Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

General Anestesi – Intubasi


Inhalasi Pada Fraktur
Zygomaticumaxillary
Complexs

Pembimbing : dr. I Dewa Ketut S Sp.An

Nurul Dwi Lestari


1620221174
SMF Anestesi dan Reanimasi
RS Persahabatan
• Nama : Tn. EB
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Usia/ Tgl Lahir : 41 tahun 4 bulan / 17 Maret
1976
• No. Rekam Medis : 2308492
• Agama : Islam
• Status : JKN
• Pekerjaan : Wiraswasta
• Tanggal Masuk RS : 2 Juli 2017
• Tanggal Operasi I : 5 Juli 2017
• Tanggal Operasi II : 10 Juli 2017

Identitas Pasien
BAB I
Pendahuluan

BAB V BAB II
KESIMPULAN LAPORAN KASUS

Presetasi
Kasus

BAB IV BAB III


PEMBAHASAN TINJAUAN
PUSTAKA
• ZMC atau zygomaticumaxillary complex memegang
peranan penting dalam struktur, fungsi dan keindahan
penampilan pada rangka wajah.
• Tindakan open reduction internal fixation (ORIF)
merupakan tatalaksana pada fraktur ZMC.

BAB I
PENDAHULUAN
• Pada kasus ini, jenis anestesi yang dilakukan adalah
general anestesi dengan intubasi nasal. Untuk
dilakukannya intubasi nasal, ada beberapa indikasi dan
kontraindikasi.
• Intubasi nasal = intubasi oral
KUNJUNGAN PRA ANESTESI
• Keluhan utama
Terdapat nyeri pada daerah wajah dan abdomen, sedikit
memar di sekitar wajah dan terdapat perdarahan pada
subkonjungtiva oculo dextra setelah mengalami kecelakaan motor
pada tanggal 27 juni 2017.

• Riwayat Penyakit Sekarang


Tn.EB, 41 tahun dengan diagnosis fraktur zmc dan
proksimal phalang rencana tindakan yang akan dilakukan adalah
ORIF. Pasien kesan ASA II dengan penyulit hipertensi terkontrol
dengan amlodipin 5 mg dan anemia dengan hb 9,9 g/dL.

BAB II
LAPORAN KASUS
• Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi terkontrol dengan amlodipin 5 mg sejak 2
tahun lalu
• Riwayat Penyakit Keluarga
Hipertensi
• Riwayat Operasi/Anestesi Sebelumnya
Reposis elbow pada tanggal 5 juli 2017
• Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang wiraswasta. Riwayat kebiasaan pasien
yaitu tidak merokok, tidak minum-minuman beralkohol, jarang
berolahraga.
• Keadaan Umum : Sakit sedang
• Kesadaran : Compos Mentis
• TB : 170 cm
• BB : 65 kg
• BMI : 22,50 (normoweight)
• Vital Sign :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Respirasi : 20 kali/menit
Nadi : 98 x /menit,
Suhu : 36,40C
• SpO2 : 98%

Status generalis
Mata : Konjungtiva anemis +/+, Sklera ikterik -/-,
perdarahan subkonjungtiva (+)
Hidung : Tidak ada kelainan
Mulut : Lidah kotor (+), bibir kering (-), hiperemis (-),
sulit mengunyah (+), nyeri saat membuka mulut (+)
Gigi : Tidak ada gigi ompong dan goyang
Leher : Dalam batas normal
Thorax : Dalam batas normal
Cor : Dalam batas normal
Abdomen : Nyeri tekan (+)
Extremitas : Dalam batas normal
Turgor kulit : Dalam batas normal
Akral : Hangat

Pemeriksaan head to toe


Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Hb 9,9 g/dL 12-16 g/dL


HT 10,3 % 37-47%
Leukosit 15.560 ul 6.000-10.000 ul
Trombosit 340.000 ul 150.000-450.000 ul

