Anda di halaman 1dari 63

PRESENTASI KASUS

ADENOTONSILITIS KRONIS
Muhammad Irham Fanani / 20174011075
Dokter Pembimbing : Dr. Tri Hana S, Sp.THT-KL., M.Kes.
Keluhan Utama
Mengorok

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien anak perempuan 4 tahun datang ke Poli THT RSUD Salatiga
bersama ibunya dengan keluhan mengorok. Keluhan terutama
muncul saat tidur hingga mengakibatkan anak rewel dan sulit
bernapas. Keluhan muncul sejak anak berusia 1 tahun. Keluhan
disertai pilek kental yang juga tak kunjung sembuh dari umur 1 tahun.
Dari penampilan anak selalu membuka mulutnya terkesan bernafas
IDENTITAS PASIEN melalui mulutnya.
Nama : An. E Dari keterangan ibunya, anak terkadang minum atau makan tersedak
(+), nafas tidak plong (+), susah tidur (+), nafas dari mulut (+), bibir
Umur : 4 tahun 9 Bulan kering (+), mengorok saat tidur (+), nafsu makan menurun (+), riwayat
Jenis kelamin : Perempuan alergi disangkal.
Agama : Islam Anamnesis sistem pendengaran seperti telinga penuh, berdenging,
keluar cairan, penurunan pendengaran, nyeri wajah tidak dapat
Pekerjaan : Belum Sekolah dinilai. Saat pemeriksaan pasien tidak demam (afebris).
Alamat : Telaga Mukti Dari keterangan ibunya, pasien saat ini masih sulit untuk
Tanggal Masuk : 10 Maret 2018 berkomunikasi, perkembangan motorik yang terlambat (belum
berjalan). Dari dokter anak menyatakan pasien mengalami global
development delay, cerebral palsy dan microchepaly.
Riwayat Penyakit Dahulu
• Dari keterangan ibunya, pasien sering pilek hampir setiap hari sudah sejak berusia 1 tahun.
• Riwayat asma dan alergi disangkal.
• Riwayat gagal napas 12 kali saat usia kurang dari 1 bulan

Riwayat Penyakit Keluarga


• Adanya anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama atau meninggal karena
keluhan yang sama disangkal oleh pasien
• Ibu pasien menderita DM.

Riwayat Personal Sosial


Pasien saat ini tinggal dengan orang tuanya. Pasien mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya,
sampai saat ini masih mengkonsumsi makan dengan tekstur cair dan lembut. Ibunya sangat
menjaga diit dengan tidak memberikan pengawet makanan, maupun pemanis buatan.

Riwayat Kelahiran
Pasien lahir secsio secaria gemelli, premature dengan BBLR 1,5 kg dengan kelahiran plasenta
previa. Saudara kembarnya telah meninggal dunia.
PEMERIKSAAN SISTEM
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : sakit sedang Kepala Leher
Kesadaran : compos mentis Bentuk
GCS : E4M6V5 = 15
Simetris,
Vital Sign Microchepal Pembesaran KGB (-)
TD :-, Konjungtiva Trakea teraba di
N : 96 x/menit, anemis (-) tengah
R : 21 x/menit,
S : 36, °C (afebris) Pupil Isokor THT
Akral : Hangat Reflek cahaya Mengorok dan Flu
Antropometri (+/+) Menahun
Berat Badan : 11,6 kg
PB : 92 cm Bibir sianosis (-)
IMT : 13,70
Lingkar Kepala : 45 cm (<-3SD)
Thoraks : Simetris (dalam batas normal)
Paru
Inspeksi : Bentuk normal, pergerakan Abdomen : dalam batas normal
simetris.
Palpasi : Ekspansi dada simetris. Muskuloskeletal dan Ekstremitas :
Nyeri tekan (-) Pasien belum bisa berjalan, kesulitan dalam
Perkusi : sonor melakukan kegiatan dasar sehari-hari
Auskultasi : Vesikuler, rhonki (-/-),
wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung kesan tidak
melebar
Auskultasi : S1 S2 tunggal, reguler.
Suara Bising tambahan (-)
STATUS LOKALIS

