Anda di halaman 1dari 61

LUKA BAKAR

LATAR BELAKANG
Setiap tahunnya terjadi 12.000 kematian akibat luka
bakar dan cedera inhalasi yang berhub dengan luka
bakar.
Banyak orang masuk rumah sakit setiap tahunnya
disebabkan karena luka bakar. Luka bakar tidak hanya
berpengaruh terhadap kulit saja tetapi berpengaruh
terhadap sistem tubuh secara menyeluruh. Menghisap
asap dan infeksi pada luka merupakan komplikasi
pasien yang mengalami luka bakar
DEFINISI LUKA BAKAR
Suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan
(baik kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam)
yang disebabkan kontak dengan sumber
panas/dingin.

KEMATIAN
ETIOLOGI LUKA BAKAR

 Luka Bakar Suhu Tinggi / Suhu Rendah (Thermal Burn)


Suhu tinggi: api, cairan, uap, bahan solid
Suhu rendah : Frostbite
 Luka Bakar Bahan Kimia (chemical Burn)
exp: air accu aktif, bahan kimia korosif
 Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)
exp: tersengat listrik, tersambar petir
 Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)
PATOFISIOLOGI LUKA BAKAR

Pembuluh kapiler rusak & permeabilitas 


edema bulla (membawa elektrolit)
penurunan volume cairan intravaskuler.
RESPON LUKA BAKAR
Respon sistemik
Respon kardiovaskuler
Respon pulmoner
Respon cairan, elektrolit dan volume darah
Respon renalis
Respon imunologik
Respon gastrointestinal
Respon lokalis
RESPON SISTEMIIK

Penurunan curah jantung

•Syok
•Hipoperfusi jaringan
•Hipofungsi organ

Hiperdinamik
hipermetabolik
RESPON KARDIOVASKULER

Kehilangan cairan volume vaskuler berkurang


 menurunkan curah jantung penurunan
tekanan darah  responnya: resistensi perifer
(vasokonstriksi)  kompartemen sindrom :
iskemia aliran darah kecil / perifer.
RESPON PULMONER

luka bakar yang berat  hipermetabolisme  konsumsi oksigen oleh


jaringan tubuh pasien meningkat dua kali lipat
 Cedera saluran napas atas dimanifestasikan dengan adanya obstruksi
mekanis dari faring dan laring  dapat diatasi dengan intubasi
nasotrakeal / endotrakeal.
 Cedera inhalasi dibawah glotis  hilangnya fungsi silia, hipersekresi,
odema mukosa berat, bronkospame
RESPON PADA CAIRAN, ELEKTROLIT DAN VOLUME
DARAH

 evaporasi luka bakar (3 – 5 Ltr selama periode 24 jam pertama)  Syok


luka bakar  volume darah akan menurun
 Terjadinya Hiponatremia pada minggu pertama fase akut karena air
akan berpindah dari ruang interstisiel ke ruang vaskuler.
 hiperkalemia akibat destruksi sel yag masif
 Hipokalemia akibat berpindahnya cairan dan asupan cairan yang tidak
memadai.
 Anemia bisa terjadi akibat SDM rusak / hancur
RESPON RENALIS

penurunan volume darah  aliran darah yang melewati tubulus renal


tidak adekuat  Hemoglobin dan mioglobin menyumbat tubulus renal
 nekrosis akut tubuler  gagal ginjal.
RESPON IMUNOLOGIS

 kehilangan integritas kulit


 Pelepasan faktor inflamasi
yang abnormal
 Penurunan imunoglobulin
serta komplemen serum
 Gangguan fgs netrofil
 Limfositopenia imunosupresi

SEPSIS
RESPON GASTROINTESTINAL

Ileus paralitik akibat hipokalemi  kembung distensi lambung


nausea / mual  vomiting / muntah , bila tidak dilakukan dekompresi
lambung  asam lambung meningkat stress lambung gastritis
erosif blooding vomiting, hematemesis , melena  jatuh dalam
kondisi ulkus curling.
RESPON LOKALIS

