Anda di halaman 1dari 28

HIPERTENSI

KEHAMILAN

DWI FITRAH WAHYUNI


1607045016
WHAT IS ???!
PREECLAMPSIA HIPERTENSI KRONIK
PENDAHULUAN
Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis,
tetapi ada beberapa keadaan yang dapat
menyebabkan kehamilan penuh dengan ancaman,
Diawali dari hasil bertemunya sperma dan ovum
yang tidak menempel dengan sempurna ke rahim,
kemungkinan pertumbuhan janin yang terhambat,
berbagai penyakit ibu yang mengancam
kehamilan, hingga proses kelahiran yang juga
mempunyai resiko tersendiri. Salah satu penyakit
yang sering mengancam kehamilan adalah
hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi dalam pada kehamilan adalah
hipertensi yang terjadi saat kehamilan
berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir
kehamilan atau lebih setelah 20 minggu usia
kehamilan pada wanita yang sebelumnya
normotensif, tekanan darah mencapai nilai
140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik
30 mmHg dan tekanan diastolik 15 mmHg di
atas nilai normal
ETIOLOGI
Menurut WHO terdapat sekitar
585.000 ibu meninggal per tahun saat
hamil atau bersalin dan 58,1%
diantaranya dikarenakan oleh
Preeklampsia dan eklampsia

Di Indonesia, preeklampsi dan eklampsi merupakan penyebab


kematian ibu yang berkisar 15% - 25%. Ada beberapa penyakit
ibu yang dapat meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia,
yaitu riwayat hipertensi kronis, preeklampsia, diabetes mellitus,
ginjal kronis dan hioperplasentosis (mola hidatidosa, kehamilan
multipel, bayi besar).
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan The National High
Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in
Pregnancy (NHBPEP) memberikan suatu klasifikasi untuk mendiagnosa jenis
hipertensi dalam kehamilan

1. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul


sebelum umur kehamilan 20 minggu atau
hipertensi yang pertama kali didiagnosis 9
setelah umur kehamilan 20 minggu dan
hipertensi menetap sampai 12 minggu
pascapersalinan.
2. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul
setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan
proteinuria. Eklampsia adalah preeklampsi yang
disertai dengan kejang-kejang dan/atau koma.
3. Preeklampsia pada hipertensi kronik
(preeclampsia superimposed upon chronic
hypertension) adalah hipertensi kronik
disertai tanda- tanda preeklampsi atau
hipertensi kronik disertai proteinuria.
4. Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang
timbul pada kehamilan tanpa disertai
proteinuria dan hipertensi menghilang
setelah 3 bulan pascapersalinan atau
kematian dengan tanda-tanda preeklampsi
tetapi tanpa proteinuria
Faktor resiko
Faktor Risiko Hipertensi dalam Kehamilan
1. Primigravida
2. Hiperplasentosis, seperti molahidatidosa, kehamilan
ganda, diabetes melitus, hidrops fetalis, bayi besar.
3. Umur yang ekstrim.
4. Riwayat keluarga yang pernah mengalami
preeklampsia dan eklampsia
5. Penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum
hamil
6. Obesitas
Perubahan fisiologis pada ibu hamil
Sistem kardiovaskuler selama kehamilan harus
memenuhi kebutuhan yang meningkat antara ibu
dan janin. Peningkatan curah jantung selama
kehamilan berkisar 40% pada trimester pertama
dan kedua. Peningkatan curah jantung
memungkinkan darah mengalir malalui sirkulasi
tambahan yang terbentuk di uterus yang
membesar dan dinding plasenta dan memenuhi
kebutuhan tambahan pada organ lainnya di
tubuh ibu.
lanjutan
jumlah dan panjang pembuluh darah yang dialirkan ke
plasenta meningkat sehingga terjadi vasodilatasi sebagai
akibat aktivitas hormon progesteron pada otot polos
dinding pembuluh darah. Selama kehamilan terjadi
peningkatan volume plasma darah hingga 50% dan jumlah
sel darah meningkat hingga 18% untuk mengompensasi
penurunan volume darah akibat pembentukan darah ekstra
dan vasodilatasi (Blackburn dalam Wylie). Peningkatan
volume plasma yang diimbangi dengan jumlah sel darah
dan protein dalam darah yang bersikulasi dapat
menyebabkan penurunan cairan pada kompartemen cairan
interstisial dinding kapiler, sehingga mengakibatkan edema
pada wanita hamil
Pada kehamilan normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi invasi trofoblas ke
dalam lapisan otot arteri spiralis yang menimbulkan degenerasi lapisan otot
tersebut, sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga memasuki
jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan
memudahkan lumen spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan
vasodilatasi lumen arteri apiralis ini memberi dampak penurunan tekanan darah,
penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada utero plasenta.
Akibatnya, aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat,
sehingga dapat menjamin pertumbuhna janin dengan baik. Proses ini dinamakan
“remodeling arteri spiralis”.

Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada
lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot
arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi.
Akibatnya, arteri spiralis relatif mengalami vasokontriksi, dan terjadi
kegagalan “remodeling arteri spiralis”, sehingga aliran darah utero plasenta
menurun, dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia
plasenta akan menimbulkan perubahan-perubahan yang dapat
menjelaskan patogenesis hipertensi dalam kehamilan selanjutnya.
DIAGNOSIS
ANAMNESIS
Dilakukan anamnesis pada
pasien/keluarganya mengenai PEMERIKSAAN PENUNJANG
adanya gejala, penyakit Pemeriksaan yang perlu
terdahulu, penyakit keluarga dan dilakukan dalam kasus
gaya hidup sehari-hari. Gejala hipertensi sebagai komplikasi
dapat berupa nyeri kepala, kehamilan adalah proteinuria,
gangguan visus, rasa panas untuk diagnosis dini preeklampsi
dimuka, dispneu, nyeri dada, yang merupakan akibat dari
mual muntah dan kejang. hipertensi kehamilan.
Penyakit terdahulu seperti Pemeriksaan proteinuria dapat
hipertensi dalam kehamilan, dilakukan dengan dua metode,
penyulit pada pemakaian yaitu secara Esbach dan
kontrasepsi hormonal, dan Dipstick. Pengukuran secara
penyakit ginjal. Riwayat gaya Esbach, dikatakan proteinuria
hidup meliputi keadaan jika didapatkan protein ≥300 mg
lingkungan sosial, merokok dan dari 24 jam jumlah urin
minum alkohol
TERAPI PENGOBATAN HIPERTENSI KEHAMILAN

Obat (kat. FDA) Dosis Keterangan

Agen lini pertama 0,5 – 3 g/hari dalam 2 dosis Pilihan pertama berdasarkan
Metildopa (B) NHBPEP, keamanan setelah
trimester pertama telah dibuktikan

Agen lini kedua


Labetalol (C) 200-1200 mg/hari dalam 2-3 Mungkin berhubungan dgn
dosis hambatan tumbuh janin

Nifedipine (C) 30-120 mg/hari dalam Mungkin hambat proses persalinan


preparat lepas lambat dan efek sinergik dgn MgSO4

Pengalaman jangka panjang


Hidralazin (C) 50-300 mg/hari dalam 2-4 menemukan gejala ikutan
dosis
Beresiko menghambat
β- reseptor bloker Tergantung pd agen spesifik pertumbuhan janin jika diberikan
trimester I dan II
TERAPI

METILDOPA golongan α2-agonis sentral yang mempunyai


mekanisme kerja dengan menstimulasi reseptor α2-
adrenergik di otak. Stimulasi ini akan mengurangi aliran
simpatik dari pusat vasomotor di otak. Pengurangan aktivitas
simpatik dengan perubahan parasimpatik akan menurunkan
denyut jantung, cardiac output, resistensi perifer, aktivitas
renin plasma, dan refleks baroreseptor. Metildopa aman bagi
ibu dan anak, dimana telah digunakan dalam jangka waktu
yang lama dan belum ada laporan efek samping pada
pertumbuhan dan perkembangan anak.
MENURUT DIREKTORAT BINA
FARMASI KOMUNITAS DAN KLINIK
1. α2-Adrenergic agonis

• Metildopa (kategori B) merupakan agen lini pertama


• Tidak ada efek teratogenik
• Efek samping kelemahan, sedasi yang bersifat sementara, depresi
dan penurunan ketahanan mental, mulut kering, peningkatan
serum transaminase dan anemia hemolitik.
• Klonidin (kategori C) merupakan agen lini ketiga untuk kontrol
hipertensi refraktori.
• Bekerja mirip dengan metildopa, tapi pernah dilaporkan efek
samping gangguan tidur dari neonatus yang terpapar klonidin.
2. β-adrenoseptor antagonis

