Anda di halaman 1dari 46

KOMPLIKASI INTRADIALISIS

TONI RAHMAT JAELANI,S.Kep.,Ners


Komplikasi intaradialisis:

1. Hipotensi
2. Kram otot
3. Mual dan muntah
4. Sakit Kepala
5. Demam disertai menggigil
6. Nyeri dada
7. Gatal-gatal
8. Perdarahan cimino
9. Disequilibrium Syndrom (sakit kepala, TD meningkat, gelisah, penglihatan
kabur, mual)

2
HOPOVOLEMIA INTRADIALISIS
(HIPOTENSI INTRADIALISIS)

3
Apa itu Tekanan Darah??
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri.
Tekanan darah terjadi akibat fonemena siklis, tekanan darah biasanya
digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik dan diastolik.

Tekanan darah berbanding lurus dengan curah jantung (ditentukan berdasarkan isi sekuncup
dan frekuensi jantungnya) Tekanan Perifer terhadap tekanan darah darah berbanding terbalik
dengan tahanan dalam pembuluh. Tahanan perifer memiliki beberapa faktor penentu
diantaranya :
 Curah jantung
 ketegangan arteri
 Volume
 Laju serta kekentalan (viskositas) darah.
Smeltzer&Bare (2001)

4
Pengaturan Tekanan Darah

Pengaturan saraf
• Pusat vasomotorik pada medulla otak mengatur tekanan darah. Pusat
kardiokselerator dan kardioinhibitor mengatur curah jantung.
• Mekanisme ini memastikan suplai darah yang cukup untuk organ-organ vital selama situasi
menegangkan yang menginduksi stimulasi saraf simpatis dan vasokontriksi di suatu tempat
pada tubuh.

• Stimulasi parasimpatis menyebabkan vasodilatasi pembuluh hanya di beberapa tempat;


misalnya, pada jaringan erektil genetalia dan kelenjar saliva tertentu.

5
Pengaturan Kimia Dan Hormonal

Ada sejumlah zat kimia yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
tekanan darah. Zat tersebut meliputi :
• Hormon medulla adrenal (norepineprin termasuk vasokonstriktor)
• Epinefrin dapat berperan sebagai suatu vasokonstriktor atau vasodilator,
bergantung pada jenis reseptor otot polos pada pembuluh darah organ.
• Hormon antidiuretik (vasopresin) dan oksitosin yang disekresi dari kelenjar hipofisis
posterior termasuk vasokontriktor.
• Angiotensin
adalah sejenis peptida darah yang dalam bentuk aktifnya termasuk salah satu
vasokontriktor kuat.
• Berbagai angina dan peptide seperti histamin, glukagon, kolesistokinin, sekretin,
dan bradikinin yang diproduksi sejumlah jaringan tubuh, juga termasuk zat kimia
vasoaktif.
• Prostaglandin
Adalah agens seperti hormone yang diproduksi secara local dan mampu bertindak
sebagai vasodilator atau vasokonstriktor.
(Ethel, 2003: 239). 6
HIPOTENSI INTRADIALISIS

• Hampir 20-30% pasien HD pernah mengalami episode hipotensi.


• Pada umumnya dengan persentrasi klinik ringan seperti : lemah
badan,merasa tidak enak badan, dan lemas paska dialisis.
• Hipotensi pada pasien nefropati diabetik dan usia lanjut sering
berbahaya karena dapat memicu (trigger) penyakit jantung iskemik
dan gangguan irama jantung (Sukandar,2006).
• Gangguan hemodinamik berupa hipotensi merupakan masalah yang
paling sering terjadi selama HD rutin dibanding yang lain dan
beberapa laporan menempatkan hipotensi intradialitik sebagai
penyebab utama kematian saat HD.

