Anda di halaman 1dari 57

SUPPOSITORIA

Presented by:
Dra. Yetri Elisya, M.Farm, Apt 1
SUPPOSITORIA
Yaitu : sediaan melalui dubur, saluran urine,
vagina, melebur, melunak dan
melarut dalam lubang badan.

SEJARAH
Pengobatan melalui rektal digunakan pada
masa lampau di daerah Mesir, India, dan
Mesopotamia.
Pada abad ke 19 akhir, dasar pengetahuan
secara ilmiah pengobatan melalui rektal
mulai dikembangkan.
2
Keuntungan :
1. Untuk pengobatan lokal pada rectum, vagina,
urethra mis. dalam hal wasir, infeksi dll
2. sebagai alternatif bila oral tidak bisa mis.
pada bayi, pasien debil (lemas,tak bertenaga),
muntah-muntah, gangguan system pencernaan
(mual, muntah), kerusakan sal.cerna
3. obat lebih cepat bekerja, karena absorpsi obat
oleh selaput lendir rectal langsung ke sirkulasi
pembuluh darah.
4. untuk mendapatkan “prolonged action”(obat
tinggal ditempat tsb untuk jangka waktu yang
dikehendaki)
5. untuk menghindari kerusakan obat pada sal.cerna.
Kekurangan
•Untuk pasien tidak menyenangkan.
•Absorpsi obat sering tidak beraturan dan sukar
diprediksi. 3
IRITASI DAN KERUSAKAN REKTAL
Aplikasi obat rektal jangka panjang telah dilaporkan
menyebabkan iritasi, pendarahan rektal, rasa sakit,
dan bahkan ulserasi (luka pada mukosa).
Suppositoria Ergotamine tartrat yang digunakan pada
kisaran dosis 1,5 sampai 9 mg selama periode antara
1 dan 8 tahun dapat menghasilkan kerusakan rektal,
mungkin karena iskemia mukosa yang dihasilkan oleh
alkaloid. Ulserasi (luka) rektal dan stenosis
(penyempitan) juga telah dilaporkan pada pasien yang
menggunakan supositoria mengandung
dextropropoxyphene, parasetamol, aspirin, kafein,
carbromal, bromisoval, dan kodein phosphate.
Kerusakan rektal muncul hanya terjadi setelah
penggunaan suppositoria setiap hari dalam jangka
panjang dan aspirin, ergotamine dan parasetamol
tampaknya yang penjadi penyebab masalah paling
4
umum.
MACAM-MACAM SUPPOSITORIA
1. Rektal Suppositoria  rectal (anus) dg tangan
Bentuk : peluru, panjang + 32 mm (1,5 inci)
Berat : dewasa = 3 g, anak = 2 g
Bentuk ini memberi keuntungan :
bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur,
maka suppos akan tertarik masuk dengan sendirinya.
2. Vaginal Suppositoria = Ovula = Pessary
 vagina dengan alat
F.I.III : sediaan padat yang digunakan melalui vagina, umumnya
berbentuk telur, melarut, melunak, meleleh pada suhu tubuh.
Bentuk : bola lonjong atau kerucut
Berat : 3-6 g, umumya = 5 g
3. Urethral Suppositoria = Bacilla = Bougies
 urethra (sal.kemih)
Bentuk : batang
♂ : p + 140 mm, d = 3,6 mm, berat = 4 g
♀ : p + 70 mm, d = 1,5 - 3mm, berat = 2 g
5
Macam-macam bentuk suppos :

Torpedo peluru kerucut bulat batang

6
OBAT-OBAT YANG DAPAT
DIBERIKAN SECARA REKTAL

7
ANALGESIK DAN ANTIARTHRITIS
Pemberian oral narkotika analgesik dalam pengobatan
nyeri pasca operasi dan kanker sering dibatasi oleh
mual dan muntah, atau kondisi pasien yang lemah.
Studi menunjukkan bahwa morfin yang diberikan
secara rektal memiliki bioavailabilitas yang bervariasi
jika dibandingkan dengan injeksi intramuskular, 30-
70% bila diberikan dalam gel mengandung-pati dan
40-88% dari lemak supositoria yang keras.
Meningkatnya pH micro enema morfin rektal dari 4,5
ke 7,4 secara signifikan meningkatkan laju absorpsi.
Hidrogel juga telah digunakan untuk berhasil
menghantarkan morfin, menghasilkan konsentrasi
plasma yang lebih rendah dan lebih berkelanjutan
daripada morfin intramuskular yang diberikan sesuai
permintaan.
8
SENYAWA ANTIBAKTERI

