Anda di halaman 1dari 9

Melanoma Maligna

Contoh Melanoma Maligna


Faktor resiko
1. Pajanan sinar ultraviolet (UV), merupakan faktor risiko utama pada banyak kasus MM.
Sinar UV bisa berasal dari matahari atau tanning beds. Sinar matahari merupakan sumber
utama penghasil sinar UV, sehingga orang yang mendapatkan banyak paparan sinar
matahari mempunyai risiko lebih besar menderita kanker kulit.
2. Melacynotic nevi atau biasa disebut tahi lalat adalah salah satu tumor berpigmen yang
sifatnya jinak. Melacynotic nevi ini sebenarnya bukan masalah, tetapi jika jumlahnya banyak
dan bentuknya irreguler atau ukurannya besar, kemungkinan menjadi MM lebih besar.
3. Kulit putih, freckles, rambut berwarna kuning atau merah.
4. Riwayat keluarga menderita MM.
5. Pernah menderita MM sebelum
6. Imunosupresi: Sistem imun dalam keadaan lemah atau sedang mendapat terapi obat yang
menekan sistem imun.
7. Jenis kelamin, sebelum usia 40 tahun MM banyak ditemukan pada wanita dan setelah usia
40 tahun MM banyak ditemu- kan pada pria.
8. Genetik (mutasi gen CDKN2a)
Patogenesis
a. Proliferasi dari Melanosit (benign lesions)
Hal yang pertama terjadi yaitu sebuah proliferasi dari melanosit menjadi benign nevus. Secara
klinis, nevi ini berbentuk datar dan sedikit menonjol dengan warna yang seragam atau gambaran
teratur dari pigmen dot-like pada sebuah latar yang cokelat atau hitam kecokelatan. Secara
histologi, lesi ini memiliki peningkatan jumlah dari kumpulan melanosit yang bersarang sepanjang
lapisan basalis (Paek et al., 2008).

b. Dysplastic Nevi (random atypia)


Selanjutnya perkembangan dari pertumbuhan yang abnormal. Ini mungkin terdapat pada tempat
yang sebelumnya ada benign nevus atau pada tempat yang baru. Secara klinis lesi ini mungkin
asimetris, batasan tidak rata, mengandung lebih dari satu warna, atau memiliki diameter yang
lebih besar. Secara histologi, lesi ini memiliki sel yang abnormal bentuk yang bebas dan sel-selnya
tidak berdampingan lagi (Miller dan Mihm, 2006).

c. Fase Radial-growth (pertumbuhan intraepidermal)


Selama fase radial-growth, sel-sel memiliki kemampuan untuk berproliferasi secara
intraepidermal. Secara klinis, lesi ini kadangkadang bisa menonjol. Lesi ini tidak lagi
memperlihatkan sel abnormal yang bebas dan sebagai gantinya dia memperlihatkan bentuk sel
kanker di seluruh lesi (Paek et al., 2008).
d. Fase Vertical-growth (invasi dermis)
Lesi yang berlanjut ke fase vertical-growth memiliki kemampuan untuk masuk
ke dermis dan membentuk nodul besar, meluas ke papillary dermis. Sel-sel
kanker bisa juga masuk ke reticular dermis dan sel adipose (Miller dan Mihm,
2006).

e. Metastasis Melanoma
Akhir dari semua perkembangan kanker yaitu berhasil menyebarkan sel-sel
kanker ke bagian kulit lain dan organ-organ tubuh lainnya, dimana sel-sel
tersebut bisa berproliferasi dan metastasis (Miller dan Mihm, 2006).
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan dermoskopi
Pemeriksaan ini dilakukan sesuai dengan manifestasi klinis “Melanoma Maligna ADCDEF”
(Suyatno dan Pasaribu, 2010).

2. Pemeriksaan Histopatologi dengan Biopsi


Pemeriksaan histopatologi dengan biopsi ini merupakan standar diagnosis melanoma maligna.
Apabila ditemukan lesi pigmentasi yang diduga melanoma maligna setelah lesi pigmentasi
memenuhi 2 kriteria mayor dan 1 kriteria minor maka selanjutnya dilakukan biopsi eksisi luas.
Semua lesi yang diduga melanoma maligna seharusnya dihilangkan sempurna vertikal dan
horizontal (Suyatno dan Pasaribu, 2010)
Cara pengambilan spesimen
• Untuk cara pengambilan spesimen dari melanoma maligna dilakukan dengan cara biopsi
dengan mengangkat semua pertumbuhan yang mencurigakan, apabila jaringan terlalu besar
maka cukup diangkat contoh jaringannya saja.
• Prinsip biopsi harus sempurna, jenis biopsi tergantung pada ukuran dan lokasi anatomi lesi.
Bila kurang dari 2 cm dilakukan eksisi tumor dengan batas tumor 2-5 mm sedangkan insisi
tumor dilakukan ketika diameter lesi lebih dari 2 cm dan secara anatomi letak lesi sulit seperti
di daerah wajah (Rager, Bridgeford, dan Ollila, 2005).
• Tindakan lymph node dissection dan terapi adjuvan dipengaruhi oleh kedalaman lesi. Untuk
5-6 mm punch biopsy dilakukan untuk mengambil lesi yang mencapai subcutaneous fat
(Goldstein dan Goldstein, 2001)
Penatalaksanaan
A. Eksisi bedah.
Dilakukan pada melanoma stadium I da n IL Zitelli dkk. Menyarankan untuk mengambil sampai
1,5 cm diluar tepi le sinya, kecuali bila dilakukan Moh's microsurgery. Pada melanoma yang terd
apat pada kuku dianjurkan untuk dilakukan amputasi pada seluruh jari yang terkena.

B. Elective Lymph Node Dessection( ELND)


Dilakukan pada melanoma stadium III, di mana telah terdapat metastase ke kelenjar lymph. Hal
ini dibuktikan dengan terabanya pembesaran kelenjar lymph.
ELND masih merupakan terapi yang kontr oversial. Cara yang lebih dianjurkan adalah dengan
intraoperative lymphatic mapping.

C. Interferon a 2b
Dapat digunakan sebagai terapi adjuva n pada melanoma yang berukuran lebih dari 4 mm
(stadium V), tetapi harus di pertimbangkan tingkat toksisitasnya yang masih tinggi. Tujuan terapi
ini dihara pkan dapat menghambat metastasis yang lebih jauh lagi.
D. Kemoterapi
Dikatakan tidak terlalu bermanfaat pada terapi melanoma. Jenis kemoterapi yang paling efektif
adalah d acarbazine (DTIC = Dimethyl Triazone Imidazole Carboxamide Decarb zine).

E. Kemoterapi Perfusi
Cara ini bertujuan untuk menciptakan su asana hipertermis dan oksigenasi pada pembuluh-
pembuluh darah pada sel tumor dan membatasi distribusi kemoterapi dengan menggunakan
torniquet. Cara ini diharapkan dapat menggantikan amputasi sebagai suatu terapi.

F. Terapi Radiasi
Digunakan hanya sebagai terapi simptomatis pada melanoma dengan metastasis ke tulang dan
susunan syaraf pusat ( SSP). Meskipun demikian hasilnya tidak begitu memuaskan.
Tanpa pengobatan, kebanyakan melanoma akan bermetastase dan mengakibatkan kematian
pasien. Saat ini, kare na diagnosis klinik yang dini, lebih dari
80% melanoma diterapi dengan bedah eksi si sederhana dan dengan edukasi yang lebih baik
mengenai tanda-tanda kinik melanoma, angka kesembuhannya menjadi