Anda di halaman 1dari 50
PRESENTASI KASUS STRUMA Disusun Oleh : Pembimbing: Nabila Tiara Santoso Letkol CKM dr. Ahmad Rusli Budi,
PRESENTASI KASUS
STRUMA
Disusun Oleh :
Pembimbing:
Nabila Tiara Santoso
Letkol CKM dr. Ahmad Rusli Budi, Sp.B
1620221187
Identitas Pasien  No. RM : 156670  Nama pasien : Ny. S  Usia :
Identitas Pasien
No. RM
: 156670
Nama pasien
: Ny. S
Usia
: 52,17 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: Dusun Prambanan RT 003 RW 001, Japan Kec. Tegalrejo, Magelang
Pekerjaan
: Petani
Ruang
: Edelweiss
Tanggal Masuk
: 18 September 2017
Tanggal Keluar
: 22 September 2017
Anamnesis  Keluhan Utama : Benjolan pada leher yang dirasakan nyeri dan mengganggu pasien saat menelan
Anamnesis
Keluhan Utama : Benjolan pada leher yang dirasakan nyeri dan mengganggu pasien saat
menelan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang via poli pada tanggal 18 September 2017 dengan keluhan benjolan sebesar telur puyuh pada
leher yang dirasakan mengganjal, mengganggu pasien saat menelan dan apabila pasien menunduk
merasakan rasa tidak nyaman dan sedikit nyeri. Pasien tidak tahu sejak kapan benjolan itu muncul, namun
sebelumnya tidak dirasakan mengganggu.
Gejala lain seperti :
berat badan menurun disangkal
nafsu makan meningkat disangkal
keringat berlebihan disangkal
mudah lelah disangkal
lebih suka udara dingin disangkal
jantung berdebar-debar disangkal
tremor pada tungkai bagian atas disangkal
Anamnesis  Riwayat Penyakit Dahulu  Ca Mammae Sinistra  Riw Operasi : Mastektomi Radikal Modifikasi,
Anamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu
Ca Mammae Sinistra
Riw Operasi : Mastektomi Radikal Modifikasi, Mammae sinistra (2015)
Riwayat HT
: -
Riwayat DM
: -
Riwayat Alergi
: -
Riwayat Asma
: -
Riwayat Peny. Jantung
: -
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat HT
: -
Riwayat DM
: -
Riwayat Alergi
: -
Riwayat Asma
: -
Riwayat Peny. Jantung
: -
Pemeriksaan Fisik ◦ Keadaan Umum ◦ Kesadaran : Tampak sakit sedang : Kompos Mentis, GCS 15
Pemeriksaan Fisik
◦ Keadaan Umum
◦ Kesadaran
: Tampak sakit sedang
: Kompos Mentis, GCS 15 E4M6V5
Vital Sign
RR
: 20 x/menit
TD
: 140/90 mmHg
Suhu: 36 0 C
HR
: 82 x/menit
Pemeriksaan Fisik Status Generalis Mata - Eksoftalmus (-/-) Regio Colli Sinistra - Inspeksi - Terlihat pembengkakan
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Mata
-
Eksoftalmus (-/-)
Regio Colli Sinistra
-
Inspeksi
-
Terlihat pembengkakan jika dibandingkan dengan Colli dextra
-
Palpasi
-
Teraba benjolan dengan konsistensi keras dengan ukuran 4x5 cm
-
Didapatkan nyeri tekan
Pemeriksaan Thorax Paru ◦ Inspeksi ◦ Palpasi ◦ Perkusi : Gerakan pernafasan simetris kanan dan kiri,
Pemeriksaan Thorax
Paru
◦ Inspeksi
◦ Palpasi
◦ Perkusi
: Gerakan pernafasan simetris kanan dan kiri, jejas (-)
: Krepitasi (-)
: Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi
: Suara dasar vesikuler , Rh -/-, Wh -/-
