Anda di halaman 1dari 82

REFERAT

Sindroma Nefrotik
Pembimbing : dr. Arsi Widyastriastuti, Sp.A

SMF ANAK RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KEDIRI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018

1
BAB 1

PENDAHULUAN

2
3 Latar belakang

Sindrom nefrotik adalah suatu keadaan klinik yang ditandai dengan


proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan hiperlipidemia

Umumnya, sindrom nefrotik disebabkan oleh adanya kelainan


glomerulus yang dapat dikategorikan dalam bentuk primer dan
sekunder

Sindrom nefrotik (SN) merupakan penyakit ginjal pada anak yang


paling sering ditemukan
4 Latar belakang
• 80% SN primer memiliki gambaran patologis SNKM
SNKM • 94% mengalami remisi total

• Sebesar 7-8%
GSFS • 80-85% tidak responsif (resisten steroid)

• Sebesar 2-5%
MPD • 50% berespond terhadap steroid

• Sebesar 4-6% dan 1,5%


GNMP & GNM
5 Latar belakang

Terapi sindrom nefrotik idiopatik merupakan terapi jangka panjang


dan dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Sebanyak 60-90% pasien anak dengan sindrom nefrotik idiopatik


mengalami kekambuhan/ relaps

Kekambuhan mengakibatkan perlunya terapi berulang dalam


jangka waktu yang cukup lama yaitu kurang lebih 2 bulan
penggunaan prednison pada kasus kekambuhan
6 Latar belakang

Pada referat ini, akan dibahas mengenai sindrom


nefrotik pada anak dan tatalakasananya. Sehinggi
diharapkan dapat membantu pembaca untuk mengerti
dan mengetahui manifestasi serta tatalaksana dari
sindrom nefrotik.
7 Tujuan

Referat ini bertujuan untuk mengetahui tentang


Sindrome Nefrotik meliputi definisi, epidemiologi, etiologi,
patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan penunjang,
diagnosis, diagnosis banding, terapi, komplikasi, dan
prognosisnya.
8 Manfaat

– Menambah pengetahuan mengenai Sindrome Nefrotik.


– Sebagai bahan pembelajaran untuk memenuhi salah satu
persyaratan mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik bagi
Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Malang di SMF Ilmu Kesehatan Anak RS
Bhayangkara Kediri
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

9
10 Anatomi Ginjal
Ginjal memiliki panjang sekitar 12 cm dan lebar sekitar 7
cm, dan tebal maksimum 2,5 cm

terletak pada bagian belakang abdomen, posterior


terhadap peritoneum.

ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh adanya


hepar dan lebih dekat dengan garis tubuh.

Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra


thorakalis XII, dan batas bawahnya setinggi vertevra
lumbalis III
11Anatomi
Ginjal
Piramid  puncaknya
(papilla marginalis)
menonjol ke dalam caliks
minor  caliks mayor 
pelvis renalis
12
13 Fisiologi Ginjal
Fungsi Ekskresi

Mempetahankan osmolalitas plasma sekitar 285


mosmoldengan mengubah ekskresi air

Produksi urine dan membuang berbagai zat zat metabolit

Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan


mengeluarkan kelebihan H+ dan membentuk kembali
HCO3-
14 Fisiologi Ginjal
Fungsi Ekskresi

Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit


plasma dalam rentang normal

Mengekskresikan produk akhir nitrogen dan metabolisme


protein terutama urea, asam urat dan kreatinin
15 Fisiologi Ginjal
Fungsi Non-
Ekskresi

