Anda di halaman 1dari 36

KARAKTERISTIK PERAWAT DALAM

HUBUNGAN TERAPEUTIK

Oleh :
Ika Rahmawati, S.Kep.Ns, M.Kep
HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT KLIEN

Pengalaman belajar bersama dan


pengalaman untuk memperbaiki
emosi klien.
Dalam hubungan ini perawat
memakai diri sendiri dan teknik
pendekatan yang khusus dengan
klien untuk memberi pengertian dan
merubah perilaku klien.
TUJUAN HUBUNGAN TERAPEUTIK
ADALAH UNTUK PERKEMBANGAN KLIEN
1. Kesadaran diri, penerimaan diri dan penghargaan diri
yang meningkat
2. Pengertian yang jelas tentang identitas diri dan
integritas diri ditingkatkan
3. Kemampuan untuk membina hubungan intim
interdependen, pribadi dengan kecakapan menerima
dan memberi kasih sayang
4. Meningkatkan fungsi dan kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan pribadi
yang realistis
ANALISIS DIRI PERAWAT

• Perawat merupakan profesi yang menolong


manusia untuk beradaptasi secara positif
terhadap stres yang dialami.
• Pertolongan yang diberikan harus bersifat
terapeutik.
• Instrumen utama yang dipakai adalah diri
perawat sendiri.
• Jadi analisa diri sendiri merupakan dasar utama
untuk memberikan asuhan keperawatan yang
berkualitas.
FOKUS ANALISA DIRI

Kesadaran diri

Klarifikasi nilai

Eksplorasi perasaan
Kemampuan
menjadi model
Rasa tanggung
jawab
KESADARAN DIRI

• “Siapa saya?”
Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan
perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi
asuhan keperawatan.
• Kesadaran diri akan membuat perawat menerima
perbedaan dan keunikan klien.
• Kesadaran diri dan perkembangan diri perawat perlu
ditingkatkan agar penggunaan diri secara terapeutik
dapat lebih efektif.
PERILAKU, PIKIRAN DAN PERASAAN SESEORANG

1 2
Diketahui oleh diri sendiri Hanya diketahui oleh
dan orang lain orang lain
3 4
Hanya diketahui oleh Tidak diketahui oleh
diri sendiri siapapun
Johari Window Sundeen, SJ., dikutip oleh Stuart dan Sundeen (1987)

Kuadran 1 : Kuadran yang terdiri dari perilaku, pikiran dan


perasaan yang diketahui oleh individu dan orang lain
di sekitarnya.
Kuadran 2 : Kuadran buta karena hanya diketahui oleh orang lain.
Kuadran 3 : Rahasia karena hanya diketahui oleh individu.
3 CARA
MENINGKATKAN KESADARAN DIRI
1. Mempelajari diri sendiri
Proses eksplorasi diri sendiri, tentang pikiran,
perasaan, perilaku, termasuk pengalaman yang
menyenangkan, hubungan interpersonal dan
kebutuhan pribadi.
2. Belajar dari orang lain
Kesediaan dan keterbukaan menerima umpan
balik dari orang lain akan meningkatkan
pengetahuan tentang diri sendiri.
3. Membuka diri
• Keterbukaan kepribadian yang sehat.
• Untuk ini harus ada teman intim yang dapat
dipercaya untuk menceritakan hal yang rahasia.
• Proses peningkatan kesadaran diri sering
menyakitkan dan tidak mudah khususnya jika
ditemukan konflik dengan ideal diri tetapi hal
ini merupakan tantangan untuk berubah dan
tumbuh.
KLARIFIKASI NILAI
• Hubungan perawat-klien : timbal balik tetapi kebutuhan
klien selalu diutamakan.
• Perawat sebaiknya mempunyai sumber kepuasan dan
rasa aman yang cukup sehingga tidak menggunakan
klien untuk kepuasan dan keamanannya.
• Jika perawat mempunyai konflik, ketidakpuasan,
sebaiknya perawat menyadari dan mengklarifikasi agar
tidak mempengaruhi hubungan perawat-klien.
• Dengan menyadari sistem nilai yang dimiliki perawat,
misalnya kepercayaan, seksual, ikatan keluarga, perawat
akan siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan
dengan sistem nilai yang dimiliki.
EKSPLORASI PERASAAN

• Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap


perasaannya dan mengontrolnya agar dapat
menggunakan dirinya secara terapeutik.
• Jika perawat terbuka pada perasaannya maka ia
mendapatkan dua informasi penting yaitu bagaimana
responnya terhadap klien dan bagaimana
penampilannya terhadap klien.
• Sewaktu berbicara dengan klien, perawat harus
menyadari responnya dan mengontrol
penampilannya.
KEMAMPUAN MENJADI MODEL
• Perawat yang mempunyai masalah pribadi seperti
ketergantungan obat, hubungan interpersonal yang
terganggu akan mempengaruhi hubungannya dengan
klien.
• Perawat harus dapat memisahkan hubungan profesional
dengan kehidupan pribadi.
• Perawat efektif adalah perawat yang dapat memuaskan
kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik,
distres atau pengingkaran dan memperlihatkan
perkembangan serta adaptasi yang sehat.
• Perawat diharapkan bertanggung jawab atas
perilakunya, sadar akan kelemahan dan kekurangannya.
HUBUNGAN TERAPEUTIK

Hubungan terapeutik antara perawat-klien

Hubungan kerjasama yang ditandai dengan


tukar-menukar perilaku, perasaan, pikiran
dan pengalaman dalam membina hubungan
intim yang terapeutik
PERBEDAAN HUBUNGAN SOSIAL DAN HUBUNGAN TERAPEUTIK
Komponen Hubungan
Hubungan Sosial Hubungan Terapeutik

Saling membuka diri Bervariasi Klien membuka diri, perawat


membuka diri dalam rangka
menanggapi saja

Fokus percakapan Tidak dikenal oleh partisipan Dikenal oleh perawat dan klien

Topik yang tepat Sosial, bisnis, umum dan tidak Pribadi dan berhubungan dengan
pribadi perawat dan klien

Hubungan Tidak terkait dan menggunakan Ada keterlibatan dan


pengalaman dengan pengetahuan yang tidak menggunakan pengetahuan yang
topik percakapan berhubungan berkaitan

Orientasi waktu Masa lalu dan masa mendatang Sekarang

Pengungkapan Ungkapan perasaan dihindari Ungkapan perasaan didorong oleh


perasaan perawat
Pengakuan harkat Tidak diakui Sangat diakui
individu
• Dalam proses membina hubungan sesuai dengan
tingkat perkembangan klien dengan mendorong
perkembangan klien dalam menyadari dan
mengidentifikasi masalah dan membantu
pemecahan masalah.
• Perawat memberi umpan balik dan alternatif
pemecahan dan klien dapat memakai informasi
untuk menangani masalah yang belum dipecahkan
secara konstruktif.
TUGAS PERAWAT PADA HUBUNGAN TERAPEUTIK
Fase Tugas
Prainteraksi • Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri
• Analisa kekuatan-kelemahan profesional
• Dapatkan data tentang klien jika mungkin
• Rencanakan pertemuan pertama
Orientasi • Tentukan alasan klien minta pertolongan
• Bina rasa percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka
• Rumuskan kontrak pertama
• Eksplorasi pikiran, perasaan dan perilaku klien
• Identifikasi masalah klien
• Rumuskan tujuan dengan klien
Kerja • Eksplorasi stressor yang tepat
• Dorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme
koping yang konstruktif
• Atasi penolakan perilaku adaptif
Terminasi • Ciptakan realitas perpisahan
• Bicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan
• Saling mengeksplorasi perasaan penolakan dan kehilangan, sedih, marah
dan perilaku klien
FASE PRA INTERAKSI
• Fase pra interaksi dimulai sebelum kontak pertama
dengan klien.
• Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan
ketakutannya sehingga kesadaran dan kesiapan perawat
untuk melakukan hubungan dengan klien dapat
dipertanggungjawabkan.
• Perawat yang sudah berpengalaman dapat menganalisa
diri sendiri serta nilai tambah pengalamannya berguna
agar lebih efektif dalam memberikan asuhan
keperawatan.
• Tugas tambahan pada fase ini adalah mendapatkan
informasi tentang klien dan menentukan kontak
pertama.
FASE ORIENTASI

• Dimulai pada saat pertemuan pertama dengan klien.


• Hal utama yang perlu dikaji : alasan klien minta
pertolongan.
• Tugas perawat :
- Membina rasa percaya
- Penerimaan dan pengertian
- Komunikasi yang terbuka
- Perumusan kontrak dengan klien
- Mengeksplorasi pikiran, perasaan, perbuatan klien
- Mengidentifikasi masalah serta merumuskan tujuan
bersama klien.
• Nama individu (perawat dan klien)
ELEMEN • Peran perawat dan klien
• Tanggung jawab perawat dan klien
KONTRAK
• Tujuan hubungan
PERAWAT- • Tempat pertemuan
KLIEN • Waktu pertemuan
• Situasi terminasi
• Kerahasiaan
FASE KERJA
• Pada fase kerja perawat dan klien mengeksplorasi
stressor yang tepat dan mendorong
perkembangan kesadaran diri dengan
menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan dan
perbuatan klien.
• Perawat membantu klien mengatasi kecemasan,
meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab
diri sendiri serta mengembangkan mekanisme
koping yang konstruktif.
• Perubahan perilaku maladaptif menjadi adaptif
merupakan fokus fase ini.
FASE TERMINASI
• Fase yang sangat sulit dan penting dari hubungan
terapeutik.
• Rasa percaya dan hubungan intim yang terapeutik sudah
terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan
klien akan merasakan kehilangan.
• Tugas perawat pada fase ini : menghadapi realitas
perpisahan yang tidak dapat diingkari. Klien dan perawat
bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan
yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Perasaan
marah, sedih, penolakan perlu dieksplorasi dan
diekspresikan.
• Reaksi klien dalam menghadapi terminasi dapat
bermacam cara.
KOMUNIKASI TERAPEUTIK

