Anda di halaman 1dari 66

Pengenalan Sistem

Proteksi Kebakaran
Pokok Bahasan

 Proteksi Aktif
 Proteksi Pasif
Proteksi Aktif
 Pengertian : Proteksi yang didesign untuk difungsikan sebagai alat
penanggulangan bahaya kebakaran secara aktif.

 Macam/jenis proteksi aktif :


1. Sistem penginderaan (detector)
2. Sistem tanda bahaya (alarm)
3. Alat Pemadam Api Ringan
4. Hidran
5. Sprinkler
Sistem Penginderaan (Detector)
Tujuan Pemasangan sistem penginderaan (Detector) :

Pemasangan sistem penginderaan kebakaran otomatis


bertujuan untuk mendeteksi kebakaran sedini mungkin
sehingga tindakan pengamanan yang diperlukan dapat segera

+ dilakukan

Tindakan dalam keadaan Emergency Kebakaran


harus sudah berhasil diatasi.
sebelum 10 menit sejak penyalaan
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA RI
NO. PER-02/MEN/1983
TENTANG
INSTALASI ALARM KEBAKARAN OTOMATIK

Ruang lingkup
- Perencanaan
- Pemasangan,
- Pemeriksaan
- Pengujian
- Pemeliharaan
Signa
Detektor
l
alarm

FIRE FOULT
FAULT

NORMAL
Panel Indikator
Jenis detector
JENIS DAN TIPE DETEKTOR
•ULTRA VIOLET
Nyala
•INFRA RED

Panas •FIXED TEMPERATURE


•RATE OF RISE

Asap •IONIZATION
•OPTIC
Manual
•Push bottom
•Full down
•break glass
INTERCONECTION

DETEKTOR FIRE ALARM SYSTEM


KEBAKARAN
AC
Off

SPRINKLER LIFT
(FS) Off

PRESS FAN
POMPA On
HYDRANT
MCFA
supply daya
DETEKTOR ASAP
 Detektor asap adalah peralatan suatu alarm kebakaran yang dilengkapi dengan suatu
rangkaian dan secara otomatis mendeteksi kebakaran apabila menerima partikel-
partikel asap.
Jenis Detektor
 Detektor Ionisasi
 Detektor Ionosasi mengandung sejumlah kecil bahan radioaktif yang akan
mengionisasi udara di ruang pengindra (Sensing Chamber).
 Listrik dalam ruang dihantar melalui udara diantara 2 batang elektroda. Apabila
partikel asap memasuki chamber maka akan menyebabkan penurunan daya
hantaran listrik.
 Jika penurunan daya hantaran tersebut jauh dibawah tingkat yang ditentukan
detektor maka akan terjadi alarm .
 Photo Electic
 Photo Elektrik Smoke Detector type Light Obsucuration yaitu dengan
menggunakan cahaya yang disorot terus menerus langsung keperalatan photo
sensitive.
 Partikel asap yang memasuki ruang akan menyebabkan cahaya berkurang
sehingga menyebabkan alarm.
 Photo Electric Smoke Detector type Light Scattering asap menyimpangkan
berkas cahaya dari sumber cahaya ke arah penerima yang peka cahaya dan
mengaktifkan alarm.
DETEKTOR ASAP
Komponen detektor asap terdiri dari:
 smoke detector
 master control fire alarm/manual station

 PEMERIKSAAN VISUAL
 Pemeriksaan secara visual perlu dilakukan untuk
mengetahui lebih dini kemungkinan kerusakan
sebelum dilaksanakan pengujian.

 Bulan.
 Periode inspeksi dilakukan setiap bulan terhadap
bagian di bawah ini dengan pengisian formulir.
 periksa semua detektor, kemungkinan ada kerusakan.
 Periksa kotoran dan debu yang terkumpul.