PT 10,4 detik 11,5-15,5 detik


Glukosa darah 101 mg/dL <= 200 mg/dL

Ureum 54 mg/dL 20-40 mg/dL


Creatinine 1,2 mg/dL 0,8-1,5 mg/dL
Na+ 134 mmol/L 135-145 mmol/L
Cl- 97 mmol/L 98-109 mmol/L

Pemeriksaan penunjang
K+ 3,5 mmol/L 3,5-5,5 mmol/L
• Rontgent thorax
Kesan: Cardiomegali
• Rontgen Elbow
Kesan : Tampak kedudukan tulang-tulang elbow kiri
baik, terpasang fiksasi eksterna dengan baik
• Echocardiografi:
Kesan: Dimensi jantung ruang jantung, LV dilatasi,
kontraktilitas global LV menurun, LVEF 41 %, global
hipokinetk, suspek VSD muskuler
Diagnosis Pra Bedah
• Fraktur ZMC + dislokasi elbow +
phalang proksimal digiti 3

Diagnosis Post Bedah


• Post ORIF

Diagnosis klinis
• L : Look externally
Terdapat pembengkakan di tulang pipi kanan, tidak ada
deviasi trakea
• E : Evaluation 2-3-2
Large incisors (2) (+)
Hyoid-mental distance(3) (+)
Thyroid-to-mouth distance(2) (+)
• M : Mallampati score  3
• O : Obstruction (-)
• N : Neck mobility
Baik, tidak ada hambatan

Lemon Law
• Konsultasi
Jantung : Toleransi operasi risiko sedang-
tinggi
• Kesan
ASA II dengan hipertensi terkontrol dan anemia
dengan hb 9,9 g/dL
• Rencana Anestesi
General anestesi dengan intubasi nasal
Laporan Anestesi
• Mesin Anestesi
• STATICS (Scope, Tube, Airway, Tape, Introducer, Connector,
Suction, Spuit, Maggie)
• Elektroda dada
• Obat General Anestesi
• Premedikasi: Midazolam dan Fentanyl
• Induksi: Propofol, Pelumpuh otot: (atracurium)
• Maintenance anestesi: oksigen, air, sevofluran, Obat non
anestesi (ondansentron, asam tranexamat), dan cairan (Ringer
laktat dan gelofusin).
• Intubasi: ETT non kingking nomer 6,5, mandrin
Tindakan anestesi yang diberikan adalah general
anestesi dengan intubasi nasal, anestesi dilakukan pada
posisi terlentang. Kedua mata kanan kiri terlindungi. Lama
anestesi 5 jam (10.15 – 15.15) dan lama operasi 4 jam 30
menit (10.30 – 15.00).

Status Anestesi
Premed Induksi Muscle Relaxan

• Midazolam (0,05- • Propofol (2-2,5 • Atracurium (0,5-0,6


0,1mg/kgBB) = mg/kgBB) = 130 mg/kgBB) = 32,5
3,25 mg – 6,5 mg mg – 162,5 mg → mg – 39 mg → 35
→ 5 mg 150 mg mg
• Sediaan 5cc: • Sediaan 20cc: 10 • Sediaan : 5 cc : 10
1mg/cc → 5 cc mg/cc → 15 cc mg/ml → 3,5 cc
• Fentanyl (1-3
µg/kgBB) = 65 mcg
– 195 mcg → 150
mcg
• Sediaan 2cc: 50
µg/cc → 3 cc
• Pemantauan jalan nafas dan ventilasi selama anestesia :
• pengamatan tanda klinis (kualitatif) seperti pergerakan dada,
observasi reservoir breathing bag, serta pastikan stabilitas ETT
tetap terjaga
• Pemantauan oksigenasi selama anestesia : pemantauan saturasi
O2 dilakukan dengan pemasangan pulse oximetri dan pantau
melalui monitor
• Pemantauan adekuat atau tidaknya fungsi sirkulasi pasien:
• Pemantauan tekanan darah arterial dan denyut jantung
• Pemantauan EKG secara kontinu dimulai sebelum induksi
anestesi
• Pemantauan kebutuhan cairan pasien selama anestesi