• Komunikasi : Cara untuk membina hubungan terapeutik.


• Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi
dan pertukaran perasaan dan pikiran.
• Maksud komunikasi : Mempengaruhi perilaku orang
lain. Keberhasilan intervensi keperawatan tergantung
pada komunikasi karena proses keperawatan ditujukan
untuk merubah perilaku dalam mencapai tingkat
kesehatan yang optimal.

Komunikasi adalah hubungan.


Hubungan perawat-klien yang terapeutik tidak mungkin
dicapai tanpa komunikasi.
Next...
• Hubungan terapeutik : perawat perlu mengetahui
proses komunikasi dan keterampilan berkomunikasi
dalam membantu klien memecahkan masalahnya.
• Elemen yang harus ada pada proses komunikasi adalah
pengirim pesan, penerima pesan, pesan, media dan
umpan balik.
• Semua perilaku individu (pengirim dan penerima) :
komunikasi yang akan memberikan efek pada perilaku.
• Pesan yang disampaikan : verbal maupun non verbal.
• Bermain : cara berkomunikasi dan berhubungan yang
baik dengan klien anak.
Next...
Perawat dapat menyampaikan/mengkaji pesan secara
non verbal antara lain :
• Vokal : nada, kualitas, keras atau lembut, kecepatan
yang semuanya menggambarkan suasana emosi.
• Gerakan : refleks, postur, ekspresi muka, gerakan yang
berulang atau gerakan-gerakan yang lain.
• Jarak (space) : jarak dalam berkomunikasi dengan
orang lain menggambarkan tingkat keintiman
hubungan.
• Sentuhan : dikatakan sangat penting tetapi perlu
mempertimbangkan aspek budaya dan kebiasaan
setempat.
SIKAP PERAWAT DALAM BERKOMUNIKASI

• Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada


waktu berkomunikasi dengan klien.
• Perawat tidak cukup hanya mengetahui teknik
komunikasi dan isi komunikasi tetapi yang sangat
penting adalah sikap atau penampilan dalam
berkomunikasi.
KEHADIRAN DIRI SECARA FISIK

Mengidentifikasi 5 sikap/cara untuk menghadirkan diri


secara fisik, yaitu :
• Berhadapan : ”saya siap untuk anda”.
• Mempertahankan kontak mata : menghargai klien dan
menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
• Membungkuk ke arah klien : keinginan untuk
mengatakan atau mendengar sesuatu.
• Mempertahankan sikap terbuka. Tidak melipat kaki
atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk
berkomunikasi.
• Tetap relaks.
Beberapa perilaku non verbal yang perlu
diketahui dalam merawat anak