DETEKTOR PANAS
 Detektor panas adalah peralatan dari detektor kebakaran yang dilengkapi dengan suatu
rangkaian listrik atau pneumatic yang secara otomatis akan mendeteksi kebakaran melalui
panas yang diterimanya.
Jenis
 Fixed Temperature Detektor.
 Terdiri dari suatu tabung detektor (detector housing) yang berisikan sebuah elemen yang dapat meleleh
denga segera pada temperatur yang diperlukan.
 Melelehnya elemen terebut menyebabkan terjadinya kontak listrik dan menyebabkan alarm pada sistem
alarm kebakaran.
 Rate of Rise Detektor Type Electric, terdiri dari tabung detector (detector housing) yang
mempunyai lubag kecil dengan sebuah diaphram.
 Panas akibat kebakaran menyebabkan udara dalam housing memuai lebih cepat, pemuaian
menyebabkan tekanan pada diaphram sehingga terjadi kontak listrik.
 Rate of Rise Detector type Pneumatic, terdiri dari tubing metalic dalam bentuk gulungan
panjang yang dapat dihubungkan dengan detektor. Panas akibat kebakaran menyebabkan
udara dalam tabung mengembang dan menaikkan tekanan pada flexible diaphram.
 Pengembangan flexible diaphram menyebabkan terjadinya kontak listrik dan alarm bekerja.
 Rate Compensation Detector. Terdiri dari 2 elemen metalic di dalamnya yang akan
mengembang jika menerima panas. Pertemuan keduanya menyebabkan terjadi kontak listrik
sehingga alarm bekerja.
 Komponen detector panas terdiri dari.
 detektor panas.
 Manual kontrol alarm kebakaran (manual station).
 Alarm bell.
DETEKTOR PANAS
 Detektor panas adalah peralatan dari detektor kebakaran yang dilengkapi
dengan suatu rangkaian listrik atau pneumatic yang secara otomatis akan
mendeteksi kebakaran melalui panas yang diterimanya.
Jenis
 Fixed Temperature Detektor.
 Terdiri dari suatu tabung detektor (detector housing) yang berisikan sebuah
elemen yang dapat meleleh denga segera pada temperatur yang
diperlukan.
 Melelehnya elemen terebut menyebabkan terjadinya kontak listrik dan
menyebabkan alarm pada sistem alarm kebakaran.
 Rate of Rise Detektor Type Electric, terdiri dari tabung detector (detector
housing) yang mempunyai lubag kecil dengan sebuah diaphram.
 Panas akibat kebakaran menyebabkan udara dalam housing memuai lebih
cepat, pemuaian menyebabkan tekanan pada diaphram sehingga terjadi
kontak listrik.
 Rate of Rise Detector type Pneumatic, terdiri dari tubing metalic dalam
bentuk gulungan panjang yang dapat dihubungkan dengan detektor. Panas
akibat kebakaran menyebabkan udara dalam tabung mengembang dan
menaikkan tekanan pada flexible diaphram.
 Pengembangan flexible diaphram menyebabkan terjadinya kontak listrik
dan alarm bekerja.
 Rate Compensation Detector. Terdiri dari 2 elemen metalic di dalamnya
yang akan mengembang jika menerima panas. Pertemuan keduanya
menyebabkan terjadi kontak listrik sehingga alarm bekerja.
DETEKTOR NYALA
 Detektor nyala akan memberikan tanggapan terhadap energi radiasi di dalam
atau di luar batas penglihatan manusia. Ia peka terhadap nyala bara api,
arang atau nyala api kebakaran, sehingga detektor ini disediakan untuk
sistem alarm kebakaran.
 Penggunaan detektor nyala adalah pada daerah yang sangat mudah
meledak atau terbakar.

 Jenis detektor nyala antara lain:


 infrared detektor
 ultraviolet detektor
 flame flicker detector.
 Photo electric flame detector.
 Komponen detector nyala terdiri dari:
 flame detector
 manual station
 alarm
 dapat dihubungkan dengan water sprinkler system.
Smoke Detector Tester

Insert tube into Adapter.

Rotate arrow on top of


can’s nozzle to point to
center of tube’s opening.

Spray Smoke Detector


Tester at smoke detector
for one to two seconds.
Testing Duct Mounted Smoke Detectors
Extension Devices are made of sturdy aluminum and non-conductive fiberglass

Snap can into clamp on


Remove rubber Smoke Detector Tester
cap from bottom Extension Head. (Smoke
of Extension Detector Tester is shown
head (N-30) with 1490 Adapter installed
on can.)

