Anda di halaman 1dari 53

Morbus Hansen

Oleh :
Nuris Faradita (16710)
Pembimbing :
dr. Wind F, Sp.KK
dr. Kurniati, Sp.KK
 suatu penyakit infeksi kronis yg disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium leprae, yg bersifat intraseluler obligat, yang menyerang
saraf tepi/perifer (primer), kulit & jaringan tubuh lainnya, kecuali
susunan saraf pusat.
 Cara penularan masih belum diketahui pasti, hanya
berdasarkan anggapan klasik yaitu melalui kontak
langsung antarkulit yg lama dan erat, kemudian
secara inhalasi (sebab M.leprae msh dpt hidup bbrp
hari dlm droplet)
 Masa tunasnya bervariasi antara 40 hari - 40 tahun
(rata-rata 3-5 tahun)
 Faktor lain yg dpt berperan yaitu keadaan sosial
ekonomi, lingkungan, kerentanan, dan perubahan
imunitas.
 Dapat menyerang semua umur (frekuensi tertinggi
antara 25-35 tahun)
Etiologi

 Mycobacterium leprae atau basil Hansen


 Ditemukan th 1873 oleh G.H.A Hansen, Norwegia
 Basil tahan asam, batang, p. 1-8 μ & l. 0,2-0,5 μ Berkelompok (globus)
atau tersebar satu-satu, sifat parasit obligat intraseluler (jaringan
dengan suhu dingin)
 Tidak dapat dibiakan dalam media buatan
Kuman dapat bertahan terhadap aksi fagositosis oleh karena:
• mempunyai dinding sel yang sangat kuat
• resisten terhadap aksi lisosim
FUNGSI NORMAL SARAF
Fungsi
Saraf Motorik Sensorik Otonom
Facialis Mempersarafi Mempersarafi
kelopak mata agar kelenjar keringat,
bisa menutup kelenjar minyak dan
Ulnaris Mempersarafi jari Rasa raba telapak pembuluh darah
tangan ke 4 dan ke tangan : separuh jari
5 ke 4 (jari manis) & ke 5
(jari kelingking)
Medianus Mempersarafi jari Rasa raba telapak
ibu jari, telunjuk tangan bagian ibu jari,
dan jari tengah jari ke 2, 3, dan
separuh jari ke 4.
Radialis Kekuatan
pergelangan tangan
Peroneus Kekuatan
pergelangan Kaki
Tibialis Mempersarafi jari- Rasa raba telapak kaki
posterior jari kaki
1. Kelainan saraf tepi
kerusakan bisa bersifat sensorik, motorik dan
autonomik.
• sensorik  hipostesi, anastesi pada lesi
• motorik  kelemahan otot (ekstremitas, muka,
otot mata)
• Autonomik  persarafan kelenjar keringat
sehingga lesi terserang tampak lebih kering
• Gejala lain : pembesaran saraf tepi yang dekat
permukaan kulitn.ulnaris, n.aurikularis magnus,
n.peroneus komunis, n.tibialis posterior
LETAK SYARAF TEPI YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUSTA

N. Facialis
N. Auricularis magnus

N. Medianus
N. Radialis

N. Ulnaris

N. Peroneus Communis

N. Tibialis Posterior
2. Kelainan kulit dan organ lain
hipopigmentasi, atau eritematus dengan
gangguan estesi yang jelas. Gejala lanjut
al:
» Facies leonina
» Penebalan cuping telinga
» Madarosis
» Glove & stocking anaestesia
PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS
Pewarnaan Zielhl Nielsen, dengan sediaan
diambil dari kedua cuping telinga dan lesi yang
ada di kulit.