Jantung
◦ Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi
: Iktus kordis tidak kuat angkat
◦ Auskultasi : Suara Jantung I-II regular, Bising jantung(-)
Pemeriksaan Abdomen • Inspeksi • Auskultasi • Perkusi • Palpasi : Jejas (-), distensi(-) : Peristaltik
Pemeriksaan Abdomen
• Inspeksi
• Auskultasi
• Perkusi
• Palpasi
: Jejas (-), distensi(-)
: Peristaltik (+) bising usus normal
: Timpani, hepatomegali (-), splenomegali (-)
: Supel, nyeri tekan (-), defans muskular (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
EXTREMITAS
Edema (-), akral dingin (-), CRT <2”
Pemeriksaan Laboratorium (PRE-OP) Jenis Hasil Referensi Lym# 2,7 1,0-5,0 Pemeriksaan Mid# 0,6 0,1-1,0 WBC 6,5 4-10
Pemeriksaan Laboratorium
(PRE-OP)
Jenis
Hasil
Referensi
Lym#
2,7
1,0-5,0
Pemeriksaan
Mid#
0,6
0,1-1,0
WBC
6,5
4-10
Gra#
3,3
2,0-8,0
RBC
4,94
3-6
Lym%
41,2
25-50
HGB
11,1
12-16
Mid%
8,6
2-10
HCT
34,8
35-45
MCV
70,4
81-101
Gra%
50,2
50-80
MCH
22,5
27-33
Hasil dan satuan
Nilai normal
MCHC
31,9
31-35
RDW
15,1
10-16
Glukosa
114 mg/dL
70-115
PLT
249 150-400
Urea
25 mg/dL
17-43
MPV
8,6
7-11
Kreatinin
0,8 mg/L
0,9-1,3
PCT
0,21
0,20-0,50
PDW
14,5
10-18
Hasil dan satuan Nilai normal T3 1,42 0,9-2,33 T4 85,8 60-120 TSH-s 1,03 0,27-4,2
Hasil dan satuan
Nilai normal
T3
1,42
0,9-2,33
T4
85,8
60-120
TSH-s
1,03
0,27-4,2
Pemeriksaan USG Colli • Kesan : • Multiple nodul thyroid dextra • Struma Colloides Sinistra •
Pemeriksaan USG Colli
Kesan :
Multiple nodul
thyroid dextra
Struma Colloides
Sinistra
Thyroid Dextra
Ukuran membesar, Echostruktur Inhomogen, Tampak multiple nodul Isoechoic, Bentuk Ovale, Batas tegas
Uk.Lk 1,27x2,08 cm dan 2,14x3,31 cm, Kalsifikasi (-), pada CDFI Feeding Vessel tak prominent
Thyroid Sinistra
Ukuran membesar, Tampak Cyst Soliter Dengan Lesi Isodens Intracystic, ukuran cyst > 3,55x4,53 cm
Pemeriksaan Rotgen Thorax • • Corakan bronchovascular meningkat Kedua sinus costophrenicus lancip • Kedua diafragma licin,
Pemeriksaan Rotgen Thorax
Corakan bronchovascular meningkat
Kedua sinus costophrenicus lancip
Kedua diafragma licin, dumb difragma normal
CTR = 0,5
Trachea dan mediastinum di tengah
Sistema tulang tak tampak kelainan
Kesan :
Bronkhitis
CTR = 0,5
Diagnosis • Struma Nodusa Non Toksik Sinistra Planning • Rawat Inap Cempaka • • Cek DL
Diagnosis
• Struma Nodusa Non Toksik Sinistra
Planning
Rawat Inap Cempaka
Cek DL
RO Thorax
Pro Ischmolabectomy
Tindakan Operasi ◦ Macam ◦ Jenis Anastesi ◦ DPJP : Ismolabectomy : General Anaesthesy : dr.
Tindakan Operasi
◦ Macam
◦ Jenis Anastesi
◦ DPJP
: Ismolabectomy
: General Anaesthesy
: dr. Saptadi, Sp.B (Onk)
Pre-operatif
◦ Informed consent pemasangan intravena line
Intra Operatif • Pasien masuk ke ruang OK, diposisikan terlentang, kepala hadap kanan di atas meja
Intra Operatif
Pasien masuk ke ruang OK, diposisikan terlentang, kepala hadap kanan di atas meja
operasi, dan dianastesi dengan general anestesi.