• Gerakan mata.
Kontak mata dan ekspresi muka adalah alat pertama
yang dipakai untuk pendidikan dan sosialisasi. Anak
sangat mengerti akan ekspresi ibu yang marah, sedih
atau tidak setuju.
• Ekspresi muka
• Sentuhan
Sentuhan merupakan cara
interaksi yang mendasar.
Respon dan Tindakan Terapeutik dalam Hubungan Perawat-Klien
Dimensi Karakteristik
Respon :
1. Ikhlas - Perawat terbuka, jujur, realistis, dapat dipercaya
2. Respek - Menerima klien, mempercayai klien mempunyai kemampuan memecahkan masalah dengan
(Menghargai) bantuan
3. Empati - Menghargai klien tanpa syarat
4. Konkrit - Memandang klien melalui pandangan klien sendiri (internal)
- Peka terhadap perasaan klien saat ini
- Dapat mengidentifikasi masalah klien dan memberi alternatif pemecahan pada klien sesuai
dengan ilmu dan pengalaman perawat tanpa menggangu integritas diri perawat
- Menggunakan terminologi yang spesifik bukan yang abstrak dalam mendiskusikan perasaan,
pengalaman dan perilaku
Tindakan : - Perawat mengekspresikan kesenjangan perilaku klien untuk meningkatkan kesadaran dirinya.
1. Konfrontasi - Memberi respon segera pada hal yang terjadi sekarang di tempat ini.
2. Segera - Terjadi pada waktu interaksi dan dipakai untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan
3. Keterbukaan interpersonal
4.Emotional - Perawat mengemukakan informasi tentang dirinya, ide, perasaan, nilai dan sikapnya untuk
chatarsis mendukung kerjasama dengan klien
5.Bermain peran - Mendorong klien bicara hal yang mencemaskan, perasaan takut, pengalaman dan kecemasan
didiskusikan secara terbuka
- Bermain peran tentang situasi tertentu untuk meningkatkan kesadaran dalam hubungan
interaksi dan kemampuan melihat situasi dari pandangan yang berbeda
- Klien belajar perilaku baru pada situasi yang aman.
KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KLIEN
ANAK
1. Nada suara
Bicara lambat dan jika tidak dijawab harus diulang lebih
jelas dengan pengarahan yang sederhana.
2. Mengalihkan aktivitas
Anak lebih tertarik pada aktivitas yang disukai sehingga
perlu dibuat jadual yang bergantian antara aktivitas yang
disukai dan aktivitas terapi yang diprogramkan.
3. Jarak interaksi
Perawat yang mengobservasi tindakan non verbal dan
sikap tubuh anak harus mempertahankan jarak yang
aman dalam berinteraksi.
4. Marah
Perawat menghindari bicara yang keras dan otoriter serta
mengurangi kontak mata jika respon anak meningkat. Jika
anak mulai dapat mengontrol perilaku maka kontak mata
dimulai kembali namun sentuhan ditunda dahulu.
5. Kesadaran diri
Perawat harus menghindari konfrontasi secara langsung,
duduk yang terlalu dekat dan berhadapan. Meja tidak
diletakkan antara perawat dan anak. Perawat secara non
verbal selalu memberi dorongan, penerimaan dan persetujuan
jika diperlukan.
6. Sentuhan
Jangan sentuh anak tanpa izin dari anak.
Jabat tangan dengan anak : cara untuk menghilangkan stres
dan cemas khususnya pada anak laki-laki.
TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
1. Mendengar (Listening)
Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk bicara.
Perawat harus menjadi pendengar yang aktif.
2. Pertanyaan Terbuka (Broad Opening)
Memberi kesempatan untuk memilih, contoh: apakah
yang sedang saudara pikirkan?, apa yang akan kita
bicarakan hari ini?
3. Mengulang (Restarting)
• Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien.
• Merupakan indikasi perawat mengikuti pembicaraan
klien.
4. Klarifikasi
Dilakukan bila perawat ragu, tidak jelas, tidak
mendengar atau klien berhenti karena malu
mengemukakan informasi, informasi yang diperoleh
tidak lengkap atau mengemukakannya berpindah-
pindah.
5. Refleksi
a. Refleksi isi, memvalidasi apa yang didengar.
Klarifikasi ide yang diekspresikan klien dengan
pengertian perawat.
b. Refleksi perasaan, memberi respon pada perasaan
klien terhadap isi pembicaraan agar klien
mengetahui dan menerima perasaannya.
6. Memfokuskan
Membantu klien bicara pada topik yang telah dipilih dan
yang penting serta menjaga pembicaraan tetap menuju
tujuan yaitu lebih spesifik, lebih jelas dan berfokus pada
realitas.
7. Membagi Persepsi
Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat
rasakan dan pikirkan. Dengan cara ini perawat dapat
meminta umpan balik dan memberi informasi.
8. Identifikasi Tema
Mengidentifikasi latar belakang masalah yang dialami
klien yang muncul selama percakapan. Gunanya untuk
meningkatkan pengertian dan mengeksplorasi masalah
yang penting.
9. Diam (Silence)
Cara yang sukar, biasanya dilakukan setelah
mengajukan pertanyaan. Tujuannya untuk memberi
kesempatan berpikir dan memotivasi klien untuk
bicara. Pada klien yang menarik diri, teknik diam
berarti perawat menerima klien.
10. Informing
Memberi informasi dan fakta untuk pendidikan
kesehatan.
11. Saran
Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah.
Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada
fase awal hubungan.
KESIMPULAN
• Hubungan perawat-klien yang terapeutik adalah
pengalaman belajar bersama dan pengalaman
perbaikan emosi klien. Dalam hal ini perawat memakai
dirinya secara terpeutik dengan menggunakan berbagai
teknik komunikasi agar perilaku klien berubah ke arah
yang positif seoptimal mungkin.
• Agar perawat dapat berperan efektif dan terapeutik, ia
harus menganalisa dirinya: kesadaran diri, klarifikasi
nilai, perasaan dan mampu menjadi model yang
bertanggung jawab. Seluruh perilaku dan pesan yang
disampaikan perawat (verbal atau non verbal)
hendaknya bertujuan terapeutik untuk klien.
TO BE CONTINUED