didapatkan gambaran BTA positif


dengan gambaran globi

PEMERIKSAAN SEROLOGIS
1. Lepromin test (Mitsuda)
2. MLPA (Mycobacterium Lepra Particle
Agglutination)
3. PCR (Polimerase Chain Reaction)
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
Anamnesa
Gambaran klinis
Ditemukannya bercak kulit yang mati rasa
Pada pemeriksaan didapatkan :
Penebalan cuping telinga (+)
madarosis (+)
Kulit kering (+)
Saraf facialis : kerusakan (+), penebalan (-)
Saraf aurikularis magnus : kerusakan (-), penebalan
(+)
Saraf medianus : kerusakan (+), penebalan (-)
Saraf ulnaris : kerusakan (+), penebalan (-)
saraf peroneus : kerusakan (+), penebalan (-)
DIAGNOSIS KLINIS WHO 1995

Tanda utama PB MB
Lesi kulit » 1-5 » > 5 lesi
» Hipopigmentasi / » Distribusi >
eritema simetris
» distribusi tidak jelas » Hilangnya
» Hilangnya sensasi sensasi kurang
yang jelas jelas
Kerusakan saraf Satu cabang saraf Banyak cabang
saraf
Sediaan apusan BTA - BTA +
Menurut WHO (1981), kusta dibagi menjadi
2 yaitu :
1. Pausibasiler : tipe TT, tipe I, dan tipe BT
2. Multibasiler : tipe LL, tipe BL, tipe BB
CARDINAL SIGN

PENEBALAN
KELAINAN BTA POSITIF
SARAF DG
KULIT YG
GANGGUAN FS
MATI RASA

KUSTA
TYPE MB :
- BERCAK > 5
TYPE PB : - PENEBALAN SARAF
- BERCAK < 5 DG GGUAN FS > 1
- PENEBALAN SARAF DG - BTA POSITIF
GGUAN FS HANYA 1
- BTA NEGATIF
Diagnosis: SATU ATAU LEBIH TANDA
UTAMA ( CARDINAL SIGN )
• Pada lesi makula : Ptiriasis versikolor, Tinea
korporis.
• Pada lesi plak : Tinea korporis, Ptiriasis
rosea, psoriasis vulgaris.
• Pada lesi nodul : Acnevulgaris,
neurofibromatosis.
• Pada lesi saraf : Neuropati diabetikum,
trachoma.
Diferential Diagnosa
 Psoriasis
 Kelainan kuku :
 Pitting nail / nail pit  lekukan miliar pd kuku
 Subungual hiperkeratosis
 Onikolisis
 Oil spot  patognomonik

 Kelainan pd sendi  artritis (40%


kasus)

