Anda di halaman 1dari 21

Bangunan Penangkap Mata Air (Broncaptering)

A. Ketentuan Umum
a. PMA harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
- Sarana PMA sesuai dengan spesifikasi teknis
- Mengikuti petunjuk pelaksanaan pemeliharaan
- Terjaminnya kontinuitas air minum
b.Penyelenggara harus mengikuti ketentuan sebagai berikut:
- Satu orang yang telah mendapat pelatihan;
- Mendapat persetujuan dari anggota kelompok pemakai air;
- Sesuai dengan ketentuan tentang bentuk organisasi penyelenggara yang diterbitkan oleh departemen yang
mengurusi masalah air atau departemen yang mengurusi pemerintahan.
B. Ketentuan Teknis
a. Peralatan harus memenuhi ketentuan
b.Perlengkapan harus sesuai dengan spesifikasi teknis.
c. Bahan yang dipakai harus sesuai dengan spesifikasi teknis.
Bangunan Pengambil Air Baku dari Air Tanah
(Sumur)
A. Ketentuan Umum
Ketentuan umum merupakan aspek hukum berupa persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi apabila akan
memanfaatkan sumber air tanah. Persyaratan-persyaratan tersebut meliputi peraturan perundang-undangan yang
mengatur penggunaan air tanah. Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Di daerah perencanaan dan sekitarnya setelah dilihat pada peta hidrogeologi, pendugaan geolistrik, pengamatan-
pengamatan pada sumur yang ada dan hasil pengeboran/penggalian menunjukkan adanya air tanah yang berpotensi
dengan kontinuitas yang mencukupi untuk suatu kebutuhan. Pemanfaatan air tanah harus mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Membuat perijinan kepada Kepala Daerah Provinsi dan Kepala Daerah Kabupaten/Kota c.q. Instansi yang berwenang
mengelola air tanah dan mendapat persetujuan secara tidak memaksa dari pemilik tanah dimana terdapat air tanah
potensial.
c. Pemanfaatan air tanah tidak mengganggu pertanian dan harus dikonfirmasikan kepada Dinas terkait (khusus
pemanfaatan air tanah dangkal).
B. Ketentuan Teknis
Ketentuan teknis merupakan uraian teknis berupa tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan apabila akan
merencanakan bangunan pengambilan sumber air tanah. Pada bagian berikut akan dibahas mengenai jenis-jenis air
tanah, dasardasar perencanaan dan metode perhitungan debit.
Jenis-Jenis Air Tanah
1) Air Tanah:
• Air Tanah Bebas (Air Tanah Dangkal) adalah air tanah yang terdapat di dalam suatu lapisan pembawa air
(akuifer) yang di bagian atasnya tidak tertutupi oleh lapisan kedap air (impermeable). Tipe air tanah bebas
atau dangkal ini seperti pada sumur-sumur gali penduduk.
• Air Tanah Tertekan (Air Tanah Dalam) adalah air tanah yang terdapat di dalam suatu lapisan pembawa air
(akuifer) yang terkurung, baik pada bagian atas maupun bagian bawahnya oleh lapisan kedap air
(impermeable). Tipe air tanah tertekan ini umumnya dimanfaatkan dengan cara membuat bangunan
konstruksi sumur dalam.
2. Sungai Bawah Tanah adalah aliran air melalui rongga atau celah yang berada di bawah permukaan tanah
sebagai akibat tetesan/rembesan dari tanah di sekelilingnya. Pemanfaatan sumber air ini biasanya dengan
bangunan bendung bawah tanah.
Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pengambilan Air Tanah
1) Survei
a. Pengumpulan informasi mengenai fluktuasi muka air sumur dangkal dan kualitas airnya.
b. Pengumpulan informasi dan melakukan pengukuran kedalaman sumur dangkal.
c. Melakukan uji kemampuan sumur (pumping test) untuk sumur dangkal maupun sumur dalam
d. Melakukan pengukuran geolistrik tahanan jenis apabila diperlukan pada daerah perencanaan yang
dimaksudkan:
• Untuk mengetahui pola aliran air tanah yang terdapat pada lapisan-lapisan akuifer yang terdapat di
bawah permukaan serta jumlah air tanah yang terdapat pada lapisan-lapisan akuifer tersebut (secara
tentatif).
• Untuk mengetahui tatanan/pola intrusi dari air laut (apabila daerah studi terletak dekat pantai).
• Untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer yang masih dapat diproduksi, sehingga di
dalam menentukan kedalaman penyebaran air tanah dalam dapat diantisipasi dengan baik secara
ekonomis.
• Untuk tujuan perencanaan pembuatan sumur dalam yang akurat (Exploration/Production Well).
e. Membuat sumur percobaan dan melakukan uji pemompaan sehingga dapat diketahui kapasitas sumur
(angka permeabilitas).
2) Investigasi
a. Pengumpulan peta geologi dan hidrogeologi skala 1:25.000. Peta ini dapat diperoleh dari Direktorat
Geologi, serta data geolistrik di daerah tersebut.
b. Survei dan pengumpulan data sumur yang ada baik sumur dangkal (Shallow Well) atau sumur dalam (Deep
Well) di daerah perencanaan.
c. Pengumpulan data mengenai litologi atau geologi di daerah perencanaan dan data-data teknis sumur dalam
yang sudah ada meliputi:
• Bentuk dan kedalaman sumur termasuk diameter dan bahan yang digunakan.
• Susunan saringan yang terpasang.
Lanjut……
• Data pengeboran dan data logging.
• Data uji pemompaan (pumping test).
d. Mengambil contoh air tanah dari sumur yang sudah ada dan yang mewakili untuk dianalisis kualitasnya.
3) Perhitungan Potensi Air Tanah
1. Perhitungan Potensi Air Tanah Berdasarkan Uji Pemompaan.
a. Pemompaan Sumur Dangkal. Uji pemompaan ini bertujuan untuk mengetahui harga permeabilitas atau
harga kemampuan suatu lapisan akuifer untuk meluluskan air, tes ini dilakukan pada suatu sumur dengan
prosedur ditentukan sebagai berikut:
• Air yang terdapat pada sumur dangkal dicatat tinggi muka airnya kemudian dilakukan pemompaan
dengan kapasitas 0,5 L/detik. Konstan, selanjutnya air dipompa sampai kondisi airnya tidak
memungkinkan lagi untuk dipompa lebih lanjut (air tanah dangkal dengan debit kecil).
• Selisih tinggi muka air sebelum dipompa dan muka air setelah dipompa diukur kemudian harga
permeabilitas (k) dihitung dengan rumus sebagai berikut:
b. Pemompaan Sumur Dalam
Prosedur pekerjaan uji pemompaan sumur dalam:
1. Step Draw Down Test
• Kapasitas pemompaan bertahap dari 2,5 liter/detik, 5 liter/detik, 10 liter/detik dan seterusnya.
• Tiap tahap lamanya 2 jam atau lebih.
Prosedur pengukuran:
Sebelum pompa dijalankan, muka air statis di dalam sumur harus diukur dan dicatat. Pada saat mulai
dilakukan pemompaan, maka besarnya debit pemompaan diatur seteliti mungkin sesuai dengan yang
dikehendaki. Setelah ditentukan kapasitas pemompaan, maka air dalam sumur akan diukur tiap 1 menit
selama 5 menit, tiap 5 menit antara 5 sampai 60 menit, kemudian tiap 10 menit antara 60 – 100 menit.
Setelah tahap pertama pemompaan uji selesai dilakukan, maka kapasitas pemompaan dinaikkan ke tahap
pemompaan berikutnya dan prosedur pengukuran sama dengan tahap yang pertama tersebut.
2. Time Draw Down Test
• Kapasitas pemompaan besar 2,5–5 liter/detik atau tergantung pada pertimbangan teknis dari step test
maksimum yang dapat dipakai.
• Lamanya test 1 x 24 jam.
Tinggi muka air dalam sumur diukur, kemudian Untuk waktu 2 jam pertama, agar diikuti cara pengukuran
seperti pada step draw down test, kemudian pengukuran tinggi muka air di dalam sumur selanjutnya
dilakukan tiap selang 30 menit sampai 1 x 24 jam harus teris menerus.
