Anda di halaman 1dari 29

ALERGI SUSU SAPI

Oleh:
Furqan Rachman
(I11112010)

Pembimbing Kepaniteraan Klinik:


dr. Diana Bancin, Sp.A
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Abdul Aziz Singkawang
2017
Pendahuluan

• Alergi  reaksi hipersensitivitas yang diperankan oleh


mekanisme imunologi (World Allergy Organization )
• Alergi susu sapi (ASS)  >> penyakit atopik pertama pada
seorang anak
• Alergi susu sapi (ASS) : reaksi simpang terhadap protein susu
sapi yang diperantarai reaksi imunologi.
• Angka kejadian ASS di Indonesia 2-7,5% dan masih mungkin
terjadi pada 0,5% bayi yang mendapat ASI eksklusif.
• Tindakan pencegahan maupun tatalaksana yang tepat perlu
untuk mencegah terjadinya alergi yang lebih parah serta alergi
terhadap makanan alergen lain di kemudian hari
Reaksi Hipersensitivitas
Hipersensitivitas Hipersensitivitas Hipersensitivitas Hipersensitivitas
Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV
• Diperantarai • 3 mekanisme • Diperantarai • Diperantarai
antibodi IgE bergantung pengendapan oleh sel T, dibagi
• Respon jaringan antibodi : kompleks menjadi dua
yang terjadi • Reaksi yang antigen-antibodi tipe dasar:
secara cepat bergantung (imun). • Hipersensitivit
(dalam bilangan komplemen as tipe lambat,
menit) • Sitotoksisitas diinisiasi oleh
selular sel T CD4+,
bergantung dan
antibodi • Sitotoksisitas
(ADCC) sel langsung,
• Disfungsi sel diperantarai
yang oleh sel T
diperantarai CD8+.
antibodi
Hipersensitivitas Tipe I
Hipersensitivitas Tipe II
Hipersensitivitas tipe II tergantung komplemen

Hipersensitivitas tipe II
a. ADCC, b.Antibodi antireseptor
Hipersensitivitas Tipe III

3 tahap induksi hipersensitivitas tipe III sistemik (kompleks imun) Patogenesis jejas jaringan yang diperantarai kompleks imun
secara berurutan.
Hipersensitivitas Tipe IV

Skematik peristiwa hipersensitivitas tipe IV


ALERGI SUSU SAPI
ALERGI SUSU SAPI
Definisi dan Epidemiologi
• ASS  suatu rekasi yang tidak diinginkan yang diperantarai secara
imunologis terhadap protein susu sapi.
• ASS : diperantai oleh IgE, tidak diperantai oleh IgE ataupun proses
gabungan antara keduanya
• Insidens (Amerika) 2-6% ; prevalensi tertinggi pada1 tahun
pertama kehidupan. 50% sembuh hingga usia 1 tahun, 80-90%
sembuh hingga usia 5 tahun.
• Prevalensi (Indonesia) 2-7,5% dan 0,5% pada bayi yang
mendapat ASI eksklusif.
• prevalensi 1,5%, >> reaksi alergi susu sapi diperantai oleh IgE,
sisanya adalah tipe non IgE
Etiologi

Komponen Berat % Protein Alerginisitas Stabilitas


Protein Molekul (K Total (Suhu 100
d) C)

• Susu sapi Β – 18.3 10 +++ ++


mengandung 20 Lactoglobuli
komponen protein n
merangsang
produksi antibodi. Casein 20-30 82 ++ +++
• Protein susu sapi
2 fraksi yaitu Α - 14.2 4 ++ +
casein (76% -86% Lactalbumin
protein susu sapi)
dan whey. Serum 67 1 + +
Albumin

Immunoglo 160 2 + +
bulins
Klasifikasi

IgE Non-IgE
Mediated Mediated
Diperantarai oleh
Gejala klinis timbul dalam IgG
waktu 30 menit sampai 1
jam
Gejala klinis timbul
lebih lambat (>1 jam)