 Kedalaman luka bakar


 Luas luka bakar
KEDALAMAN LUKA BAKAR

Derajat 1
 Epidermis rusak
 Gejala : kesemutan, hiperestesia,
nyeri berkurang bila didinginkan
 Tampilan luka: memerah, minimal
atau tanpa oedema dan bullae
 Prognosa : sembuh dalam 1
minggu
Derajat 2
 Epidermis dan sebagian dermis
rusak
 Gejala : hiperestesia, nyeri dan
sensitif terhadap udara dingin
 Tampilan luka: melepuh dengan
bintik bintik merah pada dasar
luka, permukaan luka basah,
adanya odema dan bullae
 Prognosa : sembuh dalam 2 – 3
minggu, terjadi pembentukan
parut dan depigmentasi.
Derajat 3
Epidermis, dermis rusak dan kadang
kadang sampai ke jaringan subkutan
Gejala : tidak terasa nyeri, syok,
hematuria,
Tampilan luka: kering, luka bakar
berwarna putih, bagian lemak tampak,
adanya odema dan bullae
Prognosa : penyembuhan bisa saja lebih
dari 3 atau lebih lama, terjadi jaringan
parut, hilangnya kontur kulit dan fungsi
kulit, untuk penyembuhan mungkin
diperlukan cangkok kulit (skin graft /
tandur kulit).
PERHITUNGAN LUAS LUKA BAKAR

 Penggunaan Rule Of Nine


Rumus sembilan merupakan cara yang cepat untuk menghitung luas daerah
yang terbakar dengan menggunakan prosentase dalam kelipatan sembilan
terhadap permukaan luas tubuh yang luas.

 Metode Lund and Browder


metode ini lebih tepat untuk menentukan luas luka bakar, karena mengakui
bahwa area anatomis seperti kepala dan tungkai akan berubah menurut
pertumbuhan.

 Metode telapak tangan


digunakan untuk menentukan luas luka bakar yang menyebar dengan
estimasi telapak tangan korban adalah kurang lebih 1% luas tubuhnya.
RULE OF NINE FOR ADULT

ORGAN ∑ Dws
Kepala 1 9%
Dada + perut 1 18%
4,5%
4,5% 4,5% Punggung + pantat 1 18%
4,5%
Lengan atas + bawah dpn @4,5% 2 9%
Lengan atas + bawah blkg @4,5% 2 9%
Paha + betis depan @9% 2 18%
Paha+ betis blkg @9% 2 18%
9% 9% 9% 9% Genetalia 1 1%
jumlah 100
%
RULE OF NINE CHILD

ORGAN ∑ Anak
Kepala 1 18%
Dada + perut 1 18%
Punggung + pantat 1 18%
Lengan atas + bawah dpn @4,5% 2 9%
Lengan atas + bawah blkg @ 4,5% 2 9%
Paha + betis depan @ 7% 2 14%
Paha+ betis blkg @ 7 % 2 14%
Genetalia (ikut dada + perut) -
jumlah 100%
RULE OF NINE INFANT

ORGAN ∑ bayi
Kepala 1 18%
Dada + perut 1 18%
Punggung + pantat 1 18%
Lengan atas + bawah (dpn + 2 18%
Blkg)@ 9%
Paha + betis (dpn + blkg) @14% 2 28%
Genetalia (ikut dada +perut)
jumlah 100%
FASE RESUSITASI PERAWATAN LUKA
BAKAR
 Fase ini diawali dari awitan cidera hingga selesainya resusitasi
cairan
 Prioritas :
- Pertolongan pertama
- Pencegahan syok
- Pencegahan gangguan pernafasan
- Deteksi dan penanganan cedera yang menyertai
- Penilaian luka dan perawatan pendahuluan
PERTOLONGAN PERTAMA LUKA BAKAR DITEMPAT
KEJADIAN
 Pastikan penolong aman / tidak ikut terbakar
 Matikan api: drop and roll, gunakan materi basah untuk
mematikan api.
 Jika sumbernya adalah listrik: padamkan....
 Mendinginkan luka bakar: basahi area luka dan baju yang
menempel dengan air sejuk. Setelah itu kompres area luka
dengan kain dingin atau rendam luka dengan air dingin. Jangan
sekali kali merendam luka / mengompres luka dengan air
es selama beberapa menit ancaman kerusakana jaringan
dan hipotermia
 Lepaskan benda penghalang: logam yang menempel, sepatu atau
baju lain.
 Tutup luka bakar: kassa steril pilihan terbaik, tapi bila kondisi
darurat kain bersih dan kering jadi alternatif utama. Jangan
menggunakan balsam atau salep.
 Irigasi luka bakar kimia : lepas bahan yang menempel di tubuh,
kemudian irigasi dengan air yang mengalir
 Nilai ABC.....
 Cegah Syok: posisikan pasien pada kondisi aman, ciptakan saluran
napas lapang, mencegah aspirasi makanan.
KRITERIA MRS LUKA BAKAR