3. Recovery Test
Segera setelah time draw down selesai dan pada saat pompa berhenti, maka pelaksanaan recovery test
segera dimulai. Selama 15 menit pertama pengukuran terhadap kambuhnya muka air di dalam sumur
dilakukan setiap selang 1 menit. Selama 2 jam berikutnya, pengukuran muka air dilakukan tiap selang 30
menit. Tes ini terus dilakukan sampai muka air kembali sama seperti sebelum dimulai time draw down
test di atas.
c. Evaluasi dan Analisa Data Uji Pemompaan
 Data Hidrologi
Q = Debit Pemompaan
S = Penurunan muka air tanah/draw down
(m) k = Koefisien permeabilitas (m/det)
b = Ketebalan akuifer yang disadap (m)
t = Waktu pemompaan (menit)
s = Selisih s dalam satu siklus logaritma dalam t
 Data Sumur
Persyaratan yang harus dipenuhi:
Debit tidak melebihi kapasitas pompa yang sesuai dengan diameter sumur.
- Pumping water level tidak lebih rendah dengan ratarata permukaan air laut untuk akuifer di daerah pantai.
- Kecepatan masuk air ke saringan tidak lebih dari 3 cm/detik atau sesuai persyaratan yang dikeluarkan oleh
pabrik.
- Permukaan air dinamis pemompaan tidak akan melebihi posisi bagian atas.
Cara perhitungan Teoritis dapat dipergunakan rumus SICHARDT:

2. Perhitungan Potensi Air Tanah Berdasarkan Data


a. Data yang diperlukan:
• Data hujan bulanan dan hari terjadinya hujan;
• Data klimatologi meliputi temperatur udara, penyinaran matahari, kelembaban udara, kecepatan angin;
- Data daerah tangkapan air (catchment area) (peta topografi);
• Data tata guna tanah;
• Data ketinggian stasiun klimatologi dan posisi lintangnya.
b. Metode perhitungan
• Curah Hujan (mm)
Curah hujan bulanan dilakukan analisa frekuensi dengan probabilitas tertentu.
• Evapotranspirasi (mm)
Beberapa metoda yang dapat dipergunakan dalam perhitungan evapotranspirasi adalah: Metode
Thornwaite , Metode Blaney – Gridle, Metode Hargreves dan Metode Penman.
Metode Thornwaite
PET = c . T4 (cm/bulan)
Gambaran Daerah Aliran Sungai/DAS (Watershed) Model F.J. Mock
PET = potensi evapotranspirasi dalam cm untuk 30 hari dengan lama penyinaran matahari 12 jam/hari.
T = temperatur rata-rata bulan dalam °C
C & a = koefisien tahunan heat indeks i.
i adalah merupakan penjumlahan dari heat indeks i bulanan selama 12 bulan.
𝑡
i ditentukan dengan rumus 𝑖 = 𝑥 1,514
5

Untuk koefisien a diselesaikan dengan: a = 675. 10-9i3 – 771.10-7.i2 + 1792.10-5 + 0,49239


Maka rumus umum diatas menjadi:
Metode Blaney – Gridle
PET = K.p (0,4572.t + 8,128) (mm/bulan)
K = koefisien consumtive use yang tergantung dengan tipe dan tempat tumbuh-tumbuhan
t = temperatur rata-rata bulanan
P = prosentase jumlah day time hour dalam tahunan (lihat tabel 14 pada Lampiran A)
K = 0,8 untuk daerah yang dekat pantai
= 0,6 untuk daerah kering
= 0,75 untuk daerah tropis
Metode Hargreves
Ev = 17,4 .D. Tc (1,0 – Hn)
D = koefisien monthly day time (lihat tabel 15 pada Lampiran A)
Ev = evaporasi class A pan per bulan dalam mm
Tc = temperatur rata-rata bulanan
Hn = kelembaban udara pada lewat tengah hari
Setelah masukan jumlah kelembaban udara, angin, sinar matahari dan tinggi lokasi stasiun, maka rumus
menjadi:
Ev = 17,4 . D . Tc . FH . Fw . Fs . FE
Harga-harga FH, Fw, Fs, dan FE dihitung dengan rumus:
FH = 0,59 – 0,55 Hn2
Hn = rata-rata kelembaban udara
Fw = 0,75 ÷ 0,0255 Wkd
Wkd = kecepatan angin dalam km/hari
FW = 0,75 ÷ 0,125 Wkh
Wkh = kecepatan angin dalam km/jam
FS = 0,478 ÷ 0,585
S = sinar matahari dalam %
FE = 0,950 ÷ 0,0001 E
E = tinggi lokasi dalam m
PET = k. Ev
K = faktor pertumbuhan (lihat tabel 16 pada Lampiran A)
Metode Penman

