Anda di halaman 1dari 32

Hernia Diagfragmatika

Oleh:

Putu Gede Parama Putra Sukadana


15710383
PEMBIMBING :
Dr, Made Dewi Kristiawati, Sp.Rad
SUB DEPARTEMEN RADIOLOGI
RS TK. II dr. SOEPRAOEN-MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
SURABAYA
2016
Pendahuluan
 Hernia merupakan salah satu bentuk kelainan dimana terjadi
protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui dinding
sekitarnya yang lemah. Hernia terdiri dari isi, kantong, dan
cincin hernia. Hernia dapat diklasifikasikan menurut proses,
lokasi, dan sifat hernia tersebut.
 Hernia diafragmatika adalah penonjolan organ intra abdomen
ke dalam rongga kavum pleura melalui suatu lubang pada
diafragma.
Diafragma
 Diafragma adalah struktur muskulotendineus berbentuk
kubah yang berhubungan dengan vertebra lumbalis 1-3 pada
bagian posterior, sternum pada bagian anterior, dan arkus
kosta pada bagian lateralnya.
Diafragma
Epidemiologi
Laporan hernia kongenital diafragmatika bervariasi dari
1:5000 kelahiran hidup sampai 1:2000 jika lahir mati
dimasukkan. Defek lebih sering terjadi pada sisi kiri (70-
85%) dan kadang 5% bilateral. Malrotasi dan hipoplasia
pulmo sebenarnya terjadi pada semua kasus dan diperkirakan
merupakan komponen lesi dan tidak terkait anomali. Anomali
yang menyertai telah dikenali pada 20-30% dan meliputi lesi
sistem saraf sentral, atresia esofagus, omfalokel, lesi
kardiovaskuler..
Patofisiologi
Gangguan fusi bagian sternal dan bagian kostal diafragma di garis
median mengakibatkan defek yang disebut foramen Morgagni. Tempat ini
dapat menjadi lokasi hernia retrosternal yang disebut juga hernia
parasternalis. Hernia retrosternal ini hanya sekitar 10% dari semua kasus
hernia diafragmatika dan jarang menimbulkan masalah selama usus halus
masuk ke mediastinum pelan-pelan.
Tujuh puluh sampai delapan puluh persen (70-80%) merupakan
hernia posterolateral melalui foramen Bochdalek yang terbentuk akibat
kegagalan penutupan kanalis pleuroperitoneal pada 10 minggu kehidupan
janin. Usus halus, gaster, limpa, serta sebagian kolon transversum dari
rongga peritoneal dapat masuk ke rongga toraks (90% sebelah kiri).
Selanjutnya paru-paru di rongga toraks yang bersangkutan tidak
berkembang (hipoplasi) dan tidak berfungsi baik pada waktu lahir.
Klasifikasi Hernia Diafragmatika
 Hernia diafragma kongenital
Hernia Bochdalek / hernia pleuroparietal
Hernia Morgagni / hernia parasternal
 Ruptur diafragma traumatik
 Hernia hiatal
Hernia diafragmatika kongenital
 Kegagalan penyatuan bagian sternal dan kostal diafragma
bagian anterior pada garis tengah tubuh membentuk defek
(foramen Morgagni) yang dapat menyebabkan terjadinya
hernia.
 Kegagalan penyatuan kanal pleuroparietal pada
posterolateral membentuk defek (foramen bochdalek).
Hernia diafragmatika kongenital
Insiden
 Hernia Morgagni sekitar 3-5% dari seluruh hernia
diafragmatika kongenital. Sekitar 90% di sisi kanan, 2% di sisi
kiri, dan 8% di kedua sisi. Lebih banyak pada wanita.
 Kejadian hernia Bochdalek 1 dari 2500 kelahiran hidup, dan
pada bayi laki-laki 2x lipat bayi perempuan.
Gambaran Klinis
 Hernia Morgagni jarang menimbulkan gejala sebelum usia
dewasa.
 Hernia Bochdalek menyebabkan gangguan pernapasan segera
setelah lahir sehingga memerlukan pembedahan darurat.
 Sisi thoraks yang terkena terlihat lebih menonjol, perkusi
pekak, suara napas menghilang pada auskultasi. Mediastinum
tergeser ke sisi thoraks yang normal.
Diagnosis
 Pada pemeriksaan foto toraks, hernia morgagni tampak
sebagai suatu massa retrosternal (di sudut kardiofrenikus
kanan), yaitu viskus yang berisi udara, atau memberikan
gambaran serupa di sebelah dorsal jika ada hernia bochdalek
Hernia Morgagni
Hernia Bochdalek
Eventrasi diafragma
 Eventrasi diafragma dideskripsikan sebagai posisi diafragma
