Anda di halaman 1dari 26

Kelompok 1

Bunga Nanda Rahmantika ( 1513206001 )


Ayu Tirta Ningsih ( 1513206007 )
Galih Prasetya ( 1513206013 )
Damara Gaya Kirana ( 1513206016 )
Amelia Indah Widuri ( 1513206022 )
RUMUSAN MASALAH

 Apa Pengertian dari Sediaan Salep ?


 Bagaimana Farmakologi Asam Salisilat dalam
Sediaan Topikal ?
 Bagaimana Formulasi dari Sediaan Salep Asam
Salisilat ?
 Bagaimana Evaluasi dari Sediaan Salep ?
 Bagaimana Kemasan dari Sediaan Salep ?
Salep adalah sediaan setengah padat
yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahan obatnya larut
atau terdispersi homogen dalam dasar
salep yang cocok (F.I ed.III).
 Dasar salep hidrokarbon :
1. Vaselin (putih,kuning)
2. Parafin (encer, padat)
3. Jelene
4. Minyak tumbuh – tumbuhan

Dasar salep serap :


1. Adeps lanae
2. Lanolin
3. Unguentum simplex
4. Hyrophilik petrolatum
 Dasar salep dapat di cuci dengan air :
1. Vanishing cream
2. Emulsifing ointment
3. Emulsifing wax
4. Hyrophilik ointment

Dasar salep yang dapat larut air :


1. Polyetilenglycol oinment
2. Tragacant
3. P.G.A
Menurut
Konsistensinya salep :
1. Unguenta adalah salep yang mempunyai konsistensinya
seperti mentega, tidak mencair pada suhu biasa, tetapi
mudah dioleskan tanpa memakai tenaga.

2. Cream (krim) adalah salep yang banyak mengandung


air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang dapat dicuci
dengan air.

3. Pasta adalah salep yang mengandung lebih dari 50% zat


padat (serbuk), suatu salep tebal karena merupakan
penutup atau pelindung bagian kulit yang diolesi
4. Cerata adalah salep lemak yang mengandung
presentase lilin (wax) yang tinggi sehingga
konsistensinya lebih keras (ceratum labiale).

5. Gelones/spumae/jelly adalah salep yang


lebih halus, umumnya cair dan sedikit
mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelicin
atau basis, biasanya terdiri atas campuran
sederhana dari minyak dan lemak dengan titik
lebur rendah.
Menurut sifat
farmakologi/terapeutik
dan penetrasinya :

1. Salep epidermis
2. Salep endodermis
3. Salep diadermis
Kualitas dasar salep yang
ideal adalah :

1. Stabil selama masih dipakai mengobati.

2. Lunak yaitu semua zat dalam keadaan halus


dan seluruh produk menjadi lunak dan
homogen.

3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi


adalah yang apling mudah dipakai dan
dihilangkan dari kulit
4. Dasar salep yang cocok yaitu dasar
salep harus kompatibel secara fisika dan
kimia dengan obat yang dikandungnya.
5.Terdistribusi merata, obat harus
terdistribusi merata melalui dasar salep
padat atau cair pada pengobatan.
6. Lembut, mudah dioleskan serta mudah
melepaskan zat aktif.
1. Pemerian: tidak boleh berbau tengik.
2. Kadar: kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung
obat keras, kadar bahan obat adalah 10%.
3. Dasar salep (ds): kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep
(basis salep) digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung
dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian salep.
4. Homogenitas: jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan
transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang
homogen.
5. Penandaan: pada etiket harus tertera “obat luar” (Syamsuni, 2006).
1. Pencampuran
Dalam metode pencampuran, komponen
dari salep dicampur dengan segala cara
sampai sediaan yang rata tercapai.

2. Peleburan
Pada metode peleburan, semua atau
beberapa komponen dari salep
dicampurkan dengan melebur bersama-
sama dan didinginkan dengan
pengadukan yang konstan sampai
mengental.
 Peraturan salep pertama
“Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak, dilarutkan
kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan”.

 Peraturan salep kedua


“Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada
peraturanperaturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, diharapkan
jumlah air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep,
jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis”.

 Peraturan salep ketiga


“Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak
dan air harus diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan ayakan
no.B.40 (no.100)”.

 Peraturan salep keempat


“Salep-salep yang dibuat dengan melelehkan, campurannya harus diaduk
sampai dingin”.
Sifat Kimia Asam Salisilat

 Asam salisilat, dikenal juga dengan 2-hydroxy-benzoic


acid atau orthohydrobenzoic acid.

 memiliki struktur kimia C7H6O3.

 Asam salisilat memiliki pKa 2,97.

 asam salisilat berupa bubuk kristal putih dengan rasa


manis, tidak berbau, dan stabil pada udara bebas.

 Bubuk asam salisilat sukar larut dalam air dan lebih


mudah larut dalam lemak.

