Anda di halaman 1dari 74

Rumah Sakit sebagai salah satu

sarana kesehatan yang memberikan


pelayanan kesehatan kepada
masyarakat memiliki peran yang
sangat strategis dalam mempercepat
peningkatan derajat kesehatan
masyarakat.

 Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas
pelayanan kesehatan perorangan
merupakan bagian dari sumber daya
kesehatan yang sangat diperlukan dalam
mendukung penyelenggaraan upaya
kesehatan.
 Pelayanan kesehatan di rumah sakit
mempunyai karakteristik dan organisasi
yang sangat kompleks.
 Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan
perangkat keilmuan yang beragam dan
berinteraksi satu sama lain.
 Ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran yang berkembang sangat pesat
perlu diikuti oleh tenaga kesehatan dalam
rangka pemberian pelayanan yang
bermutu standar  membuat semakin
kompleksnya permasalahan di rumah sakit
 Dimanaletak perbedaan antara RS dengan
Puskesmas ??
 AGAR RUMAH SAKIT DAPAT MELAKSANAKAN
TUGASNYA DENGAN BAIK MAKA DIKELUARKAN
Kepmenkes tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah
sakit

NOMOR : 129/Menkes/SK/II/2008
 adalahsarana kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan, meIiputi pelayanan promotif,
preventif, kurative dan rehabilitatif yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan dan kegawat daruratan.
Pengkategorian rumah sakit dibedakan
berdasarkan jenis penyelenggaraan
pelayanan.
 Rumah sakit umum (RSU) yaitu rumah
sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan semua jenis penyakit,
 Rumah Sakit Khusus (RSK), yaitu
rumah sakit yang memberikan
pelayanan utama pada satu
jenis penyakit tertentu berdasarkan ke
khususannya.
Rumah sakit umum.
 Rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan semua jenis penyakit dari
yang bersifat dasar sampai dengan sub
spesialistik.
 Rumah sakit umum Pendidikan.
Rumah sakit umum yang menyelenggara
kan pendidikan formal di bidang
kesehatan
Pembagian RS Juga didasarkan atas :
 RS Militer :
RS AU, RST, RSAL, RS Polri
 RS Pemerintah :
RS Pusat, RS Propinsi, RS Tingkat II
 RS Swasta
 RS BUMN :
RS Pertamina , RS Perkebunan
 Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan
menjadi 4 kelas berdasarkan perbedaan
tingkatan menurut kemampuan pelayanan
kesehatan, ketenagaan, fisik dan peralatan
yang dapat disediakan yaitu rumah sakit
kelas A, B, C dan D.
 Rumah Sakit Umum Kelas D adalah
rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan sekurang-
kurangnya:
pelayanan umum
dan 2 (dua) pelayanan medik spesialis
dasar.
 Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah
sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan sekurang-kurangnya
pelayanan medik:
4 (empat) spesialis dasar
4 (empat) pelayanan penunjang medik.
 Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah
sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik sekurang-
kurangnya:
 4 (empat) spesialis dasar,
 4 (empat) spesialis penunjang medik,
 8 (delapan) spesialis lainnya
 2 (dua) subspesialis dasar serta dapat
menjadi RS pendidikan apabila telah
memenuhi persyaratan dan standar.
 Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah
sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik sekurang-
kurangnya:
 4 (empat) spesialis dasar,
 5 (lima) spesialis penunjang medik,
 12 (dua belas) spesialis lainnya
 13 (tiga belas) subspesialis serta dapat
menjadi RS pendidikan apabila telah
memenuhi persyaratan dan standar.
Pelayanan Medik Spesialis Dasar
adalah pelayanan medik spesialis:
 Penyakit Dalam,
 Obstetri dan ginekologi,
 Bedah
 Kesehatan Anak.
Spesialis Penunjang adalah
pelayanan medik:
 Radiologi,
 Patologi Klinik,
 Patologi Anatomi,
 Anaestesi,
 Rehabilitasi Medik.
Pelayanan Medik Spesialis lain adalah
pelayanan medik:
 spesialis THT,
 Mata,
 Kulit dan Kelamin,
 Kedokteran Jiwa,
 Syaraf,
 Gigi dan Mulut,
 Jantung,
 Paru,
 Bedah Syaraf,
 Ortopedi.
 Pelayanan Medik Sub Spesialis
adalah satu atau lebih pelayanan yang
berkembang dari setiap cabang medik
spesialis.
 Pelayanan Medik Sub Spesialis dasar
adalah pelayanan subspesialis yang
berkembang dari setiap cabang medik 4
spesialis dasar.
 Rumah Sakit Umum Pusat adalah Rumah
Sakit yang berada dibawah pengawasan
langsung Kementerian Kesehatan RI. 
RS Cipro Mangunkusumo Jakarta.