7
Dampak HD terhadap tekanan
darah
• Area akstrakorporeal: ada darah di luar tubuh sekitar 200 Ml
• Putaran darah dan dialisat
• Penarikan solut dan solvent

8
HIPOTENSI SYOK

• Syok adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan
ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat gangguan mekanisme
homeostasis. Berdasarkan penelitian Moyer dan Mc Clelland tentang fisiologi keadaan syok
dan homeostasis, syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Syok
merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang
kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif.
• Syok sirkulasi berarti ketidakcukupan aliran darah di seluruh tubuh sehingga jaringan tubuh
mengalami kerusakan akibat terlalu sedikitnya aliran, terutama terlampau sedikitnya
penyediaan oksigen dan zat makanan lainnya bagi sel-sel jaringan. (Fisiologi Kedokteran
Guyton & Hall)
• Tahap Syok
 Tahap nonprogresif, kadang-kadang disebut tahap kompensasi, dimana mekanisme
kompensasi sirkulasi normal akhirnya akan menyebabkan pemulihan sempurna tanpa
dibantu dari luar.
 Tahap progresif, ketika syok menjadi semakin buruk sampai timbul kematian.
 Tahap ireversibel, ketika syok telah jauh berbentuk terapi yang diketahui tidak mampu
lagi menolong penderita, meskipun pada saat itu orang tersebut masih hidup.
9
HIPOTENSI SYOK

Syok secara klinis didiagnosa dengan adanya gejala-


gejala seperti berikut:
 Hipotensi: tekanan sistole kurang dari 80 mmHg
atau TAR (tekanan arterial rata-rata) kurang dari 60
mmHg, atau menurun 30% lebih.
 Oliguria: produksi urin kurang dari 20 ml/jam.
 Perfusi perifer yang buruk, misalnya kulit dingin
dan berkerut serta pengisian kapiler yang jelek.

10
• Kekurangan volume ECF atau hipovolemik didefinisikan sebagai kehilangan
cairang tubuh isotonic, yang disertai kekurangan natrium dan air dalam
jumlah relatif sama (Patofisiologis, Volume 1, Sylvia A. Price & Lorraine M.
Wilson, 2006).
• PATOGENESIS
Kekurangan volume cairan adalah keadaan yang umum terjadi dalam
berbagai keadaan klinis dan hampir selalu berkaitan dengan kehilangan
cairan tubuh melalui ginjal atau di luar ginjal. Penurunan volume cairan
lebih cepat terjadi jika kelainan cairan tubuh yang abnormal disertai
dengan penurunan asupan oleh sebab apapun. Syok hipovolemik dapat
disebabkan oleh hilangnya cairan intravaskuler

11
Etiologi
Hipotensi Terkait
Hemodialisis

12
Patofisiologi

13
TANDA DAN GEJALA
HIPOTENSI

14
TANDA DAN GEJALA
HIPOTENSI

15
MEKANISME UTAMA HIPOTENSI
TERKAIT HEMODIALISIS

•Berhubungan dengan ketidak-seimbangan


antara cardiac output (disebabkan penurunan
volume plasma) dan gangguan untuk
meningkatkan peripheral vascular resistance
(PVR).
•Kunci utama permasalahan karena kontraksi
berlebihan volume plasma akibat ultrafiltrasi
melebihi refilling rate dari kompartemen
ekstravaskular ke kompartemen intravascular
16
MEKANISME UTAMA HIPOTENSI
TERKAIT HEMODIALISIS
• Hipotensi saat HD terutama disebabkan terjadinya perubahan yang
cepat dari homeostasis volume darah. Penurunan kadar ureum
kreatinin serta zat lain yang terdialisis ikut menurunkan volume darah
dan tekanan onkotik vaskular.
• Hal lain yang Ikut berperan dalam Plasma refilling adalah mekanisme
kompensasi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dimana
terjadi pergeseran cairan dari kompartemen ekstravaskuler ke
intravaskuler.
• Beberapa hal yang berpengaruh terhadap terjadinya plasma refilling
adalah gradien tekanan hidrostatik, onkotik, osmotik dan
permeabilitas kapiler.Sedangkan kecepatan refilling dipengaruhi oleh
ultrafiltrasi, keseimbangan protein total, status hidrasi dan
permeabilitas kapiler.

17
KRITERIA HIPOTENSI INTRADIALISIS
Episode hipotensi intradialitik ditentukan berdasarkan penurunan tekanan
darah sistolik menjadi < 90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistolik
30 mmHg atau lebih yang disertai gejala klinis (mual muntah, keringat
dingin, pusing, penurunan kesadaran, takikardi) atau penurunan mean
arterial pressure (MAP) 10 mmHG atau lebih dari nilai MAP sebelum HD,
yang disertai gejala klinis.