 Luka bakar derajat 2 lebih dari 10% pada penderita dibawah


10 tahun, diatas 50 tahun
 Luka bakar derajat 2 lebih dari 20% semua usia
 Luka bakar derajat 2 dan 3 area wajah / trauma inhalasi,
tengan, kaki, genetalia dan kulit yang menutup sendi.
 LB derajat 3 lebih dari 5% semua usia
 Luka bakar listrik, petir dan bahan kimia
 Luka bakar pada penderita dengan penyakit penyakit yang
mempersulit penanganannya  DM, CRF, CHF.
PENATALAKSANAAN MEDIS DARURAT

 Prioritas utama ABC


 Kegawatan : jika ada odema jalan napas  intubasi endotrakeal
 Ventilasi mekanis
 Pengkajian luas luka bakar  terapi cairan yang tepat
 Pasang infus dengan ukuran besar (16 atau 18) untuk rehidrasi.
 Pemasangan nasogastrik tube
 Pemasangan kateter urine untuk mengobservasi keadaan
keseimbangan cairan
 Pemeriksaan laboratorium
 Pemberian terapi: analgetik, antibiotik, TT
PENATALAKSANAAN KEHILANGAN CAIRAN LUKA
BAKAR

Kombinasi cairan yang digunakan:


1)koloid (WB, plasma, plasma expander)
2)kristaloid / elektrolit (NaCl, RL)

Tujuan penggantian cairan:


1)pencapaian tekanan sistolik > 100 mmHg,
2)nadi < 100 x/mnt,
3)urine produksi: 30 – 50 ml/jam
RUMUS PENGGANTIAN CAIRAN PADA LUKA BAKAR

 Rumus konsensus

Larutan RL atau larutan Saline


2 – 4 ml x kg BB x % luas luka bakar
pemberian cairan menurut rumus ini, separoh diberikan pada 8 jam
petama, sisanya dalam 16 jam berikutnya

Kecepatan dan volume cairan diatur menurut respon pasien, ingat


tujuan penggantian cairan.....!!!!!
1. Koloid : 1 ml x kg BB x % luas LB
2. Elektrolit (NS) : 1 ml x kg BB x % luas LB
3. Glukosa 5% : 2000 ml untuk kehilangan
insensibel

 Rumus evans

 Hari 1
pemberian cairan koloid dan elektrolit, separoh diberikan pada 8
jam petama, sisanya dalam 16 jam berikutnya
 Hari 2
separoh dari cairan koloid dan elektrolit yang diberikan pada hari
sebelumnya; seluruh penggantian cairan insensibel
1. Koloid : 1 ml x kg BB x % luas LB
2. Elektrolit (RL) : 1 ml x kg BB x % luas LB
3. Glukosa 5% : 2000 ml untuk kehilangan
insensibel

 Rumus Brooke Army


 Hari 1
Pemberian cairan koloid dan elektrolit, separoh diberikan pada 8
jam petama, sisanya dalam 16 jam berikutnya
 Hari 2
separoh dari cairan koloid dan elektrolit yang diberikan pada hari
sebelumnya; seluruh penggantian cairan insensibel
 Rumus Parkland / Baxter

Larutan RL
4 ml x kg BB x % luas luka bakar
 Hari 1
pemberian separoh diberikan pada 8 jam petama, sisanya dalam 16
jam berikutnya
 Hari 2
bervariasi, ditambahkan koloid
CONTOH: KORBAN BB 70 KG, LB : 50%

 Penghitungan menurut rumus konsensus


2 x 70 x 50 = 7000 ml / 24 jam
4 x 70 x 50 = 14000 ml / 24 jam

Kebutuhan selama 24 jam = 7000 – 14000


 8 jam pertama: 3500 – 7000 ml; 437 – 875 ml/ jam 146
tpm
 Berikutnya 16 jam :3500 – 7000 ml; 218 – 437 ml/ jam
73 tpm

( 1 tts makro = 0,05 ml)