 Sifat lipofilik asam salisilat membuat efek klinisnya


terbatas pada lapisan epidermis.
Manfaat dan Mekanisme
Kerja Asam Salisilat Topikal :

1. Efek Keratolitik dan Desmolitik


2. Efek Keratoplastik
3. Efek Anti-Pruritus
4. Efek Anti-Inflamasi
5. Efek Analgetik
6. Efek Bakteriostatik dan Disinfektan
7. Efek Fungistatik
8. Efek Tabir Surya
R/ As.Salisilat 200mg Asam Salisilat 0,2g

Sulfur 0,4g
Sulfur 400mg

Menthol 0,05g
Menthol 0,05g

Propilenglikol 15/100 x 10 = 1,5g

15%
BHT 0,01/100 x 10 = 0.001g
Propilenglikol

BHT 0,01% Vasellin Kuning 10-(0,2+0,4+0,05+1,5+0,1) =


7,75g

Vasellin Kuning Ad 10g


1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disetarakan timbangan dan ditimbang semua bahan
3. Asam salisilat bersama menthol digerus di mortir
4. Dilelehkan vaselin kuning
5. Dimasukkan sebagian ke mortir yang berisi asam salisilat
bersama menthol, gerus sampai homogen
6. Ditambahkan sulfur, lalu dihomogenkan
7. Dimasukkan sisa vaselin kuning, lalu homogenkan
8. Ditambahkan propilen glikol dan BHT, digerus hingga homogen
9. Dimasukkan ke dalam wadah, beri etiket ,wadah dan brosur
 Salep adalah sediaan berupa massa lembek yang
mudah dioleskan umumnya berlemak dan
mengandung obat, digunakan sebagai obat luar untuk
melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Salep umumnya
dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan bahan
obat ke dalam salep dasar.

 Asam salisilat, asam organis ini berkhasiat


bakteriostatis pada konsentrasi 5-10% dalam salep.
Asam salisilat banyak digunakan dalam sediaan obat
luar terhadap penyakit kulit
1. Asam salisilat
asam salisilat berkhasiat bakteriostatis lemah dan
berdaya keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan kulit
tanduk pada konsentrasi 5-10%. Asam salisilat bersifat
fungistatik dimana dapat dikombinasi dengan asam
benzoat maupun sulfur untuk penyakit iritasi kulit.
2. Sulfur
sulfur digunakan dalam aplikasi topikal untuk kulit
yang iritasi da dermatitis. Sulfur biasa dibuat dalam
sediaan lotion, krim , salep, dan seringkali
dikombinasikan dengan beberapa zat aktif lainnya.
3.Vaselin kuning
vaselin merupakan bahan-bahan yang mampu
menghaluskan dan melemaskan kulit, bahan ini juga
dipakai sebagai basis salep tergolong basis
hidrokarbon.

4. Mentol
mentol sebagai flavoring agent ataupun
pengaroma ketika diaplikasikan ke kulit dapat
mengurangi rasa gatal, memberikan rasa dingin.
5. Propilen glikol
selain sebagai cosolvent, humectan,propilen
glikol dalam sediaan semipadat dapat digunaknan
sebagai antimicrobial preservative dengan
konsentrasi antara 15 – 30%.
6. BHT
BHT digunakan sebagai antioksidan yang dapat
mencegah terjadinya reaksi oksidasi khususnya
sediaan yang mengandung minyak maupun berbasis
lemak.
1.Uji sifat fisik salep terdiri
dari :

1. Viskositas: viskositas menyatakan tahanan dari suatu


cairan untuk mengalir, makin tinggi akan semakin besar
tegangan. (Martin dkk, 1993).
2. Daya melekat: untuk mengetahui lamanya salep melekat
pada kulit.
3. Daya menyebar: untuk mengetahui kelunakan massa salep
pada waktu dioleskan pada kulit yang diobati.
4. Daya proteksi: untuk mengetahui kekuatan salep
melindungi kulit dari pengaruh luar pada waktu
pengobatan
1) . Metode in-vitro

a) Metode pelepasan tanpa batas membran


b) Metode difusi dengan kontrol membran,
yang terdiri dari:
1. Membran kulit tiruan
2. Membran kulit alami
3. Sel difusi
4. Kondisi sel difusi tiruan secara in-vitro
(Barry, 1983).
Dalam melakukan uji in-vitro ini
perlu diperhatikan beberapa
faktor :

1. Ukuran dan bentuk wadah yang


mempengaruhi laju dan tingkat pelarutan.
2. Jumlah pengadukan dan sifat
pengadukan.
3. Suhu.
4. Medium pelarutan
Metode in-vivo

1. Penelitian respon fisiologis dan


farmakologi pada hewan uji.
2. Sifat fisika kulit
3. Metode histologi
4. Analisis pada cairan badan atau jaringan
5. Kehilangan permukaan (Barry, 1983).