Menghasilkan renin yang penting untuk mengatur


tekanan darah

Menghasilkan eritropoitin (EPO) yaitu suatu faktor yang


penting dalam stimulasi produksi sel darah merah oleh
sumsum tulang

Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya

Menghasilkan prostalglandin
16
17
18 Definisi

Sindrom nefrotik merupakan kumpulan gejala yang


disebabkan oleh kelainan glomerular dengan gejala
proteinuria masif (lebih dari 40 mg/m2 LPB/jam atau 50
mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia (kurang dari 2,5 gr/dl),
hiperkolesterolemia (melebihi 250mg/dl) dan edema
19 Epidemiologi
– SN pada anak dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih banyak terjadi
pada usia 1−2 tahun dan 8 tahun.
– Data dari (ISKDC) menunjukkan bahwa 66% pasien dengan minimal
change adalah laki-laki dan untuk membrano proliferative
glomerulonephritis (MPGN) 65% nya adalah perempuan.
– SN primer merupakan 90% dari sindrom nefrotik pada anak sisanya
merupakan SN sekunder
20 Epidemiologi
– Prevalensi sindrom nefrotik primer berkisar 16 per 100.000 anak.
Prevalensi di indonesia sekitar 6 per 100.000.
– Perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1
– Sampai pertengahan abad ke 20 morbiditas SN pada anak masih tinggi
yaitu melebihi 50%.
21 Etiologi
Kongenital Primer Sekunder
• Finnish-type congenital • Sindrom Nefrotik Kelainan • SLE
nephrotic syndrome Minimal (SNKM) • Keganasan (Limfoma dan
(NPHS1, nephrin) • Glomerulosklerosis fokal leukimia)
• Denys-Drash syndrome segmental (GSFS) • Immune complex
(WT1) • Mesangial Proliferative mediated (post
• Frasier syndrome (WT1) Difuse (MPD) streptococcal
• Diffuse mesangial • Glomerulonefritis glomerulonephritis)
sclerosis (WT1, PLCE1) Membranoproliferatif • Vaskulitis, Sindrom Churg-
• Pierson syndrome (GNMP) Strauss , poliartritis
(LAMB2) • Nefropati Membranosa nodosa, poliangitis
(GNM) mikroskopik, purpura
Henoch Schonlein
22 Batasan

Remisi • Apabila proteinuria negatif atau trace (proteinuria < 4


mg/m2 LPB/ jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu

Relaps • Apabila proteinuria ≥ 2+ (proteinuria >40 mg/m2


LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu

Relaps jarang • Sindrom nefrotik yang mengalami relaps < 2 kali dalam 6
bulan sejak respons awal atau < 4 kali dalam 1 tahun

Relaps sering • Sindrom nefrotik yang mengalami relaps ≥ 2 kali dalam 6


bulan sejak respons awal atau ≥ 4 kali dalam 1 tahun.
23 Batasan

Dependen • SN yang mengalami relaps dalam 14 hari setelah dosis


prednison diturunkan menjadi 2/3 dosis penuh atau
steroid dihentikan dan terjadi 2 kali berturut-turut

• SN yang apabila dengan pemberian prednison dosis penuh


Resisten steroid (2mg/kg/hari) selama 4 minggu tidak mengalami remisi.

• SN yang apabila dengan pemberian prednison dosis penuh


Sensitif steroid (2mg/kg/hari) selama 4 minggu mengalami remisi.
24 Klasifikasi

– Ada beberapa macam pembagian klasifikasi pada sindrom


nefrotik.
– Klasifikasi SN lebih sering didasarkan pada respon klinik,
yaitu : 1) Sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS)
2) Sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS).
25 Patofisiologi

Endotel kapiler
glomerulus

Barrier Glomerular Basal


glomerulus Membrane (GBM) Nephrin
Procecus
podocyte anchor
Podocyte Podocin
to GBM  Slit
Diaphragm

CD2AP
26 Patofisiologi
The Slit diaphragma

Mutations of Genes Coding for Podocyte Protein

Role of immunity

Possible permeability factors


27
28
29 Manifestasi klinis
• protein ≥ 40 mg/jam/m2 luas permukaan badan
disebut dengan protenuria berat.
Proteinturia • digunakan untuk membedakan dengan
protenuria pada pasien bukan sindrom nefrotik

• kadar albumin kurang dari 2,5 g/dL


• Pada orang normal, produksi albumin di hati
Hipoalbumin adalah 12-14 g/hari (130-200 mg/kgBB).
30 Manifestasi klinis
• Teori underfilled dan overfilled
Edema

• Melebihi 250 mg/dL


Hiperkolestrolemia
31 Penegakan Diagnosis
Anamnesis Pmx Fisik Pmx penunjang

• bengkak di kedua • edema di kedua • Urinalisis


kelopak mata, kelopak mata, • Pemeriksaan
perut, tungkai, tungkai, atau urine kuantitatif
atau seluruh adanya asites dan • Pemeriksaan
tubuh dan dapat edema skrotum darah
disertai jumlah atau labia
urin yang • Terkadang
berkurang hipertensi
32 Komplikasi

