Anda di halaman 1dari 59

Pendidikan sebagai Ilmu dan seni

Dinda Nurdiana 1705695


Dini Agustin 1700675
Muhammad Hanif 1705530
Syavira Raenata R 1700851
Landasan pendidikan
Landasan filosofis
pendidikan

Pengertian landasan pendidikan Landasan psikologis


pendidikan

Manusia dan pendidikan Landasan sosiologis dan


antropologis pendidikan

Pengertian pendidikan
Landasan historis pendidikan

Pendidikan sebagai ilmu dan seni Landasan yuridis pendidikan


Pendidikan sebagai ilmu dan seni

Alasan pentingnya status Pendidikan sebagai ilmu


keilmuan pendidikan pengetahuan

Konsep pengetahuan dan ilmu Mendidik sebagai seni dan


pengetahuan teknik

Karakteristik dan kriteria ilmu Mempelajari seni didik dan


pengetahuan teknik pendidikan secara ilmiah
Alasan pentingnya status
keilmuan pendidikan
Suatu disiplin ilmu dapat dipandang sebagai pengetahuan
ilmiah apabila disiplin ilmu tersebut memiliki status keilmuan
yang jelas. Karena status keilmuan yang jelas akan
memperkokoh eksistensi disiplin ilmu tersebut, manakala
disiplin ilmu tersebut mendapat pengujian secara ilmiah.
Status keilmuan suatu disiplin ilmu menunjukkan kesiapan
disiplin ilmu tersebut untuk diuji secara empiris. Karena suatu
kebenaran ilmiah akan dapat diterima umumnya oleh
masyrakat luas dan khususnya oleh kalangan para ilmuwan
apabila mampu menunjukkan keabsahannya pada waktu
mendapat pengujian secara empiris.
Suatu disiplin ilmu dapat dilakukan pengujian empiris apabila disiplin
ilmu tersebut memiliki kejelasan minimal empat hal:
1. Jelas mengenai objek studinya;
2. Jelas dalam menggunakan metodologi penyelidikannya;
3. Jelas mengenai isi dari ilmu tersebut;
4. Jelas mengenai fungsinya.
Melalui uraian ini diharapkan memberi manfaat kepada para pembaca
khususnya para mahasiswa calon guru dapat:
1. Menambah wawasan tentang pentingnya memahami konsep ilmu
pengetahuan pada umumnya dan secara khusus memahami status
keilmuan pendidikan;
2. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan studi dan praktek
pendidikan di sekolah secara pedagogis;
3. Menerapkan konsep pendidikan sebagai pengetahuan ilmiah dalam
melaksanakan tugasnya sebagai tenaga kependidikan baik dalam
rangka studi maupun praktek pendidikan di sekolah.
Setelah mempelajari uraian ini dengan sungguh-sungguh, para
mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memiliki pemahaman yang jelas tentang konsep, jenis, dan
klasifikasi pengetahuan;
2. Memiliki pemahaman yang jelas tentang pengertian, sifat, ciri-ciri,
dan klasifikasi pengetahuan ilmiah.
3. Memiliki pemahaman yang jelas tentang status keilmuan, ciri-ciri,
isi metode, dan klasifikasi ilmu pendidikan.
Konsep Pengetahuan dan Ilmu
Pengetahuan
1. Konsep Pengetahuan

Pengetahuan dapat dijelaskan sebagai hasil dari mengetahui objek-objek


di alam nyata menurut akal dengan jalan pengamatan.

Manusia dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan tingkat kemampuan untuk


memenuhi rasa ingin tahunya, dapat memiliki berbagai jenis pengetahuan dan
kebenaran.

Titus (1959) mengungkapkan ada empat jenis pengetahuan atau kebenaran yang
dapat diperoleh dan dimiliki manusia, yaitu:

a. Pengetahuan biasa atau awam (common sense knowledge)


b. Pengetahuan ilmiah (scientific knowledge)
c. Pengetahuan filsafat (philosophical knowledge)
d. Pengetahuan religi
• Pengertian Ilmu

Menurut pandangan awam yang secara etimologis ilmu merupakan terjemahan dari
bahasa inggris science yanng berasal dari kata scio, scire (bahasa latin) yang berarti
tahu.