Aseptik dan antiseptik daerah operasi
• Insisi collar dua jari di atas jugulum, diperdalam dengan memotong m.platisma sampai fasia kolli superfisial.
• Dibuat flap keatas sampai emnensia kartilago tiroid dan kebawah sampai jugulum
• Fasia kolli superfisial dibuka pada garis tengah dari kartilago hioid sampai jugulum.
• Otot pretrakealis (sternohioid dan sternotiroid) kanan kiri dipisahkan kearah lateral dengan melepaskannya dari
kapsul tiroid.
• Struma diluksir keluar, dievaluasi tentang ukuran, konsistensi, nodularitas dan adanya lobus piramidalis.
Luka dijahit lapis demi lapis
Operasi selesai.
Laporan Operasi
Laporan Operasi
Instruksi Post Operasi ◦ ◦ Observasi kesadaran dan tanda vital Inj. Ceftriaxone ◦ Inj. Ketorolac ◦
Instruksi Post Operasi
Observasi kesadaran dan tanda vital
Inj. Ceftriaxone
Inj. Ketorolac
Inj. Ranitidine
Oral : Cefixime 2x100
Asam mefenamat 3x1
Ranitidin 3x1
Follow Up 19 September 2017 (Post-OP) S O A Post op struma non toksik P Post
Follow Up
19 September 2017 (Post-OP)
S
O
A
Post op struma non
toksik
P
Post
Ischmolabectomy
Nyeri post op (+)
KU : tampak sakit sedang
GCS 15, E4M6V5
Luka tertutup perban
Tidak terdapat rembesan darah
Drain (+) 100 cc
TD : 120/80 mmHg
HR : 80 x/menit
Monitor KU
Cefixime 2x
200 mg
Mual (+)
Muntah (+)
BAB BAK dbn
Asam
mefenamat 3x1
Ranitidin 3x1
RR : 20 x/menit
Suhu : 36°C
Follow Up 21 September 2017 (Post-OP) S O A Post op struma non toksik P Post
Follow Up
21 September 2017 (Post-OP)
S
O
A
Post op struma non toksik
P
Post Ischmolabectomy
Nyeri post op dirasakan
berkurang (+)
KU : tampak sakit sedang
GCS 15, E4M6V5
Luka tertutup perban
Tidak terdapat rembesan darah
Drain (+) 50 cc
TD : 120/90 mmHg
HR : 82 x/menit
Monitor KU
H+2
Cefixime 2x 200 mg
Asam mefenamat 3x1
Mual (-)
Ranitidin 3x1
Makan Minum dbn
BAB BAK dbn
Peningkatan
pemberian kebutuhan
makanan tinggi
RR : 24 x/menit
protein berkaitan
Suhu : 36°C
dengan post op
21 September 2017 (Post-OP) Drain redon
21 September 2017 (Post-OP)
Drain redon
Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka
Anatomi ◦ Kata “thyroid” berarti organ berbentuk perisai segi empat. ◦ Kelenjar ini merupakan kelenjar endokrin
Anatomi
Kata “thyroid” berarti organ berbentuk perisai segi empat.
Kelenjar ini merupakan kelenjar endokrin yang paling banyak vaskularisasinya, dibungkus oleh capsula yang berasal dari lamina pretracheal fascia
profunda. Capsula ini melekatkan thyroid ke larynx dan trachea.
Kelenjar thyroid terletak di leher depan setentang vertebra cervicalis 5 sampai thoracalis 1, terdiri dari lobus kiri dan kanan yang dihubungkan oleh
isthmus. Setiap lobus berbentuk seperti buah pear, dengan apex di atas sejauh linea oblique lamina cartilage thyroidea, dengan basis di bawah pada
cincin trachea 5 atau 6.