Metronidazole digunakan secara luas dalam


pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri
anaerob. Untuk alasan praktis dan ekonomis,
beberapa upaya telah dilakukan untuk
mengembangkan formulasi metronidazole
rektal.
Suspensi berair diabsorpsi dengan cepat,
tetapi tidak sempurna.

9
XANTIN
Absorpsi Teofilin dari larutan rektal mirip
dengan absorpsi dari larutan oral, dan
umumnya terjadi dengan cepat dan secara
sempurna. Namun, absorpsi dari supositoria
dapat bervariabel dan tidak lengkap.
Menariknya, teofilin diabsorpsi dengan baik
ketika dihantarkan dalam perangkat
penghantaran rektal osmotik, meskipun fakta
bahwa tingkat air yang tersedia di rektum
sangat rendah.

10
Faktor-2 yang mempengaruhi absorpsi :
1. Fisiologis
- kandungan kolon (isi penuh, abs kurang
- jalur sirkulasi :
plasma protein

rectum darah cairan jaringan

supp metabolisme obat urin


(first past effect)

pH serta tidak adanya kemampuan mendapar dari cairan


rectum.

2. Faktor fisika, kimia dari obat dan basis.


kelarutan obat
ukuran partikel
11
sifat basis
Faktor yang Mempengaruhi
Absorpsi Obat dari Rektum
A. Faktor Fisiologi
• Isi Kolon  obat akan mempunyai kemungkinan
untuk diabsorpsi lebih besar ketika rektum dalam
keadaan kosong. Untuk tujuan ini diberikan
enema sebelum penggunaan obat melalui rektal.
• Rute sirkulasi  jika obat diabsorpsi dari
pembuluh darah hemorrhoidal akan langsung
menuju vena cava inferior, sehingga absorpsi
akan cepat dan efektif.
• pH dan minimnya kapasitas buffer cairan rektal 
pH cairan rektal 7-8 dan tidak memiliki kapasitas
buffer yang efektif.

12
B. Faktor Fisika Kimia Obat
• Kelarutan dalam lipid-water  obat lipofil
jika diberikan dengan basis lemak tidak
dapat dikeluarkan dengan mudah,
sehingga absorpsi obat terganggu.
• Ukuran partikel  semakin kecil partikel
semakin besar kelarutannya.
• Sifat basis  jika basis berinteraksi
dengan obat atau mengiritasi membran
mukosa akan menurunkan absorpsinya.
Khususnya pada kasus-kasus
suppositoria.

13
Waktu yang terbaik memakai suppositoria :

a. sesudah defaecatio untuk suppos


anal (rectal), untuk menghindari
obat dikeluarkan terlalu cepat
bersama faeces sebelum sempat
bekerja.
b. malam sebelum tidur, penderita dalam
posisi telentang untuk menghindari
melelehnya obat keluar rectum /
vagina
14
BASIS SUPPOSITORIA

