Anda di halaman 1dari 27

MALNUTRISI ENERGI PROTEIN

Oleh : Resty Yulianita Nurman


Pembimbing: dr. H. Musyawarah, Sp. A
DEFINISI
 Menurut WHO, terminologi malnutrisi dapat mengacu
kepada keadaan dimana terjadi kekurangan nutrisi atau
kelebihan nutrisi. Sedangkan Malnutrisi Energi Protein
adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh
rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan
sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan
Gizi (AKG).[
EPIDEMIOLOGI
2012 : 385 kasus

2013 : 333 kasus

2014 : 250 kasus

2015 : 245 kasus

2016 : 273 kasus.


ETIOLOGI
PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI

Klasifikasi PEM berat menurut Wellcome


%BB/U Dengan Edema Tanpa Edema
60-80 Kwarshiorkor Kurang Gizi
<60 Marasmus-Kwarshiorkor Marasmus

Klasifikasi PEM menurut Gomez


Klasifikasi %BB/U
Normal >90
Grade I (Malnutrisi Ringan 75-89,9
Grade II (Malnutrisi Sedang) 60-74,9
Grade III (Malnutrisi Berat) <60
MARASMUS
•Penampilan wajah seperti orang tua,
terlihat sangat kurus

• Perubahan mental, cengeng

•Kulit kering, dingin dan kendur

•Rambut kering, tipis dan mudah


rontok

•Lemak subkutan menghilang sehingga


turgor kulit berkurang

•Otot atrofi sehingga tulang terlihat


jelas

•Sering diare atau konstipasi

•Kadang terdapat bradikardi

•Tekanan darah lebih rendah


dibandingkan anak sehat yang sebaya

•Kadangfrekuensi pernafasan
menurun
KWARSHIORKOR
Perubahan status mental sampai
apatis

Anemia

Perubahan warna dan tekstur


rambut, mudah tercabut/rontok

Gangguan sistem
gastrointestinal

Pembesaran hati

Perdarahan kulit (dermatosis)

Atrofi otot

Edema simetris pada kedua


punggung kaki, dapat sampai
seluruh tubuh
Marasmik kwashiorkor
 Gambaran klinis merupakan
campuran dari beberapa gejala
klinik kwashiorkor dan marasmus.
Makanan sehari-hari tidak cukup
mengandung protein dan juga
energi untuk pertumbuhan yang
normal. Pada penderita demikian
disamping menurunnya berat
badan < 60% dari normal
memperlihatkan tanda-tanda
kwashiorkor, seperti edema,
kelainan rambut, kelainan kulit,
sedangkan kelainan biokimiawi
terlihat pula
DIAGNOSIS
 Anak terlihat sangat kurus
 Edema nutrisional
 BB/TB <-3 SD
 LILA < 115 mm
PENATALAKSANAAN
1. Hipoglikemia
Bila anak sadar dan dapat minum Bila anak tidak sadar

- Bolus 50 ml larutan glukosa 10% - Glukosa 10% iv (5mg/ml), diikuti


atau sukrosa 10% (q sendok the dengan 50 ml glukosa 10% atau
penuh gula dengan 50 ml air), beri sukrosa lewat pipa NGT.
peroral maupun dengan pipa Kemudian pemberian F75 setiap
nasogastrik. Kemudian mulai 2 jam, untuk 2 jam pertama beri
pemberian F75 setiap 2 jam, untuk ¼ dari dosis makanan setiap 30
2 jam pertama beri ¼ dari dosis menit.
makanan setiap 30 menit. - Antibiotik spectrum luas
- Antibiotik spectrum luas - Pemberian makan per 2 jam,
- Pemberian makan per 2 jam, siang siang dan malam
dan malam
2. Hipotermia
 Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah
dibawah 36oC. Pada keadaan ini anak harus dihangatkan.
Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang dewasa
lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut
(Metode Kanguru). Perlu dijaga agar anak tetap dapat
bernafas.
 Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut
tebal, dan meletakkan lampu didekatnya.
 Selama masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu
anak pada dubur (bukan ketiak) setiap setengah jam sekali.
3. Dehidrasi
 rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3
sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok.
 ReSoMal diberi secara oral atau melalui NGT, beri 5
ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama, setelah 2
jam, berikan ReSoMal 5–10 ml/kgBB/jam berselang-seling
dengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama
10 jam.
4. Gangguan Elektrolit
 Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan
Magnesium, yang sudah terkandung di dalam larutan
Mineral-Mix yang ditambahkan ke dalam F-75, F-100 atau
ReSoMal
 Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi
 Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl).
Note : Jangan obati edema dengan diuretikum
5. Infeksi
Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:
 Antibiotik spektrum luas
 Vaksin campak jika anak berumur ≥ 6 bulan dan belum
pernah mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan
dan sudah pernah diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan.
Tunda imunisasi jika anak syok.
6. Defisiensi zat mikro
Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:
 Multivitamin
 Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
 Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
 Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
 Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai
fase rehabilitasi)
 Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali
bila telah diberikan sebelum dirujuk),
7. Pemberian makan awal
 Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah
osmolaritas maupun rendah laktosa
 Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari
penggunaan parenteral
 Energi: 80-100 kkal/kgBB/hari
 Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari
 Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100
ml/kgBB/hari)
 Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan
bahwa jumlah F-75 yang ditentukan harus dipenuhi
8. Pemberian makanan tumbuh kejar
 Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75)
ke formula tumbuh-kejar (F-100) (fase transisi):
 Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama
dengan F-75 selama 2 hari berturutan.
 Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap
kali pemberian sampai anak tidak mampu menghabiskan
atau tersisa sedikit.
 Dapat pula digunakan bubur atau makanan pendamping
ASI yang dimodifikasi sehingga kandungan energi dan
proteinnya sebanding dengan F-100.
9. Stimulasi sensori dan emosional
 Kasih sayang
 Ciptakan lingkungan yang menyenangkan
 Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 – 30
menit/hari
 Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh
 Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan,
memandikan, bermain dsb)
10. Persiapan tindak lanjut dirumah
 Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap
dilanjutkan dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian
makanan seperti biasa, dan aktifitas bermain.
 Melakukan kunjungan ulang setiap minggu, periksa secara teratur di
Puskesmas
 berat badan anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di
posyandu/puskesmas.
 pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan
nutrient yang padat
 penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu
 Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal
 Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI
atau 100.000 SI ) sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus
PROGNOSIS
 Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai
dilaksanakan. Penanganan yang cepat dan tepat umumnya
dapat memberikan prognosis yang cukup baik, penanganan
pada stadium lanjut walaupun dapat meningkatkan
kesehatan anak secara umum namun ada kemungkinannya
untuk memperoleh gangguan fisik permanen dan gangguan
intelektual. Sedangkan bila penanganannya terlambat atau
bahkan tidak memperoleh penanganan sama sekali, maka
hal tersebut akan berakibat fatal