Anda di halaman 1dari 54

TRIANA PUTRI

20090310133
BAB I

A. Identitas Pasien
 Nama : Tn. T

 Jenis Kelamin : laki-laki

 Umur : 62 tahun

 Pekerjaan : pekerja lepas

 Alamat : pateran, plumban, suruh

 Tanggal masuk : 05/12/2013


B. Anamnesis
Keluhan Utama : kaki kanan dan kiri tiba-tiba terasa lemas, nyeri pinggang sebelah
kanan.
Riwayat penyakit sekarang : pasien datang dengan keluhan kaki kanan dan kiri tiba-
tiba terasa lemas, pusing (-), mual(-), muntah (-), pasien juga mengeluhkan nyeri
pada pinggang sebelah kanan, kalau dibawa untuk duduk nyeri dirasakan semakin
bertambah, ± 3 minggu yang lalu sebelum dibawa ke RS pasien sempat terjatuh
dari tangga ketika ingin memasang bola lampu dirumahnya, pasien terjatuh dalam
keadaan terduduk diatas lantai.
Riwayat penyakit dahulu : riwayat hipertensi (+), riwayat DM (+),riwayat trauma (+)
Riwayat penyakit keluarga : tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan
serupa.
Status sosial: pekerja lepas
Anamnesis sistem:
 Serebrospinal: CM, E4V5M6
 Respirasi: batuk (-), pilek(-), sesak nafas(-)
 Kardiovaskuler : TD: 210/116 mmHg
 Gastrointestinal : muntah (-), nyeri perut (-), BAB + sejak masuk RS, perut
kembung(-)
 Urogenital : BAK (+), nyeri ketika BAK (-)
 Muskuloskeletal : lemas anggota gerak (+)
C. Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah : 210/116 mmHg
Nadi : 88x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,3˚c
- Status internus :
Kepala : trauma (-), deformitas (-)
Mata : ikterik (-/-), anemis (-/-)
Leher : kaku kuduk (-)
Thorax:
 Inspeksi: simetris (+), retraksi dan cembung (-)
 Palpasi: ketinggalan gerak (-)
 Perkusi: paru: sonor, jantung:redup
 Auskultasi: paru: vesikuler, jantung: regular
Abdomen : nyeri tekan (-), benjolan (-)
Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat
Status psikis : waham (-), halusinasi (-)
D. Pemeriksaan Neurologis

KO : 5 5
3 4

Refleks fisiologis :
 Reflex Biseps : +/+
 Reflex Triseps : +/+
 Reflex Radius : +/+
 Reflex Ulna: +/+
 Reflex Patella: +/+
 Reflex Achilles : +/+

Refleks Patologis :
 Reflex Babinski : -/-
 Reflex Chaddock : -/-
 Reflex Bing: -/-
 Reflex Gonda : -/-
 Reflex Openheim : -/-
 Reflex Gordon : -/-
 Reflex Schaefer : -/-
 Reflex mendel : -/-
 Reflex rosolimo : -/-

Tes manuver tulang belakang:


 Tes laseque : +/-
 Tes Patrick : +/-
 Tes kontra Patrick : +/-
Syaraf kranialis:

N.I olfaktorius (daya penghidu): n/n


N.II optikus:
 Daya penglihatan: n/n
 Pengenalan warna: n/n
 Medan penglihatan: n/n
N.III okulomotorius:
 Ptosis: -/-
 Gerak bola mata ke superior: n/n
 Gerak bola mata ke medial: n/n
 Gerak bola mata ke inferior: n/n
N.IV troklearis:
 Gerak bola mata ke lateral bawah: n/n
 Diplopia : -/-
N.V trigeminus:
 Menggigit: n/n
 Membuka mulut: n/n
N.VI abdusen:
 Gerak mata kelateral atas: n/n
N.VII fasialis:
 Kerutan kulit dahi: n/n
 Kedipan mata: n/n
 Mengangkat alis: n/n
 Menutup mata: n/n
N.VIII vestibulokoklearis:
 Mendengar suara: n/n

N.IX glossofaringeus:
 sengau: -/-

 tersedak: -/-

N.X vagus:
 denyut nadi: 88x/menit

 bersuara: n

 menelan: n

N.XI assesorius:
 memalingkan muka : n/n

 sikap bahu: n/n

 mengangkat bahu: n/n

N.XII hipoglossus:
 sikap lidah: n

 tremor lidah: -

 menjulurkan lidah: n
E. CT Scan Kepala
Kesan :
 Gambaran ICH di capsula interna dextra sampai corona radiata
dextra dengan perifocal edema.
 Tak tampak gambaran herniasi subfalcin dan transtentorial.