Berat kelenjar thyroid bervariasi antara 20-30 gr, rata-rata 25 gr. Dengan adanya ligamentum suspensorium Berry kelenjar thyroidea ditambatkan ke
cartilage cricoidea dari facies posteromedial kelenjar. Jumlah ligamentum ini 1 di kiri dan kanan. Fungsinya sebagai ayunan/ gendongan kelenjar ke
larynx dan mencegah jatuh/ turunnya kelenjar dari larynx, terutama bila terjadi pembesaran kelenjar.
◦ Kelenjar Tiroid ◦ Setiap lobus kiri dan kanan terdiri dari 3 bagian yaitu ◦ Apex
◦ Kelenjar Tiroid
◦ Setiap lobus kiri dan kanan terdiri dari 3 bagian yaitu
◦ Apex
◦ Basis
◦ Fascies/permukaan dan Margo
◦ Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam
◦ Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan
menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah.
T3 dan T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung
yodium.
◦ Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel,
perkembangan dan metabolisme energi.
Selain itu hormon tiroid mempengaruhi
pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan
energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan
reaksi metabolik, menambah sintesis asam
ribonukleat (RNA), menambah produksi panas,
absorpsi intestinal terhadap glukosa,merangsang
pertumbuhan somatis dan berperan dalam
perkembangan normal sistem saraf pusat.

Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap

molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon

◦ Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam

STRUMA/GOITER

DEFINISI adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat
DEFINISI
adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat
kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar
dan morfologinya.
Epidemiologi ◦ Data rekam medis Divisi Ilmu Bedah RSU Dr. Soetomo tahun 2001-2005 struma nodusa toksik
Epidemiologi
◦ Data rekam medis Divisi Ilmu Bedah RSU Dr. Soetomo tahun 2001-2005 struma nodusa toksik terjadi pada 495 orang diantaranya 60 orang
laki-laki (12,12%) dan 435 orang perempuan (87,8 %) dengan usia terbanyak yaitu 31-40 tahun
Kasus struma lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki namun dengan bertambah beratnya endemik, perbedaan seks
tersebut hampir tidak ada.
◦ Struma dapat menyerang penderita pada segala umur namun umur yang semakin tua akan meningkatkan resiko penyakit lebih besar. Hal
ini disebabkan karena daya tahan tubuh dan imunitas seseorang yang semakin menurun seiringdengan bertambahnya usia.
Struma endemik sering terdapat di daerah-daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium. Daerah-daerah dimana
banyak terdapat struma endemik adalah di Eropa, pegunungan Alpen, pegunungan Andes, Himalaya di mana iodinasi profilaksis tidak
menjangkau masyarakat. Di Indonesia banyak terdapat di daerah Minangkabau, Dairi, Jawa, Bali dan Sulawesi.
Etiologi Struma ◦ Kekurangan Yodium ◦ Kelainan metabolik kongenital ◦ Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia
Etiologi Struma
◦ Kekurangan Yodium
◦ Kelainan metabolik kongenital
◦ Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (goitrogenic agent)
◦ Proses peradangan atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves.
◦ Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma
◦ Penghambatan sintesa hormon tiroid oleh obat-obatan misalnya thiocarbamide, sulfonylurea dan litium
◦ Gangguan metabolik misalnya struma kolid dan struma non toksik (struma endemik).
Klasifikasi Struma ◦ Berdasarkan Fisiologisnya ◦ Eutiroidisme ◦ Hipotiroidisme ◦ Hipertiroidisme ◦ Berdasarkan klinisnya ◦ Struma
Klasifikasi Struma
◦ Berdasarkan Fisiologisnya
◦ Eutiroidisme
◦ Hipotiroidisme
◦ Hipertiroidisme
◦ Berdasarkan klinisnya
◦ Struma Non Toksik
◦ Struma Toksik
Eutiroidisme ◦ Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang
Eutiroidisme
◦ Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar
tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang
meningkat.
◦ Goiter atau struma semacm ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang
jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
Hipotiroidisme ◦ Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi
Hipotiroidisme
◦ Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon
tiroid menjadi berkurang.