 Rumah sakit Khusus , antara lain adalah:


Rumah Sakit Khusus Jiwa , Rumah Sakit
Khusus Paru , Rumah Sakit Khusus Kusta,
RS Mata, RSGM
 Rumah Sakit Daerah adalah rumah sakit
milik Pemerintah Propinsi, Kabupaten/
Kota.
 Misalnya RSSA  Propinsi Jatim
RSU Kepanjen  Kab. Malang
RSU Mardiwaluyo Blitar  Kota Blitar
RSU Wlingi  Kab. Blitar
 1.Rumah Sakit Daerah berkedudukan sebagai
lembaga teknis Daerah atau unsur penunjang
Pemerintah Daerah.
 2. Rumah Sakit Daerah dipimpin oleh seorang
Kepala dengan sebutan Direktur yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala
Daerah .
 3. Rumah Sakit Daerah rujukan Propinsi lintas
Kabupaten/Kota dikelola oleh Propinsi.
 Rumah Sakit mempunyai tugas
melaksanakan upaya kesehatan secara
berdayaguna dan berhasilguna dengan
mengutamakan upaya penyembuhan dan
pemulihan yang dilaksanakan secara
serasi, terpadu dengan upaya peningkatan
serta pencegahan dengan melaksanakan
upaya rujukan, sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
 a. pelayanan medis;
 b. pelayanan penunjang medis dan non
medis;
 c. pelayanan asuhan keperawatan;
 d. pelayanan rujukan;
 e. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan;
 f. pelaksanaan penelitian dan
pengembangan;
 g. pengelolaan administrasi dan keuangan
Sekurang-kurangnya terdiri dari:
 a. Direktur;
 b. Wakil Direktur;
 c. Sekretariat;
 d. Bidang;
 e. Komite Medik;
 f. Staf Medik Fungsional;
 g. Komite Keperawatan;
 h. Instalasi;
 i. Susunan Pengawas Intern
 Jumlah Wakil Direktur, Bidang, Sub
Bagian dan Sub Bidang pada Rumah Sakit
Daerah ditetapkan sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan Rumah Sakit
berdasarkan beban kerja, azas manfaat,
efisiensi dan efektivitas, serta bersifat
hemat struktur dan kaya fungsi;
 1. Komite Medik merupakan kelompok tenaga medis
yang keanggotaannya terdiri dari Ketua-ketua Staf
Medik Fungsional.
 2. Komite Medik berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Direktur.
 3. Komite Medik dipimpin oleh seorang ketua yang
dipilih oleh anggotanya dan ditetapkan dengan
Keputusan Direktur.
 4. Komite Medik mempunyai tugas membantu Direktur
dalam menyusun Standar Pelayanan Medik,
memantau pelaksanaannya, melaksanakan pembinaan
etika profesi, mengatur kewenangan profesi anggota
staf medik fungsional dan mengembangkan program
pelayanan
 5. Dalam melaksanakan tugasnya, Komite Medik dapat
dibantu oleh panitia medik yang anggotanyanya terdiri
dari staf medik fungsional dan tenaga profesi lainnya
secara ex-offisio.
 6. Panitia adalah kelompok kerja khusus yang dibentuk
untuk mengatasi masalah khusus.
 7. Pembentukan panitia ditetapkan dengan Keputusan
Direktur.
 1. Staf Medik Fungsional merupakan kelompok dokter dan dokter
gigi yang bekerja di instalasi dalam jabatan fungsional dan
bertanggungjawab kepada Ketua Komite Medik.
 2. Staf Medik Fungsional mempunyai tugas melaksanakan diagnosis,
pengobatan, pencegahan akibat penyakit, peningkatan dan
pemulihan kesehatan, penyuluhan kesehatan, pendidikan dan
latihan serta peningkatan dan pengembangan.
 3. Dalam melaksanakan tugasnya Staf Medik Fungsional di
kelompokkan berdasarkan keahlian.
 4. Kelompok Staf Medik Fungsional sebagaimana dimaksud ayat (3)
dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih oleh anggota kelompoknya
untuk masa bakti tertentu.
 5. Ketua Kelompok Staf Medik Fungsional ditetapkan dengan
Keputusan Direktur.
 1. Komite Keperawatan merupakan kelompok profesi
perawat/bidan yang anggotanya terdiri dari
perawat/bidan.
 2. Komite Keperawatan berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Direktur.
 3. Komite Keperawatan dipimpin oleh seorang Ketua
yang dipilih oleh anggotanya.
 4. Komite Keperawatan mempunyai tugas membantu
Direktur menyusun standar keperawatan, pembinaan
asuhan keperawatan, melaksanakan pembinaan etika
profesi keperawatan.
 5. Ketua Komite Keperawatan diangkat dan ditetapkan
dengan Keputusan Direktur.
 1. Instalasi merupakan unit penyelenggaraan pelayanan
fungsional di Rumah Sakit
 2. Instalasi dipimpin oleh seorang Kepala dalam jabatan
fungsional
 3. Instalasi mempunyai tugas membantu Direktur dalam
penyelenggaraan pelayanan fungsional sesuai dengan
fungsinya.
 4. Jumlah dan jenis Instalasi disesuaikan dengan
kebutuhan dan kemampuan Rumah Dakit dan
perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Direktur
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
 5. Kepala Instalasi ditetapkan dengan Keputusan
Direktur.
 Jenis pelayanan rumah sakit yang minimal
wajib disediakan oleh rumah sakit adalah
sbb:
 1. Pelayanan gawat darurat
 2. Pelayanan rawat jalan
 3. Pelayanan rawat inap
 4. Pelayanan bedah
 5. Pelayanan persalinan dan perinatologi
 6. Pelayanan intensif
 7. Pelayanan radiologi
 8. Pelayanan laboratorium patologi klinik
 9. Pelayanan rehabilitasi medik
 10. Pelayanan farmasi
 11. Pelayanan gizi
 12. Pelayanan transfusi darah
 13. Pelayanan keluarga miskin
 14. Pelayanan rekam medis
 15. Pengelolaan limbah
 16. Pelayanan administrasi manajemen
 17. Pelayanan ambulans/kereta jenazah
 18. Pelayanan pemulasaraan jenazah
 19. Pelayanan laundry
 20. Pelayanan pemeliharaan sarana rumah
sakit
 21. Pencegah Pengendalian Infeksi
 a. Gubernur/Bupati/Walikota bertanggungjawab
dalam penyelenggaraan pelayanan rumah sakit
sesuai Standar Pelayanan Minimal yang
dilaksanakan oleh Rumah Sakit
Provinsi/Kabupaten/Kota
 b. Penyelenggaraan pelayanan rumah sakit
sesuai Standar Pelayanan Minimal tersebut
secara operasional dikoordinasikan oleh Dinas
Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota
 Rumah Sakit wajib menyelenggarakan
pelayanan kesehatan sesuai dengan
Standar Pelayanan Minimal yang disusun
dan disahkan oleh Kepala Daerah
 Pemerintah Daerah wajib menyediakan
sumber daya yang dibutuhkan dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan
yang sesuai dengan Standar Pelayanan
Minimal
 Gubernur/Bupati/walikota melaksanakan
pengawasan dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan sesuai standar
pelayanan minimal rumahsakit di daerah
masing-masing
 Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya,
Rumah Sakit mempunyai hubungan
koordinatif, kooperatif dan fungsional
dengan Dinas Kesehatan.
 2. Dalam melaksanakan pelayanan
kesehatan, Rumah Sakit mempunyai
hubungan jaringan pelayanan terkait
dengan Institusi pelayanan kesehatan
lainnya
 Sebuah Hipotesis dalam rangka usaha
penurunan angka kematian Ibu
 PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI
KOMPERHENSIF