Telinga Dextra Sinistra


Tragus Nyeri tekan (-), edema (-) Nyeri tekan (-), edema (-)
Aurikula Normotia, hematoma (-), nyeri tarik aurikula (-) Normotia, hematoma (-), nyeri tarik
aurikula (-)
Liang Telinga Lapang, serumen (+), hiperemis (-), edema (-), Lapang, serumen (+), hiperemis (-),
otorhea (-) edema (-), otorhea (-)

Membran Timpani Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi


Hidung Dextra Sinistra
Bentuk Simetris, deformitas (-) Simetris, deformitas (-)
Mukosa Hiperemi (+) Hiperemi (+)
Cavum Nasi Sekret (+), lapang Sekret (+), lapang
Konka Inferior Hipertrofi Hipertrofi
Polip - -
Krusta, Darah - -
Tenggorokan
Septum Nasi Dextra tidak ada deviasi, perdarahan
Ditengah, Sinistra
(-)
Tonsil T3, kripta melebar, dendritus (-) T3, kripta melebar, dendritus (-)

DPP Hiperemi (-), normal, tenang


Uvula Ditengah, hiperemi (-), edema (-), bentuk normal
PEMERIKSAAN RADIOLOGI – FOTO
X RAY- RASIO ADENOID NASOFARING
Hasil :
Adenoid terukur : +/- 11,5 mm
Nasofaring terukur : +/- 13,63 mm
Rasio adenoid Nasofaring : 0,84
Air way relatif menyempit

Kesan :
Menyokong gambaran hypertropi adenoid
DIAGNOSA KERJA
• Adenotonsilitis kronis
• Global Development Disorder dengan Cerebral Palsy dan
Microsecphaly

Diagnosis Banding : Tonsilitis, Abses peritonsil

PENATALAKSANAAN PASIEN
Medikamentosa di Poli
Cefadroxyl Syr 2x1 cth
Dexametasone ¼, Rhinofed ¼, Ambroxol ¼
(mfla pulv dtd no. X) 3 kali sehari
Stimuno Syr 3x1 cth

Rencana Pro Operasi Adenotonsilektomi


Pre Operasi

Edukasi:
• Menjelaskan perjalanan penyakit dan komplikasi yang timbul
• Menjelaskan rencana pengobatan,indikasi operasi dan komplikasinya
• Menjaga kebersihan rongga mulut (oral hygiene), misalnya:
menganjurkan sikat gigi dan kumur – kumur teratur, bila perlu konsultasi
ke dokter gigi

-Rawat inap observasi keadaan umum dan tanda vital


-Inform consent
-Konsul anestesi
-Pemeriksaan lab: DL, Gol Darah ABO, PTT, APTT, HbsAg
-Ro foto polos leher lateral
-Puasa 6 jam sebelum operasi
- Pro Adenotonsilektomi
- Infus RL 20 tpm
- Injeksi Cefotoxime 2x1g (30 menit sebelum operasi)
Post Adenotonsilektomi

Evaluasi outcome:
• Tidak ada risiko obstruksi napas yang dapat berisiko mengancam kematian
• Tidak ada perdarahan
• Luka operasi tidak infeksi
• Tidak ada dehidrasi

- Awasi Keadaan umum, keadaan vital, dan tanda tanda perdarahan


- Tidur miring
- Kompres es
- Minum es
- Diet: lunak dan dingin 5 hari
- Infus RL 20 tpm
- Inj. Cefotaxime 2x1g Prognosis
- Inj. Dexamethasone 2x1ampul Ad vitam : dubia ad bonam
- Inj. Asam tranexamat 3x500mg Ad sanationam : dubia ad bonam
- Inj. Ketolorac 3x1 ampul
Ad fungsionam : dubia ad bonam
ADENOIDITIS
DEFINISI ADENOIDITIS
Adenoiditis adalah peradangan jaringan adenoid yang berada di nasofaring merupakan massa yang
terdiri dari jaringan limfoid pada dinding posterior nasofaring di atas batas palatum molle dan termasuk
dalam cincin waldeyer. Secara fisiologik pada anak-anak, adenoid dan tonsil mengalami hipertrofi dan
menghilang sama sekali pada usia 14 tahun. Apabila sering terjadi infeksi pada saluran napas bagian
atas, maka dapat terjadi hipertrofi adenoid yang akan mengakibatkan sumbatan pada koana dan
sumbatan tuba eustachius
ANATOMI PHARINX, TONSIL, DAN CINCIN WALDAYER
ANATOMI TONSIL, DAN CINCIN WALDAYER

