Anda di halaman 1dari 39

Diskusi Topik

Leukokoria

Dwika Hermia Putri


I4061152040
Definisi Leukokoria
Leukokoria adalah reflek putih pada pupil

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Diagnosis Banding Leukokoria

Lang GK. Ophthalmology: A Short Textbook. Thieme Stuttgart, NewYork. p.286


Etiologi Leukokoria
• Retinoblastoma
• Toxocariasis
• Coats Disease
• Persistent Fetal Vasculature (PEV)/Persistent
Hyperplastic Primary Vitreous (PHPV)
• Congenital Cataract
• Retinopathy of Prematurity

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Evaluasi Klinis Leukokoria
• Riwayat : onset usia, riwayat keluarga, prematuritas, kontak
terhadap makanan kotor atau kebiasaan higien yang buruk
• Pemeriksaan okular lengkap : pengukuran diameter kornea
(mencari ukuran mata yang kecil) pemeriksaan iris (mencari
neovaskularisasi) dan inspeksi pada lensa (melihat katarak).
Pemeriksaan fundus dan viterus anterior juga penting
dilakukan

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 178
Evaluasi Klinis Leukokoria
• B-scan Ulrasonography (US), terutama jika tidak terdapat
gambaran fundus.
• Intravenous fluorescein angiogram (coats disease, ROP,
retinoblastoma)
• CT scan atau MRI pada mata dan otak (retinoblastoma)
• Serum ELISA untuk Toxocara (positif pada 1:8 pada sebagian
pasien terinfeksi)
• Pemeriksaan sistemik oleh spesialis anak
• Paracentesis ruang anterior (toxocariasis)
• Pertimbangkan “Examination under anesthesia (EUA)” pada
anak yang lebih muda atau tidak kooperatif.
Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 178
Red Reflex Pupil
• Digunakan untuk keperluan skrining
untuk mendeteksi perubahan fundus
mata dan kekeruhan pada sumbu
visual
• Sebaiknya dilakukan di ruangan
yang gelap
• Pemeriksa harus berjarak sekitar 50
cm
• Dilatasi pupil meningkatkan
sensitivitas tes
• Refleks okular harus terlihat dan
simetris dalam warna dan intensitas
di kedua mata.
Retinoblastoma
• Tumor maligna pada retina yang muncul sebagai massa nodular
keputihan.
• Dapat tumbuh secara endophytic ( ke dalam vitreous) dengan
penyebaran sel tumor pada seluruh mata, atau bersifat
exophytic (ke dalam ruang subretina) atau kombinasi
keduanya.
• Muncul pada 1 tahun pertama kehidupan pada kasus bilateral,
dan sekitar usia 2 tahun jika tumor unilateral.

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Eva PR and Whitcher JP. Vaughan and Asbury. General Oftalmology. 17th edition. 2007. USA: Mc Graw-Hill company. 208-9
Retinoblastoma
Manifestasi Klinis :
• Leukokoria (reflek pupil putih) presentasi umum (60%)
• Strabismus merupakan penampakan kedua yang paling umum
(20%)
• Mata merah yang sangat nyeri dengan glaukoma sekunder,
dimana terkadang dapat dikaitkan dengan buphthalmos
• Penglihatan yang bururk
• Inflamasi atau pseudoinflamasi
• Inflamasi orbita menyerupai selulitis orbita atau preseptal
dapat terjadi dengan tumor nekrotik
• Invasi orbital atau terlihat pertumbuhan ekstraokular
• Metastasis meliputi pembesaran nodus limfa regional dan ke
otak
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Retinoblastoma
Tanda :
• Tumor intraretina bersifat homogen, lesi putih berbentuk
kubah (dome-shape lesion) yang menjadi ireguler sering
dengan bintik atau kalsifikasi keputihan.
• Tumor endophytic menyebar ke dalam vitreous sebagai massa
putih yang dapat menyebar ke dalam gel
• Tumor exophytic berbentuk massa putih subretina
multilobular

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Retinoblastoma
(A) (B)

(C) (D)

Presentation of retinoblastoma. (A) Leukocoria; (B) secondary glaucoma and buphthalmos; (C) red eye due to
uveitis; (D) orbital inflammation

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Retinoblastoma

(A) (B) (C)

Retinoblastoma. (A) Intraretinal tumour; (B) endophytic tumour with vitreous seeding; (C) mixed endophytic and
exophytic growth;

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Retinoblastoma
Diagnosis:
• Red reflex testing
• Pemeriksaan dibawah anastesi meliputi; pemeriksaan umum untuk
abnormalitas kongenital dari wajah dan tangan, tonometri, pengukuran
diameter kornea, pemeriksaan ruang anterior dengan slit-lamp,
Opthalmoskopi, Cycloplegic refraction
• B-scan ultrasonography (US)
• CT
• MRI

