Anda di halaman 1dari 18

KARAWANG, 14 MARET 2018

PERSPEKTIF HUKUM DALAM PROSES


TINDAK PIDANA RINGAN (TIPIRING)
BIDANG KETENAGAKERJAAN

Disampaikan dalam acara pertemuan


para profesi Hrd di kawasan KIM Karawang;

Oleh MUHAMAD NUR NUR


A. Teori Penegakan Hukum :

1. Kultur/Budaya Hukum
Hukum sangat dipengaruhi oleh faktor2 non hukum,
Seperti nilai, sikap dan pandangan masyarakat, yang
akhirnya mempengaruhi penegakan hukum;
2. Substansi Hukum
1) Hukum Materil
Berisi norma, perintah atau larangan, dan sanksi pidana/denda Misalnya KUHP, UU No.35 Tahun
2009 ttg Narkotika, UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2001 ttg Tipikor, UU No.13 Tahun 2003 ttg
Ketenagakerjaan (vide psl.74 jo.183, psl.167 ayat (5)jo.184), UU No 1 Tahun 1970 ttg Keselamatan
Kerja, UU No. 7 Tahun 1981 ttg Wajib Lapor Ketenagakerjaan, UU No. 3 Tahun 1951 ttg Pengawasan
Perburuhan dlsb;

2) Hukum Formil
Berisi Tata Cara, mekanisme, dan prosedur untuk menegakkan atau mempertahan hukum materil,
yaitu hukum acara(Misalnya KUHAP);
3. Struktur Hukum
Berupa kelembagaan yang diciptakan oleh sisitem hukum utk
mendukung penegakan hukum, misalnya Kepolisian, Kejaksaan
Negeri, Pengadilan Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dlsb;
B.Tugas dan Wewenang Pengadilan Negeri :
1. Menerima, memeriksa, memutus & menyelesaikan perkara Perdata :
A. Gugatan
 Perbuatan Melawan Hukum;
 Wanprestasi;
 Perceraian;
 Dlsb;
B.Permohonan
 Perbaikan Akta lahir;
 Perbaikan/ganti nama;
 Pengampuan/Perwalian/Ijin Jual;
 Agar seseorang dinyatakan tidak hadir;
 Dlsb;
2. Menerima, memeriksa, memutus & menyelesaikan perkara Pidana:

a. Acara Prapradilan (Psl. 77 s/d 83 dan Psl.95 s/d 97 KUHAP& Putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor : 21/PUU-XII/2014, tanggal 16 Maret 2015 yang memperluas
wewenang praperadilan i.c. Penetapan Tersangka);

b. Acara pemeriksaan Biasa (Pasal 152 s/d. 202 KUHAP);

c. Acara Pemeriksaan Singkat (Pasal 203 s/d. 204 KUHAP);


- Bukan delik sebagaimana ditentukan Pasal 205 KUHAP;
- Menurut JPU pembuktian serta penetapan hukumnya mudah dan sifatnya
sederhana;
d. Acara Pemeriksaan Cepat :

1. Tindak Pidana Ringan (Pasal 205 s/d.210 KUHAP & PERMA RI No.2
Tahun 2012 ttg Penyelesaian Batasan Tipiring dan Jumlah Denda dalam KUHP);
Perma RI No.2 Tahun 2012:
 Kata-kata Rp.250,- dlm Psl.364, 373, 379, 384, 407 dan 482 KUHP, dibaca menjadi
Rp.2.500.000,-(dua juta lima ratus ribu rupiah);
 Ancaman denda maksimum dlm KUHP, kecuali psl.303 (1) dan (2) dan Psl.303 bis
(1) dan (2),dilipatgandakan menjadi 1000 kali);
 Nilai barang atau uang yg menjadi objek perkara tidak lebih dari Rp.2.500.000,-
(dua juta lima ratus ribu rupiah);