F. Pemeriksaan Foto Lumbosacral


 Gambaran skoliosis columna VL

 Spondilolisthesis corpus VL 3-4 (grade 1 anteroposterior)

 Sacroileitis dextra
G. Pemeriksaan laboratorium
Angka lekosit : 17,1
Angka eritrosit : 4,52
Hemoglobin: 14,3 gr/dl
Hematokrit: 40,7 %
MCV : 90,0 FL
MCH : 31,6 Pg
MCHC : 35,1 g/dl
Trombosit : 341
Gula darah sewaktu : 260 mg/dl
Ureum: 48 mg/dl
Creatinin : 1,1 mg/dl
SGOT : 25 u/e
SGPT : 54 u/e
H. DIAGNOSIS
Diagnosis klinis: kaki kanan dan kiri tiba-tiba lemas dan nyeri pinggang
sebelah kanan
Diagnosis topik:
 Gambaran ICH di capsula interna dextra sampai corona radiata dextra
dengan perifocal edema.
 Sacroileitis dextra

Diagnosis etilogi: SH dan LBP dextra


I. Pentalaksanaan
Inf. RL 20 tpm
Inj. Ranitidine 2.1 amp
Inj. Ketoprofen 2.1
Inj.piracetam 2.3gr
Inj. Asam tranexamat 6.500 mg
Amlodipin tab 5mg 1.1
Neurodex tab 2.1
Definisi stroke menurut World Health
Organization (WHO) adalah tanda-tanda
klinis yang berkembang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal (atau global),
dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih, dapat
menyebabkan kematian, tanpa adanya
penyebab lain selain vaskuler
dapat dibagi menjadi 2 bagian :
 anterior (carotid system)