 Jaringan limfoid di dinding nasofaring


 Letak di dinding posterior, tidak berkapsul
 Bagian dari cincin Waldeyer
 Pada anak sampai pubertas
 Umur 12 tahun mengecil
 Umur 17 – 18 tahun menghilang
Fungsi:
Sistem pertahanan tubuh pertama (lokal) sal. nafas
memproduksi limfosit
Membentuk antibodi spesifik (Ig)
Ukuran Adenoid

Pada usia 0-3 tahun adenoid berukuran masih kecil,


Ukuran Adenoid

Dan mulai membesar drastis pada usia menginjak 5 tahun.


Ukuran Adenoid

Kemudian mulai mengecil dan menghilang setelah berumur 14 tahun.


HISTOLOGI ADENOID

Histologi adenoid dengan aktivitas imunologi pada sekitar kripta tonsilar


FISIOLOGI ADENOID

Imunitas Tubuh

Memproduksi IgA Pelepasan


Interleukin dan
aktivasi Sel
Interaksi antigen Plasma
+ Sel T oleh APC menghasilkan
Peran Makrofag, Ig
HLA, dan Sel M

Barier pertama
oleh epitel kripti

Antigen
memasuki
nasopharinx
FISIOLOGI ADENOID

Imunitas Tubuh

Memproduksi IgA

• Fungsi Protektif
 Formasi lymphocytes
 Formasi antibodi
 Acquisition of immunity
 Localization of infection – “filters” to the upper respiratory passages.
ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI

ISPA Hipertrofi Fisiologis

Hipertrofi patologis
Bakteri
SBHGA
Lingkungan,
Streptococcus Pyogenes
Streptokokus grup B, C
faktor inang (alergi),
AB yang tidak tepat
Adenovirus
Adenoiditis yang e. Epstein Barr
terjadi berulang f. Virus Herpes
PATOFISIOLOGI

Adenoiditis
Aktifitas
Multiplikasi
Respon
bakteri dan Imunologi
Obstruksi dan Kriptitis
infeksi kronis berupa
Kronik, stasis debris kripti,
persistensi antigen
respon
inflamasi
Infeksi Virus dan
Infeksi Sekunder
Bakteri
Faktor-faktor yang menyebabkan kronisitas antara lain: terapi antibiotika yang tidak tepat dan adekuat,
gizi atau daya tahan tubuh yang rendah sehingga terapi medikamentosa kurang optimal, dan jenis
kuman yag tidak sama antara permukaan tonsil dan jaringan tonsil. Kuman penyebabnya sama dengan
tonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman gram negatif .
MANIFESTASI KLINIS ADENOIDITIS

Rhinorea Mengorok
Batuk
Sumbatan Hidung DEMAM Batuk Pilek
Purulen, Napas bau Busuk Berulang
PND
Rhinolalia
Bilateral Clausa/
Bernafas dengan
Nasal mulut Speech
Obstruction hyponasality
Gambaran Klinis Wajah Adenoid Pada Anak

Gambaran wajah adenoid meliputi


 Pernafasan dengan Mulut terbuka
 Bentuk wajah memanjang
 Gigi seri yang menonjol
 Hipoplastic Maxilla (Underdevelopment maxilla bone)
 Bibir atas yang pendek/tipis dari pada bibir bawah
 Elevated nostril (lubang hidung yang meninggi)
 Langit mulut yang melengkung tinggi