Mukosa : geographic tongue


 merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan makula putih
berbatas tegas dan mengenai seluruh tubuh yang mengandung sel
melanosit.
 Patogenesis vitiligo ada beberapa yaitu hipotesis autoimun, hipotesis
neurohumoral, hipotesis autotoksik dan pajanan terhadap bahan
kimia
 disebabkan oleh Malaize furfur
 bercak berwarna – warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas
jelas sampai difus, fluoresensi dengan menggunakan lampu wood
akan berwarna kuning muda, papulovesikular dapat ada tetapi
jarang, dan gatal ringan.
 Secara mikroskopik akan kita peroleh hifa dan spora ( spaghetti
and meat ball).
 lesi bulat atau lonjong, eritema, skuama, kadang papul dan
vesikel di pinggir, daerah lebih terang, terkadang erosi dan
krusta karena kerokan, lesi umumnya bercak – bercak terpisah
satu dengan yang lain, dapat polisiklik, dan ada center healing.
 ditandai dengan adanya papul – papul yang mempunyai warna
dan konfigurasi yang khas. Papul –papul berwarna merah, biru,
berskuama, dan berbentuk siku – siku.
 Lokasinya diekstremitas bagian fleksor, selaput lendir, dan alat
kelamin.
 Rasanya sangat gatal, umumnya membaik 1 – 2 tahun
 sering polimorf yang terdiri dari berbagai kelainan kulit,
berupa komedo, papul, pustul, nodus dan jaringan parut
akibat aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotropik
maupun yang hipertopik.
 Gejala ringan muncul lebih awal dan kerusakan saraf terjadi
setelah beberapa tahun.
 Gejala kerusakan saraf dapat berupa kebas atau nyeri pada
kaki, tangan, pergelangan tangan, dan jari – jari tangan,
maldigestion, diare, konstipasi, masalah pada urinasi, lemas,
disfungsi ereksi dll.
1. Pausibasiler
Rifampisin 600 mg/bulan, diminum dpn petugas
DDS 100 mg/hari
pengobatan diberikan teratur selama 6 bln & diselesaikan maksimal 9 bln.
Setelah selesai minum 6 dosis  RFT
2. Multibasiler
Rifampisin 600 mg/bulan
Lamprene 300 mg/bulan
DDS 100mg/hari
Selanjutnya
Lamprene 50 mg/hari
DDS 100 mg/hari
pengobatan diberikan teratur selama 12 bln & diselesaikan maksimal 18 bln. Setelah
selesai minum 12 dosis  RFT
Mekanisme Kerja Obat
 Rifampicin  bakteriosid (membunuh kuman) 
menghambat DNA- dependent RNA polymerase pada sel
bakteri dengan berikatan pada subunit beta.
 DDS (diamino difenil sulfon)  bakteriostatik
(menghalangi atau menghambat pertumbuhan bakteri) 
antagonis kompetitif dari para-aminobezoic acid (PABA)
dan mencegah penggunaan PABA untuk sintesis folat
oleh bakteri.
 Lamprene  bakteriostatik dan dapat menekan reaksi
kusta  bekerja dengan menghambat siklus sel dan
transpor dari NA/K ATPase
EFEK SAMPING RIFAMPICIN
• Pernapasan ; sesak , collaps
• Hepatitis, Ginjal.
• Saluran cerna : Nyeri,mual,muntah,diare.
• Kulit : urticaria.
• Flu syndrom : Demam,menggigil,sakit tulang,

EFEK SAMPING DDS


• Dermatitis exfoliatif.
• Hepatitis, Ginjal.
• Sal cerna : Anorexia,mual,muntah.
• Anemia.
• Saraf : neuropati perifer, sakit kepala,vertigo,psikosis, sulit tidur,
penglihatan kabur

EFEK SAMPING LAMPRENE


• Saluran cerna : Diare, nyeri lambung
Komponen POD :
1. Penemuan dini
2. Penyuluhan awal pengobatan
3. Pengobatan MDT sampai RFT
4. Deteksi dan penanganan reaksi secara
cepat dan tepat (pengisian form POD 1 x /
bln )
5. Perawatan diri
6. Alat bantu
7. Rehabilitasi medik
SIMBOL KELAINAN KUSTA
KETERANGAN
SIMBOL
Bercak kusta kemerahan /
keputihan
Ulkus

Mati rasa Infiltrat yang luas


dan merata

Bercak putih/merah Tangan lunglai / kaki


yg mati rasa berbatas semper
tidak jelas
Kontraktur lemah
Bercak putih/merah yg
mati rasa berbatas tegas
Kontraktur kaku
Benjolan
Mutilasi / absorbsi
Alis mata rontok /
madarosis
Hidung pelana
Ginekomasti

Lagoppthalmus Penebalan saraf


GANGGUAN FUNGSI SYARAF TEPI

SENSORIK MOTORIK OTONOM

ANESTHESI / KELEMAHAN GG KEL MINYAK,


MATI RASA OTOT KERINGAT,CIRC DARAH

TANGAN KAKI CORNEA JARI, TANGAN, KAKI


REFLEK LEMAH / LUMPUH
MATIRASA MATA MATI
RASA KEDIP (-)
KULIT KERING /
PECAH-PECAH

LAGOPTH TANGAN/KAKI
LUKA INFEKSI ALMUS KITING, BENGKOK

LUKA/ULCUS
INFEKSI

MUTILASI / BUTA MUTILASI /


ABSORBSI ABSORBSI INFEKSI
BUTA
Penderita diminta menutup mata secara perlahan
kekuatan jari kelingking
dan tes konfrontasi