Manifestasi klinis: Manifestasi klinis :


allergic eosinophilic
urtikaria, angioedema, ruam kulit, gastroenteropathy,
dermatitis atopik, muntah nyeri kolik, enterokolitis,
perut, diare, rinokonjungtivitis, proktokolitis, anemia,
bronkospasme, dan anafilaksis. dan gagal tumbuh.
Patogenesis
IgE mediated pada alergi
Non- IgE mediated pada alergi
• Multifaktorial
• Mencakup kompleks imun antibodi IgA atau IgG yang terikat
pada antigen susu (reaksi hipersensitivitas tipe III) dan
stimulasi langsung sel T oleh antigen protein susu formula
(reaksi hipersensitivitas tipe IV).
• Interaksi menghasilkan pelepasan sitokin dan peningkatan
produksi antibodi yang mengenali protein susu yang
menyinggung, berkontribusi pada kaskade inflamasi.
• onset gejala klinis yang lambat.
Manifestasi Klinis

Keterlibatan Organ Gejala

Traktus gastrointestinal Sering regurgitasi, muntah, diare,


konstipasi, darah pada feses, anemia
defisiensi besi
Kulit Dermatitis atopi, angioedema bibir
dan kelopak mata, urtikaria
Traktus respiratorius Otitis media, hidung berair, batuk
kronik, Wheezing
General Distress atau kolik persisten (iritabel
≥3 jam per hari) sedikitnya 3 hari/
minggu selama periode >3 minggu.
Reaksi Cepat dan Reaksi Lambat pada Anak
dengan Alergi Susu Sapi

Reaksi Cepat Reaksi Lambat


a. Anafilaksis a. Dermatitis atopi
b. Urtikaria akut b. Diare kronik, BAB berdarah, anemia
c. Angioedema akut defisiensi besi, GERD, konstipasi,
d. Wheezing muntah kronik, kolik infantil
e. Rinitis c. Pertumbuhan terganggu
f. Batuk kering d. Enteropati
g. Muntah e. Hipoalbuminemia
h. Edema laring f. Sindrom enterokolitis
i. Asma akut dengan distres pernapasan g. Esofagogastroenteropati eosinofilik
yang dikonfirmasi dengan biospi
Diagnosis

Anamnesis

1. Jangka waktu timbulnya gejala setelah minum susu sapi/makanan yang


mengandung susu sapi
2. Jumlah susu yang diminum/makanan yang mengandung susu sapi
3. Penyakit atopi (asma, rhinitis alergi, dermatitis atopik, urtikaria, alergi
makanan, alergi obat pada keluarga dan penderita sendiri.
4. Gejala klinis pada:
• Kulit seperti urtikaria, dermatitis atopik, ruam
• Saluran nafas seperti batuk berulang terutama pada malam hari,
setelah latihan, asma, rhinitis alergi
• Saluran cerna seperti muntah, diare, kolik dan obstipasi
Diagnosis

Pemeriksaan
Fisik
Pada kulit tampak kekeringan kulit, dermatitis atopic, allergic shiner’s, nasal
crease, geographic tongue, mukosa hidung pucat dan mengi

Dermatitis atopic Nasal Crease Geographic tongue


Diagnosis

Pemeriksaan
Penunjang

IgE spesifik
Uji tusuk kulit (skin prick test )

IgE spesifik/RAST (Radio Allergo Sorbent Test)


Diagnosis
Persyaratan Uji Provokasi Oral
a. Penghindaran makanan yang mengandung susu sapi
minimal 2 minggu
Pemeriksaan
b. Penghindaran obat anti histamin selama 3-7 hari
Penunjang
c. Penghindaran obat bronkodilator, kromolin,
Uji eliminasi dan provokasi nedokromil, dan steroid inhalasi 6-12 jam sebelum
Double Blind Placebo Controlled
provokasi
Food Challenge (DBPCFC)
merupakan uji baku emas untuk d. Tersedia obat untuk mengatasi reaksi anafilaksis yang

menegakkan diagnosis alergi mungkin terjadi


makanan. e. Pasien dipuasakan selama 2-3 jam sebelum provokasi
f. Besar dosis permulaan harus kurang dari dosis yang
diperkirakan akan menimbulkan reaksi, bila tidak
diketahui dimulai dengan dosis 400 mg
g. Dosis kumulatif tercapai 8-10 gram bahan bubuk
harus dicapai untuk menyatakan hasil negatif
h. Pasien harus diawasi sampai 2 jam setelah provokasi
selesai, bila reaksi dimediasi IgE. Bila timbul lebih
lama, maka observasi harus disesuaikan.
Diagnosis

Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan darah pada tinja
Pemeriksaan seperti chromiun-51 labelled erythrocites pada feses
dan reaksi orthotolidin mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang
lebih baik dibanding uji guaiac/benzidin.

