Anda di halaman 1dari 79

BEDAH JANTUNG

OLEH
SLAMET SUMARNO
060307
3/30/2018 Mar 1
. Sejarah bedah jantung :

 1. 1896 ahli bedah jerman,


Ludwig Rehn, menolong
korban luka tusuk jantung
dan dilakukan jaitan jantung.
(Sjamsuhidayat 1987).
 2. 1925 Amerika serikat
tindakan perbaikan stenosis
katup jantung dan berhasil.

3/30/2018 Mar 2
. Sejarah bedah jantung :

 3. 1953 mesin jantung paru


sebagai pengganti kerja jantung
paru selama pembedahan.
 4. 1967 Indonesia penanganan
kasus jantung koroner.

3/30/2018 Mar 3
BEDAH JANTUNG
 Iptek timbulkan dampak +/- kes
 Negatif: penyakit akibat kurang gerak.
 Positif membantu pengobatan
 Jantung bekerja seumur hidup dan
berhenti berarti mati : jaga dan
dipelihara.
 Jantung tak sehat, aktivitas turun dan
berhenti.
 Sakit janttung dibedakan bawaan dan
dapatan.
3/30/2018 Mar 4
b. Indikasi bedah jantung.
Jenis jantung bawaan :
a. Ductus arteriosus batolli (Pattren ductus
arteriosus) PDA.
b. Obstruksi (Stenosis katup paru & aorta)
c. Atrium septal defek.
d. Ventrikel septal defek
e. Tetralogi fallot.
f. Tranpormasi pembuluh darah besar.
3/30/2018 Mar 5
Penyebab PJB.
 Sering tak dapat diterangkan penyebabnya.
 Faktor yang mempengaruhi PJB: infeksi
virus campak (rubela) pada ibunya,
konsumsi obat, jamu penghambat
pertumbuhan, alkohol.
 Keturunan (kelainan genetik).
 Sindroma Down (mongolism).
 Merokok saat hamil (lahir prematur).

3/30/2018 Mar 6
Penyakit jantung bawaan dan
penanganan medis.
 Berdasarkan penampilan fisik pjb dibedakan
menjadi:
1. PJB tidak sianosis (tidak biru).
2. PJB sianosis (biru).
Berdasarkan anatomi dapat dibedakan
Stenosis atau penutupn total di katup atau
diluar jantung. Penyempitan ini
menimbulkan gangguan aliran darah
bahkan sampai berhenti total dan
membebani kerja jantung.

3/30/2018 Mar 7
1. Stenosis (penyempitan) katup
pulmonal.

 Terjadi pembebanan jantung kanan dan


dapat menimbulkan kegagalan jantung
kanan. Makana ini bukan jantung gagal
berdenyut, tetapi jantung tak mampu
memompa darah sesuai kebutuhan tubuh
atau darah balik tak sesuai.
 Tanda-tanda:
1. Pembengkaan kelopak mata, tungkai, hati
dan penimbunan cairan di rongga perut.
2. Penanganan medis dilakukan pelebaran
katup yang menyempit dengan balon (Ballon
pulmonal valvotomy =BPV).
3/30/2018 Mar 8
Stenosis katup aorta.
 Terjadi pembebanan jantung kiri yang
pada akhirnya dapat mengakibatkan
kegagalan jantung kiri yang ditandai
dengan:
1. Sesak nafas, batuk kadang-kadang
berdahak darah (akibat pecahnya
pembuluh darah halus).

3/30/2018 Mar 9
Tindakan medis pada penyakit
jantung bawaan.
Pendahuluan.
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan
penyakit jantung yang dibawa sejak lahir,
terjadi ketika bayi masih dalam kandungan.
Pada kehamilan akhir minggu ke 7
pembentukan jantung sudah lengkap, jadi
pembentukan jantung terjadi pada awal
kehamilan.

3/30/2018 Mar 10
Lanjutan.