 posterior ( vertebrobasiler)
Darah arteri yang ke otak berasal dari arkus
aorta.
 sisi kiri, arteri karotis komunis dan arteri
subklavia berasal langsung dari arkus
aorta.
 sisi kanan, arteri trunkus brakiosefalika
(inominata) berasal dari arkus aorta dan
bercabang menjadi arteri subklavia dextra
dan arteri komunis dextra.
 kedua sisi, sirkulasi darah arteri ke otak di
sebelah anterior dipasok oleh dua arteri
karotis interna dan di posterior oleh dua
arteri vertebralis (Gofir, 2009 ; Price, 2006)
 Arteri karotis interna bercabang menjadi arteri
serebri anterior dan arteri serebri media setelah
masuk ke kranium melalui kanalis karotis,
berjalan dalam sinus kavernosus. Kedua arteri
tersebut memperdarahi lobus frontalis, parietal,
dan sebagian temporal.
 Arteri vertebralis berukuran lebih kecil dan
berjalan melalui foramen transversus vertebra
servikalis kemudian masuk ke dalam kranium
melalui foramen magnum, arteri tersebut
menyatu untuk membentuk arteri basilaris
(sistem vertebrobasilaris) taut pons dan medulla
di batang otak. Arteri basilaris bercabang
menjadi arteri serebellum superior kemudian
arteri basilaris berjalan ke tengah otak tengan
dan bercabang menjadi sepasang arteri serebri
posterior.
Sirkulasi anterior bertemu dengan sirkulasi
posterior membentuk suatu arteri yang disebut
sirkulus willis. Sirkulus ini dibentuk oleh arteri
serebri anterior, arteri komunikantes anterior, arteri
karotis interna, arteri komunikantes posterior, dan
arteri serebri posterior. Untuk menjamin pemberian
darah ke otak, setidaknya ada 3 sistem kolateral
antara sistem karotis dan sistem vertebrobasiler,
yaitu :
1) Sirkulus willis yang merupakan anyaman arteri
di dasar otak
2) Anastomosis arteri karotis interna dan arteri
karotis eksterna di daerah orbital melalui arteri
oftalmika.
3) Hubungan antara sistem vertebral dengan arteri
karotis interna
 Tingginya angka kejadian stroke bukan hanya di
negara maju saja, tapi juga menyerang negara
berkembang seperti Indonesia karena perubahan
tingkah laku dan pola hidup masyarakat.
 Usia merupakan faktor resiko stroke , semakin tua
maka resiko terkena strokenya pun semakin tinggi.
Insidensi stroke bervariasi antara usia 45 – 54 tahun
 Stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang
gemar mengkonsumsi makanan berlemak.
 Pola hidup masyarakat yang meliputi pola makan,
aktifitas fisik atau olahraga, merokok, konsumsi
alkohol dan stres merupakan salah satu faktor resiko
yang di duga berperan dalam menimbulkan penyakit
pemicu serangan stroke.
 stroke hemoragik
 Perdarahan ke dalam jaringan otak / ke
dalam ruang subaraknoid.
 Hemoragik subaraknoid jenis stroke yang
mematikan
 Gejala khas : nyeri kepala yang mendadak,
parah/ tanpa sebab yang jelas. Sering
disertai dengan muntah, kaku leher/
kehilangan kesadaran sementara.
1.Perdarahan intraserebral
 Perdarahan intraserebral ditemukan pada 10% dari
seluruh kasus stroke, terdiri dari 80% di hemisfer otak
dan sisanya di batang otak dan serebelum.
 Perdarahan di substansi dalam otak yang paling umum
terjadi pada pasien hipertensi dan aterosklerosis karena
perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya
menyebabkan ruptur pembuluh darah
 Sering terjadi pada umur 40 – 70 tahun
 Onset perdarahan bersifat mendadak, terutama sewaktu
melakukan aktivitas dan dapat didahului oleh gejala
prodromal berupa peningkatan tekanan darah yaitu
nyeri kepala, mual, muntah, gangguan memori dan
bingung.
2.Perdarahan Subaraknoid
 dapat terjadi sebagai akibat dari trauma
atau hipertensi, tetapi penyebab paling
sering adalah kebocoran aneurisme pada
area sirkulus Willis dan malformasi arteri-
vena kongenital pada otak.
 Onset penyakit berupa nyeri kepala yang
mendadak, parah/ tanpa sebab yang jelas.
Sering disertai dengan mual, muntah,
banyak keringat, menggigil, kaku leher/
kehilangan kesadaran sementara.
 Stroke non hemoragik
Berupa iskemia, emboli dan trombosis
cerebral
Terjadi saat / setelah lama beristirahat,
bangun tidur dipagi hari
Tidak terjadi perdarahan tetapi hipoksia
karena iskemia, dapat timbul edema
sekunder
Kesadaran pasien umumnya baik.
Gejala Klinis PIS PSA Non hemoragik
Defisit Lokal berat ringan Berat ringan
Onset Menit/ jam 1- 2 menit Pelan (jam/ hari)
Nyeri kepala hebat Sangat hebat Ringan
Muntah pada sering sering Tidak, kec lesi di
awalnya btg otak
Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak Sering kali
Penurunan ada ada Tidak ada
kesadaran
Kaku kuduk Jarang ada Tidak ada
Hemiparesis Sering dari awal Permulaan tidak Sering dari awal
ada
Gangguan Bisa ada jarang Sering
bicara
Likuor berdarah berdarah Jernih
Paresis / Tidak ada Bisa ada Tidak ada
gangguan N III
a. tidak dapat dimodifikasi
 Usia
 Jenis kelamin
 Genetik