Connect first Extension Arm (N-59) Align arrow forward on


to Extension Head (N-30) or (PH) can’s activating nozzle.
by screwing poles together
clockwise until tight.
See table below for Extension
Devices required for indicated
testing elevations.

Aim at smoke detector


and press down on
activation trigger.
Connect additional Extension
Arms, as needed, to first
Entension Arm after removing
the rubber cap
Dispense with Ladders, Heat Guns, Heat
Lamps, Hair Dryers, and Extnesion Cords
HEAT DETECTOR TESTER

Place one or two Heat Pads, depending on


the type of heat detector, into Adapter Tray
and secure with rubber bands. Dome type
and some thermister type do not require an
Adapter Tray; they need only one Heat Pad.

Fill Syringe with 2 tsp of water.


Use 1 tsp of water per Heat
Pad. Re-wet after Heat
Pad cools.

Wait 60 seconds and raise assembly making


sure Heat Pads make contact with the
detector’s sensor. Alarm should occur
within 15 seconds.
Sistem Tanda Bahaya (Alarm)
 Sistem alarm kebakaran (Fire Alarm System) pada suatu
tempat atau bangunan digunakan untuk pemberitaan
kepada peerja/penghuni dimana suatu bahaya bermula.
 Sistem alarm kebakaran (Fire Alarm System) dilengkapi
dengan tanda atau alarm yang bisa dilihat atau didengar
 Penempatan alarm kebakaran biasanya pada
koridor/gang-gang dan jalan dalam pabrik/industri.
 Sistem alarm kebakaran ini dapat dihubungkan secara
manual ataupun otomatis pada alat-alat seperti sprinkler
system, detektor panas, detektor asap.
 Komponen alat ini terdiri.
 master control fire alarm (manual station, seperti panel
box, pilar box, break glass, dll).
 Alarm bell.
 Detektor panas, detektor asap, detektor nyala.
Alat Pemadam Api Ringan
 Pengertian : Alat pemadam yang dapat dilayani oleh satu orang, yang beratnya maksimal
16 Kg yang dipergunakan pada awal terjadinya kebakaran

 Dasar Hukum
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 04/MEN/1980

 Persyaratan : Harus siap dipakai pada waktunya


Mudah dilihat dan diambil
Kondisi Baik
Semua orang harus bisa menggunakannya tanpa membahayakan dirinya

 Jenis Alat Pemadam Api Ringan


1. Air bertekanan
2. Busa/Foam
3. Serbuk Kering
4. Clean Agent
CO2
Halon/Pasca Halon
PEMASANGAN APAR
Ref : Pert. Menaker No Per-04/Men/1980

 Tinggi pemasangan tanda APAR 125 cm dari dasar


lantai dimana APAR ditempatkan
 Jarak Penempatan APAR tidak boleh lebih dari 15 m,
kecuali ditentukan lain
 Tabung APAR berwarna merah
 APAR digantung di dinding dengan tinggi 120 cm dari
lantai, kecuali utk CO2 atau Dry Chemical dengan syarat
jarak antar lantai dan APAR tidak kurang dari 15 cm
 APAR tidak boleh ditempatkan pada ruangan atau
tempat dgn temperatur diatas 49oC, kecuali
rekomendasi pabrik
 Jika ditempatkan di ruang terbuka agar dilindungi
dengan penutup
TANDA PEMASANGAN
Fire Extinguisher Ratings (NFPA)
Klasifikasi Kebakaran RANGE
Pemberian Angka
A Bahan padat bukan logam
Index Angka Ukuran 1-A sampai 40-A
jumlah media pemadam
setara dengan air