◦ Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon.
◦ Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai
kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang
beredar dalam sirkulasi.25,26
◦ Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit
berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan,
pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara.
◦ Gambar penderita hipotiroidisme dapat terlihat di bawah ini.
Hipertiroidisme ◦ Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap
Hipertiroidisme
◦ Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh
metabolik hormon tiroid yang berlebihan.
Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya
produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar.
Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh suka udara dingin,
sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas mata melotot (eksoftalamus), diare,
haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot.
Struma Toksik - Struma diffusa toksik - Struma nodusa toksik ◦ Istilah diffusa dan nodusa lebih
Struma Toksik
-
Struma diffusa toksik
-
Struma nodusa toksik
◦ Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke
jaringan lain.
◦ Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih
benjolan (struma multinoduler toksik).
◦ Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan
dalam darah.
Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophthalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara
hipertiroidisme lainnya.
Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam
sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.
Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya
rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat menyebabkan kematian.
Etiologi Struma nodusa toksik ◦ Defisiensi iodium yang mengakibatkan penurunan level T4 ◦ Aktivasi reseptor TSH
Etiologi Struma nodusa toksik
◦ Defisiensi iodium yang mengakibatkan penurunan level T4
Aktivasi reseptor TSH
Mutasi somatik reseptor TSH dan Protein G
◦ Mediator-mediator pertumbuhan termasuk : Endothelin-1 (ET-1), insulin like growth factor-1, epidermal growth factor, dan fibroblast growth
factor.
Etiologi Struma difusa toksik
◦ Yang termasuk dalam struma toxic difusa adalah grave desease, yang merupakan penyakit autoimun yang masih belum diketahui penyebab
pastinya
Struma Non Toksik - Struma diffusa non toksik - Struma nodusa non toksik ◦ Apabila dalam
Struma Non Toksik
-
Struma diffusa non toksik
-
Struma nodusa non toksik
◦ Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma
nodusa.
◦ Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik.
◦ Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat
karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu
penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul
perdarahan di dalam nodul.
Etiologi Struma nodusa non toksik ◦ Kekurangan iodium: Pembentukan struma terjadi pada difesiensi sedang yodium yang
Etiologi Struma nodusa non toksik
◦ Kekurangan iodium: Pembentukan struma terjadi pada difesiensi sedang yodium yang kurang dari 50 mcg/d. Sedangkan defisiensi berat
iodium adalah kurang dari 25 mcg/d dihubungkan dengan hypothyroidism dan cretinism.
◦ Kelebihan yodium: jarang dan pada umumnya terjadi pada preexisting penyakit tiroid autoimun
Goitrogen :
Obat : Propylthiouracil, litium, phenylbutazone, aminoglutethimide, expectorants yang mengandung yodium
Agen lingkungan : Phenolic dan phthalate ester derivative dan resorcinol berasal dari tambang batu dan batubara.
Makanan, Sayur-Mayur jenis Brassica ( misalnya, kubis, lobak cina, brussels kecambah), padi-padian millet, singkong, dan goitrin dalam rumput liar.
◦ Dishormonogenesis: Kerusakan dalam jalur biosynthetic hormon kelejar tiroid
◦ Keganasan
Riwayat radiasi kepala dan leher : Riwayat radiasi dapat mengakibatkan nodul benigna dan maligna
Etiologi Struma diffusa non toksik ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ ◦ Defisiensi
Etiologi Struma diffusa non toksik
Defisiensi Iodium
Autoimmun thyroiditis: Hashimoto oatau postpartum thyroiditis
Kelebihan iodium (efek Wolff-Chaikoff) atau ingesti lithium, dengan penurunan pelepasan hormon tiroid.
Stimulasi reseptor TSH oleh TSH dari tumor hipofisis, resistensi hipofisis terhadap hormo tiroid, gonadotropin, dan/atau tiroid-stimulating immunoglobulin
Inborn errors metabolisme yang menyebabkan kerusakan dalam biosynthesis hormon tiroid.