Infeksi Thrombosis Hiperlipidemia Hipokalsemia

ES
Hipovolemia Hipertensi
kortikosteroid
33
34 Pengobatan Kortikosteroid

a). Terapi Inisial

b). Pengobatan SN relaps

c). Pengobatan SN Relaps sering atau Dependen Steroid


35 Pengobatan Kortikosteroid

d). Pengobatan dengan siklosporin atau mikofenolat


mofetil

e). Pengobatan SN dengan kontraindikasi Steroid

f). Pengobatan SN Resisten Steroid


36 a). Terapi Inisial

• prednison 60 mg/m2 LPB/hari atau 2 mg/kgbb/hari (maksimal 80


mg/ hari) dalam dosis terbagi
Full Dose • Diberikan selama 4 minggu

• prednison 40 mg/m2 LPB (2/3 dosis awal) atau 1,5 mg/kgbb/hari,


secara alternating (selang sehari), 1 x sehari setelah makan pag
Alternating
DOse • Selama 4 minggu
37 a). Terapi Inisial
38 b). SN Relaps

• prednison 60 mg/m2 LPB/hari atau 2 mg/kgbb/hari


(maksimal 80 mg/ hari) dalam dosis terbagi
Full Dose • (FD) setiap hari sampai remisi (maksimal 4 minggu)

• dilanjutkan dengan prednison intermittent atau alternating


Alternating (AD) 40 mg/m2 LPB/hari selama 4 minggu.
Dose
39 b) SN Relaps
40 b) SN Relaps

Infeksi  AB
Proteinuria ++ 5-7d
Edema - Cari pemicu
SN Remisi yang lain

Proteinuria ++
Terapi relaps
Edema +
41 c). SN relaps sering atau
Dependen Steroid
Pengobatan sterorid jangka panjang

Pemberian Levamisol

Pengobatan dengan sitostatik

Pengobatan dengan Siklosporin atau mikofenat mofetil


42 Pengobatan steroid jangka
panjang
Diberikan prednison full dose (2mg/kgBB) sampai terjadi remisi
(max 4minggu)

Diteruskan dengan alternating dose (1,5mg/kgBB)

AD diturunkan secara bertahap 0,2mg/kgBB setiap 2minggu

Sampai dosis terkecil tidak menimbulkan relaps yaitu antara


0,1-0,5 mg/KgBB secara AD (6-12 bln)
SN relaps sering/

43 dependen steroid

Prednison FD

Diturunkan sampai dosis


threshold 0,1-0,5
mg/kgBB AD
(6-12bln)

Relaps pada 0,1-0,5 Relaps pada >0,5 Relaps pada >1,0


mg/kgBB AD mg/kgBB AD mg/kgBB AD

Levamisol 2,5 mg/kgBB


Prednison 1mg/kgBB CPA 2-3mg/kgBB (8-
AD
dosis terbagi  Remisi 12mggu)
(4-12 bln)

Remisi (+)  tapp off


44 Pemberian Levamisol

Levamisol diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgbb


dosis tunggal, selang sehari
• Diberikan selama 4-12 bulan

ES : mual, muntah, hepatotoksik, vasculitic


rash, neutropenia reversible
45 Pengobatan dengan
Sitostatik
• dosis 2-3 mg/kgbb/ hari dalam dosis tunggal

CPA oral

• dosis 500 – 750 mg/ m2 LPB, yang dilarutkan dalam 250 ml larutan NaCL 0,9%,
diberikan selama 2 jam
• diberikan sebanyak 7 dosis, dengan interval 1 bulan (total durasi pemberian
CPA puls CPA puls adalah 6 bulan)
46 Pengobatan dengan
Sitostatik
47 Pengobatan dengan
Sitostatik
48 Pengobatan dengan
Sitostatik
– ES : mual, muntah, depresi sumsum tulang, alopesia, sistitis
hemoragik, azospermia, dan dapat menyebabkan
keganasan (jangka panjang)
– perlu pemantauan pemeriksaan darah tepi yaitu kadar
hemoglobin, leukosit, trombosit, setiap 1-2 x seminggu.
49 Pengobatan dengan Siklosporin
atau Mikofenolat mofetil

Pada SN idiopatik yang tidak responsif dengan pengobatan steroid


atau sitostatik dianjurkan untuk pemberian siklosporin

Dosis 4-5 mg/kgbb/hari (100-150 mg/m2 LPB) selama 1 tahun

ES : hipertensi, hiperkalemia, hipertrikosis, hipertrofi gingiva,


dan juga bersifat nefrotoksik yaitu menimbulkan lesi
tubulointerstisial
50 Pengobatan dengan Siklosporin
atau Mikofenolat mofetil