MAP = 2 x tekanan darah diastolik + 1 x tekanan sistolik

18
Panduan Pencegahan Hipotensi Terkait HD

• Gunakan mesin hemodialisis yang dapat mengendalikan ultrafiltrasi


• Interdialytic gain kurang dari satu kg per hari
• Gunakan dialiser dengan KUF sesuai dengan BBK
• Konsentrasi Na dalam konsentrat >140 mmol
• Obat antihipertensi tidak boleh digunakan sebelum hemodialisis
• Bila digunakan dialiser KUF dan QB tinggi harus digunakan bicarbonat
buffered dialyate
• Hindari makan banyak mengandung protein dan gula selama
hemodialisis
(Sukandar,2006:206)

19
PENGKAJAN FOKUS

• K/u : letargi
• Cardiovaskular : TD menurun akral dingin, keringat dingin, nadi cepat
(awal kompensasi) dan menjadi lemah samapai tidak teraba, nyeri
dada
• GIT : penekanan parasimpatis, Mual,Muntah,mules
• Integumen : kulit lembab, keringat dingin
• Muskuloskeletal : perifer ektremitas dingin, pucat

20
Diagnosa
eperawatan

21
RENPRA

• POSISI : kepala lebih rendah kakai di elevasikan / trendlenberg


• Oksigenasi
• Pengembalian volume
• Obs ulang ttv
• Obs ulang respon
• Curiga gangguan cardio : EKG
• Kolaborasi : hipotensi berulang, faktor lain selain volume ECF,

22
HIPOTENSI BERULANG ADALAH BUKTI
EVALUASI DIALISIS YG TIDAK ADEKUAT

23
2. Kram otot

Penyebab :
a. Blum sepenuhnya di ketahui
b. Penarikan cairan dibawah berat badan standar :
PREDISPOSISI PENTING: TERKAIT
HIPOVOLEMIA,HIPOTENSI
c. Penarikan cairan terlalu cepat (UFR tinggi)
d. Cairan dialisat dengan kadar Na rendah
e. Berat badan naik > 1 kg/hari
f. Posisi tidur berubah terlalu cepat
g. Hal lain yang perlu di perhatikan : hipokalsemia, hipomagsium,

24
Penanganan dan pencegahan :
a. Kecilkan QB dan UFR
b. Perhatikan periode kram intradialisis untuk melakukan modifikasi
UF (profiling dialisis)
c. Evaluasi BBK
d. Massage pada daerah yang kram
e. Kalau perlu berikan obat gosok
f. Karena volume : berikan NaCl 0.9% disesuaiakan dengan estimasi
pemenuhan berat badan kering, berikan cairan hipertonis sesuai
kolaborasi (perhatikan dampak post dialisis akibat terafi cairan)
g. Mengatur kenaikan BB sesuai rekomendasi (tidak > 5% dari BBK)
h. Kompres hangat
i. Observasi tanda-tanda vital
j. Evaluasi nilai lab : Ca,P,Mg
25
3. Mual dan Muntah
Penyebab :
a. Multifaktor dan jarang berdiri sendiri
b. Hipotensi : disertai keluhan lain
c. DDS
d. Reksi dari dialiser
e. Kontaminasi dialisat : tinggi Ca,Na
f. Ketakutan
g. Reaksi obat
h. Bila tidak disertai gejala lain : dicurigai karena ggn hepar dan
GIT

26
Mual dan Muntah

Penanganan :
a. Jika disertai Hipotensi :turunkan Qb dan UF
b. Kolaborasi dr pemberian terafi sesuai etiologi
c. Berikan kantong plastik muntah
d. Bantu kebutuhan pasien (kalau perlu berikan minyak gosok
pada daerah epigastrik)

27
Penanganan :
e. Observasi tanda-tanda vital selama proses dialysis
berlangsung
f. Jika TD turun, guyur NaCl 0.9% - 100 ml sesuai K.U pasien
g. Jika keadaan sudah membaik, program dialisis diatur secara
bertahap sesuai kebutuhan pasien
h. Beritahu dokter jika pasien tidak ada perbaikan
i. Mencari timbulnya muntah : hipotensi, penarikan cairan
terlalu cepat, atau kenaikan BB > 1 Kg/hari

28
Mual dan Muntah

Pencegahan :

a.Hindari hipotensi dengan menurunkan kecepatan aliran darah


selama jam pertama dialisis, selanjutnya dinaikkan secara
bertahap sesuai kebutuhan pasien, atau profiling UF
b.Evaluasi kondisi cairan dialisat / RO

c.Evaluasi Target BBK


d.Observasi tanda-tanda vital selama dialisis berlangsung.