Penderita diminta menggerakkan jari pemeriksa menarik kertas tersebut


kelingking ke lateral medial sambil menilai ada tidaknya
tahanan/jepitan terhadap kertas
Bila + pemeriksa memberi tekanan pada tersebu
jari kelingking penderita
 Trauma dan infeksi kronik sekunder dapat menyebabkan hilangnya
jari jemari ataupun ekstremitas bagian distal.
 Kebutaan
 Reaksi Kusta
MASALAH
SOSIAL,
NEURITI EKONOMI
KUSTA REAKSI S DAN STIGMA

GANGGUAN
MOTOTIS,
SENSORIS KECACATAN
DAN
OTONOM
REAKSI

Reaksi kusta adalah episode akut pada


perjalanan penyakit Kusta, sebagai akibat dari
perubahan sistem kekebalan tubuh.
Dapat timbul sebelum, selama dan sesudah
pengobatan.
Ditandai dengan peradangan akut pada kulit,
saraf , organ lain dan bisa disertai gangguan
keadaan umum.

TIPE I : TIPE II :
ME RESPON ME RESPON
SELULER HUMORAL
TYPE I : RINGAN TYPE II : RINGAN

-LESI KULIT TAMBAH AKTIF, - NODUL NYERI TEKAN, DAN


MENEBAL HILANG DLM 2-3 HR.
- DEMAM RINGAN
--TIDAK ADA NYERI TEKAN - TAK ADA NYERI TEKAN
SARAF DAN GG FUNGSI SARAF DAN GG FUNGSI
-TAK ADA GG ORGAN TUBUH

TYPE II : REAKSI BERAT


- NODUL NYERI TEKAN,
JUMLAH >>, ADA ULCUS
TYPE I : REAKSI BERAT
- DEMAM SP BERAT
- LESI KULIT MERAH, - NYERI TEKAN DAN GG
TERABA PANAS, SENDI FUNGSI SARAF
SAKIT. - PERADANGAN ORGAN
- NYERI TEKAN DAN GG TUBUH
FUNGSI SARAF
Reaksi kusta Tipe 1 = Reaksi Reversal

saraf kulit
kuman
Sistem Kekebalan Tubuh kusta
Body’s immune system
(Respons seluler)
“perang”
peradangan

serang !!
Lymphocyt T

Kulit merah,
bengkak, panas
nyeri tekan dan
ggn fungsi saraf.
Reaksi kusta tipe 2 = ENL

(eritema nodosum lepromatous)


Aliran darah sistemik SARAF KULIT
Pecahan Kuman
Protein kuman masuk / ikut Globus /
mati
Kuman
Aliran darah sistemik hancur

Memacu respon kekebalan


tubuh ( Immuno kompleks ) Kuman patah-
 patah/hancur
 terurai
Deposit di jaringan dan sebabkan
peradangan di mana-mana
(di luar bercak kusta/saraf)
(respons humoral)
Mengeluarkan
Protein kuman

ENL : Nodul2 merah,panas,bengkak,nyeri,


disertai gangguan ke organ2 lain
REAKSI RINGAN :
1. BEROBAT JALAN , ISTIRAHAT
DIRUMAH
2. BERI ANALGETIK ANTIPIRETIK
3. CARI FAKTOR PENCETUS
4. MDT DITERUSKAN

REAKSI BERAT :
1. ISTIRAHAT / IMMOBILISASI.
2. PEMBERIAN ANALGETIK ANTIPIRETIK
3. CARI FAKTOR PENCETUS
4. MDT DITERUSKAN DENGAN DOSIS SAMA
5. PEMBERIAN OBAT ANTI REAKSI
PRINSIP
3 M:
 1. Memeriksa
 2. Melindungi
 3. Merawat
MERAWAT
 Setelah program terapi obat biasanya prognosis baik, yang paling
sulit adalah manajemen dari kecacatan yang sudah terjadi. Ini
membutuhkan kerjasama dari berbagai tenaga ahli atau
multidisiplin terapi seperti neurologis, ortopedik, ahli bedah,
oftalmologis, dan rehabilitasi.