Index Angka Ukuran B Gas & Cair Mudah Terbakar


kemampuan media pemadam 1-B sampai 640-B
untuk memadamkan 1 feet2
bagi non ahli

Tidak ada rating karena C Inslalasi Listrik


tidak ada derajad N/A
keselamatan dalam
kebakaran instalasi listrik

Tidak ada rating karena D . Logam Mudah Terbakar


dibutuhkan media
pemadam khusus untuk N/A
kebakaran logam yang METALS

bisa terbakar
JENIS MEDIA PEMADAM

JENIS BASAH JENIS KERING


- AIR - DRY PORDER
- CO2
- BUSA
- CLEANT AGENT
WATER

POWDER
FOAM

HALON
Fire Extinguisher Applications
FIRE CLASS EFFECTIVE EXTINGUISHER TYPES
A Trash Wood Paper
PRESSURIZED WATER, MULTIPURPOSE DRY
CHEMICAL, LARGER SIZE HALON, WET CHEMICAL

B Liquids Grease

MULTIPURPOSE DRY CHEMICAL, CARBON DIOXIDE,


Pengganti HALON

C Electrical Equipment

MULTIPURPOSE DRY CHEMICAL, CARBON DIOXIDE,


HALON, WET CHEMICAL

COMBUSTIBLE

COMBUSTIBLE METAL
D
METALS
TIPE APAR
PRESSURIZED WATER
 Hanya untuk Klas “A”
A Trash Wood Paper
A Trash Wood Paper

 2.5 gal. air pada 150-175 psi


(s.d 1 menit waktu
penyemprotan).
B Liquids Grease
B Liquids Grease

 Ada pressure gauge untuk


memudahkan melihat secara
C Electrical Equipment
visual .
C Electrical Equipment

 10 – 13mt. Jarak efektif


maksimum.

 Metoda Pemadam adalah


TIPE APAR
CARBON DIOXIDE (CO ) 2
A Trash Wood Paper
A Trash Wood Paper
 Kebakaran klas “B” atau “C”
 2.5-100 lb. of CO2 gas pada
150-200 psi ( waktu
B Liquids Grease
penyemprotan 8-30 detil).
B Liquids Grease

 Tidak ada pressure gauge–


kapasitas ditentukan dari
beratnya.
C Electrical Equipment
C Electrical Equipment  Jarak fektif maksimum 1- 3m.
 Pemadaman beradsarkan
smothering & cooling.
 Effectiveness menurun
sebanding dengan kenaikan
temperatur.
TIPE APAR
MULTIPURPOSE DRY CHEMICAL
A Trash Wood Paper

Klas “A”, “B”, atau “C”


A Trash Wood Paper

 2.5-20 lb. dry chemical


B Liquids Grease
(ammonium phosphate)
B Liquids Grease
bertekanan + 50-200 psi
(nitrogen gas)
 Waktu penyemprotan 8-25 detik.
C Electrical Equipment
C Electrical Equipment
 Mempunyai pressure gauge
untuk pemeriksaan visual
 Jarak efektif maksimum 1.5-6 m.
 Metoda Pemadaman
smothering .
TIPE APAR
HALON/ Pengganti
 Class “A”, “B”, or “C” fires
A Trash W o o d Pap er
A Trash W o o d Pap er
 9-17 lb. Halon 1211 (pressurized
liquid) disemprotkan dalam
bentuk uap
 Waktu penyemprotan 8-18 .
B Liquids Grease
 Mempunyai pressure gauge
B Liquids Grease
untuk pemeriksaan .
 Jarak efektif maksimum 3-5 M.
 Bagus untuk ruangan tertutup
C Electrical Equipment
dan barang elektronik
C Electrical Equipment
 Metoda Pemadaman smothering
dan breaking chain reaction
 Halon adalah bahan kimia yang
menimbulkan penurunan ozone
–dilarang diproduksi sejak Jan
‘94.
Fire Extinguisher Types (cont.)
COMBUSTIBLE METAL
 Klas “D” combustible
metal .
 30 lb. pressurized dry
powder optimized for
specific combustible
metal (juga tersedia
untuk jumlah yang
besar, seperti Fix
System .
 Metoda Pemadaman
COMBUSTIBLE

