang dalam kebijakan penetapan harga dan
penentuan jumlah barang.
Indeks harga bertujuan untuk menghitung atau mengetahui tingkat kemajuan perekonomian
negara.

Fungsi Indeks Harga

Dalam hal ini, pemerintah dapat membuat suatu kebijakan yaitu harga minimum
atau membuat kebijakan harga maksimum.
Sebagai alat untuk mengukur tingkat kemajuan ekonomi, sebagai alat untuk menyelidiki
faktor-faktor yang mendorong atau yang menghambat kemajuan ekonomi, indeks harga
dapat digunakan para pedagang dalam menentukan harga jual produk, indeks harga dapat
digunakan sebagai petunjuk atau barometer dari keadaan ekonomi secara umum.
TINGKAT PENGANGGURAN

A. Pengertian Pengangguran

Pengangguran berasal dari kata “menganggur” yang berarti sedang tidak


melakukan apapun. Secara umum pengangguran adalah istilah untuk seseorang yang tidak
bekerja ataupun saat ini sedang mencari pekerjaan. Istilah tingkat pengangguran sering kali
kita dengar, tingkat pengangguran adalah jumlah perbandingan antara jumlah angkatan
kerja dalam bentuk persentase.

B. Ciri-ciri pengangguran sebagai berikut :

• Seseorang yang sedang tidak bekerja.


• Seseorang yang sedang dalam keadaan mempersiapkan usaha baru.
• Seseorang yang tidak memiliki pekerjaan karena orang tersebut merasa tidak akan
mungkin untuk mendapatkan pekerjaan.
• Seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan akan tetapi belum mulai bekerja.
Penyebab terjadinya pengangguran di suatu negara disebabkan oleh banyak hal
berikut ini penyebab banyaknya penganngguran menurut beberapa ahli adalah
sebagai berikut :

• Tekanan demografis dengan jumlah dan komposisi angkatan kerja yang besar.
• Pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja.
• Jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja.
• Kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja.

Terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang disebabkan, antara lain :

• perusahaan yang menutup atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau
keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat investasi, hambatan
dalam proses ekspor-impor, dan sebagainya.
• Kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja.
• Berbagai regulasi dan perilaku birokrasi yang kurang kondusif bagi pengembangan
usaha.
• Urbanisasi.
DAMPAK PENGANGGURAN

• Menurunkan Aktivitas Perekonomian.

• Menurunkan Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Per Kapita.

• Meningkatkan Biaya Sosial.

• Menurunkan Tingkat Keterampilan.

• Menurunkan Penerimaan Negara.


CARA MENGATASI PENGANGGURAN

Secara umum cara mengatasi pengangguran adalah dengan meningkatkan investasi,


meningkatkan kualitas SDM, transfer teknologi dan penemuan teknologi baru, pembenahan
perangkat hukum dalam bidang ketenagakerjaan, dan lainlain. Secara teknis kebijakan upaya-
upaya ke arah itu dapat ditempuh dengan berbagai kebijakan misalnya :
• Menyelenggarakan bursa pasar kerja

• Menggalakkan kegiatan ekonomi informal

• Meningkatkan keterampilan tenaga kerja

• Meningkatkan mutu pendidikan

• Mendirikan pusat-pusat latihan kerja

• Meningkatkan pertumbuhan ekonomi

• Mendorong investasi

• Meningkatkan transmigrasi

• Melakukan deregulasi dan debirokrasi


Kesimpulan

 Kegunaan dari data makroekonomi yaitu untuk memantau perubahan-perubahan dalam


perekonomian dan untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat.
 Laju Pertumbuhan PDRB, atas dasar harga konstan diperoleh dengan
mengurangi nilai pada tahun kedepan dengan nilai pada tahun ke n-1 dibagi
dengan nilai pada tahun ke n-1 dikalikan dengan 100 persen. Laju pertumbuhan
menunjukkan tingkat perkembangan agregat pendapatan untuk masing-masing
tahun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 kenaikan yang terus menerus pada keseluruhan tingkat harga selama ini telah
menjadi norma. Inflasi mengurangi daya beli setiap unit uang sepanjang waktu.
Ketika membandingkan jumlah moneter dari waktu-waktu yang berbeda, penting
bagi kita untuk menginagat bahwa nilai uang hari ini tidaklah sama dengan
nilainya pada dua puluh tahun lalu atau kemungkinan besar dua puluh tahun dari
sekarang. Makalah ini membahas bagaimana para pakar ekonomi mengukur
keseluruhan tingkat harga dalam perekonomian dan bagaimana mereka
menggunakan indeks harga untuk menyesuaikan variabel ekonomi dengan
dampak inflasi.
 Untuk mengatasi masalah pengangguran ini pemerintah telah membuat suatu
program untuk menampung para pengangguran. Selain mengharapkan bantuan
dari pemerintah sebaiknya kita secara pribadi juga harus berusaha memperbaiki
kualitas sumber daya kita agar tidak menjadi seorang pengangguran dan menjadi
beban pemerintah.