Anda di halaman 1dari 34

Pembimbing :

dr. shanti Sri Agustina, Sp. M, M.Kes


dr. Dijah Halimi, Sp. M
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang
dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa,
denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya
(Ilyas, 2010).
Indonesia sebagai Negara berkembang banyak mengalami
berbagai masalah kesehatan, terutama kesehatan mata.
Jumlah penderita kebutaan di Indonesia mencapai 1.8% dari
jumlah penduduk yang berada di seluruh provinsi Indonesia
 Umur
 Jenis kelamin
 Pekerjaan
 Diabetes Militus
 Rokok & alkohol
 Trauma Mata
 lingkungan (sinar matahari)
1. Teori Hidrasi
• terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel lensa
yang berada di subkapsular anterior  sehingga air tidak
dapat dikeluarkan dari lensa  bertambahnya tekanan
osmotik  menyebabkan kekeruhan lensa

2. Teori Sklerosis
• Pada lensa manula
• serabutkolagen terus bertambah sehingga terjadi pemadatan
serabut kolagendi tengah  sklerosis nukleus lensa
Menurut lokasi kekeruhannya
Menurut kejadian  Katarak nukleus
 Katarak Developmental
 Katarak kortikal
 Katara Degeneratif
 Katarak subskapular
Menurut Umur Menurut warna
 Katarak kongenital
 Katarak nigra ( Hitam)
 katarak juvenil
 Katarak rubra (Merah)
 katarak senil
 Katarak Brusnesecent
Menurut Konsistensi (coklat)
 Katarak cair Menurut bentuk kekeruhan
 Katarak lunak  Katarak pungtata
 Katarak keras  Katarak stelata
 Katarak linier
KATARAK KONGINETAL
 Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang
didapatkan sejak lahir, dan terjadi akibat gangguan
perkembangan embrio intrauterin. Biasanya kelainan ini tidak
meluas mengenai seluruh lensa