15
Basis suppositoria harus memiliki sifat-
sifat ideal dibawah ini yaitu ;
Telah mencapai kesetimbangan kristalisasi, dimana
sebagian besar komponen mencair pada temperatur rectal
360 C , tetapi basis dengan kisaran leleh yang lebih tinggi
dapat digunakan untuk campuran eutektikum, penambahan
minyak-minyak, balsam-balsam, serta suppositoria yang
digunakan pada iklim tropis.
Secara keseluruhan basis tidak toksik dan tidak mengiritasi
pada jaringan yang peka dan jaringan yang meradang.
Dapat bercampur dengan berbagai jenis obat.
Basis suppositoria tersebut tidak mempunyai bentuk meta
stabil.
Basis suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada
pendinginan, sehingga dapat dilepaskan dari cetakan tanpa
menggunakan pelumas cetakan
Basis suppositoria tersebut tidak merangsang
16
Basis suppositoria harus memiliki sifat-
sifat ideal dibawah ini Yaitu ;
Basis suppositoria tersebut bersifat membasahi dan
mengemulsi.
“Angka air “ yang tinggi maksudnya jumlah air yang
bisa masuk kedalam basis tinggi.
Basis suppositoria tersebut stabil pada penyimpanan,
maksudnya warna, bau, dan pola penglepasan obat
tidak berubah.
Suppositoria dapat dibuat dengan mencetak dengan
tangan, mesin, atau kompressi.
Jika basis tersebut berlemak, basis suppositoria
memiliki persyaratan tambahan sebagai berikut :
1. “Angka asam” dibawah 0,2.
2. “Angka penyabunan” berkisar dari 200-245
3. “Angka iod” kurang dari 7.
4. Interval antara titik leleh dan titik memadat kecil 17
 Macam basis suppo :
1. Lemak (fatty bases/oil soluble bases)
Ex. : Cocoa butter (theobroma oil/oleum
cacao/lemak biji coklat)
2. Minyak nabati yang terhidrogenasi
Ex. : Trigliserida (palm/coconut oil)
3. Basis larut dalam air
Ex. : PEG
Gelatin-gliserin
4. Surfaktan
Ex. : Tween
Campuran Tween-PEG
18
Basis Oleum Cacao
• Paling banyak digunakan
• Merup. trigliserida dari asam oleat, asam
stearat dan palmitat, warna putih
kekuningan, padat, bau seperti coklat
• Sifat : melunak pada suhu 30˚C, melebur pada
suhu 34˚C
• Pelepasan obat terjadi karena basis
meleleh/melebur pada suhu tubuh sehingga
bahan aktif obat terlepas, sehingga perlu
diperhatikan titik lebur/titik leleh basisnya
• Karena mudah tengik, sebaiknya harus
disimpan dalam wadah/tempat sejuk, kering
dan terlindung cahaya.
19
Kebaikan :
▪ meleleh pada suhu tubuh
▪ bercampur dengan banyak zat
▪ lembut
Kekurangan :
▪ meleleh pada udara panas
▪ mudah tengik, sebaiknya disimpan dalam wadah
sejuk, terlindung cahaya
▪ titik lebur dapat turun atau naik bila ditambah
bahan-bahan tertentu
▪ sering bocor (keluar rectum karena mencair) selama
pemakaian
▪ mempunyai bentuk polimorphi dari bentuk kristalnya
karena pemanasan tinggi
▪ tidak menyerap air (tidak dapat bercampur dengan
sekresi)
20
Bentuk-bentuk kristal ol.cacao :
1. α : terjadi bila lelehan Ol.Cacao tadi didinginkan
segera. Memp.titik lebur 240.
2. β : tjd bila lelehan Ol.Cacao di-aduk2 pada 18 – 23oC.
Memp.titik lebur 28-310
3. γ : tjd pendinginan lelehan ol.cacao yang sudah dingin
(20oC) . Memp.ttk lebur 18o.
4. β-stabil : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk
disertai kontraksi volume.
Titik lebur 34-35o dapat dipakai sbg dasar suppos.
Di atas titik leburnya, ol.cacao akan meleleh sempurna
seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil
yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.
Jika didinginkan di bawah suhu 15oC, akan
mengkristal dalam bentuk kristal metastabil. Agar
mendapatkan suppositoria yang stabil, maka
pemanasan sebaiknya dilakukan sampai cukup
meleleh saja sampai dapat dituang, sehingga tetap
mengandung inti kristal dari bentuk satbil.
21
Bentuk-bentuk yang tidak stabil dapat
dihindari dengan cara :
a. Ol.cacao tidak dilelehkan seluruhnya,
cukup 2/3 saja yang dilelehkan.
b. Penambahan sejumlah kecil bentuk β-
stabil ke dalam lelehan ol.cacao untuk
mempercepat perubahan bentuk tidak
stabil menjadi stabil
c. Pembekuan lelehan selama beberapa
jam / hari.
Beberapa bahan obat dapat
menurunkan titik lebur ol.cacao.
22
- Untuk meninggikan titik lebur ol.cacao
digunakan Cera 2-6% atau Cetaceum
(Spermaseti) 12% sehingga
menyebabkan titik lebur ol.cacao 37oC.
Jika bahan obatnya merupakan larut
dalam air, perlu diperhatikan bahwa
ol.cacao sedikit menyerap air, maka
dengan penambahan Cera flava dapat
juga menaikkan daya serap lemak coklat
terhadap air.

