Anda di halaman 1dari 31

MINI PROJECT

Gambaran Tingkat Pengetahuan


Pasien Gout Arthtritis Terhadap
Anjuran Diet Rendah Purin
di Puskesmas Birobuli Kota Palu Prov. Sulteng
Maret – April Tahun 2017

Program Dokter Internship


Periode Februari – Juni 2017
Disusun Oleh :

dr. Ayu Astri dr. Firda J dr. Hafiz Idul F dr. Agus Riansyah dr. Rully Batjo

dr. Rossaline Lago


PENDAMPING
Latar Belakang

Prevalensi Arthtritis Gout di dunia


berkisar 1-2% dan mengalami
peningkatan dua kali lipat dibandingkan
dua dekade sebelumnya.

Prevalensi Arthtritis Gout di Indonesia


diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang,
prevalensi ini terus meningkat seiring
meningkatnya umur
Latar Belakang
Prevalensi Arthtritis Gout antar daerah di
Indoesia tergolong bervariasi.

Jawa Tengah, prevalensi sebesar 1,7% (terus


mengalami peningkatan dibandingkan kasus
penyakit tidak menular lainnya)
Bali, prevalensi mencapai 8,5%
Data dari RSCM Jakarta penderita Arthtitis
Gout tahun 1993-1995 mengalami
peningkatan lebih dari 100%
Latar Belakang

Data Riskesdas tahun 2013 didapatkan di


antara provinsi di Indonesia, penyakit
sendi/rematik/encok, Provinsi Sulawesi
Tengah tercatat sebagai urutan enam
kecenderungan prevalensi penyakit
tersebut.
Prevalensi tersebut berkisar 27%
Asam Urat
Merupakan asam yang berbentuk kristal-kristal hasil akhir dari
metabolisme purin, yaitu salah satu komponen asam nukleat
yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Selain itu asam urat
merupakan sampah hasil metabolisme normal dari pencernaan
protein.

3,5-7mg/dl 2,6-6mg/dl

Hiperurisemia adalah kelebihan kadar asam urat dari nilai normal


Gout Arthtritis
Gout Arthtritis adalah penyakit yang ditandai dengan seranga
n mendadak dan berulang dari artritis yang terasa sangat nyeri
karena adanya endapan kristal monosodium urat, yang terkum
pul di dalam sendi sebagai akibat dari tingginya kadar asam ur
at di dalam darah atau hiperurisemia.

Gout Arthtritis adalah adalah suatu sindroma klinis yang meru


pakan kelainan yang berhubungan gangguan kinetik asam urat
yaitu hiperurisemia (Prof. Edu Tehupeiori)
Diagnosis
“Hiperurisemia tanpa disertai gejala klinis khas, bukanlah
diagnosa Gout Arthtritis”
American Collage of Rheumatology mengeluarkan kriteria Gout
Arthtritis, yaitu ketika didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut:
• Kristal monosodium urat didalam cairan sendi atau tofus
• Inflamasi maksimal pada hari pertama
• Serangat akut lebih dari 1kali
• Atritis monoartikuler
• sendi yang terkena berwarna kemerahan
• Pembengkakan dan nyeri pada MTP-1
• Serangan pada sendi tarsal
• Tofus
• Hiperurisemia
• Pembengkakan sendi asimetris
• Kultur bakteri cairan sendi negatif
• Kista subkortikal tanpa erosi
Manifestasi Klinis
Stadium Artritis Gout Akut Bersifat sangat akut dan sangat
cepat. Keluhan berupa nyeri, bengkak, terasa hangat,
berwarna kemerahan pada sendi lokasi (paling sering MTP-1)
ketika bangun pagi

Stadium Interkritikal Pada klinis tidak didapatkan tanda-tanda


radang akut, namun pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat
yang menandakan proses lanjutan.