yang tinggi atau deviasi abnormal dari sebagian atau seluruh
hemidiafragma.
 Eventrasi kongenital adalah abnormalitas perkembangan yang
menghasilkan aplasia otot diafragma. Pada eventrasi yang
didapat, diafragma menjadi atrofi karena kerusakan nervus
phrenicus.
Pembedahan
 Menggunakan anestesi umum dengan pelemas otot. Bayi
diposisikan supinasi di atas selimut hangat. Insisi pada otot
transversus subcostalis pada sisi hernia.
 Isi hernia dikembalikan perlahan ke abdomen. Pada sisi kanan,
usus dikembalikan pertama kali dan hepar setelahnya. Kantung
hernia, (pleura dan peritoneum), ditemukan pada sekitar 20%
pasien. Jika terdapat kantung, kantung tersebut dieksisi.
 Bila defeknya besar digunakan bahan prostetik, termasuk Marlex
mesh, reinforce silikon elastomer, preserved heterograft
pericardial, preserved dura dan polytetrafluoroethylene Patch
(PTFE)
Komplikasi
 Jika hernianya besar, biasanya paru-paru pada sisi hernia tidak
berkembang secara sempurna. Setelah lahir, bayi akan
menangis dan bernafas sehingga usus segera terisi oleh udara.
Terbentuk massa yang mendorong jantung sehingga menekan
paru-paru dan terjadilah sindroma gawat pernafasan.
Hernia Diafragmatika Traumatik
 Ruptur diafragma traumatik dapat terjadi akibat cedera tajam
atau cedera tumpul. Robekan biasanya terjadi pada bagian
tendineus dari diafragma, lebih sering pada bagian kiri.
 Kejadian hernia traumatik karena cedera tumpul sekitar 1-
7% dan karena cedera tajam sekitar 10-15%.3
 Hernia akibat cedera tumpul biasanya berupa robekan lebar
pada tendon sentral, dan mungkin tidak menimbulkan gejala
atau tanda. Pada umumnya, gejala timbul sekunder karena
cedera lain yang menyertai.
 Gejala dan tanda yang mungkin timbul pada hernia
traumatika akut antara lain nyeri bahu, nyeri epigastrium,
gangguan napas, dan terdengarnya bising usus intratorakal.
 Pada penderita dengan keluhan dan gangguan, diperlukan
pembedahan untuk reposisi visera dan menutup kembali
diafragma.
 Prognosis umumnya baik karena bagian tendineus mudah
dijahit sehingga jarang mengalami kekambuhan
Hernia Hiatal
Sliding hernia
 Sliding hernia terjadi akibat menyusupnya esophagus dan
kardial lambung melalui hiatus masuk ke rongga dada. Kedua
organ itu dapat kembali ke posisi semula.
 Sliding hernia merupakan 90% dari seluruh hernia hiatus.
Insidensi sliding hernia 7x lebih tinggi dari pada
paraesophageal hernia.
 Gejala utama sliding hernia biasanya merupakan gejala
esofagitis refluks, yaitu regurgitasi asam dan rasa terbakar dan
rasa nyeri dada.
 Mual dan muntah ,nyeri epigastrium ,kembung (40% kasus),
disfagia (5-40% kasus)
 Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan esofagogastrografi yang
memperlihatkan adanya mukosa gaster (kardia) diatas hiatus.
 Xray :
Tata laksana
 Bila tidak didapati gejala dan diagnosis dibuat secara
kebetulan, sliding hernia dibiarkan tanpa diobati karena jarang
menjadi progresif. Bila tidak ada komplikasi, terapi umumnya
hanya bersifat simtomatis. Bila terjadi komplikasi dan terapi
konservatif gagal, harus dipikirkan pembedahan
Hernia Paraesofageal
 Pada hernia para esofagus, sebagian dinding kurvatura mayor
lambung tergelincir masuk ke dalam rongga toraks,
sedangkan letak batas lambung esofagus dalam posisi normal.
Paraesophageal hernia lebih sering terjadi pada wanita dengan
ratio 4:1.
 Diagnosis klinis dibuat bila ada trias (a) nyeri ulu hati dan
distensi abdomen, (b) rasa ingin muntah tetapi sukar
mengeluarkan makanan, dan (c) kesukaran memasukkan pipa
lambung (NGT).
Hernia paraesofageal
Tata laksana
 Jika hernia paraesofagus tidak menimbulkan gejala atau tanda
komplikasi, dilakukan koreksi pembedahan yang terdiri atas
mengembalikan hernia ke dalam rongga abdomen untuk
kemudian difiksasi di bawah diafragma (fundoplikasi)