23
Problema inkompatibilitas :
 Menurunkan titik lebur ol. Cacao : bahan obat yang larut
dalam minyak (chlorathidrat, kamfer, kreosot, fenol, salol)
Solusi :
- ditambahkan wax (cera) 4-6% dari bobot ol. cacao
- ditambahkan cetaceum 18-28% bobot ol.cacao
 Menaikkan titik lebur ol. Cacao : Ag Nitrat, Pb Asetat
Pengatasan : + beberapa tetes Peanut oil (minyak
kacang)
 Bahan yang tidak mau campur dengan basis ol.cacao :
ekstrak, ichtamol
Solusi :
- ditambah solven, saat penambahan ekstrak kental
ditambah alkohol dulu sampai mencair baru
dicampur dengan basisnya
- penambahan ichtamol jangan pada keadaan panas
(kalau terlalu panas akan memisah)
24
Basis larut dalam air (PEG/poli etilen glikol)

 Kosistensinya tergantung BM (BM


tinggi/rantai panjang bentuknya padat, BM
rendah/rantai pendek bentuknya cair)
 Perlu campuran berbagai PEG (padat dengan
cair) agar didapatkan basis yang baik
 Pelepasan obat terjadi jika obat melarut
dalam cairan rektal, sehingga perlu
memperhatikan BM nya karena BM
mempengaruhi kelarutan