Monitoring
Jam Sistol Diastol Nadi Saturasi O2
10.15 135 78 115 100
10.30 119 65 90 100
10.45 110 60 90 100
11.00 110 60 90 100
11.15 110 60 90 100
11.30 110 60 90 100
11.45 110 60 90 100
12.00 110 60 90 100
12.15 110 60 90 100
12.30 110 60 90 100
12.45 110 60 90 100
13.00 110 60 90 100
13.15 110 60 90 100
13.30 110 60 90 100
13.45 110 60 90 100
14.00 110 60 90 100
14.15 110 60 90 100
14.30 110 60 90 100
14.45 110 60 90 100
GENERAL
ANATOMI FRAKTUR ZMC
ANESTESI
• Saluran • Intubasi nasal • Anatomi
pernapasan • Nasal fiberoptik Os.Zygomatikum
fleksibel • Definisi

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Saluran pernapasan atas terdiri dari
faring, hidung, mulut, laring, trakea
dan saluran utama bronki. Mulut
dan faring merupakan salah satu
bagian saluran gastrointestinal atas.

Anatomi
• Intubasi nasal mirip dengan intubasi oral kecuali bahwa
TT masuk lewat hidung dan nasofaring menuju orofaring
sebelum dilakukan laringoskopi.

Intubasi nasal
• Panjang nasal airway dapat diperkirakan sebagai jarak
antara lubang hidung ke lubang telinga, dan kira-kira 2-4
cm lebih panjang dari oral airway.
• Disebabkan adanya resiko epistaksis, nasal airway tidak
boleh digunakan pada pasien yang diberi antikoagulan
atau anak dengan adenoid. Juga, nasal airway jangan
digunakan pada pasien dengan fraktur basis cranii.
• Penyebab dari fraktur ZMC yang paling sering adalah
akibat benturan atau pukulan pada daerah inferolateral
orbita atau pada tonjolan tulang pipi dikarenakan
kecelakaan kendaraan bermotor, perkelahian, atau cidera
olahraga.

Fraktur ZMC
Pre
Operatif

Post Intra
Operatif Operatif

BAB IV
PEMBAHASAN
• Sebelum tindakan operasi, dilakukan kunjungan pre
operatif terlebih dahulu dengan tujuan untuk
mempersiapkan fisik dan mental pasien, merencanakan
dan memilih obat-obat anestesi yang sesuai untuk
digunakan serta untuk menentukan klasifikasi ASA serta
penyulit yang ada pada pasien jika ada.

Pre Operatif
• Tindakan operasi yang dilakukan adalah orif (open
reduction internal fixation) dilakukan dengan cara
General Anestesi dengan intubasi nasal, face mask no 4.0,
ETT non King-King no 6,5 yang difiksasi setinggi 29 cm.
• Analgetik  Hipnotik  Relaksan

Intra Operatif
• Pada kasus ini penatalaksanaan nyeri yang diberikan
adalah Paracetamol 3 x 1 gr. Untuk menangani mual
muntah pasca operasi pasien diberikan ondansetron 3x 4
mg.
• RR  Aldrette Score

Post Operatif
• Teknik intubasi ada 2 macam yaitu intubasi
endotrakeal dan intubasi nasotrakeal. Teknik anestesi
yang digunakan dalam fraktur zmc adalah dengan
menggunakan teknik anestesi umum disertai
pemasangan pipa endotrakea non king-king melalui
hidung atau yang biasa disebut intubasi nasal
• Pasien post operasi zmc dengan ASA 2 merupakan
pasien yang membutuhkan perawatan dan
pengontrolan secara intensif dikarenakan waktu
operasi yang cukup lama.

BAB V
KESIMPULAN