PET = potensi evapotraspirasi dalam mm/hari


IgA = maksimum solar radiasi dalam cal/cm2
a = albedo untuk penguapan permukaan
h = pengukuran lamanya sinar matahari pada pos dalam jam dan persepuluhan
δ = konstanta dari Stefon – Boltzman
ô = 1,18. 10-7 Cal/Cm2/hari°K
T = temperatur udara dalam °K
C = pengukuran water vapor pressure dalam mb
Cw = tekanan uap air maksimum (maximum water vapor pressure) dalam T
FT = hubungan tekanan uap jenuh (saturation vapor pressure) dalam kemiringan kurva temperature
(slope of the curve temperature) T
ɤ = konstanta psychometric untuk tekanan udara 15 mb, kira-kira 0,65
V = kecepatan angin dalam m/detik, untuk ketinggian 2 m
Untuk perhitungan rumus Penman diperlukan datadata:
– Temperatur rata-rata harian
– Albedo yang diperkirakan:
• Daerah pasir 0,26
• Daerah batu 0,16
• Daerah hutan 0,11
• Daerah semak 0,22
• Tumbuh-tumbuhan hijau 0,20
• Permukaan air 0,5
– IgA (lihat tabel 17 pada Lampiran A)
– H (lihat tabel 18 pada Lampiran A)
– (0,56 – 0,08 √e (lihat tabel 19 pada Lampiran A)
– (ôT4) (lihat tabel 20 pada Lampiran A)


– (ew – e) (lihat tabel 23 pada Lampiran A dengan fungsi T)
– ew – e = ew (1 – V/100)
ew = tekanan uap air maksimum (maximum water vapor pressure) pada temperatur T
• Soil Moisture (kelembaban tanah) (mm)
Kelembaban tanah tergantung kondisi tanah di lapangan maksimal 200 mm.
• Infiltrasi I = i x S i = 0,1 – 0,6
s = surplus terjadi bila kelembaban tanah telah mencapai maksimum.
• Ground Water Storage (GWS)
GWS = 0,5 ( 1 ÷ K ) I ÷ K x V (n-1)
0,5 ( 1 ÷ K ) I → pengaruh bulan saat ini
K x V(n-1) → pengaruh bulan sebelumnya
K = koefisien dari pengaliran air tanah
I = infiltrasi
• Perubahan Tampungan Air Tanah (DELV)
DELV = Vn = Va – V(n-1)
4) Analisis Kualitas Air
Analisis kualitas air bertujuan untuk mengetahui kondisi fisik, kimiawi, dan kondisi biologis air baku yang
nantinya dipergunakan untuk merencanakan sistem pengolahan air. Untuk keperluan perencanaan
konstruksi bangunan pengambilan air tanah, maka analisa kualitas air dimaksudkan untuk mengetahui
kondisi fisik yaitu jumlah zat padat terlarut/kadar sedimentasi air tanah, sehingga dapat dipergunakan
sebagai dasar untuk merencanakan sistem sedimentasi bangunan pengambilan.
5) Persyaratan Konstruksi Sumur
- Lokasi sumur harus aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar, sehingga harus dilengkapi
dengan pagar keliling.
- Bangunan pengambilan air tanah dapat dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis.
- Dimensi sumur harus memperhatikan kebutuhan maksimum harian.
6) Bangunan Pengambilan Air Tanah
Upaya untuk mendapatkan air tanah ditempuh dengan cara membuat lubang vertikal pada tanah/batuan di
daerah yang mempunyai potensi ketersediaan air tanah. Usaha untuk mendapatkan air tanah tersebut dapat
dilakukan dengan teknologi sederhana (menggali tanah hingga ditemukan air tanah sesuai dengan
kebutuhan), dengan teknologi menengah (melubangi tanah/batuan dengan bantuan peralatan mekanik
ringan hingga mencapai kedalaman, sesuai yang dikehendaki agar didapatkan air), dengan teknologi tinggi
(melubangi tanah/batuan dengan bantuan peralatan mekanik berat hingga mencapai kedalaman sesuai yang
dikehendaki agar didapatkan air dalam jumlah yang maksimal, selanjutnya dilakukan pengujian logging; uji
pemompaan (pumping test); konstruksi dan pembersihan sumur, sehingga air yang didapatkan akan
maksimal dengan kualitas yang cukup baik).
Bentuk bangunan pengambilan dapat terbuat dengan beberapa bahan, hal ini tergantung sekali pada:
- Cara pengambilan (dengan pompa/dengan timba).