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Retinoblastoma
Tatalaksana:
• Chemoreduction,
• Intraarterial chemotherapy,
• cryotherapy,
• thermotherapy,
• laser photocoagulation, or Plaque radiotherapy.
• Enucleation

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Toksokariasis
• Toksokariasis  Infeksi nematoda yang muncul
terlokalisasi, keputihan, peningkatan granuloma pada
retina atau sebagai endophtalmitis difus.
• Jarang terjadi bilateral dan biasanya didiagnosis
antara usia 6 bulan hingga 10 tahun.

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Toksokariasis
• Toksokariasis terjadi akibat infeksi oleh Toxocara cati
(parasit di usus kucing) atau Toxocara canis (parasit
diusus anjing).
• Berhubungan erat dengan binatang peliharaan dan
karena memakan tanah (pica) yang terkontaminasi
larva yang menembus mukosa usus dan masuk ke
dalam sirkulais sistemik dan akhirnya sampai ke mata.

Eva PR and Whitcher JP. Vaughan and Asbury. General Oftalmology. 17th edition. 2007. USA: Mc Graw-Hill company. 159
Toksokariasis
Tanda dan Gejala: Gambaran Klinis:
• Biasanya unilateral 1) Granuloma posterior setempat
• Mata merah 2) Granuloma perifer yang
• Penglihatan kabur mengenai pars plana
• Pupil keputihan (leukokoria) 3) Endoftalmitis kronik

Laboratorium:
• Darah lengkap  peningkatan eosinofil
• Hipergammaglobulinemia terutama IgE
• ELISA  positif terhadap antibodi anti-toxocara
• Sampel dari aqueous atau vitreous  eosinofil, deteksi antibodi dan PCR

Eva PR and Whitcher JP. Vaughan and Asbury. General Oftalmology. 17th edition. 2007. USA: Mc Graw-Hill company. 159
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Toksokariasis

(A) (B)

Chronic Toxocara endophthalmitis. (A) Leukocoria; (B) peripheral exudation and vitreoretinal traction bands

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia
Toksokariasis
Tatalaksana :
• Preventif  higiene yang baik
• Steroid topikal, regional ataupun sistemik diindikasikan
• Antihelmin  tidak diindikasikan pada penyakit yang terbatas
dimata, mempromosikan inflamasi karena mematikan parasit
intraokular lebih cepat.
• Vitrektomi  dipertimbangkan pada pasien dengan kekeruhan
vitreus yang padat atau traksi praretinal yang nyata.

Eva PR and Whitcher JP. Vaughan and Asbury. General Oftalmology. 17th edition. 2007. USA: Mc Graw-Hill company. 159
Coat’s Disease
• Coats Disease  Telangiektasia
retina idiopatik yang onsetnya
secara umum pada anak usia
dini.
• Dihubungkan dengan eksudasi
intreretina dan subretina, dan
seringnya ablasio retina exudatif
tanpa tanda traksi vitreoretina.
• Sekitar 75% pada laki-laki, 95%
kasus terjadi unilateral

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 569-70
Coat’s Disease
Diagnosis Leukokoria
1) Gejala : Kehilangan penglihatan unilateral, leukokoria
ataupun strabismus
2) Fundus:
• Telangiektasis dan dilatasi arteri
• aneurisma fokal fusiform
• Eksudat intra- dan subretina

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 569-70
Coat’s Disease
(A) (B) (C)

(A) retinal telangiectasia and aneurysmal arteriolar changes; (B) progressively more
extensive vascular abnormalities and exudation; (C) extensive exudative retinal
detachment;

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 569-70
Coat’s Disease
Tatalaksana :
• Observasi pada pasien kasus ringan
• Laser ablation
• Anti-VEGF therapy
• Intravitreal triamcinolone 2-4 mg
• Cryotherapy
• Vitreoretinal surgery
• Enucleation

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 569-70
Katarak Kongenital
• Katarak kongenital  kekeruhan pada lensa yang muncul saat
lahir, dapat unilateral ataupun bilateral
• Kemungkinan adanya riwayat keluarga atau dihubungkan
dengan penyakit sistemik

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Katarak Kongenital
Tanda klinis:
- Kekeruhan pada lensa saat lahir
- Refleks fundus putih (leukokoria)
- Tidak ada refleks pupil merah,
- Abnormalitas pergerakan mata (nistagmus) pada satu
atau kedua mata
- strabismus

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Katarak Kongenital
Etiologi :
• Idiopatik
• Familial, autosaomal dominan
• Galaktosemia
• PFV/PHPV
• Infeksi rubela
• Lowe syndrome
• Lain-lain : kelainan kromosom, sindrom sistemik, infeksi intrauterin
lainnya, trauma, obat-obatan, abnormalitas metabolik lainnya, aniridia,
disgenesis segment anterior, radiasi.