smothering bahan
D yang terbakar
METALS
TIPE APAR PEMADAMAN EFEKTIFITAS

PRESSURIZED
COOLING
WATER

CARBON SMOTHERING
DIOXIDE

MULTIPURPOSE
DRY CHEMICAL SMOTHERING

SMOTHERING
HALON Breaking Chain
/Pengganti Reaction

COMBUSTIBLE
METAL SMOTHERING D

COOLING/
WET CHEMICAL
SMOTHERING
WATER KEGAGALAN APAR

POWDER
HALON

Jenis media tidak sesuai


FOAM Klasifikasi api/kebakaran

Setiap jenis media pemadam masing-


masing memiliki keunggulan dan
kekurangan, bahkan dapat membahayakan
bagi petugas atau justru memperbesar api
KEGAGALAN APAR

WATER
HALON
POWDER
FOAM
Jenis tidak sesuai

Ukuran tidak sesuai Tidak bertekanan


- bocor
Macet/tidak berfungsi
Menggumpal
Salah penempatan - tunda refill
• belum ditunjuk
Petugas
• tidak trampil
TERHALANG
TERSEMBUNYI
SALAH PENEMPATAN
DISIMPAN DIGUDANG
TERLALU JAUH

PEMADATAN
PENGGUMPALAN
KURANG PERAWATAN
SUKU CADANG RUSAK
MACET

KEGAGALAN JENIS
TABUNG SALAH PEMILIHAN
PEMADAM API UKURAN

TABUNG
CATRIDGE
BOCOR PRESSURE GAUGE
RING KARET TABUNG
RING KARET VALVE

MENGUMPULKAN
TABUNG KOSONG
TUNDA REFILL
MENUNGGU PO`
JENIS MEDIA PEMADAM KEBAKARAN DAN APLIKASINYA
Jenis media pemadam
Jenis kebakaran Tipe basah Tipe kering
Clean
Air Busa Powder Agent
Bahan spt (kayu, kertas, kain dsb. VVV V VV V*)
Klas A
Bahan berharga XX XX VV**) VVV
Bahan cair XXX VVV VV V*)
Klas B
Bahan gas X X VV V *)

Klas C Panel listrik, XXX XXX VV VVV

Klas D Kalium, litium, magnesium XXX XXX Khusus XXX

Keterangan :

VVV : Sangat efektif X : Tidak tepat


VV : Dapat digunakan XX : Merusak
V : Kurang tepat / tidak dianjurkan XXX : Berbahaya
*) : Tidak efisien **) : Kotor / korosif
Fire Rating
Daya pemadamannya (Fire Rating)
lebih rendah dari volume api/kebakaran
(Fire load)

STANDAR KLASIFIKASI DAYA PEMADAMAN


Notasi : Nilai & Klas 8 A 10 B C D
Notasi Fire ratting didasarkan dari hasil
pengujian laboratories
A. : Tumpukan kayu dibakar 10 menit
B. : Premium dibakar 3 menit
C. : Sasaran bertegangan 10.000 Volt
D. : Tidak dilakukan pengujian
STANDAR APAR

APAR
Dirancang dengan tekanan > 14kg/cm2
dapat mendorong seluruh medianya
(sisa mak 15%) dalam waktu min. 8 detik

Syarat :
- Angka keamanan min 4,13 x WP (65 oC)
- Test pressure 1,5 x WP(65 oC)
- Pengujian ulang tiap 5 tahun

APAR
Sebagai sarana K3 (Safety Equipment)
Pengandung Potensi Bahaya
Tipe konstruksi

STORAGE

CO2
PRESSURE
( N2 )
CARTRIDGE
Cairan Kimia
HALON (Halogeneted Hydrocarbon)

STORED
PRESSURE
( N2 )
Dry Chemical Powder

CO2

CO2
STORED
PRESSURE
10-15 kg/cm2 CARTRIDGE
( N2 )
APAR Stored Pressure

 Untuk tipe tekanan tersimpan


(stored pressure), gas
pendorong dan media
pemadam tersimpan dalam
satu ruangan dan
penyemprotan dikendalikan
dari katup tekanan.
 Tipe ini mempunyai
keuntungan mudah diinspeksi
karena dilengkapi dengan
pengukur tekanan (Pressure
Gauge) yang mengindikasikan
siap pakai
Cartridge operated