Demikian pula istilah ilmu menurut kajian katanya berasal dari bahasa arab ‘alima
yang juga berarti tahu.

Namun, secara terminologis dalam pandangan dan konteks akademis, istilah ilmu
atau science adalah sekumpulan pengetahuan yang mempunyai karakteristik dan
syarat-syarat tertentu, sehingga disebut ilmu pengetahuan.

Dalam KBBI (Depdikbud, 1988) kata ilmu memiliki dua pengertian. Pertama ilmu
mempunyai arti sebagai suatu pengetahuan sesuatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode-metode tertentu. Kedua ilmu adalah segala pengetahuan
dan kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, batin, dan sebagainya.
Menurut Muhammad Hatta (1960) “Tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur
tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya,
maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya
dari dalam”.

Asley Montagu (1961) menjelaskan ilmu sebagai berikut “Science is a sistematized


knowledge derived from observation, study, and experimentation carried on in order
to determine the nature or principles of what is being studied ”.

Harsoyo dalam Sadulloh mengemukakan beberapa pengertian tentang sains atau


ilmu, yaitu :
1) Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan atau kesatuan
pengetahuan yang terorganisasikan.
2) Dapat dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan
terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang
dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati pancaindera manusia.
Lenzen dan Victor F. Dalam Redja Mudyahardjo (1998) menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan (disingkat ilmu) merupakan pengetahuan sistematik yang dihasilkan
melalui kegiatan berpikir kritis, dan tertuju untuk menghasilkan suatu penemuan.

Ilmu berfungsi menjawab pertanyaan mengapa, artinya menjelaskan hubungan


sebab akibat ( kausalitas).
2. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

The Liang Gie (1987) mengemukakan bahwa pembagian ilmu harus didasarkan pada kriteria
yang jelas.

• Berdasarkan isi pengetahuannya :


a. Ilmu-ilmu kealaman (natural sciences)
b. Ilmu-ilmu sosial (social sciences)
c. Ilmu-ilmu kemanusiaan (humanities)

• Berdasarkan jenisnya :
a. Matematika (ilmu murni)
b. Ilmu-ilmu kealaman (natural sciences)
c. Ilmu-ilmu sosial (social sciences)
d. Ilmu-ilmu tingkah laku (behavioral sciences)
e. Kelompok ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora)
• Berdasarkan sifat pengetahuannya ditemukan klasifikasi ilmu (Majid Noor, 1999)
sebagai berikut :
a. Karl Pearson
1) abstract sciences (matematika dan filsafat)
2) concrete sciences (fisika, kimia, biologi, dsb.)
b. William C. Kneale
1) apriori sciences (matematika dan filsafat)
2) aposteriori sciences (fisika, sosiologi, ekonomi, dsb.)
c. Wilson Gee
1) descriptive sciences (psikologi, sosiologi, dsb.)
2) normative sciences (ilmu pendidikan, filsafat)
d. Rudolf Carnapp
1) formal sciences (matematika)
2) factual sciences (fisika)
e. Wilhem Windelband
1) nomothetic sciences (fisika, kimia)
2) idigrafic sciences (ilmu pendidikan, sosiologi)
f. Hugo Munsterberg
1) theoretical sciences (matematika)
2) practical sciences (ilmu pendidikan)

Pembagian ilmu yang banyak digunakan, terkenal dengan klasifikasi:


1) pure sciences : matematika, logika
2) applied sciences : eknomi, ilmu pendidikan

Ada juga ilmu dengan klasifikasi sebagai berikut :