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Katarak Kongenital
Tipe :
1. Zonular (lamelar)
2. Polar
3. Nuklear
4. Lentikonus posterior

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 191
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 299
Katarak Kongenital
Diagnosis :
1) Riwayat : penyakit pada ibu, obat-obatan selama kehamilan, sistemik dan
penyakit okular pada saat bayi, paparan radiasi atau trauma, riwayat
keluarga katarak kongenital
2) Penilaian visual setiap mata secara individual dengan menggunakan
teknik “non-verbal children” (tumbling E’s picture, Teller cards, atau
dengan mengikuti mainan kecil atau cahaya.
3) Pemeriksaan okular:
4) Refraksi sikloplegi
5) B-scan US
6) Galactokinase levels
7) Urine: kuantifikasi asam amino (alport syndrome), kandungan asam
amino ( lowe syndrome)
8) Titer antibodi rubella
Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins
Katarak Kongenital
Tatalaksana :
• Berdasarkan spesialis anak untuk mengobati kelainan
yang mendasari
• Obati yang berhubungan dengan penyakit okular
• Ekstraksi katarak
• After ekstraksi katarak, tatalaksana ambliopia 
kacamata, kontak lensa, inplantasi IOL

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 191
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 299
Retinopathy of Prematurity
Retinopathy of Prematurity (ROP)  berdampak pasa
bayi prematur berat badan lahir rendah, adanya
penyakit sistemik sebagai faktor risiko.

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 561
Retinopathy of Prematurity
Faktor Risiko :
• prematuritas, terutama < 32 minggu usia gestasi
•Berat lahir rendah < 1500 gr terutama < 1250 gr
•Terapi suplementasi oksigen, sepsis neonatal,
hipoksemia, hiperkarbia

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 179
Retinopathy of Prematurity
Tanda:
-Retina perifer avaskular
-Proliferasi fibrovaskular ekstraretina
-Perdarahan vitreus
-Pelepasan retina
-Leukokoria terkadang bilateral

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 179
Retinopathy of Prematurity
Klasifikasi :
1) Lokasi
• Zona I : posterior pole, 2 kali
jarak disk-fovea, berpusat
disekitar disk
• Zona II : dari zona I ke nasal
ora serrata, temporer jauh
dari disk.
• Zona III : Tepi temporal

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 191
Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 563
Retinopathy of Prematurity
Staging :
Retinopathy
(A) of (B)Prematurity(C)

D)
(E) (A) Stage 1 – demarcation
line; (B) stage 2 – ridge; (C)
stage 3 – ridge with
extraretinal vascular
proliferation; (D) stage 4A –
partial extrafoveal retinal
detachment; (E) ‘plus’ disease

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 564
Retinopathy of Prematurity
Tatalaksana :
- Laser ablation
- Intravitreal anti-VEGF agents
- Pars plana viterctomy

Bowling B. Kanski's Clinical Ophtalmology; A Systematic Approach, Eight Edition. 2016. Elsevier: Sydney, Australia. p: 299
Persistent Fetal Vasculature (PEV)/Persistent
Hyperplastic Primary Vitreous (PHPV)

• Kelainan perkembangan okular terdiri dari beragam tingkat proliferasi glial


dan vaskular di rongga vitreus. Hal ini biasanya berhubungan dengan mata
yang sedikit kecil.
• Biasanya terdapat membran di belakang lensa yang bisa menyebabkan
traksi pada prosesus siliaris.
• Hal ini adalah kondisi progresif dengan adanya katarak saat lahir atau di
awal kehidupan.
• Membran dan lensa dapat berrotasi ke anterior, ruang anterior menjadi
dangkal dan mengakibatkan glaukoma sekunder. Ablasio retina bisa
terjadi.
• Jarang bilateral. Tidak ada riwayat keluarga

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 178
Persistent Fetal Vasculature (PEV)/Persistent
Hyperplastic Primary Vitreous (PHPV)

Tatalaksana :
• Ekstraksi membran katarak dan retrolental glial.
• Mengobati amblyopia, meskipun hasil visual seringkali buruk
akibat hipoplasia foveal yang terkait dengan PFV.

Ehlers, Justis P.; Shah, Chirag P. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis and Treatment of Eye Disease, 6th Edition. 2012.
Lippincott Williams & Wilkins. p: 179