26
Gambaran Klinis Wajah Adenoid Pada Anak
Gambaran wajah adenoid meliputi
 Pernafasan dengan Mulut terbuka
 Bentuk wajah memanjang
 Gigi seri yang menonjol
 Hipoplastic Maxilla (Underdevelopment maxilla bone)
 Bibir atas yang pendek/tipis dari pada bibir bawah
 Elevated nostril (lubang hidung yang meninggi)
 Langit mulut yang melengkung tinggi

27
Komplikasi Tidur Gelisah,
Mimpi Buruk, Mengompol
1. Obstructive Sleep Apnea Syndrome:
Selama tidur
Sepanjang Hari
2. Descending infection Sakit kepala pagi hari, Penurunan
3. Adenoid Facies konsentrasi, Mengantuk sepanjang hari

Recurrent OM
Pharyngitis, Laryngitis, bronchitis
Idiot look
Pinched nostril
Short upper lip
Prominent incisor
High arched palate
28
DIAGNOSIS ADENOIDITIS
Pemeriksaan Fisilk
Palpasi meraba Adenoid
Rhinoskopi Anterior –
Palatal Phenomena
Laryngoscopy Inderect

Anamnesis Pemeriksaan Radiologi


Anamnesis
Keluhan utama, fisik X RAY RASIO
gejala klinis ADENOID-
Adenoiditis, riwayat Endoskopi Radiologi NASOPHARYNX
ISPA (SKALA FUJIOKA
DAN LUSTED)
Endoskopi
mendiagnosis adenoid hipertrofi,
infeksi pada adenoid, dan insufisiensi
velopharyngeal (VPi), juga dalam
menyingkirkan penyebab lain dari
obstruksi nasal.
X-RAY RASIO ADENOID NASOPHARYNX DARI FUJIOKA

Teknik pengambilan foto lateral kepala dosis rendah (soft tissue


technique), akan dapat dilihat adanya pembesaran adenoid yang
ada di rongga nasofaring. Dan ukuran besarnya adenoid terhadap
rongga nasofaring dapat dihitung rasio AN.
Rasio adenoid nasofaring = A/N.
A : jarak antara konveksitas maksimum bayangan adenoid dengan
garis lurus sepanjang tepi anterior basis oksipitus os oksipitalis.
B : garis lurus sepanjang tepi anterior basis oksipitus os oksipitalis.
N : jarak antara tepi posterior platum durum dengan tepi anterior
sinkondrolis sefenobasis oksipitalis.

30
X-RAY RASIO ADENOID NASOPHARYNX DARI FUJIOKA

• Pemeriksaan Foto Polos Lateral Adenoid, adalah pemeriksaan radiologi untuk


mengevaluasiukuran adenoid terhadap ukuran luas nasofaring
• Grade 1: Rasio Adenoid-Nasofaring 0–0,52 : tidak ada pembesaran
• Grade 2: Rasio Adenoid-Nasofaring 0,52–0,72 : pembesaran sedang-non
obstruksi
• Grade 3: Rasio Adenoid-Nasofaring > 0,72 : pembesaran dengan obstruksi

• Pembesaran adenoid diklasifikasikan menjadi 4 kategori berdasarkan derajat


sumbatan adenoid terhadap jalan udara nasofaring, yaitu :
• Ringan (grade 1) : bila sumbatan adenoid < / = 50% dari jalan udara
nasofaring
• Sedang (grade 2) : bila sumbatan adenoid 50%- 75% dari jalan udara
nasofaring
• Berat (grade 3) : bila sumbatan adenoid > 75% dari jalan udara nasofaring

31
RASIO ADENOID NASOPHARYNX DARI LUSTED

Keterangan tabel :
• rata-rata umur : rata-rata umur anak dalam tahun
• rasio adenoid normal : besar rasio adenoid nasofarng normal
• standar deviasi : standar deviasi, rentang normal