29
4. Sakit Kepala

Penyebab :
a. Tekanan darah naik
b. Ketakutan
c. Gejala diseqwilibrium sindroma
d. Bencana cerebrovaskular jika disertai muntah dan gejala
nerologi lain

30
Penanganan :
a. Kecilkan kecepatan lairan darah / Qb
b. Observasi tanda-tanda vital (terutama TD dan nadi)
c. Jika TD tinggi atau hipertensi emergency : kolab dr
d. Kolab dr untuk sebab yang tidak di ketahui untuk
pemberian : analgetik
e. Kompres dan masage ringan area leher dan kepala
f. Jika keluhan sudah berkurang, jalankan program dialysis
kembali seperti semula secara bertahap
g. Mencari penyebab sakit kepala ; cairan dialisat asetat,
minum kopi atau ada masalah, pem lanjutan jika keluhan
menetap : CT scan dll

31
5. Demam disertai menggigil

Penyebab :
a. Reaksi pirogen : demam ringan tanpa menggigil, hilang di luar
dialisis/jika HD dihentikan, memakai Dialiser pakai ulang
b. Reaksi transfusi
c. Kontaminasi bakteri pada sirkulasi darah
d. Keganasan , sepsis karna sirkulasi

32
Penyebab :
a. Demam lama (di rumah dan intradialisis) berhubungan dengan
defisiensi imun :
 TB ektra Paru
 Keganasan
 Reaktivasi SLE
 Endokarditis bakterialis akut
 Devertikulosis
 Infeksi akses vaskular : CDL,Trombosis Fistula AV
 Perikarditis
 Efusi pleura
 ISK
 Infeksi ginjal polikistik

33
Demam
Penanganan :
a. Observasi tanda-tanda vital : Ukur suhu tubuh
b. Berikan selimut/penghangat lain
c. Beritahu dokter untuk pemberian terapi
d. Mencari penyebab deman karena : bahan pirogen dari set
dialysis atau penyebab lain pada pasien spt infeksi
e. Pengaturan suhu ruangan

34
6. Nyeri dada

Penyebab :
a. Minum obat jantung tidak teratur
b. Program HD yang terlalu cepat : iskemia karena
hipovolemia/hipotensi
c. Gangguan kardiovaskuler,iskemia,infark
d. Reaksi anafilaktoid atau hemolisis

35
Nyeri dada

Penanganan :
a. Turunkan kecepatan aliran darah/Qb, Uf, laporkan nefrologist
untuk kemungkinan prog SLED
b. Pasang EKG monitor, rekam : EKG 12 lead laporkan dr
c. Beritahu dokter untuk pemberian terapi
d. Tranfusi dan pemberian erytopetin sesuai indikasi dan kolaborasi
e. Hindari asetat dialysis

Pencegahan :
f. Edukasi Minum obat jantung secara teratur
g. Anjurkan pasien untuk kontrol kedokter secara teratur
h. Pengaturan prog dialisis sesuai kolaborasi
i. Pengaturan asupan cairan jiak nyeri dada terjadi karena UF

36
7. Gatal-gatal

Penyebab :
a.Jadwal dialysis yang tidak teratur
(Toksin Uremia kurang terdialisis)
b.Sedang transfusi / sesudah transfusi
c.Kulit kering
d.Defosit kristal Ca-P
e.Alergi terhadap obat/EPO
f.Reaksi alergi lain : pelepasan histamin
dari mast cell
37
Gatal-gatal

Penanganan :
a. Beri talk / krem khusus untuk gatal
b. Jika karena transfusi beritahu dokter untuk
pemberian terafi
c. Kontrol lab : Ca, P