Pada SNSS yang tidak memberikan respons dengan levamisol atau


sitostatik dapat diberikan MMF

Dosis 800 – 1200 mg/m2 LPB atau 25-30 mg/kgbb bersamaan


dengan penurunan dosis steroid selama 12 - 24 bulan

ES : nyeri abdomen, diare, leukopenia


51
52
53 d). Pengobatan SN
Resisten Steroid (SNRS)
Siklofosfamid Siklosporin Metilprednisolon
(CPA) (CyA) puls

Imunosupressif
lain
54 Siklofosfamid (CPA)
SN Resisten Steroid
Prednison AD

CPA oral

Prednison AD

CPA puls
55 Siklosporin (CyA)
– Dosis 4-5 mg/kgbb/hari (100-150 mg/m2 LPB) selama setahun. Dosis
tersebut dapat mempertahankan kadar siklosporin darah berkisar antara
150-250 ng/mL.
– Efek samping CyA adalah hipertensi, hiperkalemia, hipertrikosis, hipertrofi
gingiva, dan juga bersifat nefrotoksik yaitu menimbulkan lesi
tubulointerstisial
56 Siklosporin (CyA)
– Selama penggunaan CyA perlu pemantauan terhadap:
1.Kadar CyA dalam darah: dipertahankan antara 150-250 nanogram/mL
2. Kadar kreatinin darah berkala
3. Biopsi ginjal setiap 2 tahun
57 Metilpredniosolon puls

Pengobatan SNRS dengan metil prednisolon puls


selama 82 minggu dan prednison oral

Dapat ditambahkan siklofosfamid atau


klorambusil 8-12 minggu (proteinuria masif)

Dosis MP puls 30 mg/kgbb dilarutkan dalam 50-


100 mL glukosa 5%, diberikan dalam 2-4 jam
58 Metilpredniosolon puls
Minggu ke Metil predniosolon Jumlah Prednison oral

1-2 30mg/kgBB (3x seminggu) 6 Tidak diberikan

3-10 30mg/kgBB (1x seminggu) 8 2mg/kgBB dosis tunggal

11-18 30mg/kgBB (2x seminggu) 4 Dengan atau tanpa tapper


off

19-50 30mg/kgBB (4x seminggu) 8 Tapper off pelan

51-82 30mg/kgBB (8x seminggu 4 Tapper off pelan


59 Metilprednisolon puls
– Dosis maks MP puls : 1000 mg
– Dosis maks prednison oral : 60 mg

bila proteinuria masif masih didapatkan setelah


pemberian metilprednisolon selama 10 minggu.
• Siklofosfamid (2-2,5 mg/kgbb/hari) atau klorambusil (0,18-0,22
mg/kgbb/hari) selama 8-12 minggu
60 Imunosuppresant lain
– Obat imunosupresif lain yang dilaporkan telah digunakan pada SNRS
adalah vinkristin, takrolimus, dan mikofenolat mofetil.Karena laporan
dalam literatur yang masih sporadik, maka obat ini belum
direkomendasi di Indonesia.
Sindrome nefrotik episode pertama

61
(tanpa KI steroid)

Prednison FD 2mg/kgBB/hari
4minggu, dilanjut AD
1,5mg/kgBB/hari 4minggu

Relaps sering atau


Relaps jarang Resisten steroid
dependen steroid

Prednison FD Dirujuk untuk


Dirujuk untuk evaluasi lanjutan evaluasi lanjutan dan
2mg/kgBB/hari setiap
steroid jangka panjang (tentukan biopsi
hari sampai remisi (max
dosis threshold)
4minggu), dilanjut AD
1,5mg/kgBB/hari
4minggu
Dosis threshold Dosis threshold
<0,5mg >0,5mg atau ES
berat