32
RASIO ADENOID NASOPHARYNX DARI LUSTED

Untuk mengetahui nilai rasio yang normal pada anak, dapat dihitung
dengan rumus : "Rasio Adenoid Normal ± SD"
Contoh : Untuk mendapatkan rasio adenoid pada anak usia 4 tahun 9
bulan, dapat dilihat dari Rata-rata umur pada table yaitu 4,6 tahun dan 5,6
tahun. Kemudian menggunakan rumus : Rasio Adenoid Normal ± SD.
• Rasio adenoid pada rata-rata umur 4,6
0,588 + 0,1129 = 0,7009 , dan = 0,588 – 0,1129 = 0,4751
• Rasio adenoid pada rata-rata umur 5,6
0,586 + 0,1046 = 0,6906, dan = 0,586 - 0,1046 = 0,4814
Jadi rasio adenoid pada anak usia 5 tahun berkisar antara (0,4751 –
0,7009) lebih dari nilai tersebut berarti rasio adenoid pada anak tersebut
tidak normal.

33
PENATALAKSANAAN
Tidak ada bukti yang mendukung bahwa adanya
pengobatan medis untuk infeksi kronis adenoid,
pengobatan dengan menggunakan antibiotik
sistemik dalam jangka waktu yang panjang untuk
infeksi jaringan limfoid tidak berhasil membunuh
bakteri.
Beberapa penelitian menerangkan manfaat dengan ADENOIDEKTOMY
menggunakan steroid pada anak dengan hipertrofi
adenoid. Penelitian menujukkan bahwa selagi
menggunakan pengobatan dapat mengecilkan
adenoid (sampai 10%). Tetapi jika pengobatan
tersebut itu dihentikan adenoid tersebut akan
terulang lagi.
INDIKASI ADENOIDEKTOMY
a. Sumbatan
• Sumbatan hidung yang menyebabkan bernafas melalui mulut
• Sleep apnea
• Gangguan menelan
• Gangguan berbicara
• Kelainan bentuk wajah muka dan gigi (adenoid face)

b. Infeksi
• Adenoiditis berulang/kronik
• Otitis media efusi berulang/kronik
• Otitis media akut berulang

c. Kecurigaan neoplasma jinak/ganas


PROSEDUR ADENOIDEKTOMY
PROSEDUR ADENOIDEKTOMY
PROGNOSIS
Adenotonsillektomi merupakan suatu
tindakan yang kuratif pada kebanyakan
individu. Jika pasien ditangani dengan
baik diharapkan dapat sembuh sempurna.
TONSILITIS KRONIS
DEFINISI
Tonsilitis Kronis
Tonsilitis merupakan peradangan dari tonsil palatina
yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer.
Tonsilitis kronis adalah peradangan tonsil yang
menetap sebagai akibat infeksi akut atau subklinis yang
berulang. Ukuran tonsil membesar akibat hyperplasia
parenkim atau degenerasi fibrinoid dengan obstruksi
kripta tonsil, namun dapat juga ditemukan tonsil yang
relatif kecil akibat pembentukan sikatrik yang kronis,
biasanya nyeri tenggorok dan nyeri menelan dirasakan
lebih dari 4 minggu dan kadang dapat menetap.
ANATOMI TONSIL
Vaskularisasi

Tonsil mendapat vaskularisasi dari cabang-cabang A. karotis


eksterna, yaitu
• A. maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A.
tonsilaris dan A. palatina asenden
• A. maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden
• A. lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal
• A. faringeal asenden.
Inervasi

Nervus trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui


cabangnya yang melewati ganglion sphenopaltina yaitu
n. palatina. Bagian bawah tonsil dipersarafi
n. glossopharingeus
HISTOLOGI Tonsila Palatine
Secara mikroskopis tonsil memiliki tiga komponen
yaitu jaringan ikat, jaringan interfolikuler, jaringan
germinativum. Jaringan ikat berupa trabekula yang
berfungsi sebagai penyokong tonsil.
FISIOLOGI Tonsila Palatine

Barier
Organ
antigen Produksi
limfatik antibodi
(benda
sekunder
asing)
KLASIFIKASI TONSILITIS

Tonsilitis AKUT

Tonsilitis Kronis
ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI

Beta Streptococcus Mode Transmission Any age but


pneumonia
H. Influenzae with droplet common
hemolyticus
Infection children
streptococci

