Anda di halaman 1dari 17

Stabilisasi dan Transportasi

Definisi
Stabilisasi Transportasi
 Proses untuk menjaga  Proses untuk
posisi dan kondisi pasien memindahkan pasien dari
agar tetap stabil selama tempat satu ke tempat yang
pertolongan lain dengan atau tanpa
menggunakan alat
Cegah kecacatan!
Stabilisasi
 Bebat  Bidai
 Pembalutan/bebat adalah  Bidai adalah alat yang dipakai
penutupan suatu bagian tubuh untuk mempertahankan
yang cedera dengan bahan kedudukan atau letak tulang
tertentu dan dengan tujuan yang patah.
tertentu.Pembebatan  Alat penunjang berupa sepotong
mempunyai peran penting tongkat, bilah papan, tidak
dalam membantu mengurangi mudah bengkok ataupun patah,
bengkak, kontaminasi oleh bila dipergunakan akan berfungsi
mikroorganisme dan membantu untuk mempertahankan, dan
mengurangi ketegangan jaringan menjamin tidak mudah bergerak
luka. sehingga kondisi patah tulang
tidak makin parah.
BEBAT
Tujuan Bebat
 Menahan sesuatu seperti:
 menahan penutup luka
 menahan pita traksi kulit
 menahan bidai
 menahan bagian tubuh yang cedera dari gerakan dan geseran (sebagai
"splint")
 menahan rambut kepala di tempat
 Memberikan tekanan, seperti terhadap :
 kecenderungan timbulnya perdarahan atau hematom
 adanya ruang mati (dead space)
 Melindungi bagian tubuh yang cedera.
 Memberikan "support" terhadap bagian tubuh yang cedera.

Manfaat Bebat
 Menopang suatu luka, misal tulang yang patah.
 Mengimobilisasi luka, misal bahu yang keseleo.
 Memberikan tekanan, misal pada ekstremitas inferior dapat
meningkatkan laju darah vena.
 Menutup luka, misal pada operasi abdomen yang luas.
 Menopang bidai (dibungkuskan pada bidai)
 Memberi kehangatan, misal bandage flanel pada sendi rematik.
Prinsip Bebat
 Balutan harus rapat rapi jangan terialu erat karena dapat
mengganggu sirkulasi.
 Jangan terialu kendor sehingga mudah bergeser atau lepas.
 Ujung-ujung jari dibiarkan terbuka untuk merigetahui adanya
gangguan sirkulasi.
 Bila ada keluhan balutan terialu erat hendaknya sedikit
dilonggarkan tapi tetap rapat, kemudian evaluasi keadaan
sirkulasi.
BIDAI
Prinsip Bidai
 Prinsip pembidaian melalui 2 sendi. Sebelah proksimal dan
distal dari fraktur
 Pakaian yang menutup bagian yang cedera dilepas, periksa
adanya luka terbuka atau tanda-tanda patah dan dislokasi.
 Periksa dan catat ada tidaknya gangguan vaskuler dan
neurologis pada bagian distal yang mengalami cedera sebelum
dan sesudah pembidaian.
 Tutup luka dengan kasa steril.
PRINSIP BIDAI
 Pembidaian dilakukan pada bagian proksimal dan distal
daerah trauma (dicurigai patah atau dislokasi).
 Jangan memindahkan penderita sebelum dilakukan
pembidaian kecuali ada di tempat berbahaya.
 Beri bantalan yang lembut pada pemakaian bidai yang kaku.
 Periksa hasil pembidaian supaya tidak terlalu longgar atau
ketat
SYARAT BIDAI
 Ukuran meliputi lebar dan panjangnya disesuaikan dengan
kebutuhan
 Panjang bidai diusahakan melampaui dua sendi yang
membatasi bagian yang mengalami patah tulang.
 Usahakan bidai dengan lapisan empuk agar tidak membuat
sakit
 Bidai harus dapat mempertahankan kedudukan dua sendi
tulang yang patah
 Bidai tidak boleh terlalu kencang atau ketat
Persiapan Bidai
 Periksa bagian tubuh dengan teliti.
 Periksa status vaskuler, neurologis, serta jangkauan gerakan
 Pilihlah bidai yang tepat
Terima Kasih
Dr. Anang Arliono, SpEM