Anda di halaman 1dari 32

SERUMEN

Kelompok 4
FK A Universitas Yarsi
2018
Kelompok 4
 Desti Dhea Izzani  Farah Atsilla
 Destia Ananda  Faras Qodriyyah Sani
 Deybi Eri Cahyani Ritonga  Fathimah Ayu Rahimah
 Dian Ayu Lestari  Fathir Rizki Suwandi
 Dinda Rizqy Dwi Putri  Asep Zainuddin Sahir
 Dinera Anjani Arsad  Ayu Aprilita Bastari
 Dyah Sri Kusumaningayu  Azura Syahadati
 Eka Heriyanti  Binca Caterina Lisendra
 Elvira Ressa  Deni Rizki Kurniawan
 Fahira Adipramesti Lubis  Desy Indriani
 Fanisa Tria Rani  Diyah Fathonah
 Fannani Nursyabani  Elvira Sari
 Faradila Niaoctaviani
Anatomi telinga luar
Anatomi Telinga Luar
Serumen
 Campuran dari material sebasea dan sekresi apokrin dari kelenjar
seruminosa yang bersatu dengan epitel deskuamasi dan rambut
 Dalam keadaan normal serumen terdapat di sepertiga luar liang
telinga karena kelenjar tersebut hanya di temukan di daerah
tersebut.
 Serumen biasanya ditemukan di kanalis akustikus eksternus yang
merupakan pertahanan penting dalam upaya mencegah terjadinya
infeksi
 Serumen dapat keluar sendiri dari liang telinga akibat migrasi
epitel kulit yang bergerak dari arah membran timpani menuju ke
luar serta dibantu oleh gerakan rahang sewaktu mengunyah.
Komposisi dan Produksi Serumen
 Kelenjar seruminosa terdapat di dinding superior dan bagian
kartilaginosa kanalis akustikus eksternus. Sekresinya
bercampur dengan sekret berminyak kelenjar sebasea dari
bagian atas folikel rambut membentuk serumen. Serumen
membentuk lapisan pada kulit kanalis akustikus
eksternus bergabung dengan lapisan keratin yang bermigrasi.
Komposisi
 60% keratin
 12-20% asam lemak ,alkohol, squalene
 6-9% kolesterol.
a. bagian kartilaginosa. b. bagian osseus
Fungsi Serumen
 Membersihkan
 Pembersihan kanalis akustikus eksternus terjadi sebagai
hasil dari proses yang disebut “conveyor belt” process, hasil
dari migrasi sel epitel di tambah dengan gerakan seperti
rahang (jaw movement).
• Lubrikasi
 Lubrikasi mencegah terjadinya desikasi, gatal, dan
terbakarnya kulit kanalis akustikus eksternus yang disebut
asteatosis. Zat lubrikasi di peroleh dari kandungan lipid
yang tinggi dari produksi sebum oleh kelenjar sebasea
 Fungsi Proteksi
 Walaupun tidak memiliki efek anti bakteri maupun anti
jamur, serumen mempunyai efek proteksi. Serumen
mengikat kotoran, menyebarkan aroma yang tidak
disenangin serangga sehingga serangga enggan masuk ke
liang telingga.
Mikrobiologi dalam Serumen
 Staphylococcus epidermidis
 Corynobacterium spp
 Candida albicans
 Pseudomonas aeruginosa
 P. Stutzeri
 S. Aureus
Klasifikasi
Tipe basah:
 Serumen putih (White/Flaky Cerumen), sifatnya mudah larut
bila diirigasi.
 Serumen coklat (light-brown), sifatnya seperti jeli, lengket.
Tipe kering:
 Serumen gelap/ hitam, sifatnya keras, biasanya erat
menempel pada dinding liang telinga bahkan menutup liang
sehingga menimbulkan gangguan pendengaran
Konsistensinya dipengaruhi oleh :
1. Faktor keturunan
2. Iklim
3. Usia
4. Keadaan lingkungan
Serumen Lunak dan Keras
 Tipe lunak lebih sering terdapat pada anak-anak, dan tipe
keras lebihsering pada orang dewasa.
 Tipe lunak basah dan lengket, sedangkan tipe keras lebih
kering dan bersisik.
 Korneosit banyak terdapat dalam serumen namun tidak pada
serumen tipe keras.
 Tipe keras lebih sering menyebabkan sumbatan, dan tipe ini
paling sering kita temukan di tempat praktek.
 Warna serumen bervariasi dari kuning emas, putih, sampai
hitam, dan konsistensinya dapat tipis dan berminyak sampai
hitam dan keras.
Penyebab Akumulasi Serumen
Ketidakmampuan korneosit di stratum korneum untuk terpisah-pisah

lembara keratin tidak mengalami migrasi secara normal

adanya komponen yang hilangyaitu “keratinocyte attachment-destroying


substance”(KADS)
(KADS ini akan membantu sel-sel terpecah dan menjadi bagian yangkecil dan
terdeskuamasi)