Terpapar radiasi
Penyakit deposisi
Resistensi hormon tiroid
Tiroiditis Subakut (de Quervain thyroiditis)
Silent thyroiditis
Agen-agen infeksi
Suppuratif Akut : bacterial
Kronik: mycobacteria, fungal, dan penyakit granulomatosa parasit
Keganasan Tiroid
Patofisiologi Struma Difusa Non Toksik ◦ Dietary iodine deficiency ◦ Endemic ◦ Non apparent ◦ Sporadic
Patofisiologi Struma Difusa Non Toksik
◦ Dietary iodine deficiency
◦ Endemic
◦ Non apparent
◦ Sporadic
◦ Impaired synthesis of thyroid hormone
◦ Hypertrophy and hyperplasia of thyroid folicular cells
◦ Rise TSH Level in serum
◦ Gross enlargement of the thyroid gland
Pemeriksaan Fisik ◦ Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi
Pemeriksaan Fisik
◦ Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher
sedikit terbuka.
Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau
noduler kecil), gerakan pada
saat
pasien
diminta
untuk
menelan.
◦ Palpasi
◦ Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita.
Yang perlu diperhatikan :
Bentuk Noduler
Batas jelas
Konsistensi kenyal-Keras, Keras : Curiga Adenokarsinoma tiroidea
Bentuk Difus
Batas tidak jelas
Konsistensi Kenyal
Auskultasi
◦ Pada auskultasi perlu diperhatikan adanya bising tiroid yang menunjukkan adanya hipertiroid.
Tes Fungsi Hormon ◦ Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara tes-tes fungsi tiroid untuk
Tes Fungsi Hormon
◦ Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya
kadar total tiroksin dan triyodotiroin serum diukur dengan radioligand assay.
◦ Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator fungsi tiroid. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya kadar akan
berada di bawah normal pada pasien peningkatan autoimun (hipertiroidisme). Uji ini dapat digunakan pada awal penilaian pasien yang
diduga memiliki penyakit tiroid.
Foto Rontgen Leher ◦ Pemeriksaan ini dimaksudka n untuk melihat struma telah menekan atau menyumbat trakea
Foto Rontgen Leher
◦ Pemeriksaan ini dimaksudka n untuk melihat struma telah menekan atau menyumbat trakea (jalan nafas).
USG
USG
dapat
memperlihatkan
ukuran
gondok
dan kemungkinan adanya kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu
pemeriksaan leher.
Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan kemungkinan karsinoma.
Scan Tiroid ◦ Dilakukan dengan cara menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium-99m dan yodium/yodium ke dalam
Scan Tiroid
◦ Dilakukan dengan cara menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium-99m dan yodium/yodium ke dalam
pembuluh darah.
Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu kamera canggih tertentu selama beberapa menit.
Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama adalh fungsi bagian-bagian tiroid.
Biopsi Aspirasi Jarum Halus
◦ Dilakukan khusus
pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.
◦ Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas.
◦ Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. Selain itu teknik biopsi kurang benar dan
pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi.
obat Anti-Tiroid ◦Propiltiourasil (PTU) ◦ Methimazole ◦ Karbimazole ◦ Tiamazole
obat Anti-Tiroid
◦Propiltiourasil (PTU)
◦ Methimazole
◦ Karbimazole
◦ Tiamazole
Yodium Radioaktif ◦ Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan
Yodium Radioaktif
◦ Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan.
Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50%.
◦ Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya.
Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik lainnya.
Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit,obat ini ini biasanya
diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
Pembedahan ◦ Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan
Pembedahan
◦ Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi
dengan obat-obat anti tiroid.
◦ Pembedahan dilakukan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum pembedahan tidak perlu pengobatan dan
sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari.
◦ Kemudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup memproduksi hormon dalam
jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan
pembedahan.