Pengobatan
Tonsilitis akut Kelelahan pengaruh hygiene rangsangan
yang tidak
adekuat
fisik cuaca mulut yang menahun dari
buruk rokok
PATOFISIOLOGI

Sebukan sel
radang,
Infiltrasi Jaringan terbentuk Bercak puting Tonsilitis
bakteri yang
kekuningan
Bakteri radang detritus mati, dan akut
seperti keju
epitel yang
terlepas

Complications
Rapid onset
Local:
• Demam, Sakit Kepala,
- Peritonsillar abscess
Anorrhexia, Malaise
- Parapharyngeal abscess
• Severe sore throat
- Retropharyngeal abscess
± referred otagia
• Halitosis Systemic
- Rheumatic fever (carditis and arthritis)
- Acute glomerulonephritis
Kripta melebar
Proses radang dan diisi Perlekatan
berulang dan Menembus
digantikan dengan dendritus
kapsul tonsil di sekitar Tonsilitis Kronis
jaringan parut (epitel, leukosit, fossa tonsil
bakteri)

Manifestasi Klinis
nyeri telan ringan  hebat ( eksaserbasi akut )
 rasa mengganjal
 “ foetor ex ore “
 buntu hidung ( ngorok )  adenoid membesar
 “ adenoid face “
 gangguan pendengaran ( adenoid membesar )
TEMUAN PEMERIKSAAN TONSILITIS KRONIS
• tonsil membesar
• tonsil hiperemi
• kripta melebar  detritus (+) atau bila ditekan
• arkus ant. & post. Hiperemi
• “ adenoid face “
• fenomena palatum mole (-)
• Pembesaran kelenjar limfe submandibular
T0 : Post tonsilektomi
T1 : Tonsil masih terbatas dalam fossa tonsilaris
T2 : Sudah melewati pilar anterior, tapi belum melewati
garis paramedian (pilar posterior)
T3 : Sudah melewati garis paramedian, belum melewati
garis median
T4 : Sudah melewati garis mediana
DIAGNOSIS
Anamnesis
• Gejala yang berulang
• Onset lebih dari 3 bulan
Pemeriksaan fisik
• Tongue spatel
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pemeriksaan
laboratorium dapat dilakukan kultur dan uji
resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan apus
tonsil.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pasien meliputi
• Istirahat cukup
• Makan makanan yang lunak dan mengindari
makan makanan yang mengiritasi
• Menjaga kebersihan mulut
• Pemberian obat topical dapat berupa obat
kumur antiseptic
• Pemberian obat oral sistemik sesuai indikasi
PENATALAKSANAAN MEDIKAMENTOSA
Terapi medikamentosa ditujukan untuk mengatasi infeksi yang
terjadi baik pada tonsilitis akut maupun tonsilitis rekuren atau tonsilitis
kronis eksaserbasi akut. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian
penisilin merupakan antibiotik pilihan pada sebagian besar kasus karena
efektif dan harganya lebih murah. Namun, pada anak dibawah 12 tahun,
golongan sefalosporin menjadi pilihan utama karena lebih efektif
terhadap streptococcus.
PENATALAKSANAAN OPERATIF
Indikasi (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery / AAOHNS 1995)
Indikasi Absolut :
• Pembengkakan tonsil yg menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat, gangguan tidur &
komplikasi kardiovaskuler
• Abses peritonsil yg tidak membaik dengan pengobatan medis & drainase
• Tonsilitis yg menimbulkan kejang demam
• Tonsilitis yg membutuhkan biopsi untuk menentukan Patologi Anatomi
Indikasi Relatif :
• Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dg terapi antibiotik adekuat
• Halitosis akibat tonsilitis kronik yg tidak membaik dengan pemberian terapi medis
• Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yg tidak membaik dengan pemberian antibiotik β
laktamase resisten
Indikasi untuk dilakukan tonsilektomi menurut Brodsky yaitu :