25
- Keuntungan :
▪ tidak mengiritasi
▪ dapat disimpan diluar lemari es
▪ tidak ada kesulitan dengan titik leburnya
dibanding ol.cacao
▪ tetap kontak dengan lap. mukosa karena tidak
meleleh pada suhu tubuh
- Kerugian :
▪ PEG menarik cairan dari dalam tubuh setelah
dimasukkan, sehingga terjadi rasa menyengat.
Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan
suppos ke dalam air sebelum digunakan
 F.I pd etiket : “basahi dengan air sebelum
digunakan”
▪ lama memberi efek obat dibanding ol.cacao,
karena pada ol.cacao cepat meleleh, maka obat
terlepas dan diabsorpsi, sedang basis PEG
harus larut dulu baru obatnya dapat diabsorpsi.
26
Problema inkompatibilitas :
 Dengan obat yang dapat melunakkan/mencairkan :
asam salisilat, fenol, asam tannat
 Bila dicampur dengan obat yang mengandung
antibiotik akan mengurangi aktivitas beberapa
antibiotik : penicillin, bacitracin
 Mengurangi efektivitas preservative (bahan
pengawet) karena PEG dapat membentuk
kompleks dengan preservativenya:
Gol. Paraben (metil paraben/nipagin)
PEG digunakan untuk suppo :
- Sulfonamid
- Aminofilin
- Chloralhidrat
- Barbiturat sodium 27
- Dalam perdagangan terdapat :
▪ PEG 400 (carbowax 400)
▪ PEG 1000 (carbowax 1000)
▪ PEG 1500 (carbowax 1500)
▪ PEG 4000 (carbowax 4000)
▪ PEG 6000 (carbowax 6000)
 PEG dibawah 100 adalah cair,
sedang diatas 1000 adalah padat
lunak seperti malam.
28
Contoh basis PEG :
 PEG 8000 50%
PEG 1540 30%
PEG 400 20%
(dapat digunakan secara umum)
 PEG 3350 60%
PEG 1000 30%
PEG 400 10%
(lebih larut/lunak dari pada basis di atas karena BM nya kecil)
 PEG 8000 30%
PEG 1540 70%
(titik lebur tinggi, dipakai untuk obat yang menurunkan titik
lebur ol. Cacao )
 PEG 8000 30% PEG 8000 20%
PEG 400 70% PEG 400 80%
(untuk basis progesteron suppo)
 PEG 8000 60%
PEG 1540 25%
Cetyl alkohol 5%
Aqua 5%
(untuk obat yang larut dalam air) 29
- Pembuatan Suppositoria dengan
PEG dilakukan dengan melelehkan
bahan dasar lalu dituangkan ke
dalam cetakan seperti pembuatan
Suppositoria dengan bahan dasar
lemak coklat, tidak perlu ditambah
paraffin liq, karena terjadi
kontraksi volume (mengkerut)
sehingga mudah lepas dari
cetakannya.
- Berat : 3,9 gram untuk dewasa dan
anak-anak
30
●GLISERIN-GELATIN●
- Merup. bahan dasar suppos paling lama digunakan dan
dapat juga sebagai bahan dasar ovula.
- Tidak melebur pada suhu tubuh, tapi larut dalam sekresi
tubuh.
- Ditambahkan pengawet (nipagin) karena merup.media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
- Penyimpanan harus ditempat dingin.
- Cetakan harus dibasahi dulu dengan paraffin liq
sebelum digunakan
- Cara pembuatan :
Zat aktif (obat) + aqua qs ad 10 bagian +
gliserin, aduk rata + gelatin, aduk rata, panaskan ad
gelatin larut. Tuangkan hasil leburan ke cetakan,
biarkan hingga mengental.
- Berat : dewasa : 4 g, anak-anak = 3 g
- Formula u/ bacilla : gelatin 20, gliserin 10, aqua (+obat)
20.
31
Basis Gelatin-gliserin
 Kebanyakan untuk basis vaginal suppo (ovula)
 Komposisi :
menurut British Ph : Gelatin 14%
Gliserin 70%
Water to 100%
menurut USP : Gelatin 20%
Gliserin 70%
Aqua 10%
 Macam gelatin :
- tipe A : dibuat dengan hidrolisa asam
- tipe B : dibuat dengan hidrolisa alkali (basa)
32
 Problema inkompatibilitas Gelatin:
Obat Gelatin tipe A Gelatin tipe B
Asam borat + Sticky
Ichtamol/Ichtyol Granular +
Ag proteinatum skrinkage +
+ : kompatibel
sticky : pliket, lengket
granular : seperti granul, tidak homogen, berbintik
skrinkage : mengkerut
 Gelatin-gliserin digunakan untuk suppo :
- chloralhidrat
- asam borat
33
- Kebaikan :
▪ efek local cukup lama
▪ lebih lambat melunak
▪ lebih mudah bercampur dengan
cairan tubuh dibanding ol.cacao
- Keburukan :
▪ meyerap air karena gliserin bersifat
higroskopik yang dapat menyebabkan
dehidrasi / iritasi jaringan.
▪ memerlukan tempat yang
melindunginya dari udara lembab
agar terjaga bentuk dan
konsistensinya. 34
Basis surfaktan
• Surfaktan : zat yang dapat menurunkan teg. muka
• Yang dipakai sebagai basis adalah surfaktan yang
non ionik karena tidak terionkan sehingga dapat
campur dengan obat pada range pH yang luas
• Keuntungan :
- tidak toksik, tidak iritasi
- stabil dalam penyimpanan
- kompatibel dengan kebanyakan obat
- tidak larut dalam air tapi dapat terdispersi oleh
cairan tubuh di rektum
Contoh basis surfaktan :
• Tween 61
• Campuran : Tween 61 60%
Tween 60 40%
• Kombinasi : Tween 61 dengan PEG
• Polibase (campuran PEG dan polisorbat 80) 35
Pembuatan Suppositoria
Empat metode yang digunakan dalam
pembuatan suppositoria adalah
– mencetak dengan tangan,
– kompressi,
– mencetak tuang dan
– kompressi pada suatu pres tablet
regular