Tiroidektomi
Lobektomi
Isthmolobektomi
Labektomi Total dan Subtotal ◦ Pengangkatan satu lobus tiroid yang mengandung jaringan patologis (total lobektomi), atau
Labektomi Total dan Subtotal
◦ Pengangkatan satu lobus tiroid yang mengandung jaringan patologis (total lobektomi), atau sebagian besar lobus tiroid yang
mengandung jaringan patologis ( subtotal lobektomi)
◦ Benjolan tunggal atau multipel pada satu sisi trigonum leher anterior, batas jelas, kenyal sampai padat, ikut bergerak waktu
menelan.
Pre-operatif ◦ Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi
Pre-operatif
◦ Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi
disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk dilakukan operasi. ( Informed consent ).
◦ Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
◦ Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi.
◦ Tanpa antibiotika profilaksis
Tahap operasi ◦ Pembiusan dengan endotrakeal, posisi kepala penderita hiperekstensi dengan bantal di bawah pundak penderita.
Tahap operasi
◦ Pembiusan dengan endotrakeal, posisi kepala penderita hiperekstensi dengan bantal di bawah pundak penderita.
◦ Desinfeksi dengan larutan antiseptik, kemudian dipersempit dengan linen steril.
◦ Insisi collar dua jari di atas jugulum, diperdalam dengan memotong m.platisma sampai fasia kolli superfisial.
◦ Dibuat flap keatas sampai emnensia kartilago tiroid dan kebawah sampai jugulum, kedua flap di teugel keatas dan
kebawah pada linen.
◦ Fasia kolli superfisial dibuka pada garis tengah dari kartilago hioid sampai jugulum.
◦ Otot pretrakealis (sternohioid dan sternotiroid) kanan kiri dipisahkan kearah lateral dengan melepaskannya dari
kapsul tiroid.
◦ Struma diluksir keluar, dievaluasi tentang ukuran, konsistensi, nodularitas dan adanya lobus piramidalis. ◦ Ligasi dan
◦ Struma diluksir keluar, dievaluasi tentang ukuran, konsistensi, nodularitas dan adanya lobus piramidalis.
Ligasi dan pemotongan v.tiroidea media, dan a.tiroidea inferior sedikit proksimal dari tempat masuknya ke tiroid, hati-hati jangan
mengganggu vaskularisasi dari kel.paratiroid.
Identifikasi N.rekuren pada sulkus trakeoesofagikus. Syaraf ini diikuti sampai menghilang pada daerah krikotiroid.
◦ Identifikasi kel.paratiroid interior pada permukaan posterior kel.tiroid berdekatan dengan a.tiroidea inferior.
◦ Kutub atas kel.tiroid dibebaskan dari kartilago tiroid mulai dari posterior dengan identifikasi cabang eksterna n.laringikus superior
dengan memisahkannya dari a & v tiroidea superior. Kedua pembuluh darah tersebut diligasi dan dipotong. Lobektomi total tidak ada
jaringan tiroid satu sisi yang disisakan.
◦ Untuk melakukan lobektomi subtotal maka dengan menggunakan klem lurus dibuat “markering” pada jaringan tiroid di atas
n.rekuren dan gld.paratiroid atas bawah dan jaringan tiroid disisakan sebesar satu ruas jari kelingking penderita.
◦ Perdarahan yang masih ada dirawat, kemudian luka pembedahan ditutup lapis demi lapis dengan meninggalkan drain Redon.
Komplikasi operasi ◦ Perdarahan ◦ Lesi pada n.Laringius superior ◦ Kerusakan n. Rekuren Perawatan Pasca Bedah
Komplikasi operasi
◦ Perdarahan
◦ Lesi pada n.Laringius superior
◦ Kerusakan n. Rekuren
Perawatan Pasca Bedah
◦ Pascabedah penderita dirawat di ruangan selama 1-2 hari, diobservasi kemungkinan terjadinya komplikasi dini yang membahayakan jiwa
penderita seperti perdarahan dan obstruksi jalan nafas. Drain Redon dilepas setelah 24 jam, dan jahitan luka pembedahan diangkat pada
hari ke 7.
◦ https://www.youtube.com/watch?v=0h5jM7eN6j4
◦ https://www.youtube.com/watch?v=0h5jM7eN6j4