b. Dapat dimodifikasi
 Hipertensi
 Penyakit kardiovaskular
 DM
 Obesitas
 Merokok
Berdasarkan daerah dan luasnya otak yang terkena
a. Pengaruh thd status mental
 Tidak sadar
 Konfuse
 Lupa akan tubuh sebelah
b. Pengaruh fisik
 Paralisis
 Kesulitan menelan
 Gangguan sentuhan dan sensasi
 Gangguan penglihatan
c. Pengaruh terhadap Komunikasi
 Bicara tidak jelas
 Kehilangan Bahasa
Berdasarkan bagian hemispher yang terkena
a. Stroke Hemisfer kanan
 Hemiparese sebelah kiri tubuh
 Penilaian buruk
 Mempunyai kerentanan terhadap sisi kolateral
sehingga kemungkinan terjatuh ke sisi yang
berlawanan
b. Stroke hemisfer kiri
 Hemiparese kanan
 Perilaku lambat dan sangat berhati-hati
 Kelainan bidang pandang sebelah kanan
 Disfagia global
 Apasia
 Mudah frustasi
 CT Scan. Pemeriksaan awal untuk nenentukan apakah
pasien termasuk strok hemoragik atau non
hemoragik. Pemeriksaan ini dapat melihat adanya
edema, hematoma, iskemia dan infark.
 Angiografi Serebral. Membantu menentukan
penyebab strok secara spesifik, seperti perdarahan
atau obstruksi arteri, ada tidaknya oklusi atau
rupture.
 Pungsi Lumbal. Menunjukkan adanya tekanan normal
dan biasanya ada trombosisi, emboli serebral, TIA.
 MRI. Menunjukkan daerah yang mengalami infakr,
hemoragik, kelainan bentuk arteri-vena.
 EEG. Mengidentifikasi masalah didasarkan pada
gelombang otak
 Pertahankan jalan napas dan ventilasi
adekuat
 Tempatkan klien pada posisi lateral
kepala tempat tidur agak ditinggikan
sampai tekanan vena serebral berkurang
 Pemberian Diuretik untuk menurunkan
edema cerebral
 Pemberian antikoagulan
 Intubasi endotrakeal
 Ventilasi mekanik
 Stadium Hiperakut
- Dilakukan tindakan resusitasi serebro-
kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan
jaringan otak tidak meluas.
- Pasien diberi oksigen 2L/menit dan cairan
kristaloid/koloid .
- Dilakukan pemeriksaan CT scan,
elektrokardiografi, foto toraks, darah
lengkap.
 Stadium akut
-Dilakukan penanganan faktor-faktor etiologi
maupun penyulit. Juga dilakukan
tindakanterapi fisik danpsikologis serta
telaah sosial untuk membantupemulihan
pasien.
- Penjelasan dan edukasi kepada keluarga
pasien perlu, menyangkut dampak stroke
terhadap pasien dan keluarga serta tata cara
perawatan pasien yang dapat dilakukan oleh
keluarga.
Stroke Iskemik
 Letakkan kepala pasien pada posisi 300,
kepala dan dada pada satu bidang; ubah
posisi tidur setiap 2 jam; mobilisasi dimulai
bertahap bila hemodinamik sudah stabil
 Selanjutnya, bebaskan jalan napas, beri
oksigen1-2 liter/menit sampai didapatkan
hasil analisis gas darah
 Kadar gula darah >150 mg% harus
dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu
150 mg% dengan insulin drip intravena
kontinu selama 2-3 hari pertama.
 Nyeri kepala atau mual dan muntah diatasi
dengan pemberian obat-obatan sesuai
gejala.
 Jika kejang, diberi diazepam 5-20 mg iv
pelanpelan selama 3 menit, maksimal 100
mg perhari; dilanjutkan pemberian
antikonvulsan peroral
(fenitoin,karbamazepin). Jika kejang muncul
setelah 2 minggu, diberikan antikonvulsan
peroral jangka panjang.
 Jika didapatkan tekanan intrakranial
meningkat, diberi manitol bolus intravena
0,25 sampai 1 g/kgBB per 30 menit.
Stroke Hemoragik
 Pasien stroke hemoragik harus dirawat di
ICU jika volume hematoma >30 mL,
perdarahan intraventrikuler dengan
hidrosefalus, dan keadaan klinis cenderung
memburuk.
 Tekanan darah harus diturunkan sampai
tekanan darah 15-20% .Bila terdapat gagal
jantung, tekanan darah harus segera
diturunkan dengan labetalol iv 10 mg
(pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg
(pemberian dalam 10 menit)maksimum 300
mg; enalapril iv 0,625-1.25 mg per 6 jam;
kaptopril 3 kali 6,25-25 mg per oral.
prognosis stroke dipengaruhi oleh usia,
komorbiditas gagal jantung, riwayat stroke
sebelumnya, diabetes, hipertensi, dan
penyakit jantung koroner. Adanya
komorbiditas, usia tua, riwayat stroke
sebelumnya akan memberikan prognosis
yang lebih buruk
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), yang
termasuk dalam
low back pain terdiri dari :
1. Lumbar Spinal Pain, nyeri di daerah yang dibatasi superior oleh
garis transversal imajiner yang melalui ujung prosesus spinosus dari
vertebra thorakal terakhir, inferior oleh garis transversal imajiner
yang melalui ujung prosesusspinosus dari vertebra sakralis pertama
danlateral oleh garis vertikal tangensial terhadapbatas lateral spina
lumbalis.
2. Sacral Spinal Pain, nyeri di daerah yang dibatasi superior oleh garis
transversal imajineryang melalui ujung prosesus spinosus
vertebrasakralis pertama, inferior oleh garis transversalimajiner yang
melalui sendi sakrokoksigeal posteriordan lateral oleh garis imajiner
melaluispina iliaka superior posterior dan inferior.
3. Lumbosacral Pain, nyeri di daerah 1/3 bawah daerah lumbar spinal
pain dan 1/3 atas daerahsacral spinal pain.
Selain itu, IASP juga membagi low back pain
ke dalam :
1. Low Back Pain Akut, telah dirasakan
kurang dari 3 bulan.
2. Low Back Pain Kronik, telah dirasakan
sekurangnya 3 bulan.
3. Low Back Pain Subakut, telah dirasakan
minimal 5-7 minggu, tetapi tidak lebih
dari12 minggu.
Low back pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi dua,
yaitu:
1.Acute low back pain
 Rasa nyeri yang menyerang secara tiba – tiba, rentang waktunya
hanya sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu.
Rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat
disebabkan karena luka traumatik seperti kecelakaan mobil atau
terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut
selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan
tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada
daerah lumbal dan spinal dapat masih sembuh sendiri. Sampai saat
ini penatalaksanaan awal nyeri pinggang akut terfokus pada istirahat
dan pemakaian analgesik.
2.Chronic low back pain
 Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang
berulang – ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki
onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. Chronic
low back pain dapat terjadi karena oeteoarthritis,
rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan
tumor.
Keluhan nyeri dapat beragam pada pasien dengan LBP dan nyeri
diklasifikasikan sebagai nyeri yang bersifat lokal, radikular dan
menjalar (referred pain) atau spasmodik, yaitu:
 Nyeri yang bersifat lokal
 Nyeri lokal berasal dari proses patologik yang merangsang ujung
saraf sensorik, umumnya menetap, namun dapat pula intermiten,
nyeri dipengaruhi perubahan posisi, bersifat nyeri tajam atau
tumpul.
 Nyeri yang bersifat radikular
 Nyeri radikular berkaitan erat dengan distribusi radiks saraf spinal
(spinal never root), dan keluhan ini lebih berat dirasakan pada posisi
yang mengakibatkan tarikan seperti membungkuk dan berkurang
dengan istirahat.
 Nyeri menjalar (referred pain)
 Nyeri alih atau menjalar dari pelvis visera umum mengenai
dermatom tertentu, bersifat tumpul dan terasa lebih dalam.
Sumber Nyeri Distribusi Sifat Nyeri Faktor yang Perubahan neurologis
Memperberat

