Anda di halaman 1dari 20

PP dan Per-UUan yg Melandasi

TUGAS, FUNGSI dan Praktik Bidan

Brivian Florentis Yustanta, SST, M.Kes


Program Studi D4 Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri
A. UU no 23 th. 1992 tentang tugas dan
tanggung jawab nakes
• Pasal 15 ayat 1
Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk
menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya,
dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
• Pasal 15 ayat 2
Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam
ayat 1 hanya dapat dilakukan:
Lanjutan UU no 23 th 1992…
1. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan
diambilnya tindakan tsb.
2. Oleh nakes yg mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu dilakukan sesuai dengan tg jwb profesi serta
berdasarkan pertimbangan tim ahli.
3. Dg persetujuan ibu hamil yg
bersangkutan/suami/keluarganya.
4. Pada sarana kesehatan tertentu
Lanjutan UU no 23 th 1992…
• Pasal 15 ayat 3
Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis
tertentu sebagaimana disebutkan dalam ayat 1 dan 2
ditetapkan dalam PP.
• Ketentuan pidana pada pasal 80 ayat 1 adalah barang
siapa dg sengaja melakukan tindakan medis
sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat 1 dan 2
dipidanakan dg pidana penjara paling lama 15 th dan
denda paling banyak Rp 500.000.000,-
B. UU no 13 th 2003 ttg Ketenagakerjaan

1 . Pasal 81 ayat 1
Pekerja atau buruh perempuan yg dalam masa haid
merasakan sakit dan memberitahukan pd
pengusaha, tidak wajib bekerja pd hari 1 dn 2 masa
haid.
2. Pasal 81 ayat 2
Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pd
ayat 1 diatur dlm perjanjian kerja, peraturan
perusahaan atau perjanjian kerja bersama.
Lanjutan UU no 13 th 2003…

3. Pasal 82 ayat 1
Pekerja atau buruh perempuan berhak memperoleh
istirahat selama 1,5 bulan sebelum saatnya melahirkan
anak dan 1,5 bl sesudah melahirkan menurut
perhitungan dokter kandungan atau bidan.
4. Pasal 82 ayat 2
Pekerja atau buruh perempuan yg mengalami
keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5
bl / sesuai surat ket. Dokter kandungan atau bidan.
Lanjutan UU no 13 th 2003…
5. Pasal 83
Pekerja atau buruh perempuan yg anaknya masih
menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk
menyusui anaknya jika itu harus dilakukan selama
waktu kerja.
6. Pasal 84
Setiap pekerja atau buruh yg menggunakan hak waktu
istirahatny, mendapat upah atau gaji penuh.
C. UU tentang “ABORSI”
Macam Abortus:
1. Spontaneus
2. Provokatus

Dasar Hukum:
HP pasal XIX ttg kejahatan thd nyawa orang
1. KUHP pasal 299
Ayat 1: Memberikan harapan dan digugurkan
Lanjutan UU tentang “ABORSI”..

Ayat 2: Mengambil keuntungan dr pengguguran tsb,


hukuman 4 th ditambah sepertiga.
Ayat 3: Menggugurkan kandungan orang mjd suatu
profesi dicabut haknya dan dipidana penjara.
2. KUHP pasal 322
Ayat 2: Pengguguran dikerjakan hanya orang tertentu
tergantung atas pengaduan.
Lanjutan UU tentang “ABORSI”..
3. KUHP pasal 436
Seseorang dg sengaja menggugurkan kandungannya,
dihukum 4 th.
4. KUHP pasal 347
Sengaja menggugurkan hingga menyebabkan
kematian dihukum maksimal 15 th.
5. KUHP pasal 348
Sengaja menggugurkan dan atas persetujuan pasien
maka dihukum maksimal 7 th.
Lanjutan UU tentang “ABORSI”..
6. KUHP pasal 349
Seorang dokter, bidan, dan apoteker membantu
kejahatan tsb dapat dicabut haknya,
D.UU tentang “BAYI TABUNG”
Status bayi tabung ada 3:
1. Inseminasi buatan dengan sperma suami
2. Inseminasi buatan dengan sperma donor
3. Inseminasi buatan dengan model titipan

Dasar HUKUM “IVF” di Indonesia  UU Kes. No 23 th 1992.


1. Pasal 16 ayat 1
Kehamilan diluar cara alami dapat dilakukan sbg upaya
terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan.
Lanj. UU tentang “BAYI TABUNG”..
2. Upaya kehamilan diluar cara alami sebagaimana
dimaksud dlm ayat 1 hanya dpt dilakukan oleh suami-
istri yg sah dg ketentuan:
a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami-istri
yg bersangkutan, ditanamkan dlm rahim istri di mana
ovum berasal.
b. Dilakukan oleh nakes yg mempunyai keahlian dan
wewengan untuk itu.
c. Pada sarana kesehatan tertentu,
Lanj. UU tentang “BAYI TABUNG”..
3. Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan
kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud
dalam ayat 1 dan 2 ditetapkan dg PP.
E. UU tentang “ADOPSI”
Hukum Perdata ttg adopsi meliputi:
1. Anak yg diadopsi hanya anak laki-laki, tjd nilai diskriminatif
dan patriakal
2. Bahwa yg dpt mengadopsi anak adalah pasangan suami-
istri, janda atau duda.
3. Kebolehan mengadopsi baru boleh dilakukan jika tidak
melahirkan anak laki-laki.
4. Anak yd diadopsi, anak laki-laki blm kawin belum diadopsi
org lain, umur lebih muda minimal 10 th dr ayah angkatnya,
jika janda lebih muda 15 th dr ibu angkatnya.
Lanj. UU tentang “ADOPSI”…
5. Syarat persetujuan adalah meliputi:
a. Dari suami-istri yg melakukan adopsi
b. Dari ortu alami anak yg diadopsi
c. Dari ibu anak bila ayah meninggal
d. Dari anak yg diadopsi sdr (tdk mutlak)
6. Adopsi berbentuk akta notaris
7. Akibat hukum adopsi adl:
a. Anak mendapat nama keturunan ortu angkat
Lanj. UU tentang “ADOPSI”…
b. Anak yang diadopsi dianggap dilahirkan atau
dianggap sah
c. Gugur hubungan perdata dg ortu alami
d. Adopsi tdk dpt dicabut atas persetujuan bersama
8. Pada hukum perdata adat tidak ada ketentuan jelas.
E. KEPMENKES
900/MENKES/SK/VII ttg Registrasi dan
Praktik Bidan
Terdiri dr 11 BAB dan 47 pasal
Bab I . Ketentuan Umum
Bab II . Pelaporan dan registrasi
Bab III. Masa bakti
Bab IV. Perijinan
Bab V . Praktik Bidan
Bab VI. Pencatatan dan pelaporan
Bab VII. Pejabat yang berwenang mengeluarkan dan
mencabut ijin praktek
Bab VIII. Pembinaan dan pengawasan
Bab IX . Sanksi
Bab X . Ketentuan peralihan
Bab XI . Ketentuan penutup.
TERIMAKASIH