Anda di halaman 1dari 43

MANAJEMEN TERPADU

BALITA SAKIT (MTBS)

Ns. Yuyun Rahayu, S.Kep


PRODI S-1 KEPERAWATAN
STIKes MUHAMMADIYAH
CIAMIS
• MTBS :
Bentuk pengelolaan balita yang
mengalami sakit

• Tujuan :
Meningkatkan derajar kesehatan anak
serta kualitas pelayanan kesehatan anak
Strategi :

a. Kuratif
Penangan secara langsung pada
pneumoni, diare, malaria, campak,
DHF, masalah telinga dan gizi
b. Promotif & Preventif
Konseling gizi, ASI, suplemen vit A
dan pengobatan terhadap cacing
Model pengelolaan
MTBS :
a. Penilaian tanda & gejala dg cara,
bertanya, melihat, mendengar dan
meraba.
b. Membuat klasifikasi
c. Menentukan tindakan
d. Memberikan konseling
e. Memberikan tindak lanjut pada
kunjungan ulang
Katagori MTBS :

a. Bayi muda ( 1 hari s/d 2 bulan )


b. Anak ( 2 bln s/d 5 tahun )
Manajemen Terpadu Bayi Muda
(1 hari s/d 2 bulan )
MTBM

1. Penilaian tanda dan gejala


a. Adanya kejang
b. Ggn. nafas spt henti nafas
c. Hipotermi
d. Infeksi bakteri
e. Icterik
f. Ggn. sal cerana
g. Gejala diare
h. Kemungkinan BBLR & masalah pemberian ASI
2. Penentuan klasifikasi &
tingkat kegawatan