Nyeri Spinal Sklerotomal lokal Tajam Pergerakan Tidak ada


tumpul

Nyeri Diskus sklerotomal Dalam aching, Peningkatan tekanan Tidak ada


intradiskus seperti :
membungkuk, duduk,
maneuver, valsava
Nyeri Radiks saraf radikular Parestesia Regangan akar saraf Ada
Baal

Multiple Lumbar spinal Radikular sklerotomal Pola sklaudikasio spinal Ektensi lumbal berjalan ada
stenosis

Nyeri alih visera dermatomal Dalam, Berkaitan dengan organ Tidak ada
aching yang terkena
 Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang elastis yang tersusun
atas banyak unit rigid (vertebrae) dan unit fleksibel (diskus intervertebralis) yang
diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligamen dan otot
paravertebralis. Konstruksi punggung yang unik tersebut memungkinkan
fleksibelitas sementara disisi lain tetap dapat memberikan perlindumgam yang
maksimal terhadap sumsung tulang belakang. Lengkungan tulang belakang akan
menyerap goncangan vertikal pada saat berlari dan melompat. Batang tubuh
membantu menstabilkan tulang belakang. Otot – otot abdominal dan toraks
sangat penting pada aktivitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan
melemahkan struktur pendukung ini.
 Mengangkat beban berat pada posisi membungkuk menyamping menyebabkana
otot tidak mampu mempertahankan posisi tulang belakang thorakal dan lumbal,
sehingga pada saat facet joint lepas dan disertai tarikan dari samping, terjadi
geekan pada kedua permukaan facet joint menyebabkan ketegangan otot di
daerah tersebut yang akhirnya menimbulkan keterbatasan gesekan pada tulang
belakang. Obesitas, maslah postur, masalah struktur, dan peregangan berlebihan
pendukung tulang dapat berakibat nyeri punggung.
 Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah
tua. Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas fibrokartilago dengan matrik
gelatinus. Pada lansis akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tidak teratur.
 Diskus lumbal bawah, L4-L5 dan L5-S1, menderita stress mekanis paling berat
dan perunahan degenerasi terberat. Penonjolan faset akan mengakibatkan
pemekanan pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis, yang menyebabkan
nyeri menyebar sepanjang saraf tersebut.
 Usia
 Secara teori, nyeri pinggang atau LBP dapat dialami oleh siapa saja, pada umur berapa saja. Namun demikian
keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok umur 0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa
faktor etiologik tertentu yang lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Biasanya nteri ini mulai dirasakan
pada mereka yang berumur dekade kedua dan insidensi tertinggi dijumpai pada dekade kelima. Bahkan keluhan
nyeri pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.
 Jenis kelamin
 Laki – laki perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri pinggang sampai umur 60 tahun,
namun pada kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang,
karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu,
proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen
sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
 Faktor Indeks Massa Tubuh
 Berat badan
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih beresiko timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena
beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri
pinggang.
 Tinggi badan
Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban anterior maupun lengan
posterior untuk mengangkat beban tubuh.
 Pekerjaan
Keluhan nyeri ini juga berkaitan erat dengan aktivitas mengangkat beban berat, sehingga riwayat pekerjaan
sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta penanggulangan keluhan ini. Pada pekerjaan tertentu,
misalnya seorang kuli pasar yang biasanya memikul beban di pundaknya setiap hari. Mengangkat beban berat
lebih dari 25 kg sehari akan memperbesar resiko timbulnya keluhan nyeri pinggang.
 Aktivitas atau Olahraga
Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak disadari oleh penderitanya.
Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan. Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri tidur, mengangkat
beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan
membungkuk atau menekuk ke muka. Posisi mengankat beban dari posisi berdiri langsung membungkuk
mengambil beban merupakan posisi yang salah, seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih
dahulu.
Tulang belakang terdiri dari 30 tulang, yang terdiri atas :
 Vertebra servicalis sebanyak 7 ruas dengan ruas kecil, rendah dan
berbentuk segi empat dengan lubang ruasnya besar. Foramen vertebra
berbentuk segitiga dan besar. Pada taju sayapnya terdapat lubang saraf
yang disebut foramen transversalis yang dilalui oleh arteri dan vena
vertebralis. Pada ujung prosesus transversus terdapat 2 buah tonjolan
yaitu tuberculum anterius dan tuberculum posterior yang dipisahkan
oleh suatu alur yaitu sulcus spinalis tempat berjalannya nervus spinalis.
Prosesus spinosusnya pendek dan bercabang dua. Ruas pertama disebut
atlas yang memungkinkan kepala mengangguk. Ruas kedua disebut
prosesus odontoit (aksis) yang memungkinkan kepala berputar ke kiri
dan ke kanan.
 Vertebra thorakal sebanyak 12 ruas. Badan ruasnya besar dan kuat, taju
durinya panjang dan melengkung. Facies articularis superior menghadap
ke belakang dan lateral dan facies articularis inferior menghadap ke
depan dan medial.
 Vertebra lumbalis sebanyak 5 ruas. Badan ruasnya tebal, besar dan kuat,
bersiaft pasif. Prosesus spinosusnya besar dan pendek.
 Vertebra sacralis sebanyak 5 ruas, ruas – ruasnya menjadi satu sehingga
berbentuk baji, yang cekung di anterior. Batas inferior yang sempit
berartikulasi dengan kedua os coxae, membentuk artikulatio sacroiliaca.
 Vertebra koksigialis sebanyak 4 ruas. Ruasnya kecil dan membentuk
sebuah tulang segitiga kecil, yang berartikulasi pada basinyapada ujung
bawah sacrum. Dapat bergerak sedikit karena membentuk persendian
dengan sacrum.
 Kolom korpus vertebra beserta semua diskus intervertebra yang berada
diaantaranya.
 Kolom elemen posterior (kompleks ligamentum posterior) yang terdiri
corpusligamentum – ligamentum supraspinosu.
 Korpus
Merupakan bagian terbesar dari vertebra, berbentuk silindris yang
mempunyai beberapa facies (dataran0 yaitu: facies anterior berbentuk
konveks dari arah samping dan konkaf dari arah cranial ke caudal. Facies
superior berbentuk konkaf pada lumbal 4 – 5
 Arcus
Merupakan lengkungan simetris di kiri dan kanan dan berpangkal pada
korpus menuju dorsal pangkalnya disebut radik arcus vertebra dan ada
tonjolan ke arah lateral yang disebut processus spinosus
 Foramen vertebra
Merupakan luabng yang besar yang terdapat diantara corpus dan arcus
bila dilihat dari columna vertebralis, foramen vertebra ini membentuk
suatu saluran yang disebut canalis vertebralis yang akan terisi oleh
medulla spinalis.
Diskus intervertebralis, baik annulus fibrosus maupun nukleus
pulposus adalah bangunan yang tidak peka nyeri. Bagian yang peka
nyeri adalah:
 Ligamentum longitudinal anterior
 Ligamentum longitudinal posterior
 Corpus vertebrae dan periosteumnya
 Ligamentum supraspinosum
 Fasia dan otot
Medulla spinalis merupakan jaringan saraf berbentuk kolum vertical
yang terbentang dari dasar otak, keluar dari rongga kranium melalui
foramen occipital magnum, masuk kekanalis sampai setinggi
segmen lumbal-2, medulla spinalis terdiri dari 31 pasang saraf
spinalis (kiri dan kanan) yang terdiri atas:
 8 pasang saraf servikal
 15 pasang saraf thorakal
 5 pasang saraf lumbal
 5 pasang saraf sacral
 1 pasang saraf cogsigeal
- Anamnesis
Nyeri pinggang bawah dapat dibagi dalam 6 jenis nyeri, yaitu :