Teruskan prednison AD Levamisol, CPA, CyA,


9-18 mggu MMF
62 Tata laksana komplikasi
INFEKSI SN
– Bila terjadi peritonitis primer (biasanya karna kuman Gram
negatif dan Streptococcus pneumoniae) diberikan penisilin
parenteral dikombinasi dengan sefalosporin generasi
ketiga yaitu sefotaksim atau seftriakson selama 10-14 hari
63 Tata laksana komplikasi
INFEKSI SN
Bila terjadi kontak dengan pasien varicella :
– profilaksis dengan imunoglobulin 125 IU/10 kg atau 400 mg/kgbb dosis
tunggal varicella-zoster dalam waktu kurang dari 96 jam.
– Bila sudah terjadi infeksi  asiklovir intravena (1500 mg/m2 /hari dibagi 3
dosis) atau asiklovir oral (80 mg/kgbb/hari dibagi 4 dosis) selama 7 – 10 hari,
pengobatan steroid sebaiknya dihentikan sementara.
64
Infeksi Jenis Organisme Panduan antimikroba Panduan antimikroba
berdasarkan Indian Academy of berdasarkan Royal
Pediatrics Manchester Children’s
Hospital, UK
Peritonitis Streptococcus pneumonia,  Sefotaksim (100-150mg/kgBB/hari) Seftriakson (hindari
Streptococcus pyogenes, atau seftriakson (75-100 aminoglikosida karena
Escherichia coli mg/kgbb/hari) 7-10 hari, potensial toksik)
Ampisilin
 Aminoglikosida 7-10 hari

Pneumonia Streptococcus pneumonia, Oral: amoksisilin, koamoksiklav, Ko-amoksiklav atau


Haemophylus influenzae, eritromisin Parenteral: ampisilin dan klaritromisin (jika alergi
Staphylococcus aureus aminoglikosida, atau sefotaksim/ penisilin)
seftriakson 7-10 hari

Jaringan lunak (selulitis) Staphylococci, Streptoccoci Kloksasilin (100- 200 mg/kgbb/har) Flukloksasilin
group A, Haemophylus atau seftriakson (50-100 mg/kgbb/
influenza hari) 7- 10 hari, dilanjut peberian oral
ko-amoksiklav (30-40 mg/kgbb/hari)
atau kloksasilin (100 mg/kgbb/hari)
65 Tata laksana komplikasi
TROMBOSIS SN
Pasien SN relaps pada pemeriksaan skintigrafi menujukkan
adanya trombosis pembuluh vaskular paru yang
asimtomatik  Bila Diagnosis sudah ditegakkan :
– heparin secara subkutan, dilanjutkan dengan warfarin
selama 6 bulan atau lebih
66 Tata laksana komplikasi
HIPER
LIPIDEMIA
SN
SN Sensitif Steroid
• Peningkatan bersifat sementara dan tidak jangka panjang 
Pengurangan diit lemak
SN Resisten Steroid
• Dapat dipertimbangan obat penurun lipid seperti inhibitor HMgCoA
reduktase (statin)
67 Tata laksana komplikasi
HIPO
KALSEMIA
SN
Penggunaan steroid jangka panjang yang
menimbulkan osteoporosis dan osteopenia

Pada SN dapat terjadi


hipokalsemia karena

Kebocoran metabolit vitamin D


68 Tata laksana komplikasi
HIPO
KALSEMIA
SN
– Oleh karena itu pada pasien SN yang mendapat terapi
steroid jangka lama (>3 bulan)  suplementasi kalsium
250-500 mg/hari dan vitamin D (125-250 IU).
– Bila telah terjadi tetani, diobati dengan kalsium glukonas
10% sebanyak 0,5 mL/kgbb intravena
69 Tata laksana komplikasi
HIPO
VOLEMIA
SN

• Hipotensi Segera berikan


• furosemid 1-2
• Takikardi
• Infus NaCl 15-2-cc/kg mg/kgbb
• Akral dingin dalam 20-30mnt intravena
• Sakit perut • albumin 1 g/kgbb atau
plasma 20 mL/kgbb
(10 tpm Hipovolemi
Hipovolemia teratasi tp Oliguria
70 Tata laksana komplikasi
HIPERTENSI SN
– Pengobatan hipertensi diawali dengan inhibitor ACE
(angiotensin converting enzyme), ARB (angiotensin
receptor blocker), calcium channel blockers, atau
antagonis β adrenergik, sampai tekanan darah di bawah
persentil 90
71
Golongan Jenis Obat Dosis dan interval Efek Samping

ACE Inhibitor Kaptopril Dosis: 0,3 s/d 0,5 mg/kg/ kali Maksimum 6 Kontraindikasi pada ibu
mg/kg/hari hamil Pemeriksaan serum
kreatinin dan kalium Dapat
Enalapril Dosis: 0,08 mg/kg/hari sampai 5 mg/hari dibuat suspensi Hati hati
pemakaian pada penyakit
ginjal dengan proteinuria
Benazepril Dosis: 0,2 mg/kg/hari sampai 10 mg/hari dan diabetes mellitus
Maksimum: 0,6 mg/kg/hari sampai 40
mg/hari

