Anda di halaman 1dari 17

HIPERSENSITIVITAS

Kelompok 7
Dea Putri Febriyani P27903115007
Erni Puji Lestari P27903115012
Nia Syafira Kurnia P27903115026
Siti Hardiyanti Lesmana P27903115038
Pengertian
 Hipersensitivitas ialah reaksi berlebihan, tidak
diinginkan karena terlalu senisitifnya respon imun
(merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan
terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh
sistem imun.
Reaksi Hipersensitivitas
Reaksi hipersensitivitas terbagi 4 tipe, yaitu
 Hipersensistivitas Cepat atau Hipersensitivitas Tipe I

 Hipersensitivitas Sitotoksik Dimediasi Antibodi Atau

Hipersensitivitas Tipe II
 Hipersensitivitas Dimediasi Kompleks Imun Atau
Hipersensitivitas Tipe III
 Hipersensitivitas Seluler, Hipersensitivitas Tipe Lambat

atau Hipersensitivitas Tipe IV


Hipersensistivitas Cepat atau
Hipersensitivitas Tipe 1
 Antigen bereaksi dengan antibodi yang terikat
pada sel mast jaringan atau basofil dalam sirkulasi
 Hipersensitivitas tipe 1 ditandai dengan reaksi
alergi yang terjadi segera setelah kontak dengan
antigen yang disebut alergen
Mekanisme terjadinya alergi

 Produksi IgE oleh sel B


tergantung pada
penyajian antigen oleh
sel penyaji antigen
(APC) dan kerja sama
antara sel B dan sel
TH2
Kadar IgE serum meningkat pada
penderita alergi
 Kadar IgE Bering meningkat pada penyakit alergi
dan sangat meningkat pada infesitasi parasit.
Peningkatan kadar IgE membantu diagnosis
penyakit atopi pada anak dan dewasa
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Terjadinya Alergi
 Defisiensi Sel T, Terutama Sel T “ Suppressor”
 Polutan Lingkungan Dapat Meningkatkan IgE Spesrn
Anti-9M
 Hiposensitisasi
Hipersensitivitas Sitotoksik Dimediasi
Antibodi Atau Hipersensitivitas Tipe II
 antibodi terhadap antigen permukaan suatu sel
melekat pada sel tersebut dan mengakibatkan
kehancuran sel dengan cara mengaktifkan sel
pembuh (killer) sitotoksi, meningkatkan fagositosis
atau mengakibatkan lisis melalui aktivasi koplemen.
Mekanisme pengahncurannya merupakan refleksi
proses fisiologi normal umtuk membunuh
mikroorganisme patogen.
Mekanisme Pengrusakan
 Pada hipersensitivitas tipe II, antibodi yang
diarahkan pada antigen permukaan sel atau
jaringan berinteraksi dengan komplemen dan
berbagai sel efektor untuk menimbulkan kersukana
sel sasara. Setelah antibodi melekat pada
permukaan sel atau jaringan, dia akan
mengaktifkan komponen-komponen C1.
Akibat dari aktivasi ini adalah sebagai
berikut :
 Fragmen-fragmn komplemen (C3a dan C5a) yang dihasilkan
oleh aktivasi komplemen akan menarik makrofag clan sel-sel
polimorfnuklear ke lokasi reaksi clan merangsang sel mast dan
basofil untuk emnghasilkan molekul-molekul yang dapat
menarik dan mengaktifkan sel-sel efektor lain.
 Jalur komplemen kalsik dan lengkung aktivasimengakibatkan
pengendapan C3b, C3bi, dan C3d pada membran sel
sasaran.
 Jalur kompelemen klasik dan jalur litik memproduksi kompleks
serangan membran C5b-9 clan menyelipkan tersebut ke dalam
membran sel sasaran.
Reaksi Transfusi Terjadi Bila Reepien Mempunyai
Antibodi Yang Bereaksi terhadap Eritrusit Donor

 Sistem ABO
 Sistem Rhesus
 Sistem golongan darah minor
 Uji silang
Kelainan tipe II yang merusak sel/
selain eritrosit
 Autoimmune (idiophatic)
 Anemia perniciosa
 Syndroma Goodpasture
 Pemphigus vulgaris
 Rheumatic fever
Hipersensitivitas Dimediasi Kompleks
Imun Atau Hipersensitivitas Tipe III
 Terjadinya reaksi kompleks imun dirangsang oleh
pengendapan kompleks antigen-antibodi dalam
sirkulasi jaringan. Reaksi ini mengakibatkan aktivasi
komplemen, respons radang polimorfonuklear, dan
kerusaka jaringan. Tipe hipersensitivitas ini ditemukan
pada infeksi mikroba persisten tertentu yang
membentuk sejumlah besar kompleks dan tidak dapat
dibersihkan secaraa sempurna oleh sistem
retikuloendotelial. Kompleks ini mengenclap pada
jaringan seperti glomerulus, sinovium, dinding pembuluh
darah, serta mengakibatkan kehancuran jaringan
tersebut.
Jenis-jenis Penyakit Komplek Imun

 Infeksi menetap
 Penyakit autoimun
 Inhalasi bahan antigenic
Hipersensitivitas Seluler, Hipersensitivitas
Tipe Lambat atau Hipersensitivitas Tipe IV
 Tipe hipersensitivitas ini tergantung pada limfosit T
yang tersensitisasi saat kontak dengan antigen
yang terikat makrofag. Limfosit T kemudian
berprofelirasi clan melepaskan berbagai sitokin.
Reaksi ini mengakibatkan akumulasi bel-bel radang
yang terlokalisasi dan kerusakan jaringan.
 Terimakasih