Anda di halaman 1dari 20

PEMBANGUNAN PANGAN DAN GIZI

MELALUI PERBAIKAN GIZI IBU DAN ANAK


Oleh kelompok 1
Anggota kelompok
• Sendi Ayu J (G1H014023) Riska Fitri W (I1D015027)

• Juwita Nur A (I1D015004) Baiti Kinasih (I1D015030)

• Adinda Mala M (I1D015007) Intan Rizqi F (I1D015034)

• Eneng Safitri A (I1D015010) Kiki Rizqi A (I1D015037)

• Puput Lestari (I1D015013) Shafira C (I1D015040)

• Nadila Lintan S (I1D015017) Wida Farida (I1D015043)

• Rina Setiawati (I1D015020) Muji Triyani (I1D015046)

• Meutia Pramita (I1D015023) Riza Fatimah (I1D015049)


LATAR BELAKANG

• Kondisi kelompok rentan ibu dan anak masih mengalami


berbagai masalah kesehatan dan gizi, yang ditandai dengan
masih tingginya AKI dan AKB, prevalensi gizi kurang
(BB/U) dan pendek (TB/U) pada anak balita, prevalensi AGB
pada ibu hamil, GAKY pada ibu hamil dan bayi, serta KVA
pada anak balita.
• Menurut riskesdas 2013, prevalensi berat-kurang pada balita
19,6% 5,7% gizi buruk dan 13,9%

• Prevalensi pendek tahun 2013 adalah 37,2 %, yang berarti


terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007
(36,8%).

• Prevalensi risiko KEK wanita hamil umur 15–49 tahun 24,2%


• Pemecahan masalah pangan dan gizi memerlukan program
kegiatan yang direncanakan secara tepat dan multisektoral.

• Kebijakan-kebijakan dan program pembangunan dari pemeritah


sudah banyak dilakukan untuk mengatasi permasalahan pangan
dan gizi di Indonesia

• Meskipun demikian berbagai tantangan masih teridentifikasi


sehingga perlu beberapa analisis terhadap program perbaikan
gizi ibu dan anak untuk pembangunan pangan dan gizi nasional
LANDASAN TEORI
• Menurut Bappenas (2007) keberhasilan pembangunan suatu
bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang
tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas

• Hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dan status
gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang
dikonsumsi, sehingga meningkatkan status gizi penduduk
merupakan basis pembentukan SDM yang berkualitas
• Penanganan masalah gizi kurang dan mewujudkan kualitas
sumber daya manusia memerlukan upaya komprehensif dan
terkoordinasi, mulai proses produksi pangan beragam,
pengolahan, distribusi hingga konsumsi yang cukup nilai
gizinya dan aman dikonsumsi

• Investasi gizi berperan penting untuk memutuskan lingkaran


setan kemiskinan dan kurang gizi sebagai upaya peningkatan
kualitas SDM
PEMBAHASAN

Ibu pra
hamil
Kelompok Perlu mendapat prioritas
Ibu
rawan pangan dalam upaya kesehatan
hamil
dan gizi

anak
1. Kesehatan Ibu

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015,


angka kematian ibu sebesar 305 kematian per 100.000 kelahiran
hidup.
• Upaya percepatan penurunan AKI dilakukan dengan menjamin
akses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan
kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi,
perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, kemudahan
mendapatkan cuti hamil dan melahirkan, dan pelayanan keluarga
berencana.

• Indikator pencapaian sasaran program dalam upaya kesehatan ibu


antara lain:
a. Persentase Persalinan Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Sebesar 85%
Persalinan dengan
bantuan tenaga
Renstra Menurunkan kesehatan terlatih
Kemenkes AKI dan AKB
2015-2019 Persalinan di
fasilitas kesehatan

Hasil PSG 2016:

bumil yang menjalani persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan Indonesia 80,61%

Memenuhi target Renstra sebesar 77%.


b. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik =18,2%.

Pentingnya 1000 HPK

Bumil KEK BBLR Penyebab tidak langsung kematian ibu


Hasil PSG 2016:
%Bumil menurut konsumsi energi terhadap standar kecukupan gizi

= rata-rata tingkat konsumsi energi pada ibu hamil per hari di Indonesia sebesar 73,6% Angka Kecukupan
Energi (AKE).