Lisinopril Dosis: 0,07 mg/kg/hari sampai 40 mg/hari

Foainopril Anak > 50 kg: dosis 5 s/d 10 mg/hari Dosis


maksimum: 40 mg/ hari

Kuinapril Dosis: 5 s/d 10 mg/hari Dosis maksimum:


80 mg/ hari
72
Golongan
Angiotensin
Jenis Obat
Irbesartan
Dosis dan interval
6 s/d 12 tahun: 75 sampai 150
Efek Samping
Semua ARB dikontra indikasikan pada
Receptor Blocker mg/hari (satu kali perhari) ibu hamil Pemeriksaan kadar serum
(ARB) ≥13 tahun: 150 s/d 300 mg/hari kreatinin dan kalium. Losartan dapat
dibuat menjadi suspensi FDA
Losartan Dosis: 0,7 mg/kg/hari sampai 50 membatasi pemakaian losartan
mg/hari (satu kali sehari) hanya untuk anak ≥6 tahun dan
Dosis maksimum: 1,4 mg/ kg/hari kreatinin klirens ≥ 30 mL/min per
sampai 100 mg/ 1,73 m²
Calcium Channel Amlodipin Anak usia 6 s/d17 tahun: 2,5 sampai Dapat menyebabkan takikardi dan
Blocker (CCB) 5 mg satu kali sehari edema
Felodipin Dosis: 2,5 mg/hari
Dosis maksimum: 10 mg/ hari
Isradipin Dosis: 0,15 sampai 0,2 mg/ kg/hari
(dibagi 3 sampai 4 dosis)
Dosis maksimum: 0,8 mg/ kg/hari
sampai 20 mg/hari

Extended release Dosis 0,25 sampai 0,5 mg/ kg/hari


nifedipin (satu sampai dua kali perhari)
Dosis maksimum: 3mg/hari
73 Efek Samping Kortikosteroid

– peningkatan napsu – peningkatan risiko


makan infeksi
– gangguan – retensi air dan
pertumbuhan garam
– perubahan perilaku – Hipertensi
– dan demineralisasi
tulang
74 Efek Samping Kortikosteroid

pemantauan terhadap gejala-gejala cushingoid

pengukuran tekanan darah

pengukuran berat badan dan tinggi badan setiap 6 bulan


sekali

dan evaluasi timbulnya katarak setiap tahun sekali


BAB 3

KESIMPULAN

75
76
Sindrom nefrotik adalah kumpulan manifestasi klinis yang
ditandai oleh proteinuria, hipoalbuminemia l, edema, dan
hiperkolesterolemia.
• Angka kejadian SN tersering berkisar usia 3 hingga 5 tahun.

Berdasarkan kelainan histopatologis, sindrom nefrotik yang


paling sering ditemukan adalah perubahan minimal changes
nephrotic syndrome dan focal segmental glomerulosclerosing
• Pendekatan diagnosis sindrom nefrotik berdasarkan amnesa, pemeriksaan
fisik yang didapat, pemeriksaan laboratorium dan dikonfrimasi dengan
biopsi renal untuk pemeriksaan histopatologis.
77

Pengobatan pada sindroma nefrotik dapat berupa


pengobatan medikamentosa dan pengobatan suportif,
yang diberikan secara kombinasi
• Komplikasi dari sindrom nefrotik berupa infeksi, tromboemboli, gagal
ginjal akut, anasarka, hipovolemia dan gangguan pertumbuhan.
78

Terimakasih
79 Tata laksana Hipertensi

Klasifikasi Batasan
TD normal Sistolik dan diastolik kurang dari p90

Pre hipertensi Sistolik atau diastolik ≥p90 tapi lebih kecil


dari p95
Hipertensi Sistolik atau diastolik ≥p95
Hipertensi stage 1 Sistolik atau diastolik antara p95 dan 99
ditambah 5mmHg
Hipertensi stage 2 Sistolik atau diastolik diatas p99 ditambah
5mmHg
80
81 Indikasi penggunaan Anti
Hipertensi
– Hipertensi simtomatik
– Kerusakan organ target, seperti retinopati, hipertrofi ventrikel kiri, dan
proteinuria
– Hipertensi sekunder
– Diabetes melitus
– Hipertensi tingkat 1 yang tidak menunjukkan respons dengan perubahan
gaya hidup
– Hipertensi tingkat 2.
82

– Non Farmakologis : penurunan berat badan, diet rendah


lemak dan garam, olahraga secara teratur, menghentikan
rokok dan kebiasaan minum alkohol
– TX farmakologis