 Penyakit jantung bawaan:


1. Atrium septal defek
2. Ventrikel septal defek
3. Stenosis
4. Tetralogo fallot
5. Patern ductus arterisusu dll.

3/30/2018 Mar 11
Lanjutan.
 Penyakit jantung dapatan :
1. Jantung koroner,
2. Demam rematik,
3. MCI (myocardic infark).
4. Cardiopulmonal
 Salah satu tindakannya: bedah
jantung
3/30/2018 Mar 12
Jenis jantung dapatan

 a. Kelainan katup (indokarditis),


 katup mitralis atau katup aorta.
 b. Arterioskerosis (a. koronaria).
 c. Tumor.
 d. Perikarditisinfeksi
 e. Aneurisma dll.

3/30/2018 Mar 13
PDA.
 1. Hubungan antara aorta dan arteria
pulmonalis yang hanya ada pada janin, hilang
saat lahir, bila hubungan masih ada saat
anak, akibatnya darah kaya O2 di aorta
masuk lagi ke arteria pulmonalis kaya CO2
menuju paru.
 Darah aorta ke tubuh berkurang baik volume
maupun O2 nya.
 Akibatnya Pasien cyanosis berat atau ringan
tergantung besar kecilnya lumen PDA nya.
3/30/2018 Mar 14
Obstruksi (Stenosis katup
pulmonaris dan aorta).
 Katup pulmonalis/aorta menyempit saat
darah dipompakan ventrikel ke paru/tubuh
darah sulit ngalir akibatnya Stroke volume /
COP turun baik ke paru/ tubuh .
 Tubuh kurang darah(O2) Cyanosis atau paru
kurang darah ke atrium kiri (turun)
sehingga kemampuan tubuh menurun.
 Akibatnya ventrikel kiri membesar untuk
kompensasi kekurangan darah(O2) dengan
menambah frekuensi denyut
 akibatnya myocardium kekurangan O2 dan
nutresi.
3/30/2018 Mar 15
Atrium septal defek
Ada hub atrium d dan s
akibat gagal pembentukan sekat
 Jenisnya:
1. Defek sinus venopsus dekat vena kava sup
2. Defek foramen ovale harusnya nutup stl lahir
3. Defek septum sekundum.
4. Defek septum Premum dekat sekat antar
ventrikel pada bantalan endocard
 Akibatnya darah mengalir sebagian dari kiri
ke kanan, tapi bila kebalikannya keadaan
lebih sulit dikatakan kontra indikasi
pembedahan.
3/30/2018 Mar 16
Ventrikel septal defek
 Hubungan antara ventrikel D/S pada sekat
ventrikel Jenisnya :
 Defek diatas atau dibawah krista supra
ventrikularis, daerah katup trikus pidalis
tak banyak timbul gejala, tapi dibawah
krita supraventrikularis dapat menimbulkan
gejala Eisenmenger dan dpt merupakan
konntra indikasi bedah. kontra indikasi lain
bila hipertensi pulmonal. Pembedahannya
menutup defek sekat ventrikel dengan
bedah jantung terbuka.
3/30/2018 Mar 17
Tetralogi fallot
 Gejala klinis bayi biru .
 Ada empat kelainan yaitu:
(1) Defek sekat ventrikel.
(2) Stenosis pulmonal.
(3) Muara aorta tergeserr kekanan.
(4) Hypertropi ventrikel kanan.
(5) Insiden 12% dari kelainan jantung
bawaan.

3/30/2018 Mar 18
lanjutan
(1) Tindakan pembedahan terbuka
dengan koreksi total dapat dilakukan
bila umur penderita dan berat
badannya sudah dianggap cukup
untuk dapat menerima tindakan bedah
besar.
(2) memenuhi syarat hukum
(3) Berat badan minimal 5 Kg.
(4) Umur 10 minggu.