• Labetalol (kategori C) → kombinasi antagonis α1 dan β


adrenoseptor dgn efek vasodilatasi dpt ↓ tekanan darah tanpa
mengganggu aliran darah uteroplasenta
• Pemberian labetalol tidak didapatkan efek samping hambatan
pertumbuhan janin maupun hipoglikemi pada neonatus.
• Atenolol (kategori C) non selektif β bloker mempunyai
kecenderungan efek samping berat janin lahir rendah sehingga
penggunaan atenolol sebaiknya dihindari pada awal kehamilan.
3. Antagonis kanal kalsium

• Nifedipin (kategori C) merupakan obat lini kedua setelah


metildopa.
• Kejadian hipotensi maternal dan distress janin pada
penggunaan nifedipin kerja pendek sehingga menyarankan
penggunaan nifedipin kerja panjang
• Pemberian MgSO4 pada wanita hamil yang mendapatkan
CCB menyebabkan hipotensi berat dan hambatan
neuromuskular.
• Nikardipin (kategori C) merupakan obat lini kedua.
Nikardipin ditemukan lebih efektif dari metoprolol dalam
menurunkan tekanan darah maternal tapi sayangnya
belum banyak penelitian untuk obat ini.
4. Diuretik

• Penggunaan diuretik sebagai antihipertensi diperbolehkan hanya


jika penggunaannya telah berlangsung lama sebelum kehamilan
• Loop diuretik terutama furosemide (kategori C) diindikasikan pada
kehamilan jika didapatkan gagal jantung berat, edema paru, atau
oliguria meskipun mempunyai resiko hiperbilirubinemia neonatus
• Penggunaan hidroklorotiazid (kategori C) mempunyai efek samping
trombositopenia neonatus, ikterus, pankreatitis maternal,
hipokalemia dan
5. Vasodilator

• Hidralazine (kategori C) adalah vasodilator arteri sering


digunakan untuk terapi kombinasi pada hipertensi untuk
kehamilan karena efek hipotensinya minimal
• Dapat digunakan pada semua trimester karena data
memperlihatkan tidak ada kejadian teratogenik.
• Efek samping perinatal setelah pemberian intravena
diantaranya lupoid-like syndrome dan trombositopenia pada
bayi baru lahir.
• Sodium nitroprusid (kategori D) merupakan donor direk NO
• Efek relaksan otot polos vaskular dengan onset cepat.
Metabolisme nitroprusid melepaskan sianida,
6. ACE inhibitor dan Angiotensin reseptor antagonis

• ACE inhibitor dan ARB merupakan kontraindikasi untuk


trimester ke 2 dan 3 karena keracunan berhubung dengan
penurunan perfusi ginjal janin.
• Faktor resiko C pada trisemester 1; D pada trisemester 2 dan
3
• Dapat menyebabkan oligohidramnion, hambatan
pertumbuhan janin, hipoplasi pulmonal, kontraktur
persendian, gagal ginjal neonatus, hipotensi.
• Penggunaan obat golongan ini sebaiknya dihindari pada
wanita yang merencanakan kehamilan.
Magnesium sulfat
Merupakan antikonvulsan yang efektif dan membantu
mencegah kejang kambuhan dan mempertahankan
aliran darah ke uterus dan aliran darah ke fetus.
Magnesium sulfat berhasil mengontrol kejang
eklamptik pada >95% kasus. Selain itu zat ini
memberikan keuntungan fisiologis untuk fetus dengan
meningkatkan aliran darah ke uterus. Mekanisme kerja
magnesium sulfat adalah menekan pengeluaran
asetilkolin pada motor endplate. Magnesium sebagai
kompetisi antagonis kalsium juga memberikan efek
yang baik untuk otot skelet. Magnesium sulfat
dikeluarkan secara eksklusif oleh ginjal dan mempunyai
efek antihipertensi. Dapat diberikan dengan dua cara,
yaitu IV dan IM.
PENCEGAHAN
Strategi yang dilakukan guna mencegah hipertensi
dalam kehamilan meliputi upaya nonfarmakologi
dan farmakologi. Upaya nonfarmakologi meliputi
edukasi, deteksi prenatal dini dan manipulasi diet.
Sedangkan upaya farmakologi mencakup
pemberian aspirin dosis rendah dan antioksidan,
serta Edukasi mengenai beberapa faktor risiko
yang memperberat kehamilan dan pemberian
antioksidan vitamin C pada wanita berisiko tinggi
dapat menurunkan angka morbiditas hipertensi
dalam kehamilan