sel tidak akan terpecah dan akan mencapai bagian superfisial namun dengan bentuk yang
utuh

sehingga terjadi akumulasi di kanal bagian dalam

• Keratosis Obturans
• Kolesteatoma
Serumen Prop
 Serumen prop merupakan akumulasi abnormal dari serumen. Penyebabnya
dapat karena kerusakan saat memproduksi atau kerusakan pada saat
pembersihan.
 Sumbatan yang terjadi pada pasien dengan efek serumen menunjukkan adanya
lapisan keratin berlebihan yang menyerupai stratum korneum kulit kanalis
profunda.
 Gumpalan serumen yang menumpuk di liang telinga akan menimbulkan
gangguan pendengaran berupa tuli konduktif. Pada sebagian orang dapat
mengeras dan membentuk sumbat, pada yang lain mungkin merasakan
telinganya tersumbat atau tertekan.
 Serumen dapat mengembang terutama bila telinga masuk air (sewaktu mandi,
berenang) sehingga menimbulkan rasa tertekan dan gangguan pendengaran
semakin dirasakan sangat mengganggu.
Faktor yang Menyebabkan
Penumpukan Serumen
 Obstruksi kanalis akustikus eksternus
 Dermatitis kronik liang telinga luar
 Liang telinga sempit
 Produksi serumen banyak dan kental
 Adanya benda asing di liang telinga
 Adanya eksostosis liang telinga
 Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk
setelah mandi atau kebiasaan mengorek telinga
GEJALA SUMBATAN SERUMEN
 Pendengaran berkurang
 Rasa nyeri timbul apabila serumen keras membatu dan
menekan dinding liang telinga
 Telinga berdengung (tinitus)
 Pusing (vertigo) bila serumen telah menekan membrane
timpani, kadang-kadang disertai batuk oleh karena
rangsangan nervus vagus melalui cabang aurikuler
 Telinga terasa penuh
 Otophoni (seperti mendengar kata-kata sendiri / bergema)
Serumen yang menyumbat liang telinga
Diagnosis banding
 Serumen harus dibedakan dengan penglepasan kulit yang biasanya
terdapat pada orang tua maupun dengan kolesteatoma atau
keratosis obturans.
Tatalaksana
 Membersihkan serumen dari lubang telinga tergantung pada
konsistensi serumen
 Serumen cair dibersihkan dengan mempergunakan kapas
yang dililitkan pada aplikator
 Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret
 Apabila dengan cara ini serumen tidak dapat dikeluarkan maka
serumen harus dilunakkan lebih dahulu dengan tetes hidrogen
peroksida 3%.
Irigasi
 Beberapa serumen bisa dilunakkan, ini bisa dikeluarkan dari kanalis
telinga dengan cara irigasi. Larutan irigasi dialirkan di canalis telinga
yang sejajar dengan lantai, mengambil serumen dan debris dengan
larutan irigasi mengunakan air hangat (37oC), larutan sodium
bicarbonate atau larutan dan cuka untuk mencegah sekunder infeksi
 Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga
sehingga khawatir menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu
mengeluarkannya maka dikeluarkan dengan mengalirkan (irigasi) air
hangat yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh.
 Sebelum melakukan irigasi telinga harus dipastikan tidak ada perforasi
pada membran timpani.
Zat Serumenolisis
 Solusio Aqueos
 Solusio Organik

Zat serumenolitik ini biasanya digunakan 2-3 kali selama 3-5


hari sebelum pengangkatan serumen
Solutio aqueos
Solutio aqueos tersusun atas air yang dapat dengan baik
memperbaiki masalah sumbatan serumen dengan
melunakkannya, diantaranya :
 10% Sodium bicarbonate B.P.C (sodium bicarbonate dan
glycerine)
 3% hidrogen peroksida
 2% asam asetat
 Kombinasi 0,5% aluminium asetat dan 0,03% benzetonium
chloride.
Solusio organic dengan penyusun minyak hanya berfungsi
sebagai lubrikan, dan tidak berefek mengubah intergitas
keratin skuamosa, antara lain :
 Carbamide peroxide (6,5%) dan glycerine
 Various organic liquids (propylene glycerol, almond oil,
mineral oil, baby oil, olive oil)
 Cerumol (arachis oil, turpentine, dan dichlobenzene)
 Cerumenex (Triethanolamine, polypeptides, dan oleate-
condensate)
 Docusate, sebagai active ingredient ditentukan pada laxatives
Kuretase
EDUKASI

 Disarankan untuk tidak membersihkan telinga menggunakan


cutton bud atau jari tangan
 Disarankan untuk datang ke dokter setiap 6 bulan sekali
untuk membersihkan telinga
 Kontrol telinga selama 6 bulan sekali.
KELAINAN MENGENAI SERUMEN
 HIPERSERUMINOSIS
 SERUMINAL GLAND ADENOMA
 CERUMINAL GLAND ADENOCARCINOMA
 CERUMINOMA