 Katarak kongenital yang terjadi sejak perkembangan serat


lensa terlihat segera setelah bayi Iahir sampai berusia 1 tahun
KATARAK JUVENIL
 Katarak juvenil ditemukan saat lahir sampai usia dewasa.
Disebabkan oleh penyakit herediter dan bisa merupakan
kelanjutan dari katarak kongenital.
 Katarak juvenil yang terlihat setelah usia 1 tahun dapat terjadi
karena lanjutan katarak kongenital yang makin nyata, penyulit
penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat
penyakit lokal pada satu mata, seperti akibat uveitis anterior.
KATARAK SENILIS
 Katarak senilis merupakan tipe katarak didapat yang timbul
karena proses degeneratif
 Pada usia di atas 50 tahun
 Umumnya mengenei kedua mata dengan salah satu mata
terlebih dahulu
 Faktor resiko
 Hereditas
 Radiasi sinar uv
 Aktor makanan
 Krisis dehidrasional
 Merokok
Stadium insipien
 Mulai timbul katarak akibat proses degenerasi
lensa
 proses degenerasi belum menyerap cairan mata
ke dalarn lensa sehingga akan terlihat biiik mata
depan dengan kedalaman yang normal, iris dalarn
posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan
pada lensa. Tajam penglihatan pasien belum
terganggu.
Stadium imatur
 lensa yang degeneratif mulai
 menyerap cairan mata ke dalarn lensa
sehingga lensa menjadi cembung
 stadium ini dapat terjadi miopisasi
akibat lensa mata menjadi cembung,
sehingga pasien menyatakan tidak
perlu kacamata sewaktu membaca
dekat
 pemeriksaan uji bayangan iris atau
shadow test akan terlihat bayangan
iris pada lensa. Uji bayangan iris
positif.
Stadium Matur
 Pada stadium terjadi kekeruhan seluruh
lensa. Tekanan cairan di dalam lensa
sudah dalam keadaan seimbang dengan
cairan dalam mata sehingga ukuran
lensa akan menjadi normal kembali
 Pada pemeriksaan terlihat iris dalam
posisi normal, bilik mata depan normal,
sudut bilik mata depan terbuka normal,
uji bayangan iris negatif. Tajam
penglihatan sangat menurun dan dapat
hanya tinggal proyeksi sinar positif
Stadium Hipermatur
 terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks
lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa
tenggelam dalam korteks lensa (katarak
Morgagni)
 uji bayangan iris tertihat positif walaupun seluruh
lensa telah keruh sehingga stadium ini disebut uji
bayangan iris pseudopositif
KATARAK SENILIS NUKLEAR
 Terjadi proses sklerotik dari nukleus lensa. hal
ini menyebabkan lensa menjadi keras dan
kehilangan daya akomodasi.
 dimana lensa kehilangan daya elastisitas dan
keras, yang mengakibatkan menurunnya
kemampuan akomodasi lensa, dan terjadi
obtruksi sinar cahaya yang melewati lensa
mata
A. Katarak brunesens
B. Katarak nigra
C. Katarak rubra
KATARAK KOMPLIKATA
Katarak yang berhubungan dengan penyakit
mata lainnya seperti iridosiklitis, koroiditis,
uveitis, ulkus kornea, glaukoma, ablasio retina,
dan tumor intra okular. Katarak komplikata terjadi
akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa
oleh faktor fisik atau kimiawi sehingga terjadi
gangguan kejernihan lensa
KATARAK DENGAN PENYAIT SISTEMIK
Diabetes mellitus merupakan predisposisi untuk
berkembang menjadi katarak senilis, juga pada
orang dewasa muda dengan bentuk bilateral
kortikal katarak. Zonular katarak didapat pada
defisiensi paratiroid. Dinitrophenol dan
naphthalene dapat menyebabkan pembentukan
katarak
KATARAK TRAUMATIK
Kontusio pada bola mata tanpa perforasi
dapat menyebabkan katarak yang timbul
beberapa hari/minggu sesudah kotusio.
Kekeruhan lensa dapat terjadi akibat trauma
tumpul atau trauma tajam yang menembus
kapsul anterior.
Gejala pada penderita katarak adalah sebagai
berikut:
1. Penurunan visus
2. Silau
3. Perubahan miopik
4. Diplopia monocular
5. Halo bewarna
6. Bintik hitam di depan mata
 Pemeriksaan ketajaman penglihatan
Ketajaman penglihatan dapat bervariasi mulai dari 6/9 sampai
hanya persepsi cahaya, tergantung pada lokasi dan maturitas
katarak
 Tes iris shadow
Ketika cahaya disinarka ke pupil, akan terbentuk bayangan
berebentuk bulan sabit (crescenteric shadow) di tepi pupil pada
lensa yang keruh keabuan, Ketika lensa jernih atau keruh secara
keseluruhan, maka tidak terbentukiris shadow.
Iris shadow tersebut merupakan tanda dari katarak imatur.
 Pemeriksaan oftalmoskop langsung
Pada media tanpa kekeruhan akan tampak refleks fundus yang
berwarna kuning kemerahan, sedangkan pada lensa dengan
kekeruhan parsial akan tampak bayangan hitam yang
berlawanan dengan cahaya kemerahan tersebut pada area yang
keruh
 Pemeriksaan slit-lamp
Pemeriksaan dengan slit-lamp dilakukan dengan dilatasi pupil.
Pemeriksaan ini memberikan gambaran menegenai morfologi
kekeruhan (lokasi, ukuran, bentuk, pola warna, dan kepadatan
dari nukleus).
Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak :
 Indikasi visus
 Indikasi medis
 Indikasi kosmetik
1. Terapi penyebab katarak
2. Memperlambat progresif
dengan pemberian kalium,kalsium dan vit E
3. Penggunaan kacamata hitam
Intra-Capsular Cataract
Extraction (ICCE)
1. Pengambilan lensa secara in
toto sebagai satu potongan
utuh, dimana nukleus dan
korteks diangkat didalam
kapsul lensa dengan
menyisakan vitreus dan
membrana Hyaloidea.
2. Teknik ini digunakan dalam
kasus tertentu antara lain bila
Extra-Capsular Cataract Extraction
(ECCE)
1. Nukleus dan korteks diangkat dari
kapsul dan menyisakan kapsula
posterior yang utuh, bagian perifer dari
kapsula anterior, dan zonula zinii.
2. Selain menyediakan lokasi untuk
menempatkan IOL, juga dapat
dilakukan pencegahan prolaps vitreus
dan sebagai pembatas antara segmen
anteror dan posterior
3. Menurunkan kemungkinan komplikasi
vitreus loss, edem kornea,
 Metode ini diindikasikan pada pasien dengan
katarak yang sangat keras atau pada keadaan
dimana ada masalah dengan fakoemulsifikasi
Small Incision Cataract Surgery (SICS)
 Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran
insisi bervariasi dari 5-8 mm.
 Penutupan luka insisi terjadi dengan
sendirinya (self-sealing).
 Teknik operasi ini dapat dilakukan pada
stadium katarak immature, mature, dan
hypermature
Phacoemulsification
 Phakoemulsifikasi (phaco)
adalah teknik untuk
membongkar dan
memindahkan kristal lensa.
 Pada teknik ini diperlukan
irisan yang sangat kecil
(sekitar 2-3mm) di kornea.
 Getaran ultrasonic akan
digunakan untuk
menghancurkan katarak,
 Teknik ini bermanfaat pada katarak
kongenital, traumatik, dan kebanyakan
katarak senilis. Teknik ini kurang efektif pada
katarak senilis yang padat,
A. Lens induced glaucoma
Katarak dapat berubah menjadi glaukoma dalam
3 cara :
 Phacomorphic glaucoma
 Phacolytic glaucoma
 Phacotoxic Glaucoma
B. Lens Induced Uveitis
C. Subluksasi atau Dislokasi Lensa
Pada stadium hipermatur, zonula zinii pada
lensa dapat melemah dan rusak. Hal ini
menyebabkan subluksasi lensa, dimana
sebagian zonula zinii tetap utuh dan terdapat
bagian sisa lensa, atau dislokasi, dimana
seluruh bagian zonula zinii telah rusak dan
tidak ada sisa lensa.
TERIMA KASIH