  di RUMAH SAKIT

 Di Puskesmas  PONED !
 Istilahkomprehensif dalam PONEK, diartikan sebagai
ketersediaan dan kelengkapan pelayanan emergensi
obstetriginekologi di Instalasi Gawat-Darurat (IGD)
dan unit pelayanan fungsional (UPF) Obstetri dan
Neonatal.
 Dengan pemahaman seperti itu, maka RS PONEK
hanya akan memfokuskan pada pelayanan tersebut
pada pasien-pasien yang datang ke rumah sakit.
 Dengan kata lain, PONEK menjadi pelayanan statis
dan pasif.
 Komprehensif pada PONEK, juga diartikan sebagai
pelayanan yang proaktif.  rumah sakit sebagai
institusi medik juga memberikan pelayanan bagi
masyarakat yang ada di dalam area cakupan wilayah
kerja mereka.
 Penatalaksanaan pasien yang dirujuk ke rumah sakit
dimulai sejak pasien tersebut dikenali dan ditangani
oleh petugas kesehatan yang ada di level komunitas.
 OKI fasilitas kesehatan primer harus menjadi bagian
atau jejaring pelayanan rumah sakit.
 RSPONEK adalah RS yang memiliki
kemampuan serta fasilitas PONEK siap 24
jam untuk meberikan pelayanan terhadap
ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru
lahir dengan komplikasi baik yang datang
sendiri atau atas rujukan kader/
masyarakat, bidan di desa, Puskesmas dan
Puskesmas PONED.
 SetiapRS PONEK juga diwajibkan untuk
membangun jejaring pelayanan emergensi
dan komunikasi non kabel (telefon selular)
ke setiap Puskesmas binaan dan Bidan di
Desa yang ada di masing masing wilayah
kerja Puskesmas.
RS PONEK melakukan pembinaan ke
Fasilitas pelayanan kesehatan dasar
Puskesmas PONED, yang dikoordinasikan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
 Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi
Komprehensif di Rumah Sakit ini meliputi
kemampuan untuk melakukan tindakan
a) seksio sesaria,
b) Histerektomi,
c) Reparasi Ruptura Uteri, cedera kandung
/saluran kemih,
d) Perawatan Intensif ibu dan Neonatal,
e) Tranfusi darah.
Sasaran RPJPN 2014 yang ditetapkan adalah :
- meningkatnya Umur Harapan Hidup menjadi
72 tahun;
- menurunnya Angka Kematian Bayi menjadi 24
per 1.000 kelahiran hidup;
- menurunnya Angka Kematian Ibu menjadi 118
per 100.000 kelahiran hidup
- menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita
menjadi setinggi-tingginya 15%.
 Capaian sampai saat ini sbb:
untuk AKI semula 334/100.000 (tahun 1997),
dalam kurun waktu 10 tahun turun menjadi
228/100.000 (SDKI 2007); namun hasil SDKI 2012
AKI meningkat menjadi 359/100.000.  terlihat
meningkat apabila dibandingkan SDKI 2007 ( !!??),
AKB turun dari 46/1.000 KH (tahun1999), menjadi
34/1.000 KH menurut SDKI 2007 dan data hasil
SDKI 2012 menunjukkan bahwa penurunan AKB
tidak signifikan, menjadi 32/1.000 KH.
 Dari gambaran angka-angka tersebut
memperlihatkan bahwa penurunan angka-angka
kematian dapat dikatakan kurang berhasil !!

Hal ini merupakan tantangan yang harus dijawab !


 target
AKI maupun AKB yang ditetapkan
baik untuk RPJMN tahun 2010-2014
maupun untuk MDGs tahun 2015
diperkirakan akan sulit tercapai.
Demikian pula TFR yang ditargetkan
dapat diturunkan dari 2,6 menjadi 2,1
pada tahun 2014, ternyata angka
sementara SDKI 2012 masih tetap 2,6.
 Salahsatu upaya dalam penurunan AKI
adalah dengan memberikan perhatian
serius dalam mengatasi masalah
komplikasi pada saat kehamilan yang
dapat di prediksi !!.

 Diperkirakan 15 % kehamilan dan


persalinan akan mengalami komplikasi !!
 Walau sebagian komplikasi ini
dapat mengancam jiwa, tetapi
sebagian besar komplikasi dapat
dicegah dan ditangani
 1)ibu segera mencari pertolongan ke
tenaga kesehatan
 2) tenaga kesehatan melakukan prosedur
penanganan yang sesuai, antara lain
penggunaan partograf untuk memantau
perkembangan persalinan
 3) tenaga kesehatan mampu melakukan
identifikasi dini komplikasi
 4) apabila komplikasi terjadi, tenaga
kesehatan dapat memberikan
pertolongan pertama dan melakukan
tindakan stabilisasi pasien sebelum
melakukan rujukan
 5) proses rujukan efektif