PROSES KEPERAWATAN

 Pada luka bakar, keperawatan dibagi menjadi 3 fase:


- fase darurat: mulai kejadian – 48 jam pertama
- fase akut / intermediet : 48 jam – 72 jam
- fase rehabilitasi
PROSES KEPERAWATAN LUKA BAKAR

FASE DARURAT / RESUSITASI


PENGKAJIAN

 Tanda vital: status respirasi, nadi apikal, tekanan darah, suhu


tubuh, berat badan,
 Luas luka bakar dan Kedalaman luka bakar
 Pemantauan asupan cairan
 Haluaran urine
 Imunisasi tetanus
 Penyakit penyerta
 Pengkajian head to toe
 Status neurologis : tingkat kesadaran.
 Tingkat nyeri
 Kecemasan dan perubahan perilaku
DIAGNOSA KEPERAWATAN FASE DARURAT /
RESUSITASI
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
obtruksi trakeabronkial; edema mukosa dan hilangnya kerja
silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak
dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan
cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status
hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan
perdarahan.
3. ( Resiko / actual )kerusakan pertukaran gas berhubungan
dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen
torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada
atau leher
4. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan;
pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh
debridemen luka.
5. Hipotermia yang berhubungan dengan gangguan mikrosirkulasi
dan luka terbuka.
6. Ansietas berhub dengan ketakutan dan dampak emosional
luka bakar
Masalah komplikasi:
 Gagal respirasi yang akut
 Syok sirkulasi
 Gagal ginjal akut
 Kompartemen sindrom
 Ileus paralirik
 Ulkus curling
INTERVENSI
DX. BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF

 Pertahankan kepatenan jalan napas


 Berikan oksigen yang sudah dilembabkan
 Batuk efektif dan Napas dalam, fisio terapi dada
 Suction jika diperlukan
 Monitor respiratory status
 Selidiki perubahan perilaku/mental contoh gelisah, agitasi, kacau
mental.
 Kolaborasi:
- Kaji ulang seri rontgen
- intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi.
INTERVENSI
DX. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN

 Awasi vital sign


 Awasi pengeluaran urine: jumlah dan warna.
 Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tampak
 Timbang berat badan setiap hari
 Selidiki perubahan mental
 Observasi distensi abdomen, hematomesis, feces hitam.
 Pertahankan pemasangan IV line
 Pasang kateter
 Monitor lab: Hb, Elektrolit
 Kolaborasi
- antagonis reseptor histamin exp: simetidin
- pemberian elektrolit
- pemeriksaan laboratorium
INTERVENSI
DX. KERUSAKAN PERTUKARAN GAS

 Kaji bunyi napas, frekuensi napas.


 Kaji tanda hipoksia
 Pantau BGA dan karboksi hemoglobin
 Berikan oksigen yang sudah dilembabkan. pada tingkat yang
ditentukan.
 Kolaborasi:
- ventilator mekanis bila terjadi insufisiensi pernafasan .
- Siapkan pasien untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.
INTERVENSI
DX. NYERI

 Monitor skala nyeri


 Distraksi dan relaksasi
 Atur posisi nyaman
 Monitor Vital sign
 Kolaborasi : preparat analgetik
 Monitor efek terapi supresi napas
INTERVENSI
DX. HIPOTERMI

 Atur suhu lingkungan


 Monitor vital sign : suhu dengan teratur
 Bekerja dengan cepat saat mengeksplorasi luka.
INTERVENSI
DX. ANSIETAS

 Prinsip penurunan ansietas: dukungan / support.


 Beri penjelasan secara adekuat kepada pasien dan keluarga.
 Libatkan keluarga dalam perawatan klien
 Kaji status / mekanisme koping
 Obat anti ansietas  bila betul betul dibutuhkan, dengan adanya
manifestasi klinis yang mendukung.
EVALUASI

 Pertukaran gas adekuat dan bersihan jalan napas paten


 Cairan dan elektrolit optimal
 Suhu tubuh aseptabel
 Nyeri terkendali
 Tingkat ansietas minimal
 Tidak terjadi komplikasi
PROSES
KEPERAWAT
FASE AKUT AN LUKA
BAKAR
PENGKAJIAN