a. Klasifikasi kejang
1) Tremor disertai penurunan kesadaran
2) Gerakan tidak terkendali pd mulut,
mata/anggota gerak lain
3) Mulut mencucu
4) Terjadi kekakuan seluruh tubuh
5) Menangis melengking secara tiba-tiba
b. Klasifikasi gangguan napas
1) Henti nafas/apnea >20 detik
2) Napas cepat ≥ 60 x/menit
3) Nafas lambat ≤ 30 x/menit
4) Cyanosis
5) Tarkan dada sangat kuat
6) PCH dan selalu merintih
c. Klasifikasi hipotermi
1) Sedang
a) Suhu tubuh sekitar 36 - 36,4° C
b) Kaki/tangan terba dingin
c) Geraka bayi kurang normal
2) Berat
a) Suhu < 36 ° C
b) Seluruh tubuh teraba dingin disertai
mengantuk/latergis/t’dapat bagian tubuh berwarana
merah & mengeras
d. Kemungkinan infeksi bakteri
1) Sistemik
a) Selalu mengantuk/latergis/tdk sadar
b) Adanya kejang disertai adanya salah satu tanda infeksi
c) Ggn nafas, malas minum/tdk bisa minum dg atau tanpa
muntah
d) T’dapat bagian tubuh berwarana merah & mengeras
e) Ubun-ubun cembung
f) Suhu > 37,5° C teraba panas / suhu < 36° C & traba
dingin
2) Infeksi lokal berat
a) Ditemukan nanah pd daerah mata, keluar
dr telinga, tali pusat
b) Pada umbilikus terjadi kemerahan yg
meluas samapi kulit dan bernanah
c) Adanya kerusakan pd kulit
3) Infeksi bakteri lokal
a) Adanya nanah yg keluar dari mata ttp
jumlanhnya sedikit
b) Talipusat/umbilikus kemerahan, bau
busuk
c) Terjadi kerusakan kulit
e. Klasifiaksi gangguan saluran cerna
1) Muntah segera setelah minum/berulang,
berwarna hijau
2) Gelisah, rewel & perut bayi kembung serta
tegang
3) Benjolan pd daerah perut
4) Hipersaliva dari mulit
5) Belum BAB > 24 jam khusus pada bayi 48 jam
pertama setelah lahir
6) Adanya darah dalam tinja tanpa disertai adanya
diare, atresia ani
f. Klasifikasi ikterus
1) Patologis
a) Kuning hari ke-2 setelah lahir/ pd hari ke-14/
ditemukan pada bayi yang kurang bulan
b) Tinja berwarna pucat, pada daerah siku dan
lutut tampak warna kekuningan
2) Fisiologis
• Terjadi kuning pada umur 3 – 14 hari tidak
ada tanda patolois
g. Klasifikasi diare
Diare dehidrasi berat :
latrgis/mengantuk/tidak sadar, mata
cekung, turgor kulit jelek
Diare sdang ringan :
Gelisah/rewel, mata cekung, turgor klit
jelek
Diare tanpa dehidrasi : terdapat salah
satu tanda dari diare dehidrasi
berat/ringan
Diare persisten : pada bayi diare
terjadi sudah > 14 kali
Disentri : diare disertai darah pada tinja
dan tidak ada tanda gangguan saluran
cerna
h. Klasifikasi berat badan
rendah/masalah pemberian ASI
1) Berat badan sangat rendah
(BBSR/masalah pemberian ASI) :
a) BB < 2000 gr
b) Umur < 28 hari
c) BB berdasarkan umur di bawah garis merah,
tidak bisa minum ASI
d) Tidak mampu mengisap, ada celah
bibir/langit-langit
2) Berat badan rendah & masalah
pemberian ASI
a) BB < 2500 gr sampai umur 28 hari
b) BB menurut umur pada KMS masuk garis
kuning
c) ASI < 8 x/hari, mendapat PASI
d) Posisi menetek tidak benar
e) Tidak mengisap
3) Berat baadn tidak rendah & tidak ada
masalah pemberian ASI apabila tidak
terdapat tanda di atas
3. Penetuan Tindakan
a. Kejang
1) Baringkan pasien dg terlentang, kepala
dimirngkan dan ekstensi
2) Pasang spatel lidah yg dibungkus kain
kasa
3) Bebaskan jalan nafas dg menghisap
lendir
4) Berikan oksigen
5) Lakukan kompres
6) Lakukan observasi terhadap vital sign
saat kejang
b. Gangguan nafas
1) Bebaskan jalan nafas & berikan oksigen
bila ada ggn pernapasan
2) Bila apnea lakukan resusitasi
3) Pertahankan kadar gula agar tidak turun
4) Anjurkan bayi tetap hangat
5) Lakukan rujukan segera
c. Hipotermi berat
1) Hangatkan tubuh bayi, bila tetap tidak
naik rujuk
2) Pertahankan agar gula darah tetap
3) Lakukan rujukan
• Hipotermi sedang
a. Hangatkan tubuh bila stelah 2 jam tetap
rujuk
b. Pertahankan gula darah
c. Jangan dimandikan
d. Lakukan asuhan dasar bayi muda :
1) Keringkan bayi setiap basah
2) Letakan bayi di dada sesering mungkin
3) Berikan ASI saja
4) Bila tidak ada tanda hipotermi bayi tidak boleh mandi >
2 x/hari
5) Tempatkan bayi di tempat hangat
6) Lakukan penghangatan dg metode kanguru/lampu 60
watt jarak min 60 cm
d. Asuhan untuk mencegah infeksi &
pemberian ASI
1) Cucu tangan sebelum & sesudah mmegang bayi
2) Lakukan perawatan tali pusat
3) Jaga kebersihan bayi
4) Hindarkan bayi kontak dg orang sakit
5) Lakukan imunisasi segeran Hepetitis B1
sebelum umur 7 hari
6) Tunda imunisasi bila bayi panas
7) Berikan BCG < 1 bulan
8) Berikan Hepatitis B2, Polio, DPT 1 ketika 2
bulan
e. Ikterus fisiologis
1) Jemur bayi pada jam 7 -8 selama 2 – 4
hari, selama 30 menit terlentang &
tengkurap (telanjang)
2) Atur posisi kpala agar wajah tidak
langsung menghadap matahari
3) Lakukan asuhan perawatan dasar
f. Gangguan saluran cerna
1) Jangan berikan minuman apapun peroral
2) Pasang NGT
3) Pertahankan kadar gula darah
4) Bayi dalam keadan hangat
g. Dehidrasi (lihat modul)
h. BBSR/BBLR dan / masalah pemberian
ASI
1) Lakukan asuhan dasar bayi muda
2) Ajarkan cara memberikan ASI yg benar
3) Kurangi minum selain ASI, beri ASI
sesering mungkin
4) Bila terdapat bercak putih di mulut
ajari cara mengobatinya
4. Pemberian Konseling

a. Cara pemberian obat oral di rumah


b. Cara menyinari bayi dg sinar matahari
c. Cara meningkatkan ASI
d. Cara meneteki
e. Cara mencegah infeksi dan pemberian
imunisasi
f. Pemberian cairan
g. Kapan dibawa ke petugas kes, kunjungan
ulang, dan tentang kesehatan sendiri.
MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT
UMUR 2 BLN – 5 TAHUN (MTBS)