 APAR tipe Catridge :


gas pendorong dan
media pemadam
disimpan dalam
ruang yang berbeda
 APAR digerakkan
Gas pendorong
melalui operating
level dan mendorong
media pemadam.
Pancaran akan
dikendalilkan oleh
katup yang terletak
pada discharge hose
APAB (Dengan Roda)

APAB juga
termasuk Alat
Pemadam Api
jinjing dengan
media
pendorong
adalah Gas N2
dengan berat
sekitar 20
sampai 40 kg
untuk klasifikasi
kebakaran klas
Bagian-Bagian APAR pada Umumnya

 Pin Pengaman
 Handle / Pegangan
 Pressure gauge
 Label :
 Tipe (Air, C02, Dry Chemical)
 Klasifikasi (A, B, C)
 Rating Apar
 Petunjuk Penggunaan
 Nozzle
Halon / Pengganti Halon.

 Tujuan penggunaan Halon adalah


memutus rantai reaksi pembakaran
penyelimutan dan pendinginan.
 Pemadaman diarahkan langsung ke
dasar/alas bahan yang terbakar (tengah
api) dari jarak dekat.
 Halon untuk pemadaman klas A, B dan C
dengan keunggulannya pada kecepatan
pemadaman dan bersih (tak menimbulkan
pengotoran).
 Kelemahannya adalah menghasilkan gas
beracun dan tidak cocok untdk kebakaran
AIR
 Air + pendorong
CO2
 Hanya untuk
kebakaran kelas
 Kayu/kertas dll.
 Semakin
melebarkan
cairan yang
terbakar!
 BERBAHAYA
untuk kebakaran
Karbon dioksida (CO2)

 Tujuan penggunaan CO2 adalah penyelimutan atau mengurangi/


mengencerkan kadar oksigen dalam udara sampai tidak mampu
lagi mendukung proses pembakaran (dilution) dan sedikit efek
pendinginan.
 CO2 disimpan bertekanan (storage pressure) dalam fasa cair.
 Test ditempat mengambil APAR dan arahkan nozzle ke atas.
Jangan memegang corong pengarah (horn) saat memadamkan
kebakarannya (konsentrasi CO2 yang tinggi karena dapat
menimbulkan asfiksia)
 Teknik pemadamannya diarahkan kepangkal api dari jarak dekat
kemudian dikibaskan ke seluruh permukaan yang terbakar
 CO2 cocok untuk pemadaman klas B dan C dengan hasil yang
bersih dan tidak beracun
 CO2 tidak cocok untuk kebakaran zat kimia pengoksida dan
bahan padat yang membara/penyimpan panas yang tinggi.
Bagaimana Cara
Pemakaian APAR ?

 Anda telah TERLATIH dalam penggunaannya


 JANGAN melawan arah angin (jika diluar)
 HANYA padamkan api yang KECIL dan masih
terlokalisir (pada tahap awal kebakaran)
 Lokasi api BUKAN pada daerah BERBAHAYA (gudang
api, ruang tertutup,dll)
 INGAT jaga pintu EXIT to selalu dibelakang anda
 SELALU test dulu sebelum menuju ke lokasi
Prinsip pengoperasian APAR yaitu P-A-S-S:

P A Pull : tarik atau cabut pin


pengaman APAR
Aim : arahkan nozzle
atau selang ke api
S S Squeeze : tekan handle
dari APAR
Sweep : kibas-kibas
arah semprotan ke
api
Ok, lalu
bagaimana?