KECUKUPAN ENERGI KECUKUPAN PROTEIN


53,9% ibu hamil mengalami defisit energi (<70% AKE) 51,9% ibu hamil mengalami defisit protein (<80%AKP)

13,1% mengalami defisit ringan (70-90% AKE) 18,8% mengalami defisit ringan (80-99% AKP).
c. Persentase ibu hamil yang mendapat TTD = 98%
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan kondisi ibu hamil tidak sehat:
Penanganan komplikasi, ibu hamil menderita diabetes, hipertensi, malaria, dan anemia.

meningkatnya kelahiran prematur


Bumil
Anemia kematian ibu dan anak
penyakit infeksi
Anemia Fe pada Bumil pertumbuhan dan berkembangan janin/bayi saat kehamilan maupun setelahnya
Riskesdas 2013 36,4% ibu hamil di perkotaan
37,1% ibu hamil di Indonesia anemia
37,8% ibu hamil di perdesaan
Hasil PSG 2016
40,2% ibu hamil yang mendapatkan TTD minimal 90 tablet < target nasional tahun 2016 = 85%.
2. Kesehatan Anak

Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam


kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 tahun.
a. Presentase bayi lahir mendapat IMD = 50%

PSG tahun 2016


% bayi baru lahir yang mendapat IMD pada tahun 2016

• 42,7% mendapatkan IMD dalam <1 jam setelah lahir


• 9,2% dalam satu jam atau lebih

Pemberian IMD dapat mengurangi risiko kematian pada bayi.


b. Persentase bayi usia <6 bulan yang
mendapat ASI eksklusif = 50%
• Presentasi bayi 0-5 bulan yang masih mendapat ASI eksklusif
sebesar 54%
• Sedangkan bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif
sampai usia enam bulan adalah sebesar 29,5%.

Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia < 6 bulan = 54,0% telah
mencapai target.
c. Persentase balita kurus yang mendapat
makanan tambahan = 90%
• Pemberian makanan tambahan diberikan pada balita usia 6 bulan 0
hari sampai dengan 23 bulan 29 hari dengan status gizi kurus, diukur
berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan sebesar minus 3
standar deviasi (-3SD) sampai dengan kurang dari minus 2 standar
deviasi (<-2SD), yang mendapat makanan tambahan selama 90 hari
berturut-turut.
Hasil PSG 2016

36,8% balita kurus mendapatkan makanan tambahan, lebih rendah dibandingkan


target nasional Tahun 2016 sebesar 75%.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
• Pembangunan pangan dan gizi dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan gizi masyarakat yang
difokuskan pada kelompok ibu pra hamil, ibu hamil dan anak. Perkembangan dalam program
terkait perbaikan kesehatan masyarakat bisa dilihat dari indikator kesehatan ibu dan anak.
• Indikator pencapaian sasaran program dalam upaya peningkatan kesehatan ibu ditinjau dari
persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan secara nasional telah memenuhi target
Renstra 2016 sebesar 77%, persentase ibu hamil risiko KEK mendapatkan makanan tambahan
lebih besar dari target nasional tahun 2016 sebesar 50%, persentase ibu hamil yang mendapatkan
TTD minimal 90 tablet lebih rendah dari target nasional tahun 2016, sementara kesehatan anak
dapat ditinjau dari presentase bayi lahir mendapat IMD sebesar 50%, persentase bayi usia <6 bulan
yang mendapat ASI eksklusif tahun 2016 secara nasional telah mencapai target, dan persentase
balita kurus yang mendapatkan makanan tambahan lebih rendah dibandingkan target nasional
Tahun 2016 sebesar 75%.
4.2 Saran

• Pemberian TTD sebaiknya didampingi dengan pengawasan


konsumsi yang ketat untuk meningkatkan efektivitasnya.

• Sebaiknya program PMT pada anak diutamakan pada


pemberdayaan sumber daya lokal sehingga dapat
meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan
asupan PMT pada anak
DAFTAR PUSTAKA
• BAPPENAS. 2007. Penerapan Tata Kepemerintahan Yang Baik. Jakarta : Sekretariat Tim
Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik.
• Fardiaz, D dan Fardiaz, S. 2003. Keamanan Pangan dan Pengawasannya. Di dalam:
Efrina Ginting. Persepsi Ibu tentang Label Makanan Kemasan Anak Sekolah Dasar.
Skripsi Sarjana Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
• Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Impikasinya terhadap kebijakan
Pembangunan Kesehatan Nasional. Yogyakarta: Rapat terbuka majelis Guru Besar
Universitas Gadjah mada
• Irianto, Djoko Pekik, 2006. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan
Olahragawan.Yogyakarta.
• Kemenkes Ri. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Kemenkes
Ri
• Mustika, Made Dwi S., 2013. Analisis Strategi Peningkatan Kualitas Sumber Daya
Manusia Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Kecamatan Nusa Penida. Jurnal
Buletin Studi Ekonomi. Vol.12. No. 2.