1. Obstruksi 2. Infeksi 3. Neoplasia


• Tonsilitis kronika / sering berulang.
• Hiperplasia tonsil dengan obstruksi. atau suspek neoplasia
• Tonsilitis dengan :Absces peritonsilar, benigna / maligna.
• Sleep apnea atau gangguan tidur.
absces kelenjar limfe leher, obstruksi Akut jalan
• Kegagalan untuk bernafas.
nafas,penyakit gangguan klep jantung.
• Corpulmonale. • Tonsilitis yang persisten dengan : sakit
• Gangguan menelan. tenggorok yang persisten.
• Gangguan bicara. • Tonsilolithiasis Carrier Streptococcus yang tidak
• Kelainan orofacial / dental yang respon terhadap terapi.
menyebabkan jalan nafas sempit. • Otitis Media Kronika yang berulang.
KONTRAINDIKASI TONSILEKTOMI

1. Gangguan perdarahan.
2. Resiko anestesi yg besar atau penyakit berat.
3. Anemia
4. Infeksi akut yg berat
PROSEDUR TONSILEKTOMI
RESUME
Susah untuk menelan Riwayat ISPA sejak usia 1 tahun
Nafas dari mulut
Mendengkur
Nyeri tenggorokan
Batuk berdahak
Adenotonsilitis
Tonsil: T3-T3, Ratio Adenoid Nasofaring
Hiperemis = 0.84
Kronik

Onset 3 bulan Kripta melebar

Adenotonsilitis Kronik
Pasien pada kasus ini didiagnosis dengan Adenotonsilitis kronis dengan global development disorder yang
ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik serta didukung dengan pemeriksaan penunjang. Keluhan
utama mengorok muncul saat tidur hingga mengakibatkan anak rewel dan sulit bernapas. Keluhan muncul
sejak anak berusia 1 tahun. Keluhan disertai pilek kental yang juga tak kunjung sembuh dari umur 1 tahun.
Dari penampilan anak selalu membuka mulutnya terkesan bernafas melalui mulutnya. Dari keterangan
ibunya, anak terkadang minum atau makan tersedak (+), nafas tidak plong (+), susah tidur (+), nafas dari
mulut (+), bibir kering (+), mengorok saat tidur (+), nafsu makan menurun (+). Anamnesis sistem
pendengaran seperti telinga penuh, berdenging, penurunan pendengaran, nyeri wajah tidak dapat dinilai.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tonsil palatina yang membesar T3-T3, hiperemis, kripta melebar.
Pada pemeriksaan penunjang Ro X Ray Kepala Latera nampak rasio adenoid nasofaring 0,84 yang berarti
adanya obstruksi nafas.

PENATALAKSANAAN PASIEN.
Pada pasien ini ditemukan gangguan obstruksi dan infeksi yang menurut Brodsky merupakan indikasi untuk
dilakukannya tonsilektomi, menurut The American Academy of Otolaryngology, Head and Neck Surgery
pada pasien ini juga ditemukan indikasi absolut untuk dilakukannya tonsilektomi yaitu sumbatan jalan nafas
atas dan gangguan tidur. Oleh sebab itu maka pasien diindikasikan untuk dilakukannya tonsilektomi agar
dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
KESIMPULAN

Adenotonsilitis merupakan peradangan tonsil faringel dan tonsil palatina yang merupakan
bagian dari cincin Waldeyer. Disebut Adenotonsilitis kronis apabila keluhan telah ada lebih dari 3 bulan.
Adenotonsilitis kronis adalah peradangan tonsil yang menetap sebagai akibat infeksi akut atau
subklinis yang berulang. Adenotonsilitis kronik yang memenuhi indikasi dapat diterapi dengan
tonsilektomi.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor-faktor predisposisi seperti faktor
daya tahan tubuh yang menurun akibat rangsangan menahun dari rokok atau makanan tertentu,
hygiene ronga mulut yang kurang baik, dan alergi.
Pada pasien ditemukan gangguan menelan, batuk pilek menahun dan sering kambuh, dan
pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran tonsil derajat T3-T3 dan pembesaran adenoid. Dari
keluhan dan pemeriksaan diatas sudah cukup untuk mengindikasikan pasien untuk dilakukan
Adenotonsilektomi. Adenotonsilektomi dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
TERIMAKASIH