 PERHATIKAN area kebakaran


 Jika nyala api terjadi ulangi lagi pemadaman
 Jika Anda tidak dapat mengontrol kebakaran , TINGGALKAN
SEGERA! Menuju pintu EXIT
 Setiap selesai pemadaman : yakinkan api telah padam, baru
mundur sampai jarak aman dan jangan langsung balik badan.
 Selesai pemadaman sewaktu membalik kembali, pancaran nozzle
harus selalu diarahkan kebawah.
Hidran
FIRE HYDRANT

Jaringan instalasi pipa air


untuk pemadam kebakaran
yang dipasang secara permanen
1 1/2 Inc
Komponen sistem Hidrant
- Sistem persediaan air
- Sistem tekanan/aliran (Pompa)
- Jaringan pipa 2 1/2 Inc
- Kopling outlet / Pilar / Landing valve 2 1/2 Inc
- Slang dan nozle
- Sistem kontrol tekanan & aliran
Out door

Seamiest
Connection

RESERVOAR
KARAKTERISTIK TEKANAN HYDRANT

Standar tekanan pada


1 nozle teringgi & terjauh :
2
2 mak. (H1) = 7.0 kg/cm
3 2
min. (H3) = 4.5 kg/cm

Diuji dengan membuka


3 titik nozle :
1. Nozle terjauh
Q = US GPM 2. Nozle terdekat
3. Nozle pertengahan
Sprinkler
 Sistem sprinkler terdiri dari rangkaian pipa yang dilengkapi dengan discharge
nozzle yang kecil (sering disebut sprinkler head) dan di tempatkan dalam
suatu bangunan. Bila terjadi kebakaran panas api akan melelehkan
sambungan solder atau memecahkan bulb, kemudian kepala springkler akan
menyemburkan air.

 Pemeliharaan sistem springkler yang baik akan memiliki kehandalan yang


tinggi dan memberikan perlindungan yang baik terhadap menusia dan harta
benda.

 Jenis dan cara kerja sistem sprinkler otomatis dapat dikelompokkan menjadi:

 Sistem Springkler Pipa Basah


Wet Pipe Springkler System ialah jaringan pipa yang berisi air dengan
tekanan tertentu
 Panas yang timbul dari suatu kebakaran membuat springkler head
bekerja dan air keluar, berbentuk pola pancar yang seragam karena air
menumbur/membentur deflektor springkler dan panas yang dibutuhkan
springkler head untuk bekerja adalah, sesuai dengan temperatur
rancangannya.
Semburan setiap kepala springkler memiliki kapasitas antara 20 – 25
GPM tergantung dari rancangannya.
Sistem Springkler Pipa Kering
 Sistem pipa kering memiki jaringan pipa yang berisi udara
bertekanan yang menjaga agar kerangan “pipa kering” tetap tertutup.
Tekanan udara dikendalikan secara otomatis oleh instalasi
pemelihara tekanan udara
 Bila panas dari kebakaran mengaktifkan kepala springkler (springkler
head), maka tekanan udara dalam pipa akan terlepas dan turun.
Turunnya tekanan ini akan memungkinkan air membuka katup
(clapper) dan seterusnya mengalirkan keluar melalui kepala
springkler
 Kerangan/valve dari sistem springkler umumnya dari type katup pipa
kering defferensial dengan menggunakan 2 tikap (clapper) dan
gelang dudukan
 Tekanan udara pada sistem, menggerakkan dudukan atas yang lebih
luas dari dudukan bawah. Lower seat mampu menahan tekanan air
karena upper seat mempunyai luas yang lebih lebar, ratio beda
takanan air dan udara murni adalah 6 : 1 (enam berbanding satu).
Sistem Springkler Curah
 Pengaturan jaringan pipa sama dengan sistem basah atau kering perbedaannya
terdapat pada:
 sistem ini menggunakan kepala springkler biasa yang terbuka sehingga jika katup
pengendali terbuka air menyembur dari semua springkler dan menyiram area.
 Katup curah dalam keadaan normal tertutup.
 Katup ini dibuka oleh bekerjanya sistem deteksi kebakaran yang terpisah (gambar).
 Sistem ini digunakan bila mana dibutuhkan kwantitas air yang besar untuk
mengendalikan secara cepat membesarnya kebakaran.
 Katup curah dapat dioperasikan secara electric, pneumatic atau hydraulik.