1. Nyeri pinggang lokal


Jenis ini paling sering ditemukan. Biasanya terdapat di garis tengah
dengan radiasi ke kanan dan ke kiri. Nyeri ini dapat berasal dari bagian –
bagian di bawahnya seperti fasia, otot – otot paraspinal, korpus
vertebra, sendi dan ligamen
2. Iritasi pada radiks
Rasa nyeri dapat berganti – ganti dengan parestei dan dirasakan pada
dermatom yang bersangkutan pada salah satu sisi badan. Kadang –
kadang dapat disertai hilangnya perasaan atau gangguan fungsi
motorik. Iritasi dapat disebabkan oleh proses desak ruang pada foramen
vertebra atau di dalam kanalis vertebralis
3.Nyeri rujukan viserosomatis
Adanya gangguan pada alat – alat retroperitonium, intraabdomen atau
dalam ruanagan panggul dapat dirasakan di daerah pinggang
4. Nyeri rujukan somatis
Iritasi serabut – serabut sensoris dipermukaan dapat dirasakan lebih
dalam pada dermatom yang bersangkutan. Sebaliknya iritasi di bagian –
bagian dalam dapat dirasakan di bagian lebih superfisial.
5.Nyeri karena iskemia
Rasa nyeri ini dirasakan seperti rasa nyeri pada klaudikasio intermitens
yang dapat dirasakan di pinggang bawah, di gluteus atau menjalar ke
paha. Dapat disebabkan oleh penyumbatan pada percabangan aorta atau
pada arteri iliaka komunis.
6. Nyeri psikogen
Rasa nyeri yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan distribusi saraf dan
dermatom dengan reaksi wajah yang sering berlebihan.
- Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik pada pasien dengan nyeri punggung meliputi evaluasi
sistem neurologis dan muskuloskeletal.
 Inspeksi
1.Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang
membuat nyeri dan juga bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya
lordosis serta adanya skoliosis. Berkurangnya sampai hilangnya lordosis
lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot paravertebralis.
2.Gerakan – gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:
- Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah
- Ekstensi ke belakang (back extension) seringkali menyebabkan nyeri
pada tungkai bila ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan
artritis lumbal, karena gerakan ini akan menyebabkan penyempitan
foramen sehingga menyebabkan suatu kompresi pada saraf spinal
- Fleksi ke depan secara khas akan menyebabkan nyeri pada tungkai
bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang
terinflamasi diatas suatu diskus protusio sehingga meninggikan
tekanan pada saraf spinal tersebut dengan jalan meningkatkan
tekanan pada fragmen yang tertekan di sebelahnya.
 Palpasi
 Adanya nyeri pada kulit bisa menunjukkan adanya kemungkinan
suatu keadaan psikologis di bawahnya
 Kadang – kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkan
nyeri dengan menekan pada ruangan intervertebralis
 Pada spondilolistesis yang berat dapat diraba adanya ketidak –
rataan pada palpasi di tempat/ level yang terkena
 Penekanan dengan jari jempol pada prosesus spinalis dilakukan
untuk mencari adanya fraktur pada vertebra
 Pemeriksaan motorik
 Harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua
sisi untuk menemukan abnormalitas motorik
 Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
- Berjalan dengan menggunakan tumit
- Berjalan dengan menggunakan jari atau berjinjit
-Jongkok dan gerakan bertahan (seperti mendorong tembok)
 Pemeriksaan sensorik
 Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan
perhatian dari penderita dan tak jarang keliru
 Nyeri dalam otot
 Rasa gerak