3/30/2018 Mar 19
Tranpormasi pembuluh
darah besar
 Menyebabkansyanosis berat & gagal jantung
 Tertukarnya aorta dan a. pulmonalis.
 Darah dari ventrikel kanan ke aorta dan
sebaliknya darah dari ventrikel kiri ke paru.
 Anak no oksigen kecuali duktus arterisus
terbuka (defek atrioventri kularis).
 Tindakan sementara Septostomi buat
lobang di sekat atrium dengan balon seharus
nya menukar tempat aorta dengan
 a. pulmonalisnya dengan bedah terbuka.
3/30/2018 Mar 20
Jenis kelainan jantung
dapatan.
 1. Katup (indokarditis), katup mitralis atau
katup aorta terganggu
 Deman rematik (endokarditis reumatik) dapat
menimbulkan komplikasi cacat katup jantung. Cacat
biasanya insulfisiensi atau stenosis. Pada stenosis
katup mitralis maupun katup aorta dapat dilakukan
bedah terbuka denga tindakan Komisurotomi bila
stenosis murni, atau denga rekuntruksi bentuk lain
misalnya pemasangan katup mekanik yang tahan 8-
10 tahun.

3/30/2018 Mar 21
Kelainan pembuluuh
koroner.(Arterioskerosis a. koronaria).

 1. Penyakit jantung koroner merupakan


sindrom yang melanda kehidupan
modern yang penuh stres dan rokok
dengan pola makan kaya kolesterol.
Penyempitan arteria koronaria akan
menimbulkan iskemia atau Myocard
infark (MCI).
 Tanda dan gejalanya : Nyeri angina
pektoris disertai kelainan gambaran EKG.

3/30/2018 Mar 22
Kelainan pembuluuh
koroner.(Arterioskerosis a. koronaria).

 Diagnosa yang baik dibantuan angiografi


untuk menentukan penyumbatan dan
penyempitan serta fungsi ventrikel kiri
untuk menentukan tindakan bedah.
 Pembedahan umumnya berupa bedah
pintas koroner dengan menggunakan v.
safena magna, arteria mammaria interna.
Hasil bedah ini sangat baik karena bila dua
arteria dibuat pintas diperkirankan
mempunyai kemampuan sampai 20 tahun.

3/30/2018 Mar 23
Ttrauma jantung
Trauma jantung dapat berupa taruma
tumpul atau tajam, tetapi pada umumnya
berupa tusuk. Keduanya dapat
mengakibatkan: memar otot jantung,
Perdarahan ventrikel, MCI atau defek sekat
atrium maupu ventrikel. Yang paling sering
kena tusuk ventrkel kanan karena letaknya
bagian depan. Luka tusuk perlu bedah
darurat.

3/30/2018 Mar 24
Perikarditis infeksi
 Akibat perikarditis akan
meninggalkan jaringan ikat pada
myocad sehingga kelenturan
ventrikel terganggu atau stroke
volume dan COP rendah. Tidakan
pembedahan perlu dilakukan
untuk memperbaiki ventrikel yang
tidak fleksibel.

3/30/2018 Mar 25
Aneurisma
 1. Aneurisma Robeknya
pembuluh darah aorta sehingga
dapat menyumbat aliran darah.
 Sistem sirkulasi aorta dengan
adanya gelembung darah pada
lapisan pembuluh darah, Sehingga
perlu pembedahan untuk –
perbaikan pembuluh darah aorta.
3/30/2018 Mar 26
Fisioterapi
Sebelum operasi (Prae ops)

A . Problem yang mungkin terjadi


1. Tanda-tanda vital: HR > 80/min, RR> 20/min BP:
<80/60 >120/90 mmHg
2. Gangguan jalan nafas Seperti adanya sputum.
3. Ventilasi rendah
a. Bentuk thorak (barel chest, dada burung).
b. Gerakan nafas (ritmis cepat, tidak ritmis antara
cepat dan dalam)
c. Terbatasnya ROM thorak.

3/30/2018 Mar 27
Fisioterapi
Sebelum operasi (Prae ops)

4. Gangguan sirkulasi: Cyanosis saat aktivitas


ringan sampai sedang.
5. Sesak nafas (ventilasi rendah )
6.Pengetahuan tentang penyakitnya dan
kesehatan kurang.
a. Tidak tahu tentang penyakitnya.
b. Tidak tahu rencana operasinya.
c. Tidak tahu apa yang harus dipersiapkan.
d.Tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah
operasi.
3/30/2018 Mar 28
LANJUTAN.
7. Ketidak tahuannya timbulkan
gangguan psikis.
a. Cemas/ kawatir operasi
berbahaya dan berat.
b. Tidak nyaman fisik/psikis,
gangguan tidur
c. Tidak nyaman karena kematian.