- Kemudahan dalam pembuatan/konstruksi (dengan menggali/pengeboran) dan Kondisi
hidrologi/hidrogeologi.
Penentuan Tipe Bangunan Pengambilan Air Tanah didasarkan pada beberapa faktor antara lain:
- Faktor geologi dan hidrogeologi daerah yang berhubungan dengan pola akuifer dan potensi air tanahnya.
- Faktor kemudahan dalam pelaksanaannya dan Faktor kuantitas/jumlah air yang diinginkan, termasuk
kualitasnya.
Menurut kedalamannya, bangunan pengambilan air tanah dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Sumur Dangkal. Kedalaman sumur dapat ditentukan setelah dilakukan pengganlian, pada saat penggalian
sudah ditemukan adanya genangan air didalam lubang sumur dan tidak memungkinkan dilakukan penggalian
lebih lanjut, maka pelaksanaan penggalian dihentikan.
2. Sumur Dalam. Kedalaman sumur dalam dapat ditinjau dengan 2 cara:
Pertama, secara kasar yaitu dari hasil pembacaan survei geolistrik dapat diperoleh ionformasi data nilai tahanan
jenis batuan yang dapat ditransformasi menjadi ketebalan lapisan akuifer secara tentative dan letak
kedalamannya.
Kedua, secara detail; yaitu dengan membuat sumur uji, sehingga dapat diperoleh ketebalan lapisan akuifer,
koefisien kelulusan akuifer dan letak kedalaman akuifer potensian. Kedalaman sumur dapat ditetapkan dengan
mengakumulasi serapan total akuifer terhadap debit yang dibutuhakan.
Pertimbangan pemilihan bangunan pengambilan air tanah adalah sebagai berikut:
1. Sumur Dangkal
- Secara umum kebutuhan air di daerah perencanaan kecil.
- Di daerah perencanaan potensi potensi sumur dangkal dapat memenuhi untuk mencukupi kebutuhan air
bersih daerah perencanaan (dalam kondisi akhir musim kemarau/kondisi kritis)
2. Sumur Dalam
- Secara umum kebutuhan air di daerah perencanaan cukup besar.
- Potensi sumur dalam dapat mencukupi kebutuhan air bersih di daerah perencanaan, sedangkan kapasitas
air tanah dangkal tidak memenuhi.
Perlengkapan-perlengkapan yang terdapat pada konstruksi bangunan pengambilan air tanah:
1) Sumur Dangkal
- Ring beton kedap air
- - Ring beton dengan saringan/perforasi
- - Tutup sumur dilengkapi dengan tutup lubang pemeriksaan (manhole), pipa outlet pompa, lubang udara
dan lubang tempat kabel
- - Tangga turun
- - Penyekat kontaminasi dengan air permukaan
2. Sumur Dalam
- Pipa jambang/pump house casing
- Pipa buta/blank pipe casing
- Pipa observasi/piezometre
- Packat socket/reducer
- Tutup sumur dilengkapi dengan pipa outlet pompa dan lubang tempat kabel.
- Soket Penutup (Dop socket)
- Baut kerikil/gravel for filter packing
Penentuan Dimensi Hidrolis
1) Sumur Dangkal
Dimensi hidrolis sumur dangkal adalah diameter sumur dan lubang inlet (perforated) yang besarnya dapat
ditentukan sesuai kebutuhan. Untuk diameter efektif sumur direncanakan antara 1-2 m, hal ini dimaksudkan
untuk mempermudah dalam pelaksanaan penggalian. Sedangkan diameter dan banyaknya lubang inlet
ditentukan dengan melihat besarnya kelulusan akuifer, ketebalan air tanah (diukur dari muka air tanah sampai
batas bawah bangunan pengambilan) dan debit yang akan dimafaatkan dengan persamaan:
Q = k. Sr. W Dimana: Q = debit air; k = koefisien permeabilitas;
Sr = jari-jari sumur; w = tinggi penurunan air setelah dipompa.
2) Sumur Dalam
Sumur dalam yang dikonstruksi secara sempurna terdiri dari:
- Pipa jambang/pump house casing
- Pipa buta/Blank pipe casing
- Pipa saringan/screen
- Pipa observasi/pump house casing.