1. Penilaian tanda dan gejala


Tanda bahaya umum :
Tidak bisa menetek/minum, muntah,
kejang, latergis/tidak sadar
Tanda-tanda lain :
batuk/kesukaran bernafas, diare,
demam, masalah telinga, malnutrisi,
anemia, dll
a. Keluhan batuk/sukar bernafas, tanda
bahaya umum, tarikan dinding dada
ke dalam, stridor, nafas cepat. (2 – 12
bl : 50 x/mnt, 12 bln – 5 Thn 40 x/mnt)
b. Diare
Latergis, Mata cekung, tidak bisa
minum/malas makan, turgor jelek,
gelisah, rewel, haus, adanya darah
dlm tinja.
c. Demam
Disertai adanya tanda bahaya umum,
adanya infeksi nosokomial
d. Masalah telinga
Nyeri pada telinga, bengkak, adanya cairan
keluar dari telinga > 14 hari
e. Status gizi
Badan bertambah kurus, bengkak kedua
kaki, telapak tangan pucat, status gizi
dibawah garis merah.
2. Penetuan klasifikasi dan tingkatan
kegawatan
a. Pneumonia
1) Pneumonia berat : ada tanda bahaya umum,
tarikan dinding dada ke dalam, stridor
2) Pneumonia : nafas sangat cepat
3) Batuk bukan pneumonia : tidak ada
pneumonia hanya keluahan batuk
b. Klasifikasi dehidrasi
1) Dehidrasi berat : latergis, mata cekung,
turgor kulit jelek sekali
2) Dehidrasi ringan/sedang : gelisah, rewel,
mata cekung, haus, turgor kulit jelek
3) Diare tanpa dehidrasi
c. Klasifikasi diare persisten
persisten berat : ditemukan adanya
tanda dehidrasi & dehidrasi persisten
diare persisten : tidak ditemukan
adanya tanda dehidrasi
c. Klasifikasi disentri : diare bercampur
dg darah
e. Klasifikasi risiko malaria
Dkelompokan resiko tinggi, rendah
atau tanpa resiko malaria dg
mengidentifkasi :
1) Daerah resiko thdp malaria
2) Pernah ke daerah resiko malaria
Klasifikasi resiko tinggi malaria :
a. Penyakit berat dg demam, bila
ditemukan tanda bahaya umum
disertai kaku kuduk.
b. Malaria : bila adanya demam ≥ 37,5°
C
Klasifikasi resiko thdp malaria
a. Penyakit berat dg demam : bila ada
tanda bahaya umum atau kaku kuduk
b. Malaria : bila ditemukan adanya
demam/campak
c. Demam : mungkin bukan malaria bila
hanya pilek/campak/penyebab lain
dari demam
Klasifikasi tanpa resiko malaria
a. Penyakit berat dg demam : tanda
bahaya umum dan kaku kuduk
b. Demam bukan malaria : tidak ada
tanda bahay umum dan kaku kuduk
Klasifikasi campak
1) Campak dengan komplikasi berat : ada
tanda bahaya umum, kekeruhan pada
kornea mata, luka pada daerah mulut yg
luas dan dalam, tanda umum campak
2) Campak dg komplikasi pada mata/mulut:
bila mata bernanah serta luka di mulut
3) Campak : bila hanya tanda khas campak
e. Klasifikasi demam berdarah dengue
demam < 7 hari :
1) DBD : petekie, tanda syok, muntah
bercampur darah, epistaksis, ekimosis,
uji RL +
2) Mungkin DBD : nyeri ulu hati, gelisah,
bintik perdarahan bawah kulit, uji RL –
3) Demam mungkin bukan DBD : tidak ada
tanda di atas hanya ada demam
f. Klasifikasi masalah telinga
1) Mastoiditis : bengkak & nyeri di belakang
telinga
2) Infeksi telinga akut : adanya cairan/nanah
dari telinga < 14 hari, nyeri telinga
3) Infeksi telinga kronis : cairan/nanah
keluar dari telinga > 14 hari
4) Tidak ada infeksi telinga bila tidak
ditemukan gejala di aats
g. Status gizi
1) Gizi buruk dan atau anemia berat : badan
sangat kurus, bengkak pada kedua kaki
serta telapak tangan pucat
2) Bawah garis merah dan atau anemia :
telapak tangan agak pucat, BB menurut
umur di bawah garis merah
3) Tidak dibawah garis merah & tidak
anemia : bila tidak ada tanda seperti
diatas