1) Ilmu eksakta (matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi)
2) Ilmu non-elsakta (ekonomi, politik, psikologi, ilmu pendidikan, dsb.)
Karakteristik dan kriteria
ilmu pengetahuan
Randall dan Buhcker dalam Sadulloh (2004: 46) mengemukakan
beberapa ciri umum ilmu pengetahuan sebagai berikut:
1. Hasil sains bersifat akumulatif dan milik bersama;
2. Hasil sains kebenarannya tidak mutlak;
3. Sains bersifat objektif.
Ralph Ross dan Ernest van den Haag (Harsojo, 1977) mengemukakan
ciri-ciri ilmu, yaitu:
1. Bersifat rasional;
2. Bersifat empiris;
3. Bersifat umum;
4. Bersifat akumulatif.
Madjid Noor (1998) menyatakan bahwa karakteristik suatu
ilmu dapat ditelusuri melalui pembahasan tentang landasan
ilmu, objek studi ilmu, metode ilmu, dan fungsi ilmu.
1. Landasan Ilmu

Landasan ilmu berkenaan dengan gagasan-gagasan yang


dijadikan sandaran para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya
dan berguna bagi perkembangan pemikiran selanjutnya dalam
memahami fenomena (alam maupun sosial).
2. Objek Studi Ilmu

Objek studi suatu ilmu adalah bidang yang menjadi bahan pengkajian
dan penyelidikannya. Objek ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu objek material dan objek formal.
Objek material suatu ilmu ialah materi yang menunjukkan bahan ilmu
tersebut.
Objek formal suatu ilmu ialah bentuk yang menjadikan ilmu tersebut
berdiri sendiri, yaitu kekhasan yang membedakan ilmu tersebut dengan
ilmu lain.
3. Metode Ilmu

Metode ilmu merupakan prosedur kerja sistematis yang


terencana dan cermat, melalui pengalaman, dengan
menggunakan kerangka pemikiran tertentu. Tujuannya adalah
untuk memperoleh suatu produk ilmu yang valid, artinya
pikiran manusia dapat dipercaya. Jika diulang akan
memperoleh hasil yang sama.
4. Fungsi Ilmu

Pada garis besarnya, para ilmuwan mengakui bahwa ilmu


pengetahuan mempunyai tiga fungsi, yaitu menjelaskan,
memprediksi, dan mengontrol terhadap segenap fenomena
kehidupan sesuai dengan bidang objek studinya masing-
masing.
a. Fungsi Menjelaskan

Ilmu berfungsi menjelaskan fenomena kehidupan, terutama


menjelaskan mengapa suatu fenomena terjadi, apa yang menjadi
penyebab sebenarnya, baik berkenaan dengan fenomena alam maupun
fenomena sosial.
Ada empat pola penjelasan ilmiah yang digunakan ilmu dalam
menjalankan fungsinya:
1) Penjelasan deduktif;
2) Penjelasan induktif;
3) Penjelasan teleologis;
4) Penjelasan genetik.
b. Fungsi Memprediksi

Ilmu memiliki kemampuan untuk dapat menunjukkan sesuatu yang


akan terjadi, apabila sejumlah fenomena, indikasi, dan data tertentu
tampak (diadakan), dan/atau sejumlah fenomena, indikasi, dan data
tertentu tidak tampak (ditiadakan).
c. Fungsi Mengontrol

Ilmu memeriksa atau menguji apakah suatu kegiatan dalam


prakteknya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah
ditentukan dan direkomendasikan ilmu pengetahuan tertentu.
Pendidikan sebagai ilmu
pengetahuan
1. Konsep Ilmu Pendidikan

Menurut Ngalim Purwanto (2004:3)


• Paedagogie : Pendidikan
• Paedagogiek : Ilmu Pendidikan

Menurut Langeveld
• Pedagogik : menitik beratkan pada pemikiran, perenungan tentang
pendidikan
• Pedagogi : menekankan pada praktik, menyangkut kegiatan
membimbing anak.
Pengertian Ilmu Pendidikan dikemukakan oleh para ahli, yaitu:
• Driyarkara (1980:66)
• Imam Barnadib (1987)
• D. Sudjana (2000)