 Refleks
 Refleks yang harus di periksa adalah refleks di daerah Achilles dan
Patella, respon dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui
lokasi terjadinya lesi pada saraf spinal
 Spesial Test
1.Tes laseque
Mengankat tungkai dalam keadaan ekstensi. Positif bila pasien tidak
dapat mengangkat tungkai kurang dari 60® dan nyeri sepanjang nervus
ischiadicus.
2.Tes patrick dan kontra patrick
Fleksi abduksi-eksternal rotation-ekstensi sendi panggul. Positif jika
gerakan diluar kemauan terbatas , sering disertai dengan rasa nyeri.
Positif pada penyakit sendimpanggul, negative dan ischialgia
3.Tes Kernig
Pasien terlentang, paha difleksikan, kemudian meluruskan tungkai
bawah sejauh mungkin tanpa timbul rasa nyeri yang berarti. Positif
jika terdapat spasme involunter otot semimembraneus,
semitensineus, biceps femoris yang membatasi ekstensi lutut dan
timbul nyeri
4.Tes nafziger
Dengan menekan kedua vena jugularis, maka tekanan LCS akan
menigkat, akan menyebabkan tekanan pada radiks bertambah,
timbul nyeri radikuler. Positif pada spondilitis.
5. Tes valsava
Penderita disuruh mengejan kuat maka tekanan LCS akan
meningkat, hasilnya sama dengan percobaan nafziger
 Pemeriksaan radiologis
 Foto rontgen sering terlihat normal atau kadang – kadang dijumpai
penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan
degeneratif, dan tumor spinal.penyempitan ruangan intervertebral
kadang – kadang terlihat bersamaan dengan suatu posisi yang
tegang dan melurus dan suatu kondisi akibat spasme otot
paravertebral.
 Aktivitas: lakukan aktivitas normal. Penting untuk melanjutkan kerja
seperti biasanya.
 Tirah baring: tidak dianjurkan sebagai terapi, tetapi pada beberapa
kasus dapat dilakukantirah baring 2-3 hari pertama untuk
menguranginyeri.
 Medikasi: obat anti-nyeri diberikan dengan interval biasa dan
digunakan hanya jika diperlukan.Mulai dengan parasetamol atau
NSAID. Jika tidak ada perbaikan, coba campuran parasetamol
dengan opioid. Pertimbangkan tambahan muscle relaxant tetapi
hanya untuk jangka pendek, mengingat bahaya ketergantungan.
 Olahraga : harus dievaluasi lebih lanjut jika pasien tidak kembali ke
aktivitas sehari-harinya dalam 4-6 minggu.
 Manipulasi: dipertimbangkan untuk kasuskasus yang membutuhkan
obat penghilangnyeri ekstra dan belum dapat kembali bekerjadalam
1-2 minggu.
Biasanya pasien sembuh rata-rata dalam 7 minggu. Tetapi sering
dijumpai episode nyeriberulang. Dan sebanyak 80% pasien
mengalami keterbatasan dalam derajat tertentu selama 12 bulan,
mungkin hanya 10-15% yang mengalami disabilitas berat. Status
pasien setelah 2 bulan terapi merupakan indikator untuk
meramalkan status pasien pada bulan ke-12.Penentuan faktor risiko
dapat juga memperkirakan perkembangan perjalanan penyakit low
back pain ke arah kronisitas.
 1.Harsono.2009. stroke.Kapita Selekta, Universitas Gajah Mada:
Yogyakarta.
 2.Lumbantobing,SM.2012. stroke.Klinik Neurologi, Universitas
Indonesia: Jakarta.
 3. Main CJ, Williams AC. ABC of Psychological Medicine :
Muskuloskeletal Pain. BMJ 2002;325:534-7.
 4. Mounce K. Back Pain. Rheumatology 2002; 41: 1-5.
 5. Lærum E, Dullerud R, Kirkesola G, Mengshoel AM, Nygaard OP,
Skouen JS, et al. Acute low back pain : Interdisciplinary Clinical
Guidelines. The Norwegian Back Pain Network. Oslo :Ulleval hospital.
2002.
 6. Hills EC. Mechanical Low Back Pain. Editors: Wieting JM, Talavera
F, Foye PM, Allen KL, Lorenzo CT. 2004. From
http://www.emedicine.com/ Accessed on 3rd April 2005.