Stadium Artritis Gout Menahun disertai tofus yang banyak


dan poliartikular. Kadang kadang disertau batu saluran kemih
sampai penyakit ginjal menahun.
Genetik Jenis Kelamin Status
Gizi

Faktor Resiko
Usia Gout Arthtritis Purin
Makanan

Aktivitas
Konsumsi
Fisik
Hipertensi Alkohol

Suku Tingkat
Bangsa Pengetahuan
Purin dalam Makanan
Kategori Makanan
Jantung
KELOMPOK 1 Ginjal
Kandungan Purin Tinggi Hati Jeroan
Ekstrak Daging / Kaldu
(100-1000 mg/100 g) Daging Bebek
Ikan
Sarden
Makarel
Kerang
Daging Sapi & Ikan
KELOMPOK 2 Ayam
Kandungan Purin Sedang Udang
Tahu
(9-100 mg/100 g) Tempe
Asparagus
Bayam
Daun
Singkong
Kangkung
Daun dan Biji Melinjo
Nasi
KELOMPOK 3 Ubi
Kandungan Purin Rendah Singkong
Jagung
Roti
Mie / Bihun
Cake / Kue Kering
Puding
Susu
Keju
Telur
Sayuran dan Buah (kecuali sayuran dalam kelompok 2)
Tatalaksana
Medikamentosa. bertujuan untuk mengatasi serangan akut, mence
gah berulangnya serangat atritis, mencegah dan mengatasi kom
plikasi sebagai akibat deposisi Kristal monosodium urat di sendi/
ginjal/jaringan lain, serta mencegah dan mengatasi kondisi yang
terkait gout seperti obesitas, hipertrigliseridemia, hipertensi.
• Tahap I, pada stadium akut, untuk menghilangkan nyeri sendi
dan perdangan. Opsi obat yaitu Kolkisin, OAINS, dan
Kortikosteroid
• Tahap II, untuk menjaga kadar asam urat dalam darah normal.
Opsi obat yaitu Alopurinol dan urikosurik seperti probenesid
Tatalaksana

Non-Medikamentosa.
• Penurunan berat badan hingga tercapai berat badan ideal
• Pengaturan diet rendah purin. Makanan dan minuman yang harus
dihindari antara lain: daging merah, bayam dan alcohol
• Mengistirahatkan sendi yang terkena. Olahraga ringan diperkenan
kan untuk menjaga kebugaran tubuh
• Jika mampu, menghindari obat-obatan yang mengaikbatkan terjadi
nya hiperurisemia misalnya : loop diuretic, diuretic tiazid, salisilat, si
klosporin, niasin dan etambutol.
Topik Masalah

Sesuai pernyataan yang dikemukakan sebelumnya,


maka topik mini-project ini adalah

“Gambaran Tingkat Pengetahuan Pasien Gout Arth


Terhadap Anjuran Diet Rendah Purin
di Puskesmas Birobuli Kota Palu
pada Bulan Maret-April 2017”
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di Poli Umum Puskesmas
Birobuli Kota Palu bulan Maret – April 2017

Metode yang digunakan adalah pengumpulan data secara


primer saat melakukan pelayanan UKP. Instrumen penelitian
berupa kuesioner yang berisi pertanyaan tertulis tentang
pengetahuan penderita Gout Arthtritis tentang anjuran diet
rendah purin. Pengetahuan reponden dianggap baik apabila
benar dalam menjawab 8-10 pertanyaan, cukup bila benar 4-
7 pertanyaan dan kurang bila hanya menjawab ≤ 3
pertanyaan.
Populasi dan Sampel

Populasi adalah pasien yang berobat di Poli Dewasa.


Sampel yaitu pasien yang terdiagnosa Gout Arthtritis.
Teknik sampling yang digunakan yaitu Simple Sampling
Analisis Data

Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dari hasil


pelayanan primer di Poli Umum Puskesmas Birobuli
Kota Palu.
Pengumpulan Data

Pasien yang melakukan kunjungan di poli dewasa akan


dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara
sistematis. Diagnosis asam urat ditegakkan dari
pemeriksaan asam urat di laboratorium yang dipadukan
dengan hasil anamnesis dan pemfis sebagai gejala
klinis.
Saat pasien telah didiagnosis maka perlu diberikan
pengetahuan mulai dari faktor resiko serta tatalaksana
farmakologi maupun nonfarmakologi
Hasil Penelitian
Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

Dari penelitian di dapatkan responden yang berjenis kelamin


laki-laki sebanyak 24 orang (52%), dan yang berjenis kelamin
perempuan sebanyak 22 orang (48%).
Hasil Penelitian
Umur