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa:

“ Ilmu pendidikan merupakan seperangkat pengetahuan, pendapat atau


pandangan mengenai fenomena atau gejala pendidikan yang disusun secara
sistematis sebagai hasil pemikiran kritis dengan menggunakan metode riset
tertentu.”
2. Karakteristik Ilmu Pendidikan

Ciri Ilmu Pendidikan:


a. Memiliki landasan keilmuan yang tepat
b. Ilmu yang bersifat normative
c. Ilmu bersifat teoritis praktis
Berdasarkan teori ilmu pengetauan :
a. Memiliki obyek material dan formal
b. Memiliki sistematika yang jelas
c. Memiliki metode yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah
a. Landasan Ilmu Pendidikan

• Ilmu Pendidikan hanya akan dapat berdiri kokoh dan


berkembang pesat apabila berlandaskan agama, pandangan
hidup, filsafat hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
b. Objek Ilmu Pendidikan

• Objek Material
• Objek formal
Objek Material

Obyek material ilmu pendidikan adalah manusia


Manusia sebagai objek material ilmu pendidiksn menurut H. D. Sudjana
(2000) dapat di klasifikasikan berdasarkan:
1. Pengelompokkannya
2. Perkembangannya
• Bagi anak-anak, pendidikan dikenal dengan istilah pedagogi
• Bagi orang dewasa, pendidikan dikenal dengan istilah andragogi
• Bagi lanjut usia, pendidikan dikenal dengan istilah gerogogi
Objek Formal

• Pendapat objek formal ilmu pendidikan menurut M. J. Langeveld


menekankan pada situasi pendidikan yang menjadi garapan ilmu
pendidikan anak.
• Pendapat objek formal ilmu pendidikan menurut D. Sudjana
memandang bahwa pendidikan itu tidak hanya terbatas pada kegiatan
mendidik antara pendidik dan peserta didik yang tertuju pada
kedewasaan, tetapi mencakup kegiatan pendidikan dalam bentuk
pengalaman belajar sepanjang hayat.
c. Metode Ilmu Pendidikan

• Menurut D. Sudjana (2000) ilmu pendidikan menggunakan


“logico/deducto-hypothetical-verificative”. Metode ilmiah ini
digunakan melalui:
1) Penyusunan kerangka pemikiran logisdilengkapi dengan
argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan yang telah disusun
sebelumnya dan berupaya untuk mengembangkannya.
2) Penerapan hipotesis yang merupakan upaya deduksi ndari kerangka
pemikiran yang logis tersebut.
3) Verifikasi terhadap hipotesis tersebut untuk menguji kebenaran
tentang diterima atau tidaknya pernyataan dalam hipotesis tersebut.
• Menurut M. J. Langeveld:
1) survey
2) eksperimen
3) studi kasus kaji tindak (action research)
4) penelitian masa depan (futures research)
d. Isi Ilmu Pendidikan

• Postulat : ialah pandangan mendasar yang kebenarannya diterima


tanpa pembuktian secara empiris.
• Asumsi : pendapat/pandangan yang didasarkan pada kerangka
berpikir tertentu, yang kebenarannya pada umumnya diterima, namun
mmsih harus diperiksa secara empiris.
• Konsep : serangkaian pengertian aau pendapat yang konsisten, yang
dihasilkan dari pemikiran atau pengalaman.
• Teori : Kumpulan konsep-konsep yang tersusun sistematisdalam
bentuk struktur teoritis yang pada umumnya memberikan penjelasan
mengapa suatu gejala atau peristiwa itu terjadi.
• Generalisasi : kesimpulan umum yang ditarik berdasarkan pengalman-
pengalamankhusus, biasanya sebagai kesimpulan yang diperoleh dari
penelitian ilmiah.
• Hukum : pernyataan atau pendapat yang biasanya dinyatakan dalam bentuk
pernyataan if-then (jika-maka) yang berlaku umum bagi sekelompok gejala
tertentu, sebagai suatu hasil generalisasi dari riset ilmiah.
• Prinsip : hkum dalam benntuk pendapat yang berlaku umum bagi
sekelompok gejala tertentu, namun tidak selalu berbentuk pernyataan if-then
(jika-maka).
• Model : suatu bentuk teori atau serangkaian teori, hukum prinsip yang
menggambarkanatau memberi penjelasan tentang suatu sistem kegiatan
sampai pada pnduan penggunaannya yang terdapat dalam suatu cabang ilmu.
e. Fungsi Ilmu Pendidikan

• Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan memiliki fungsi


menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol gejala atau
fenomena pendidikan
f. Cabang-Cabang Ilmu Pendidikan

M.J Langeveld (1952) mengklasifikasi ilmu pendidikan terbagi atas :


a. Ilmu Mendidi Teoritas, yang meliputi :
1) Ilmu Mendidik Sistematis.
2) Sejarah Pendidikan
3) Ilmu Perbandingan Pendidikan
b. Ilmu Mendidik Praktis, yang meliputi :
1) Didaktik/ Metodik
2) Pendidikan dalam Keluarga
3) Pendidikan Lembaga Keagamaan
Sedangkan Redja Mudyahardjo (2001) mengklasifikasi Ilmu Pendidikan sebagai
berikut :
a. Ilmu Pendidikan Makro
1) Ilmu Pendidikan Administratif
2) Ilmu Pendidikan Historis
3) Ilmu Pendidikan Kependudukan
b. Ilmu Pendidikan Mikro
1) Ilmu Mendidik Umum yang Meliputi :
a) Ilmu Pendidikan Psikologis
b) Ilmu Pendidikan Sosiologis
c) Ilmu Pendidikan Antropologis
d) Ilmu Pendidikan Ekonomik
2) Ilmu Mendidik Khusus :
a) Ilmu Persekolahan
b) Ilmu Pendidikan Luar Biasa (Orthopedagogik)
c) Ilmu Pendidikan Luar Sekolah
Menurut Madjid Noor (2000)
a. Ilmu Pendidikan Teoritis
1) Ilmu Pendidikan Sistematis
2) Filsafat Pendidikan
3) Sejarah Pendidikan
4) Perbandingan Pendidikan
b. Ilmu Pendidika Praktis

1) Seni Mendidik
2) Bimbingan dan Penyuluhan
3) Pengembangan Kurikulum atau Pengajaran
4) Pedagogik
5) Andragogik
6) Gerogogi
7) Orthopedagogik
8) Pendidikan Agama
9) Pendidikan Kepribadian/Watak/Akhlak
10) Pendidikan Intelektual
11) Pendiidkan Jasmani
12) Pendidikan Kesenian
13) Pendidikan Wirausaha
14) Pendidikan menurut Bidang Studi yang Berhubungan
dengan Mata Pelajaran di Sekolah Menengah
15) Ilmu Pendidikan yang Dikembangkan dengan Bekerja
Sama dengan Ilmu Lain
Mendidik Sebagai Seni dan Teknik
Mengajar tidaklah seperti menimbulkan reaksi kimia tetapi lebih mirip dengan
melukis sebuah gambar atau menggelar sebuah musik dengan arti bahwa di dalam
mengajar itu seseorang harus melibatkan diri didalamnya dan menyadari bahwa
mengajar tidak seluruhya dikerjakan berdasarkan formula-formula atau anda akan
merusak sendiri pekerjaan anda dan murid-murid anda serta anda sendiri (Redja M,
1995).

Menurut A.S Neil “mendidik dan mengajar


bukanlah suatu ilmu tetapi adalah seni”.
Diartikan sebagai seni adalah bagaimana kita
hidup dan mengerti anak-anak seolah-olah kita
menjadi seperti anak.
Terdapat dua pendirian yang sangat bertentangan dan masih kuat pengaruhnya
sampai sekarang.

Pertama, kegiatan mendidik bersifat kreatif (mencipta).