2. Pelanggaran Lalu Lintas Jalan (Pasal 211 s/d. 216 KUHAP & PERMA RI. No.12 Tahun
2016 ttg Tata Cara Penyelesaian perkara pelanggaran lalu Lintas) ;
1. Ancaman pidananya paling lama 3 (tiga) bulan penjara atau kurungan;
2. Atau denda se-banyak2nya Rp.7.500,00;
3. Yang disebut secara tegas dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku, misal: Penghinaan ringan (Pasal 315 KUHP);
4. Delik-delik Pencurian, Penipuan, Penggelapan, dan Penadahan, yang
nilai barang atau uang yang menjadi objek perkara tidak lebih dari
Rp.2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah);
1. Penyelidikan dan Penyidikan oleh Penyelidik dan Penyidik;
(NOTA PEMERIKSAAN I) tdk perlu sampai Nota Pringatan 2
2. Pelimpahan Perkara/Penuntutan oleh Penyidik sebagai “Kuasa
Penuntut Umum” dan langsung menghadapkan terdakwa
beserta barang bukti, saksi, ahli, atau jurubahasa yang
diperlukan ke sidang pengadilan; (laporan dari SP atau Pekerja)

3. Proses Persidangan
 Pengadilan telah menetapkan satu hari tertentu dalam satu minggu khusus untuk melayani
pemeriksaan perkara tipiring (Psl.206 KUHAP);
 Persidangan dengan Hakim tunggal, dan dilaksanakan pada saat itu juga (hari pelimpahan) ;
 Setelah sidang dibuka, terdakwa dipanggil masuk menghadap persidangan, diperiksa
identitasnya lalu diberitahukan oleh Hakim perbuatan pidana yang didakwakan kepadanya
dan pasal dari peraturan per UU an yang dilanggar;
 Terdakwa boleh didampingi oleh Penasehat Hukum;
 Jika terdakwa ada mengajukan keberatan/ eksepsi, maka langsung diputuskan “diterima
atau ditolak”;
 Pemeriksaan saksi-saksi, ahli dan barang bukti serta pemeriksaan terdakwa;
 Hakim menjelaskan ancaman pidana atas tindak pidana yang dilakukan terdakwa dan
memberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan atau permohonan;
 Hakim menjatuhkan putusan;
1. Penyelidik (Polri atau PPNS);
2. Penyidik, (Polri atau PPNS);
3. Penasehat Hukum;
4. Hakim;
D. REGULASI KETENAGAKERJAAN YANG DAPAT DIPROSES
SEBAGAI TINDAK PIDANA RINGAN

1. Undang-Undang:
• Yang memuat ancaman pidana paling lama 3 (tiga) bulan penjara
atau kurungan, atau denda sebanyak-banyaknya Rp.7.500,00;
• Yang masih berlaku sah sebagai hukum positif di Indonesia.
• (Vide: 1. Pasal 15 UU No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan kerja =
Pemenuhan syarat keselamatan kerja, ancaman maksimal 3 bulan
kurungan atau denda maksimal Rp.100.000,-(seratus ribu rupiah);
2. Selain Undang-Undang, misalnya Keputusan Menteri, Selain keriteria
tersebut point 1 di atas, harus pula memperhatikan:

• Pasal 15 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-


Undangan, materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam:
1. Undang-undang;
2. Peraturan Daerah Provinsi, atau
3. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota;
Ketentuan pidana dalam Peraturan Daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota
berupa ancaman kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling
banyak Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupaih);
• Pasal 7 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
Undangan menentukan Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan
terdiri atas:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
3) Undang-Undang/Perpu;
4) Peraturan Pemerintah;
5) Peraturan Presiden;
6) Peraturan Daerah Provinsi, dan
7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota;
• Pasal 8 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan menentukan:
1) Jenis peraturan perundang-undangan selain dalam pasal 7 ayat(1) di atas
mencakup peraturan yang ditetapkan oleh MPR, DPR, DPD, MARI, MK,
BPK, KY, BI, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang
dibentuk dengan undang2 Pemerintah atas perintah Undang-Undang,
DPRD Provinsi, Gubernur, DPRD Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota,
kepala Desa atau yang setingkat
2) Peraturan per UU an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui
keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang
diperintahkan oleh Peraturan Per UU an yang lebih tinggi atau dibentuk
berdasarkan kewenangan;
Jika peraturan perundang-undangan/keputusan menteri
yang memuat ancaman/sanksi pidana tersebut dibentuk
berdasarkan perintah peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi, maka diakui keberadaannya dan mempunyai
kekuatan hukum mengikat, sehingga dapat diterapkan;
• Pasal 1 angka 1 KUHAP
“Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil
tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.”
• Pasal 1 angka 2 KUHAP
“Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat
terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.”
• Pasal 1 angka 4 KUHAP
“Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-
undang ini untuk melakukan penyelidikan.”
• Pasal 1 angka 5 KUHAP
“Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu
peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.”

Anda mungkin juga menyukai