30 - 59 tahun

≥ 60 tahun

Dari penelitian di dapatkan responden yang berumur 30 – 59


tahun sebanyak 34 orang (74%), dan yang berumur ≥ 60
tahun sebanyak 12 orang (26%).
Hasil Penelitian
Pekerjaan

30

25

20

15

10

0
Peg. Swasta Peg. Negeri Wiraswasta Pensiunan Lain - lain

Pekerjaan responden bervariasi dari 7 orang peg. Swasta,


11 orang sebagai peg. Negeri, 5 orang sebagai wiraswasta,
10 orang pensiunan, dan lain-lain sebanyak 13 orang.
Hasil Penelitian
Tingkat Pengetahuan

Baik
Cukup
Kurang

Dari penelitian di dapatkan responden memiliki pengetahuan


baik sejumlah 8 responden (17 %), cukup baik sejumlah
37 responden (80 %), dan berpengetahuan kurang
Sejumlah 1 orang (3 %).
Pembahasan Penelitian
Lawrence Green seorang tokoh antropologi kesehatan mengungkapkan
bahwa, perilaku individu dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu factor
predisposisi, pemungkin, dan penguat.
Factor predisposisi mencakup pengetahuan dan sikap terdahulu
masyarakat terhadap kesehatan,
Factor pemungkin mencakup ketersediaan sarana atau prasarana
untuk perilaku yang dimaksud,
dan factor penguat meliputi factor sikap dan perilaku tokoh
masyarakat, tokoh agama termasuk petugas kesehatan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan
merupakan factor penting dalam perilaku.
Pembahasan Penelitian
Kurangnya pengetahuan responden dapat disebabkan
beberapa faktor yaitu :
 Rendahnya tingkat pedidikan responden
 Kurangnya keaktifan responden dalam mengikuti
penyuluhan kesehatan
 Umur pasien
 Edukasi dari pihak pelayan kesehatan belum
maksimal
Kesimpulan

“Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat


disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan penderita
Gout Arthtritis di Puskesmas Birobuli kota Palu
tentang anjuran diet rendah purin cukup baik”
Saran
Peningkatan edukasi tent
ang
penyakit Gout Arthtritis s Metode Langsung
erta Media edukasi me
anjuran diet rendah puri narik
n
Optimalisasi kegiatan PK
M Menjaring pasien
seperti Posbindu atau radang sendi
pos Lansia
Pelaksanaan Solusi

Bentuk intervensi yang dilakukan dalam mini-project ini


berupa melakukan penyuluhan/edukasi baik dengan
metode ceramah dan juga dengan menggunakan media
edukasi kepada pasien yang berobat di Poli Umum
Puskesmas Birobuli Kota Palu.
Isi penyuluhan mencakup tentang pentingnya mematuhi
anjuran diet rendah purin sesuai dengan tujuan dari
mini-project ini.
Lampiran : Kuisioner
Lampiran : Kuisioner
Daftar Pustaka
Price, P,A Wilson, L,M. Gout, Pathofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta: EGC; 1992.
Tjokroprawiro, Askandar. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Airlangga University Press,
Surabaya; 2007.
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Survailence Penyakit Tidak Menular pada
Puskesmas dan Rumah Sakit di Jawa Tengah, Semarang, 2007.
Hidayat R. Gout dan hiperurisemia. Medicinus. Edisi Juni-Agustus 2009;22:47-50.
Kalbe. Faktor Resiko Gout. CDK 186/Vol.38 no.5/Juli-Agustus, Jakarta. 2011
Tehupeiori, E. Artritis pirai,Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : BP FKUI; 2001.
Sustrani L, Syamsir A, & Iwan H. Asam urat, informasi lengkap untuk penderita dan
keluarganya, edisi 6. Jakarta; 2004.
Ellyza N, Sofitr. Hiperurisemia dalam Jurnal Kesehatan Andalas. Vol. no. 2/Februari.
Padang.2012;
Fauci et al: Gout and Othercrystal -Associated Arthropathies, Harrison`s Principless
of Internal Medicine 18th ed, The McGraw-Hill, 2012, pg 2013-2029
Terima Kasih