3/30/2018 Mar 29
LANJUTAN.
8. Gangguan gerak dan fungsi :
a.Kemampuannya rendah/ cepat
lelah/ tidak mampu kerja .
b. Perkembangan anak lamban.
c. Vital sign banyak menyimpang.
d.Ketidak mampuan penyedian
oksigen sesuai kebutuhan.

3/30/2018 Mar 30
Assesment.
 Anamnesa.
 Jam: Tanggal, bulan th pemeriksaan.
 Identitas Pasien.
 Riwayat keluhan.
 Provokator dan yang mengurangi keluan.
 Lingkungan.
 Sosial
 Pekerjaan.
3/30/2018 Mar 31
axamination
1. Tanda-tanda vital.
a. HR
1). Palpasi nadi radialis 30 detik X2 atau
60 detik.
2). Auskultasi jantung dengan stetoskop
30 detik x2 (60 detik).
3). Membaca monitor EKG, Puls meter.
4). Membaca kertas EKG Bila kecepatan
kertas 25 mm/detik
a). Bila EKG ritmis Hitung jarak R ke R
untuk membagi 1500 mm.

3/30/2018 Mar 32
axamination

b). Bila tidak ritmis Hitung jumlah R


sepanjang kertas 150 mm X 10
Yang perlu diperhatikan Rimis atau tidak.
Atau bentuk pernafasan.
a. BP lebih rendah dari 80/60 mmHg atau
lebih tinggi 120/90 mmHg.
b. RR > 20/min atau < 10.
Bila dng stetoskope tak dapat didengar enya
gunakan Palpasi hasil systole saja.

3/30/2018 Mar 33
Lanjutan.
 2. Gangguan jalan nafas Seperti adanya sputum.
 Dengarkan dengan setoskope daerah mana (segmen) yang
ada wizeing.
 Perhatikan sputum (lihat makalah PPOM).
 3. Ventilasi rendah
 a. Bentuk thorak (barel chest, dada burung).
 b. Gerakan nafas (ritmis cepat, tidak ritmis antara cepat
dan dalam)
 c. Terbatasnya ROM thorak.
 Lihat makalah PPOM.

3/30/2018 Mar 34
lanjutan
4. Gangguan sirkulasi.
Cyanosis saat aktivitas ringan
sampai sedang.
a. Inspeksi warna kulit pucat .
b. Periksa hasil Lab : Hb kurang
dari 10, Lihat Analisa gas
darah.
3/30/2018 Mar 35
lanjutan
5. Sesak nafas.
a. Tanda vital
b. Gangguan jalan nafas.
c. Ventilasi rendah.
d. Gangguan sirkulasi
Analisa gas darah. (Cukup jelas).
3/30/2018 Mar 36
Lanjutan.
6. Pengetahuan penyakit kurang.
a. Tidak tahu penyakitnya.
minta pasien cerita penyakitnya untuk
diukur pengetahuannya
b. Rencana operasinya.
c. Apa yg harus dilakukan untuk persiapan
operasi.
d. Yang harus dilakukan setelah operasi.
3/30/2018 Mar 37
Lanjutan.
7. Karena ketidak tahuannya
tersebut menimbulkan gangguan
psikis.
a. Cemas/ kawatir operasinya
berbahaya dan operasi berat.
b. Tidak nyaman baik fisik atau
psikis, kurang tidur atau tidak bisa
tidur.

3/30/2018 Mar 38
Lanjutan.
c. Tidak aman karena tidak tahu di poin 4
merasa deserang penyakit dan akan
segera mati .
Perhatikan foktor-faktor yang mendukung
kecemasan, tidak nyaman dan tidak
aman seperti: Gelisah, tidak bisa tidur,
mengeluh takut dsb.
Lihat Tingkah laku orang cemas,takut dan
gelisah.
3/30/2018 Mar 39
lanjutan
 8. Kemampuannya rendah/ cepat lelah/ tidak
mampu kerja sedang / berat.
 a. Perkembangan anak lamban.
 Periksa tumbuh kembang anak BB/TB sesuai umur.
b. Vital sign tidak normal.
 Cukup jelas.
 c. Ketidak mampuan penyedian oksigen sesuai
kebutuhan.
 Gunakan test 6 menit jalan seperti di PPOM atau
Dinamik Endurance test.