Endoskopi dan Histologi


Pada pasien dengan gejala gastrointestinal yang tidak dapat
dijelaskan, gagal tumbuh, atau anemia defisiensi besi, endoskopi
dengan biopsi multipel diperlukan
Tatalaksana

Penghindaran susu sapi


• Eliminasi susu sapi direncanakan selama 6-18 bulan.
• Bila gejala menghilang, provokasi setelah eliminasi 6 bulan.
• Bila gejala tidak timbul lagi berarti anak sudah toleran dan susu sapi dapat
diberikan kembali.
• Bila gejala timbul kembali, eliminasi dilanjutkan kembali sampai 1 tahun dan
seterusnya.

Simptomatis
• Gejala yang ditimbulkan ASS diobati secara simptomatis
Label Makanan yang Mengandung Susu Sapi
Artifisialbutter Kasein hidrolisat
Butter Susu kambing
Buttermilk Laktalbumin
Casein Laktglobulin
Keju Laktose
Krim Laktulosa
Keju Cottage Sour cream
Yogurt Whey
Tata Laksana Alergi Susu Sapi pada Bayi dengan
ASI Eksklusif
Tata Laksana Alergi Susu Sapi pada Bayi dengan Susu
Formula
Pencegahan

Primer Sekunder Tersier


• Dilakukan sebelum • Dilakukan setelah • Dilakukan pada anak
terjadi sensitisasi terjadi sensitisasi tetapi yang sudah mengalami
• Penghindaran susu sapi belum timbul sensitisasi dan
berupa pemberian susu manifestasi penyakit menunjukkan
sapi hipoalergenik alergi. manifestasi penyakit
• Penghindaran susu sapi alergi yang masih dini
dengan cara pemberian • Penghindaran juga
susu sapi non dengan pemberian
alergenik, yaitu susu susu sapi yang
sapi yang dihidrolisis dihidrolisis sempurna
sempurna atau pengganti susu
sapi, serta tindakan lain
pemberian obat
pencegahanmisalnya
setirizin, imunoterapi,
imunomodulatorserta
penghindaran asap
rokok
Komplikasi

• Gangguan pertumbuhan (malnutrisi, berat badan sulit naik)


Terhambatnya pertumbuhan gangguan belajar, gangguan
pemusatan perhatian, gangguan emosi, agresif,
keterlambatan bicara, dapat memicu atau memperparah
autisme.
• Prognosis bayi dengan alergi
susu sapi umumnya baik
• Angka remisi 45-55% pada
tahun pertama, 60-75%
pada tahun kedua dan 90%
pada tahun ketiga
• 50% alergi makanan lain
(telur, kedelai, kacang,
sitrus, ikan sereal, alergi
inhalan )
• Pada usia 3 tahun, 85%
anak-anak kembali
toleransi terhadap susu sapi.
• ASS diperantarai IgE
dilaporkan masih bertahan
hingga usia diatas 8 tahun
pada 15%-58% anak-anak
Kesimpulan

• ASS merupakan suatu reaksi yang tidak diinginkan yang diperantarai


secara imunologis terhadap protein susu sapi.
• ASS diperantarai reaksi hipersensitivitas tipe 1 yang diperantai oleh IgE
dan reaksi imunologis yang tidak diperantai oleh IgE ataupun proses
gabungan antara keduanya.
• Protein susu sapi merupakan alergen tersering pada berbagai reaksi
hipersensitivitas pada anak.
• Prognosis bayi dengan alergi susu sapi umumnya baik, dengan angka
remisi 45-55% pada tahun pertama, 60-75% pada tahun kedua dan 90%
pada tahun ketiga.