Kedua, sebagian orang yang tadinya antara lain ikut mendukung perluasan
pendidikan dasar tetapi pendidikan dasar yang tak usah terlalu bermutu.

Semenjak hidupnya J.F Herbert (1776-1841) di Jerman


dan E.L. Thorndike (1874-1949) di Amerika Serikat telah
banyak sekali melakukan upaya memajukan ilmu
pengetahuan pendidikan. Telah banyak hasil yang
dicapai khususnya dalam aspek penelitian proses belajar
tetapi belum meluas kepada penelitian proses mengajar
seperti yang diharapkan.
Tidaklah cukup, kalau kita hendak mendidik dan mengajar hanya dengan bekal
konsep-konsep atau pertimbangan belaka. Sayangnya, penelitian dan analisis bidang
mengajar belumlah selengkap penelitian dan analisis tentang proses belajar.

Pendidikan belum berhasil secara langsung membina tenaga kependidikan yang


mahir dalam seni didik, pembinaan dan penataran adalah hal yang paling tepat
untuk mempelajari seni didik sambil memperluas pengalaman sendiri.

Calon guru/pendidik harus ikut belajar


menganalisis proses belajar mengajar. N.L. Gage
dan D.C. Berliner mengemukakan “teaching
activities fall into two categories those that occur
before the tanching begins, when the teacher
works alone, and those that occur during the
teaching, when the teacher must apply
pshycological rules on the run”.
Mempelajari Seni Didik
dan Teknik Pendidikan
Secara Ilmiah
b. Pendidikan Sebagai Seni

• Gilbert Highet dalam bukunya “ The art of teaching “ yang


menyatakan bahwa buku ini “ Seni Mengajar ” karena beliau yakin
bahwa belajar itu adalah sebuah seni bukan ilmu.
• Mengajar tidaklah seperti menimbulkan reaksi kimia tetapi lebih mirip
dengan melukis sebuah gambar atau menggelar sebuah musik dengan
arti bahwa di dalam mengajar itu seseorang harus melibatkan diri
didalamnya dan menyadari bahwa mengajar tidak seluruhya dikerjakan
berdasarkan formula-formula atau anda akan merusak sendiri
pekerjaan anda dan murid-murid anda serta anda sendiri (Redja M,
1995)
c. Pendidikan Sebagai Panduan Ilmu dan Seni

• Menurut A.S Neil “ mendidik dan mengajar bukanlah suatu ilmu


tetapi adalah seni “. Diartikan sebagai seni adalah bagaimana kita
hidup dan mengerti anak-anak seolah-olah kita menjadi seperti anak.

• Menurut aliran konstruksivisme mengakui hal yang sama. Implikasi


bahwa “ tugas guru adalah membantu agar siswa mampu
merekonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkrit
maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan dan
situasi murid. Mengajar adalah merupakan seni yang menuntut bukan
hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi “.
• Dengan demikian pendidik memerlukan ilmu pendidikan dalam
rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek pendidikan.
Namun dalam prakteknya pendidik harus kreatif, skenario atau
persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja, pendidik perlu
melakukan improvisasi dengan harus memperhatikan karakteristik
anak didik. Esensinya bahwa praktek pendidikan hendaknya
merupakan perpasuan antara ilmu dan seni.
Simpulan

• Kebenaran ilmiah dapat diterima apabila mampu menunjukkan


keabsahannya
• Pengetahuan dan ilmu pengetahuan memiliki arti yang berbeda
dalam segi akademi
• Ilmu pengetahuan memiliki karakteristik dan kriteria yang jelas
dalam hal landasan, objek, studi, metode, fungsi ,dan isi
• Ilmu pendidikan adalah pengetahuan, pendapat, mengenai
fenomena yang disusun secara sistematis dengan menggunakan
metode riset tertentu
• Mendidik sebagai seni dan teknik agar kegiatan
belajar-mengajar dapat mengalami kemajuan
• Seni didik dan teknik pendidikan nampaknya masih
perlu diteliti,dianalisis, dan dikembangkan