3/30/2018 Mar 40
Evaluasi (menilai dengan
standart normal).
 A. Analisa masalah.
 lihat hasil kajian anda dan
bandingkan dengan standart
normal dimana ada
penyimpangan kumpulkan
penyimpangan-penyimpangan itu.
Susun secara sistematis mulai
yang vital sampai fungsional.
3/30/2018 Mar 41
List of problem.
Susun masalah dan pilih penyebab
vital.
Misal problem sesak nafas:
Cari penyebab sesak nafas :
1. jalan nafas tergangggu karena spame
bronkus, dahak, jalan nafas tidak
terbuka (posisi kepala)

3/30/2018 Mar 42
List of problem.
2. Ventilasi rendah:
a. Pengembangan thorak ( otot, ROM
atau nyeri)
b. pleurae terganggu fungsinya.

3/30/2018 Mar 43
Lanjutan.
3. SIRKULASI.
a. Kadar Hb, darah Astrup (PaO2) dan
saturasi Kemampuan ikatan darah
terhadap oksigen 100% ?.
b. Fe
c. SGPT, SGOT.
d. Asidosis, alkalosis
e. Tekanan darah.
3/30/2018 Mar 44
Diagnosa fisioterapi Contoh
1. HR> 80/min, RR> 32 /min karena
kompensasi jaringan kekuranga O2.
2. Sesak nafas , pucat, HR,RR tinggi potensial
gagal nafas.
3. Pengetahuan penyakitnya rendah karena
belum pernah tahu dan mendengar,.
4. Cemas karena takut operasinya gagal.
5. Kemampuan fisiknya rendah karena
jaringan kekurangan oksigen. Dll

3/30/2018 Mar 45
TUJUAN.

1.Persiapkan operasi.
a.Meningkatkan kemampuan paru.
Tingkatkan ventilasi, kebersihan jalan nafas, cara
batuk efektif, cara nafas dalam, cara menahan
daerah operasi saat bernafas atau batuk agar tidak
sakit.dan manfaat latihan.
b. Peningkatan pengetahuan tentang penyakitnya,
singkat operasi, apa yang harus dilakukan
sebelum dan sesudah operasi meningkat.

3/30/2018 Mar 46
TUJUAN.

c. Kurangi rasa takut, cemas ,


gelisah , tidak nyaman & aman.
d. Tahu cara = suplai dan diman
e. Pasien tahu sikap yang baik
untuk mencegah pusture yang
jelek.

3/30/2018 Mar 47
Rencana pelaksanaan.

a. Meningkatkan kemampuan paru


dengan melatih/ mengajarkan:
1). Pengaturan posisi yang
menguntungkan dan efisien.
2). Deep , Pursed lips , lokal ,
diaprahgmatik breathing.
3). Latihan batuk efektif.
4). Pemberian tahanan saat batuk dan
nafas pada daerah operasi.
3/30/2018 Mar 48
Rencana pelaksanaan.
Dosis.
1. Frekuensi tiap hari.
2. Intensitas HR naik 10-20 dari rest.
3. Time ((Waktu) 5- 15 menit.
4. Tipe : Posisioning, bantuan nafas,
latihan aerobik dll.
5. Repetisi: Satuan/min(irama normal).
Repetisi breathing 12-20/menit.

3/30/2018 Mar 49
Educatie.
b. Edukasi : Tentang penyakit, tehnik
operasi, yang harus dilakukan sebelum
/sesudah ops serta yang tidak boleh
c. Mobilisasi torak : Frekuensi, durasi,
intensitas lihat (a). Ripitasi20-30/min
d. Suport mental cukup jelas.
e. Jelaskan cara suplai dan dimanO2
f. Jelaskan sikap yang baik untuk
mencegah pusture yang jele.
3/30/2018 Mar 50
Macam bedah jantung.
Pada dasarnya bedah jantung dibedakan dua macam :
A. Bedah jantung tertutup bila jantung tidak dibuka atau
tanpa menghentikan fungsi jantung dan paru misalnya
pada kondisi: PDA, stenosis aorta..
B. Bedah jantung terbuka bila perlu menghentikan fungsi
jantung dan paru misal-
Nya pada kasus: Perbaikan septal defek, tetralogi fallot,
Koronaria by past.
C. Bentuk insisi:
1. Vertikal media sternum .
2. Tranversal setinggi iga 3 –4.
3. Antero lateral/ postero lateral.
D. Kateterisasi.