Pencegahan :
d. Anjurkan pasien makan sesuai dengan diet
e. Anjurkan pasien taat menjalani hemodialisis sesuai
program
f. Anjurkan pasien menjaga kebersihan badan

38
8. Perdarahan cimino :

Penyebab :
a. Tempat tusukan yang sama /menetap
b. Masa pembekuan darah lama
c. Dosis heparin yang berlebihan
d. Tekanan darah tinggi
e. Penekanan tusukan tidak tepat

39
Penanganan :
a. Hindari penusukan pada area yang sama
b. Tekan daerah tusukan dengan tepat : 5-15 menit
c. Mencari penyebab perdarahan
d. Observasi tanda-tanda vital dengan ketat
e. Lapor dokter jaga jika perdarahan lama berhenti

Pencegahan :
f. Evaluasi laboratorium terhadap PT,APTT
g. Bekas tusukan cimino tidak boleh digaruk-garuk atau dipijat.
h. Hindari penusukan pada bekas tusukan dialysis sebelumnya.
i. Heparinisai yg adekuat atau free heparin jika resiko tinggi
post HD perdarahan akses atau akses sangat lama berhenti

40
Dialysis Dis-equilibrium Syndrome
(DDS)

• Definisi : Adalah kumpulan gejala sistemik dan nerologik yang di


temukan selama atau setelah HD

• Gejala :
pada dialisis akut : mual, muntah kejang, gelisah,
sakit kepala, koma,
Pada Dialisis Kronik : Mual, muntah dan sakit kepala

41
Dialysis Dis-equilibrium Syndrome
(DDS)

• Penyebab : (terutamanya adalah perubahan volume dan


konsentrasi plasma)
1. masih kontroversial
2. Sebagian menyatakan karena peningkatan kadar air
otak ketika zat terlarut diturunkan dengan cepat
selama dialisis yang menjadikan komposisi plasma
menjadi hipotonis dan pergeseran cairan plasma ke
dalam jaringan atau sel otak yang menyebabkan edema
sel otak
3. Perubahan akut pH plasma di serebrospinal secara
cepat
42
Dialysis Dis-equilibrium Syndrome
(DDS)

• Penatalaksanaan :
1. DDS Ringan (dengan gejala mual, muntah, gelisah,
sakit kepala yg tidak spesifik) : menurunkan aliran
darah untuk menurunkan zat terllurt terlau cepat,
memberikan cairan hipertonis : Nacl atau glukosa
terutama jika disertai kram otot/kejang
2. DDS Berat (Kejang, Penurunan kesadaran) : segera
hemtikan HD, lakukan pertolongan gawat darurat

43
Dialysis Dis-equilibrium Syndrome
(DDS)

• Pencegahan :
1. DDS Ringan : kolaborasi perencanaan dialisis yang tidak
terlalu agresif, (SLED atau TD yg pendek), penurunan
plasma unruk semntara cukup 40%, hindari
penggunaan dialisis dengan Na rendah akan
memperburuk edema serebral, pada pasien hipertermi
perbaikan kadar Na dan ureum tdak harus bersamaan ,
dan bisa di perbaiki post dialisis denga dextrose 5%.
2. DDS Berat (Kejang, Penurunan kesadaran) : profiling Na
(dinaikan diawal HD dan berangsur diturunkan pada
jam berikutnya) konsentrasinya antara 140-160,
44
PENTING DI PERHATIKAN DALAM PENANGAN
KOMPLIKASI INTARDIALIS
1. Perawat merupakan orang pertama yang sering menemukan
kejadian komplikasi dialisis jd pemahan terkait komplikasi harus
baik
2. Tindakan segera biasanya harus dialkukan perawat, ingat !!!!!
Bedakan antara kesenanngan perawat dan dokter
3. Tindakan terapi hanya boleh dialakukan sesuai kolaborasi dengan
tim medis
4. Pada kondisi emergency Pemenuhan akan pengembalian volume
saat komplikasi dan menghentikan tindakan dialisis sementara bisa
dilakukan perawat untuk kemudian melakukan kolaborasi tim
medis tentang kondisi terakhir pasien.

45
TRIMAKASIH

46