Sistem Springkler Praaksi


 Sistem ini hampir sama dengan sistem springkler curah.
 Perbedaan terletak pada kepala springkler, dimana kepala springkler tidak terbuka
dengan sambungan yang tidak mudah melebur/pecah.
 Bila detektor bekerja, maka akan membuka katup praaksi dan air masuk ke sistem
pipa, namun air tidak menyembur keluar dari springkler head sampai panas akibat
kebakaran melebur/memecahkan sambungan springkler head.
 Preaction system mempunyai katup balik yang kedap yang dipasang diatas deluge
valve. Check valve tersebut diisi dengan air sebagai seal udara yang baik, sedang
dalam system, pipa diisi dengan udara atau nitrogen yang bertekanan dengan
tekanan lebih kurang 1,5 psi.
 Monitoring tekanan udara perlu untuk mencegah terganggunya sinyal.
Proteksi Pasif
 Pengertian : Proteksi yang didesign untuk bangunan untuk
melindungi penghuni, melindungi tim pemadam serta mengurangi
laju perambatan api

 Macam/jenis proteksi Pasif :


1. Kompartemenisasi
2. Konstruksi bangunan tahan api
3. Sarana Jalan Keluar (MOE)
4. Smoke damper
PERATURAN DAN STANDAR
 Kep.Menteri PU no 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan
terhadap Bahaya Kebakaran
 Kep. Menteri PU no 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen
Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan
 Standar Sistem Sprinkler Otomatis (SNI no 03-3989-2000)
 Standar Sistem Pipa Tegak dan Slang Kebakaran (SNI no 03-1745-2000)
 Standar Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran (SNI no 03-3985-2000)
 Standar Perencanaan Sist. Proteksi Pasif (SNI 03-1736-2000)
 Standar Sarana Jalan Ke Luar (SNI no 03-1746-2000)
 Standar Sistem Pengendalian Asap (SNI no 03-6571-2000)
 Standar Perencanaan Akses ke Bangunan dan Lingkungan (SNI no 03-
1735-2000)
 Standar Instalasi Pompa Kebakaran (SNI no 03-6570-2000)
 Standar Pasokan Air untuk Pemadam Kebakaran (SNI no S-1-2000)
Proteksi Pasif

 Tujuan
 Melindungi bangunan dari keruntuhan
serentak akibat kebakaran
 Meminimasi intensitas kebakaran apabila
terjadi (tidak terjadi flashover)
 Memberi waktu bagi penghuni untuk
penyelamatan diri
 Menjamin fungsi gedung namun tetap aman
 Melindungi keselamatan petugas pemadam
Kompartemenisasi dan
pemisahan
 Ukuran maksimum
kompartemen
 Persyaratan Pemisahan
 Integrasi dengan sistem aktif
KOMPARTEMENISASI

URAIAN Tipe Konstruksi bangunan


Tipe A Tipe B Tipe C
Klas 5 atau 9b Maks luas lantai 8000 m2 5500 m2 3000 m2
Maks volume 48000 m3 33500 m3 18000 m3

Kelas 6,7,8 atau 9a Maks luas lantai 5000 m2 3500 m2 2000 m2


(kecuali daerah Maks volume 30000 m3 21500 m3 12000 m3
perawatan pasien)
MEMBENTUK KOMPARTEMENISASI
Perlindungan pada bukaan

 Bukaan pada penembusan


dinding dan lantai (penyetop api,
damper api / asap)
 Perlindungan pada dinding luar
(kanopi, overhang)
 Bukaan pada saf-saf
 Perlindungan pada pintu ke luar
 Bukaan untuk instalasi / utilitas
PERLINDUNGAN PADA BUKAAN

 Setiap penembusan di dinding, atap atau lantai kompartemen


harus dilindungi dengan fire stopping
 Setiap saluran udara (ducting) yang menembus dinding
kompartemen harus dipasang damper api / asap
 Bukaan ventilasi pada bangunan yang digunakan untuk saf
pipa, saf ventilasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan
dinding dari bawah sampai atas dengan konstruksi tahan api
PERLINDUNGAN PADA BUKAAN

Beberapa sistem perlindungan pada bukaan


dalam upaya mengisolasi kebakaran supaya tidak
menyebar ke ruang-ruang lainnya dalam
bangunan