3/30/2018 Mar 51
A. Problem Post bedah.
1. Tanda-tanda vital ada perubahan dari normal.
a. HR > 90/min ( tachicardia, fibrilasi bahkan kardiak arest).
HR< 50 ( bradicardia, kardiak arest).
b. RR kurang dari 12 atau lebih dari 24 /min.
c. BP kurang dari 120/90 mmHg bahkan sintole dibawah 60
mm Hg.
d. Suhu lebih tinggi dari 36,5 derajat C ( demam atau panas).
2. Luka insisi yang tidak enak ( sakit diam saat bernafas,
bergarak).
3. Adanya alat batu yang membuat tidak nyamam sepert:
Sande, tube, slang oksigen, darinage, alat monitor jantung,
alat bantu respirasi dll.

3/30/2018 Mar 52
Lanjutan.
1. Sputum yang bertambah.
2. Penurunan fungsi paru dan jantung.
3. Gerakan nafas dan fungsi nafas.terganggu.
4. Ventilasi thorak menurun.
5. Gerakan sendi thorak menurun.
6. Gelisah,cemas, takut bergerak atau bernafas bebas bahkan
merasa tidak aman.
7. Pengetahuan latihan yang menurun, yang memperberat dan
memperingan keluan.
8. Kemampuan aktivitas : Self care, self dreesing, ADL
menurun.
9. Komplikasi : a). Gagal nafas, insulfisiensi b). cardiac arest ,
c). Aritmia, d. Infeksi. d). Gagal ginjal. e). Penurunan fungsi
syaraf. f). TIA. g). Emboli paru/ pembuluh darah. h). Tidak
stabilnya tulang sternum.

3/30/2018 Mar 53
A. Pengkajian:
1. Vital sign Cukup jelas.
2. Inspeksi : apakah ada perdarahan atau
bersih pada penutup luka.
3. Perhatikan alat-alat : Draenage, Osigenasi(
respirator), Monitor EKG berfung dengan baik.
4. Timbulnya koomplikasi Infeksi, deep vena
thrombosis, udem tungkai, cardiac arest, gagal
nafas (demam, bengkak tungkai, Vital sign).
5. Dahak : Lakukan auskultasi.
Penurunan fungsi paru dan jantung (Vital sign)
ritme dan frekuensinya

3/30/2018 Mar 54
Lanjutan.
1. Penurunan kemamuan berfikir.
2. Gerakan nafas dan fungsi nafas (lihat di
PPOM dan Prae ops).
Terutama lihat hasil analisa gas darah bila ada.
3. Ventilasi Cukup jelas).
4. Gerakan sendi thorak sudah jelas.
5. Psikis cukup jelas.
6. Kemampuan fungsional Lihat PPOM atau
test denga dinamik endurance test.

3/30/2018 Mar 55
A. Perencanaan:
Ft direncanakan untuk empat tahap:
Tahap I. Masa akut hari ke dua sampai
5.
Tahap II. Masa penyembuhan 5 s/d 14
hari.
Tahap III. Masa dirumah 15 – 2 bulan).
Tahap IV. Masa pemeliharaan dan
penyesuaian kerja. Setelah 2 bulan.

3/30/2018 Mar 56
Dosis.

Dosisi latihan.

Th Frek Durasi Intensitasi Ripitasi RR Type Ft.