Penentuan Struktur Sumur
1) Sumur Dangkal
Struktur bangunan pengambilan air tanah dangkal yang umum digunakan adalah konstruksi beton bertulang yang
berbentuk lingkaran (ring). Ring beton dibuat dengan panjang 0,5-1 meter untuk tiap-tiap ruas dengan ketebalan
ring antara 10-15, hal ini tergantung dari diameter ring beton yang akan digunakan. Ring beton pada ruas bagian
bawah dibuat dengan melubangi (perforate) pada dinding-dindingnya dan pada bagian ujung tiaptiap ring dibuat
berbentuk male dan female, sehingga antara satu ring beton dengan lainnya dapat disusun secara mengikat.
2) Sumur Dalam
(a) Pipa Jambang. Bahan untuk pipa jambang adalah pipa baja atau bahan lain seperti PVC, fiberglass dan GIP
atau yang sejenis dengan spesifikasi mampu untuk menahan tekanan dari dinding tanah/batuan. Pipa jambang
dibuat muncul minimal 50 meter di atas lantai beton pengaman.
(b) Pipa Saringan. Tipe pipa saringan atau screen adalah wire wound continuous slot on rod base yaitu berbentuk
kawat yang melingkar pada penyangga (rod base) dengan jarak antar kawat yang sama.
Pipa saringan mempunyai syarat teknis sebagai berikut:
- open area atau bukaan 20-40 %, tergantung jenis material pada akuifer.
- Jumlah rod base 20-36 buah kawat penyangga.
- Tebal kawat yang umum dipakai berkisar antara 2-2,5 mm.
(c) Pipa Buta Bahan untuk pipa buta adalah pipa baja atau bahan lain seperti PVC, fiberglass GIP atau yang sejenis
dengan spesifikasi mampu untuk menahan tekanan dari dinding tanah/batuan
Sungai Bawah Tanah (Underground River)
Umumnya sungai bawah tanah dijumpai pada daerah topografi karst. Secara fisik aliran sungai bawah tanah
termasuk aliran air tanah melalui akuifer beberapa rongga/celah, sebagai akibat pelarutan batu gamping koral,
sehingga lama kelamaan terbentuk suatu alur/sungai yang berfungsi sebagai pengering lingkungan sekitarnya.
1) Suplesi Sungai Bawah Tanah
(a) Pada saat tidak ada hujan (musim kemarau), sungai bawah tanah mengalirkan air yang berasal dari tetesan
dan rembesanrembesan air tanah yang terdapat disekitarnya. Stalaktitstalaktit yang banyak dijumpai pada
atap gua-gua batu gamping, merupakan bukti dari tetesan-tetesan tersebut.
(b) Pada saat turun hujan, selain mengalirkan air yang berasal dari tetesan-tetesan atau rembesan-rembesan
sungai bawah tanah, juga menerima pasokan dari luar/air hujan yang mengalir masuk ke dalam tanah
melalui lobang-lobang pemasukan (Sink Hole).
(c) Suplesi dari dasar sungai umumnya tidak ada, karena dasar sungai berupa lapisan batuan-batuan lain yang
bersifat kedap air (impermeable).
Dari uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa pada daerah topografi karst umumnya terdapat akuifer air
tanah tak tertekan (akuifer bebas) berupa rongga celah yang terbentuk sebagai akibat pelarutan sekunder. Air
tanah yang mengalir melalui alur rongga/celah berkembang menjadi aliran air tanah yang dikenal dengan nama
sungai bawah tanah.
2) Sifat-sifat lain pada morfologi:
- Sifat aliran sungai umumnya berfluktuasi, akibat perbedaan musim. Pada musim hujan aliran cukup besar
dan tebal, namun pada musim kemarau umumnya aliran kecil dan tipis.
- Batuan dasar sungai bawah tanah umumnya berupa satuan batuan yang bersifat kedap air (impermeable)
dan tidak mudah larut.
3) Bangunan Pengambilan:
- Bendung (dengan bangunan penyadap bebas atau free intake)
- Tyroll (dialirkan ke tepi)
- Sumuran/cekungan di dalam tubuh sungai
5.1.2.3 Bangunan Saringan Pasir Lambat Perencanaan teknis bangunan pasir lambat dilaksanakan sesuai SNI
03-3981-1995 tentang Tata Cara Perencanaan Instalasi Saringan Pasir Lambat.

5.1.2.4 Instalasi Pengolahan Air Minum Konvensional Perencanaan teknis instalasi pengolahan air minum
konvensional (lengkap secara proses) sesuai SNI 19-6774-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Unit Paket
Instalasi Penjernihan Air.