 Perubahan hemodinamika dan laboratorium


 Proses penyembuhan luka bakar: ukuran, warna, bau, eskar,
eksudat, abses, granulasi luka
 Nyeri
 Respon psikososial
 Deteksi dini komplikasi
 Vital sign, nadi perifer
 Pemeriksaan EKG adanya aritmia jantung menandakan
gangguan keseimbangan kalium
 Status nutrisiMonitor Berat Badan
 Status hidrasi dan elektrolit
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Kelebihan volume cairan


 Resiko infeksi
 Perubahan nutrisi (kurang) b.d hipermetabolisme
 Kerusakan integritas kulit
 Nyeri
 Kerusakan mobilitas fisik
 Koping tidak efektif
 Kurang pengetahuan ttg penanganan luka bakar
INTERVENSI KEPERAWATAN

 Memulihkan keseimbangan cairan


 Pencegahan dari ancaman infeksi
 Mempertahankan nutrisi yang adekuat
 Memperbaiki integritas kulit
 Perawatan luka
 Mengurangi nyeri
 Meningkatkan mobilisasi fisik
 Memperkuat strategi koping
 Mendukung pasien dan keluarga
 Pemantauan komplikasi
PRINSIP PERAWATAN LUKA BAKAR

 Pembersihan luka
 Hidroterapi: perendaman total selama 20 – 30 menit dengan suhu air sekitar
37, 8 C. Air yang digunakan : air steril, antiseptik yang diencerkan.
 Saat berendam  bergerak aktif
 Dilakukan sehari sekali, melihat keadaan luka jangan sampai merusak
granulasi.
 Saat mengeringkan jangan di swab
 Utamakan kenyamanan pasien.
 Terapi antibiotik topikal
 Pemilihan preparat topikal harus :
 efektif terhadap mikroorganisme gram negatif (Pseudomonas aeruginosa,
staphylococcus aureus, bahkan jamur)
 Efektif secara klinis
 Harus bisa menembus eskar tapi secara sistemik tidak toksik
 Bisa mencegah agar infeksi lain tidak terjadi
 Cost effective, mudah diperoleh
 Mudah digunakan sehingga meminimalkan lama perawatan luka
 Preparat yang biasa digunakan:
 Silver sulfadiazine (SSD)
 Silver nitrat
 Mafenide asetat
 Penggantian balutan
 Dilakukan 20 menit setelah pemberian analgetik
 Pembalut luar digunting dengan gunting verban
 Balutan yang menempel dibasahi dengan NS untuk mengurangi nyeri
 Setelah balutan lepas, bersihkan debris, preparat topikal yang
tertinggal, kulit yang mati dan eksudat.
 Harus dilihat keadaan luka: warna, bau, , luas, eksudat, tanda
reepitelialisasi
 Setelah bersih, berikan preparat topikal
 Ganti balutan dengan kassa steril dengan memperhatikan lokasi luka
PENATALAKSANAAN NYERI

 Pemberian analgetik sebelum prosedur perawatan luka


 Perawatan luka yang tepat, cepat.

DUKUNGAN NUTRISI
Kebutuhan protein : 1,5 – 4 gr protein / Kg BB / 24
jam
 Karbohidrat 5000 kal/ hr
Makanan personde bisa diberikan untuk mencegah
ulkus curling
KELAIANAN PEMYEMBUHAN LUKA

 Terbentuknya jaringan parut


 Keloid
 Kegagalan untuk sembuh
 kontraktur
PROSES
KEPERAWAT
FASE REHABILITASI AN LUKA
BAKAR
PENGKAJIAN
 Pekerjaan
 Latar belakang budaya
 Interaksi pasien dan lingkungannya
 Konsep diri
 Status mental
 Respon emosional
 Respon nyeri
 Pola tidur
 Kemampuan mobilisasi dan fungsional sehari hari
 Rentang gerak dan keadaan sendi
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Intoleransi aktifitas
 Gangguan citra tubuh
 Kurang pengetahuan
 Masalah komplikasi: kontraktur
INTERVENSI

 Meningkatkan toleransi terhadap aktifitas


 Memperbaiki citra tubuh dan kosep diri
 Pendidikan pasien
 Kolaborasi Fisioterapist
REFERENSI

 Keperawatan medikal bedah, brunner & suddarth


 Bedah primer trauma, maurice king
 Rencana asuhan keperawatan, doengoes
 ATLS
 Pertolongan dasar gawat darurat trauma
MATUR NUWUN