I Tiap hari 5-10 min + 20 dari HRR 20-30/min Posisioning
II 5 X Mg 10-15 min + 30 dari HRR 12-24/min Breathing
III 3X/Mg 15-30 min65%-75% HRM 8-12/min Aktif aerobik
8-12/min Jalan/joging
IV 3x/Mg 30-60 min72%-87% HRM

3/30/2018 Mar 57
Pinsip latihan.
1. Tahap I.(masa akute) ICCU (ICU).
a. Latihan daya tahan jantung paru.
b. Prinsip latihan progresif.
c. Buat dosis lat & monitor selama latihan.
d.Cukup tidur dan Cermati obat yang
menurunkan frekuensi nadi (Beta blok, obat
analgetik.
e. Monitor Vital sign, gejala yang muncul
sebelum, selama,sesudah (2min) latihan .

3/30/2018 Mar 58
A. Pelaksanaan fisioterapi.
A. Pase I ICCU (ICU). Lihat perencanaan.
1. Bebaskan jalan nafas.
Bersihkan dari sputum dengan
suction atau posisikan semi ektensi dan
rotasi leher, bila mungkin pengasatan
dan latihan batuk dengan menahan
daerah sakit. Dilakukan pada hari kedua
setelah ops.

3/30/2018 Mar 59
A. Pelaksanaan fisioterapi.
2. Lakukan pasif movemen dari
sedi proksimal baru distal dan
usahakan banyak sendi bergerak.
3. Sedangkan latihan aktif dimulai
dari distal baru sendi proksimal.
Bila latihan nafas dari
diaprahgmatik breathing baru
segmental.
3/30/2018 Mar 60
Tujuan :
a. Bebaskan jalan nafas.
b. Mencegah komplikasi: infeksi, Deep vena
trombosis, cardiac arest, atau gagal nafas
c.Menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan
fungsi paru dan jantung.
d. Mengingatkan cara yang telah diajarkan
sebelum operasi.
e. Melatih mobilisasi dan ambulasi sampai
mampu berdiri.
f. Edukasi.
3/30/2018 Mar 61
Pelaksanaan fisioterapi.
A. Pase I ICCU (ICU). Lihat
perencanaan.
1.Bebaskan jalan nafas.
Bersihkan dari sputum dengan
suction atau posisikan semi ektensi
dan rotasi leher, bila mungkin
pengasatan dan latihan batuk
dengan menahan daerah sakit.
Dilakukan pada hari kedua setelah
ops.
3/30/2018 Mar 62
Pelaksanaan fisioterapi.
2.Lakukan pasif movemen dari sedi
proksimal baru distal dan usahakan
banyak sendi bergerak.
3.Sedangkan latihan aktif dimulai dari
distal baru sendi proksimal. Bila
latihan nafas dari diaprahgmatik
breathing baru segmental.

3/30/2018 Mar 63
Lanjutan.
4. Menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan fungsi
paru dan jantung.
Bila diberikan latihan breathing nadi naik tidak lebih
20 dari nadi awal pada hari ke dua sudah boleh
duduk, lakukan gerak dinamik dan mulai dari distal
menuju pproksimal dengan metode 10 macam
gerakan masing-masing lima gerakan.
Latihan dihentikan apabila: 1). Ada aritmia lebih dari
6 x /min. 2). Tanda vital mencapai target, 3). Ada
keluhan didukung tanda vital .

3/30/2018 Mar 64
Lanjutan.
5. Melatih mobilisasi : Pada hari ke 3 sudah boleh
dudu bahkan bila target belum ada gangguan
sudah boleh berdiri dengan bantuan.
6.Berikan bantuan suport agar pasien perjaya diri,
tampa mengabaikan keluan sakit.
7. Edukasi tentang yang yang memperingan dan
memperberat kondisinya.

3/30/2018 Mar 65
Phase II.
1. Bentuk pada Phase I dapat dipakai,
perhatikan.
2. Tingkatkan ke phase II secara
progresif dengan dosis phase II.
3. Modivikasi bentuk latihan misalnya
latihan deep breathing dengan jumlah
latihan nafas ditambah atau ripitasi
latihan lebih sedikit atau lebih dalam
dengan ekspirasi lebih lama.
3/30/2018 Mar 66
Phase II.
4. Jumlah gerakan sendi ditingkatkan dan perhatikan prinsif
bernafas jangan menimbulkan latihan dengan menahan nafas.
Pada prinsipnya semua gerakan yang menimbulkan kompresi
thorak disertai ekspirasi dan gerakan yang mingkatkan
ventilasi disertai inspirasi. Contoh:
a. Pasien tidur terlentang gerak pasif abd bahu disertai inspirasi
dan saat ADD disertai
ekspirasi.
b. Saat fleksi sendi bahu inspirasi dan saat ektensi ekspirasi.
c. Saat hip fleksi, knee fleksi ekspirasi dan saat ektensi
inspirasi.