 6)
pelayanan di RS yang cepat dan tepat
guna.
 Dari analisa penyebab kematian Ibu hasil sensus
penduduk 2010 menunjukan bahwa 90% kematian ibu
terjadi pada saat persalinan dan segera setelah
persalinan.
 Penyebab utama kematian ibu adalah hipertensi dalam
Kehamilan (32%); komplikasi puerperum (31%);
perdarahan Post partum (20%); abortus (4%);
perdarahan Ante Partum (3%); partus macet/lama (1%);
kelainan amnion (2%); lain –lain (7%),
 sedangkan menurut data rutin 35% kematian ibu adalah
perdarahan, 22% karena hipertensi, 5% partus lama, 5%
infeksi dan 1% abortus.
 Penyebab kematian bayi pada kelompok umur 0-
6 hari menurut Riskesdas 2007 adalah
gangguan/ kelainan pernafasan 35,9%;
prematuritas 32,4%; sepsis 12%; hipotermi 6,3%;
kelainan perdarahan dan kuning 5,6%;
postmatur 2,8%; malformasi kongenitas 1,4%
sedangkan pada usia 7-28 hari penyebab
kematian terbesar karena sepsis (20,5%);
malformasi kongenital (18,1%); pneumonia
(15,4%); sindrom gawat pernafasan (12,8%) dan
prematuritas (12,8%)
 Tiap kabupaten/kota harus mempunyai
minimal satu rumah sakit PONEK
 Tersedianya pelayanan PONEK menjadi
tanggung jawab bersama Pemerintah
Daerah, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
bersama seluruh rumahsakit yang
ada(swasta dan pemerintah)di Kabupaten/
Kota tersebut
 Malang ???  belum !
 TersediaPelayanan 24 jam (baik pelayanan
kebidanan dan neonatal, maupun
pelayanan penunjang)
 –Dokter spesialis kebidanan on‐site (24
jam)
 –Kasus kebidanan dan ginekologis yang
berisiko harus dirujuk ke Rumahsakit
PONEK
 Adalah pelimpahan Wewenang dan
tanggung jawab terhadap kasus penyakit
atau masalah penyakit atau permasalahan
kesehatan.
 Rujukan medik  berkaitan dengan
pengobatan dan pemulihan berupa
pengiriman pasien,spesimen dan
pengetahuan ttg penyakit.
 Rujukan Kesehatan  upaya pencegahan
dan peningkatan kesehatan berupa
sarana,tehnologi dan operasional
 Rujukanitu Dari siapa kepada siapa ?
 Puskesmas  RS
 Dst.
 Pelayanan menyeluruh
 Pelayanan Paripurna

 Promotive – Preventive- Kurative - Rehab


 YaituSetiap kegiatan yang dilakukan oleh
Pemerintah dan atau masyarakat untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah dan menanggulangi
timbulnya masalah kesehatan di
masyarakat
 Upaya Promkes
 Pemeliharaan kesehatan
 P3M
 Keswa
 Pengendalian penyakit tidak menular
 Penyehatan lingkungan
 Penyediaan sanitasi dasar (?)
 Perbaikan gizi masyarakat
 Pengamanan sediaan farmasi
 Pengamanan pengunaan zat adiktif
 Pengamanan Narkotika,psikotropika & bahan
berbahaya
 Penangulangan bencana dan bantuan
kemanusiaan
 UKM strata satu:
Ujung tombaknya adalah Puskesmas
 UKM Stara dua
Ujung tombaknya adalah Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten, RS
 UKM Strata tiga
Ujung tombaknya adalah Dinkes
Prop/Depkes, RS Rujukan
 UKP strata satu
Bentuk playanan profesional praktek
bidan, dokter/gigi,Poliklinik/BP dan RB
 UKP strata dua
Bentuk yang profesional spesialistik
 UKP strata tiga
Bentuk yan profesional konsultan dan
pelayanan unggulan
 Penyelenggaraan upaya pelayanan
kesehatan dilaksanakan dalam bentuk :
- Pelayanan di Puskesmas
- Pelayanan di Rumah sakit
 Apa bedanya ?
- Pelayanan PSM ( ? )
- Pelayanan Laboratorium kesehatan
 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  7 April 1948
 Markas besarnya : di Switzerland
 Mempunyai 6 kantor regional WHO:
- Afrika (AFRO)  Harare ,Zimbabwe
- Amaricas/Pan American (AMRO/PAHO)
 Washington DC
- Timteng (EMRO)  Cairo
- Eropa ( EURO) Kopenhagen
- Asia Tenggara ( SEARO)  New Delhi
- Pasifik Barat ( WPRO)  Manila