Anda di halaman 1dari 17

MANAJEMEN PATIENT SAFETY

Ns. ZULKARNAINI, M.Kep


Pendahuluan
• Salah-lokasi, salah-prosedur, salah pasien pada
operasi, adalah sesuatu yang mengkhawatirkan
dan tidak jarang terjadi di rumah sakit.
• Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang
tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota
tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di
dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak
ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi.
• Di samping itu pula asesmen pasien yang tidak
adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak
adekuat, budaya yang tidak mendukung
komunikasi terbuka antar anggota tim bedah,
permasalahan yang berhubungan dengan resep
yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan
pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-
faktor kontribusi yang sering terjadi.
• Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif
mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur
yang efektif di dalam mengeliminasi masalah tersebut.
• Untuk memastikan kebijakan dan prosedur yang kita
miliki benar, kita perlu merujuk kepada The (US) Joint
Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong
Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery™.
Protokol tersebut mengatur tentang:
1. Penandaan lokasi yang akan dioperasi
• Penandaan lokasi pembedahan melibatkan
pasien dan dilakukan dengan tanda yang mudah
dan langsung dikenali. Tanda itu:
– Harus konsisten di seluruh rumah sakit;
– Harus dibuat oleh mereka yang melaksanakan
prosedur;
– Harus dilakukan ketika pasien masih dalam keadaan
sadar dan terjaga jika mungkin, dan
– Harus terlihat setelah pasien selesai dipersiapkan.
Tandai lokasi operasi (Marking), terutama :

• Pada organ yang memiliki 2 sisi, kanan dan kiri.


• Multiple structures (jari tangan, jari kaki)
• Multiple level (operasi tulang belakang,
cervical, thorak, lumbal)
• Multipel lesi yang pengerjaannya bertahap
Anjuran Penandaan Lokasi Operasi
• Gunakan tanda yang telah disepakati
• Dokter yang akan melakukan operasi yang melakukan pemberian
tanda
• Tandai pada atau dekat daerah insisi
• Gunakan tanda yang tidak ambigu (contoh : tanda “X” merupakan
tanda yang ambigu)
• Daerah yang tidak dioperasi, jangan ditandai kecuali sangat
diperlukan
• Gunakan penanda yang tidak mudah terhapus (contoh : Gentian
Violet)
2. Proses verifikasi sebelum operasi

Tujuan verifikasi adalah:


• Memastikan benar lokasi, benar prosedur, dan benar pasien;
• Memastikan bahwa semua dokumen, gambar atau citra, dan
penyelidikan yang relevan telah tersedia, sudah diberi label dan
ditampilkan, serta
• Memastikan tersedianya peralatan khusus dan/atau implan yang
diperlukan.
Kita perlu membuat alat bantu berupa check-list untuk memudahkan
pekerjaan ini.
3. Time-Out, yang dilakukan sesaat sebelum prosedur
operasi dimulai.
• Time-out memungkinkan semua pertanyaan yang belum
terjawab atau ketidakjelasan diselesaikan.
• Time-out dilakukan di lokasi tempat prosedur akan
dilakukan, tepat sebelum memulai prosedur, dan
melibatkan seluruh tim operasi.
• Rumah sakit menentukan bagaimana proses time-out
didokumentasikan.
Kita perlu membuat alat bantu berupa check-list untuk
memudahkan pekerjaan ini.
• Salah satu aspek yang penting dalam
penilaian akreditasi terkait patient
safety di rumah sakit adalah
tindakan pembedahan. Pembedahan
merupakan salah satu tindakan
medis yang penting dalam
pelayanan kesehatan.
• Tindakan pembedahan merupakan salah satu
tindakan medis yang bertujuan untuk
menyelamatkan nyawa, mencegah kecacatan
dan komplikasi. Namun demikian,
pembedahan yang dilakukan juga dapat
menimbulkan komplikasi yang dapat
membahayakan nyawa (WHO, 2009).
Contoh Kasus I
• Kasus ini terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Yunus Bengkulu. Seperti
biasa, rumah sakit itu dipadati pasien. Satu di antara pasien yang datang adalah
Arief Budianto (16). Kaki sebelah kanan Arief patah. Pada 22 Maret 2001, Arief
dinyatakan siap dioperasi. Sekitar pukul 10.00 WIB, dokter spesialis ortopedi Dicky
Rachamaniady dan sistennya, serta beberapa perawat membedah kaki Arief.
Sampai di situ, semua masih berjalan normal.
• Keadaan mulai berubah 180 derajat saat Dicky memasukkan gas N2O dan oksigen
melalui hidung Arief untuk pembiusan. Kala itu, pembedahan sempat dihentikan
beberapa saat. Sebab, tubuh Arief bereaksi tak seperti yang dikehendaki. Operasi
baru dilanjutkan setelah tubuh pasien kembali normal. Tapi setelah pembedahan
pengambilan dan pemasangan pen hampir kelar, tiba-tiba tekanan darah
Arief drop. Masalah jadi tak sederhana. Segala usaha standar prosedural
kedokteran dilakukan untuk menyelamatkan Arief. Sial, Arief tak terselamatkan.
Contoh Kasus II
• Duka mendalam juga menyelimuti keluarga almarhum Syaifuddin (59), keesokan
harinya. Ironisnya, kematian Syaifuddin serupa dengan Arief. Nyonya Fauziyah, istri
alamarhun Syaifuddin, memaparkan padahal sebelum operasi kondisi suaminya
prima. Lantaran itu, ia tak menduga bila operasi hidung--retak tulang hidung akibat
kecelakaan--yang dijalani suaminya justru menjadi awal perpisahan abadi. Kini,
Faudziah terpaksa harus membanting tulang seorang diri untuk menghidupi ketiga
anaknya.
Kedua kasus itu mengundang perhatian kepolisian setempat. Sebab, selain terjadi
dua hari berturut-turut, kedua pasien pun tewas dengan cara sama. Sebagai proses
awal, polisi menangkap dua dokter yang dianggap bertanggung jawab pada saat
proses operasi. "Setelah diselidiki, ternyata benar gas yang digunakan bukan N20.
"Tapi, CO2," ungkap Kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Bengkulu Genot
Hariyanto. Menurut Genot, bila keduanya terbukti bersalah, mereka bisa dijerat
delik Kulpa karena kelalaian yang menyebabkan kematian. Pada 4 Februari 2002,
kasus kedua dokter itu sudah mulai digelar di Pengadilan Negeri Bengkulu. Kini,
kedua dokter itu berstatus tersangka.
?
Sekian dan Terima Kasih