3/30/2018 Mar 67
Lanjutan
5. Hindarkan kontraksi isometrik dan tahan nafas.
6. Pasien boleh pulang bila dengan latihan 5-10
menit mampu menaikna nadi sampai 110-
120 / min tampa menimbulkan keluhan.
7. Pasien boleh hubungan suami istri bila pasien
sudah mampu latihan 10 menit nadi mencapai 120
/min tanpa menimbulkan keluan

3/30/2018 Mar 68
Lanjutan
8. Anjuran dalam melakukan hubungan sedapat
mungkin hemat energi atau dilarang melawan
gerak gravitasi {gerak dibidang hori zontal (nilai
otot 2).atau diam}.
9. Anjurkan datang ke fisioterap 3-5 kali seminggu
selama istirahat dirumah.
10. Hubungi fisioterapi atau bagian bedah
sewaktu-waktu ada keluan yang tidak lazim.
Sebelum pulang lakukan test kemampuan fungsional
(toleransi test

3/30/2018 Mar 69
Phase III.
1. Latihan di klinik 3 x seminggu untuk latihan
bersama, sesama kundisi bedah jantung untuk lebih
percaya diri.
2. Didik untuk dapat memahami latihan dengan
benar dan dilakukan dengan baik.
3. Latihan disesuaikan dengan aktivitas kerjanya
dan dosis latihan lihat kolom diatas serta.
Hindarkan faktor pemberat dan lakukan yang
memperbaiki kondisi fisik dengan teratur
dan terukur.

3/30/2018 Mar 70
Phase III.
4. Atur jadwal latian dan anjurkan
masuk kelompok senam
jantung.datang.
5. Didik latihan aerobik yang benar,
teratur, terukur.
6. Hindarkan emosional pengin cepat
kuat kembali dengan latihan over
dosis, bahaya lebih besar dan sangat
fatal.
3/30/2018 Mar 71
Phase IV.

1. Phse setelah dua bulan dirumah atau masa


pemeliharaan.
2. Dalam kelompok ini dibedakan tiga tahap
terutama bedah jantung koroner, karena untuk
3. bedah jantung bawaan biasanya anak
berkembang sesuai pertumbuhanya.
4. Kelompok I. Kelompok kemampuannya baik dan
memeng sudah terlatih..
5. Kelompok II. Kelompok kemapuan sedang karena
baru pulang rawat.
3/30/2018 Mar 72
Phase IV.

6. Kelompok III. Kelompok kurang baik , karena


kemappuannya menurun oleh usia atau
7. faktor lain.
8. Latihan senam aerobik, permainan, renang,
atau rekreasi.
9. Dosis latihan lihat kolom diatas.
10. Latihan harus memegang prinsip latihan : ada
pemanasan, latihan inti dan pendinginan.

3/30/2018 Mar 73
Rumus test 6 menit wolk test.
(0,06Xjarak tempuh(meter)-(0,104 X Usia(th)
+(0,052X Berat Badan(kg) + 2,9 : 3,5 =
0,06 jarak tempuh – 0,104 usia +0,052 BB +2,9 : 3,5 = mets.
Contoh: Tuan A.
Umur :61 th, B B :71,5 Kg, TB: 170 Cm
Jarak tempuh selama 6 menit= 523 m
(0,06x523)-(0,104x61)+(0,052X71,5)+2,9 = 9,04
Mets.
3,5

3/30/2018 Mar 74
Sekian dan trimakasih
 sampai jumpa.

3/30/2018 Mar 75
3/30/2018 Mar 76
3/30/2018 Mar 77
3/30/2018 Mar 78
3/30/2018 Mar 79