36
Mencetak dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria
yang telah dicampur homogen dan mengandung
zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-
mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan-
bahan aktif dengan menggunakan lumping dan
mortar, sampai diperoleh massa akhir yang
homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa
digulung menjadi suatu batang silinder dengan
garis tengah dan panjang yang dikehendaki.
Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada
tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu
ujungnya diruncingkan

37
Mencetak kompressi
Hal ini dilakukan dengan mengempa
parutan massa dingin menjadi suatu
bentuk yang dikehendaki. Suatu roda
tangan berputar menekan suatu piston
pada massa suppositoria yang diisikan
dalam slinder, sehingga massa terdorong
kedalam cetakan.
Mesin Pencetak otomatis
Sama proses diatas tetapi menggunakan
mesin secara otomatis melakukan
semuanya.
38
Mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya
diatas penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan yang berlebihan,
kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau
disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa
dituang kedalam cetakan logam yang telah
didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau
nikel.
Untuk GG  cetakan + pelumas (paraffin lig)
Cetakan kalibrasi  membuat suppos
mengandung obat tepat ukuran karena Bj
tidak sama (cacao,PEG).

39
CETAKAN SUPPOS

40
Pengemasan dan penyimpanan :
■ Wadah tertutup rapat 
dibungkus alufoil satu persatu
atau dengan strip plastik 6-12
buah, lalu dikemas dalam dos.
■ Penyimpanan :
– ol. Cacao < 30oF  lemari es
– gelatin gliserin < 35oF  lemari
es
– PEG tanpa pendinginan

41
Beberapa Produk Suppositoria Komersial
• DULCOLAX (bisacodyl)
• CANASA (mesalamine)
• NUMORPHAN (oxymorphane)
• ANUSOL HC (hydrocortisone)
• PANADOL (parasetamol)

42
FORMULASI SEDIAAN
SUPPOSITORIA dan
OVULA

43
FORMULASI SEDIAAN
Tujuan :
SUPPOSITORIA/OVULA
– Mahasiswa dapat membuat sediaan suppositoria dan ovula
dengan metode peleburan dan pencetakan
– Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh eksipien terhadap
karakteristik fisik sediaan suppositoria/ovula
Tugas :
• Membuat sediaan suppositoria dan ovula dengan metode
peleburan dan pencetakan
• Melakukan evaluasi sediaan suppositoria dan ovula,
meliputi; keseragaman bobot, homogenitas, suhu leleh, dan
waktu hancur.
• Zat aktif : Aminofilin, Bisakodil,
Metronidazole, Tetrasiklin
• Bahan tambahan : Cera Flava, Ol. Cacao
FORMULASI /CARA PEMBUATAN :
a. Hitunglah perhitungan bahan yang akan digunakan
b. Tentukan bilangan pengganti bahan aktif terhadap basis
dengan langkah- langkah sebagai berikut :
- Buat 3 suppositoria yang hanya mengandung
basis suppos, timbang, bobot rata ratanya.
- Buat 3 suppositoria terdiri dari 10% bahan
aktif dengan basis yang sama, ditimbang,
dihitung bobot rata ratanya.
- Hitung bilangan pengganti yang
merupakan kesetaraan antara bobot bahan
aktif dengan bobot basis yang digantikan
(volume sama, bobot beda )
c. Siapkan alat dan bahan yang akan di gunakan.
d. Timbang bahan-bahan yang akan di gunakan untuk
membuat bilangan pengganti, lalu campur semua bahan
dalam beaker glass dan siap untuk di lebur di atas
penangas air dalam suhu 600-700C , setelah cukup
mencair cetak dalam cetakan sebelumnya cetakan di olesi
dengan paraffin dan masukkun ke dalam lemari pendingin
hingga beku, lalu ovula yang sudah jadi (beku) timbang
satu per satu dan dibungkus.
e. Timbang bahan-bahan yang akan di gunakan untuk
pembutan ovula sebanyak 20 buah,dan lakukan hal yang
sama dengan cara pembuatan dalam membuat bilangan
pengganti
f. Lakukan evaluasi - evaluasi terhadap suppositoria/ovula
tersebut.
Formula Suppositoria / Ovula
Bahan Aktif Bentuk Sediaan Bahan
Pembawa
1 Aminofilin 150 Suppositoria Oleum Cacao
mg +Cera
Bisakodil 10 mg Flava 3%
2 Metronidazole Ovula Oleum Cacao
500 mg +Cera
Tetrasiklin 500 Flava 4%
mg
CONTOH PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN :

A. Tentukan bobot 1 cetakan untuk basis ( buat 3


suppos / ovul dicetak 2 )
B. Buat campuran 10% zat aktif dalam basis ( buat 3
suppos / ovul dicetak 2 )

Di buat suppos Aminofilin 100 mg, berat @ 3 g


 Mencari bilangan pengganti
Basis hidrofob :
Ol. Cacao = 98% X 3g X 3 = 8,82 g
Cera flava = 2% X 3g X 3 = 0,18 g
Basis + zat aktif 10%
- zat aktif = 10% X 3 g X 3 = 0,9 g
- basis = 90% X 3g X 3 = 8,1 g
~ Ol. Cacao = 98 % X 8,1 g = 7,776 g
~ Cera flava = 2 % X 8,1 g = 0,324 g

Misal Bobot rata-rata A ( basis ) = 3,1 g


Bobot rata-rata B ( basis + 10% zat aktif )
= 3,18 g

Zat aktif 10 % = 10 % X 3,18 g = 0, 318 g


Basis 90 % = 90 % X 3,18 g = 2,862 g
Jadi, basis yang mengisi tempat zat aktif
= 3,1 – 2,862 = 0,238 g
= 238 mg basis ≈ 318 mg zat aktif
Maka, 318 ZA ~ 238 basis adalah bilangan
pengganti

Dosis Zat aktif untuk 1 suppos Aminofilin 100 mg


adalah :
100 x 238 mg = 74,84 mg
318

Jadi, jumlah basis yang di gunakan untuk 1 cetakan =


3,1 g - 0,0748 = 3,0252 g
 Penimbangan
Di buat 20 ovula di lebihkan 1 (21)
- Zat aktif = 21 X100 mg=2100 mg
= 2,1 g
- Basis = 21 X 3,0252 g
= 63,5292 g
Ol, Cacao = 98% X 63,5292 g
= 62,2586 g
Cera flava = 2 % X 63,5292 g
=1,271 g
2. EVALUASI
1. Keseragaman bobot
2. Titik leleh
3. Uji homogenitas
4. Waktu hancur
Keseragaman bobot
Keseragaman bobot ditentukan dengan
menimbang 10 suppositoria, timbang
masing – masing suppos, hitung
penyimpangan bobot relatif dari suppos
yang dibuat.
Syarat  ( lihat FI IV ).
Titik Leleh
• Tiga suppos ditentukan satu persatu
• Alat yang digunakan sama dengan alat waktu
hancur, tetapi alat tidak digerakkan naik
turun, suhu dinaikkan perlahan hingga
teramati saat suppos meleleh.
Uji Homogenitas
Ambil 4 suppos :
2 dipotong vertical dan
2 dipotong horizontal.
Waktu Hancur
• Gunakan 3 suppos sekaligus, diletakkan di dalam
alat penentuan waktu hancur .
• Posisi alat waktu hancur : pada posisi teratas,
masih ada bagian keranjang yang terendam dan
pada posisi terbawah, masih ada bagian keranjang
yang tidak tercelup medium ( lihat FI IV ).
Tugas Presentasi
1. Macam-macam suppositoria
2. Macam-macam basis suppositoria
3. Cara mencari bilangan pengganti
4. Pembuatan suppositoria dengan basis oleum
cacao + cera 4 %
5. Pembuatan suppositoria dengan basis gliserin
gelatin
6. Pembuatan suppositoria dengan basis PEG
7. Pembuatan ovula dengan basis oleum cacao
8. Evaluasi sediaan suppositoria 57

Anda mungkin juga menyukai