Anda di halaman 1dari 40

HIV

Di Susun Oleh :
Titis Cresnaulan Desiyanti
Vemindra Dinda Laksono
Definisi

 HIV  Human Immunodeficiency Virus


 Ditransmisi secara vertikal dari ibu ke bayinya pada saat proses kehamilan,
persalinan, dan melalui ASI.
TRANSMISI HIV

Penularan vertikal dari ibu yang terinfeksi

Pemberian ASI

Kontak seksual

Tranfusi darah

Pemakaian jarum suntik berganti-ganti


Penularan HIV
Faktor yang mempengaruhi transmisi HIV
Virus HIV menempel pada
permukaan sel inang

Patofisiologi
RNA HIV masuk sel inang, terbentuk
DNA pro virus

DNA pro virus masuk inti sel dan akan


berikatan dgn DNA sel

Sel inang mRNA HIV dan protein HIV

RNA virus baru dan protein pindah ke


permukaan sel yang baru dan masih
imatur

Terbentuk virus HIV


baru
Diagnosis presumtif HIV pada anak< 18 bulan

Bila ada 1 kriteria berikut : Minimal ada 2 gejala berikut :


• PCP, meningitis kriptokokus, • Oral thrush
kandidiasis esophagus • Pneumonia berat
• Toksoplasmosis, • Sepsis berat
• Malnutrisi berat yang tidak membaik • Kematian ibu yang berkaitan dengan
dengan pengobatan sekunder HIV atau penyakit HIV yang lanjut
pada ibu
• CD4+ <20%
Diagnosis

 Anamnesis
(Anamnesis risiko Ibu dan Ayah)
Ibu atau ayah memiliki risiko untuk terinfeksi HIV (riwayat narkoba
suntik, promiskuitas, pasangan dari penderita HIV, pernah mengalami
operasi atau prosedur transfusi produk darah)
Riwayat morbiditas yang khas maupun yang sering ditemukan pada
penderita HIV. Riwayat kelahiran, ASI, pengobatan ibu, dan kondisi
neonatal
Pemeriksaan fisik

Demam berulang/berkepanjangan Gagal tumbuh


Berat badan turun secara progresif Limfadenopati generalisata
Diare persisten Kelainan kulit
Kandidiasis Oral Pembengkakan parotis
Otitis media kronik
Pemeriksaan penunjang

Umur pasien <18 bulan:


Bila tersedia dan mampu, lakukan pemeriksaan PCR RNA (DNA) sebagai pemeriksaan
yang paling akurat untuk anak usia kurang dari 18 bulan.
Bila status ayah dan ibu tidak diketahui, dapat dilakukan pemeriksaan antibodi
antiHIV, sebaiknya dengan ELISA dan menggunakan 3 reagens yang berbeda, diikuti
dengan pemeriksaan konfirmasi (immunoblot atau imunoflouresens).
Pada bayi yang masih mendapat ASI, interpretasi tes HIV menjadi tidak akurat.
Periode jendela yang dipakai untuk dapat mengintepretasi dengan tepat adalah 6
minggu setelah ASI dihentikan. Tes HIV tetap dapat dilakukan tanpa harus menyetop
pemberian ASI.
Bila anak >18 bulan
Cukup dengan pemeriksaan antibodi HIV saja.
Pemeriksaan konfirmasi infeksi HIV: Westernblot atau PCR
RNA/DNA
Tentukan status imunosupresi dengan pemeriksaan hitung mutlak
dan persentase CD4+
Lakukan pemeriksaan darah tepi lengkap, SGOT/SGPT, dan
pemeriksaan lain sesuai indikasi.
Lakukan pemeriksaan infeksi oportunistik yang sering terjadi
bersamaan dengan infeksi HIV (tuberkulosis, hepatitis B, dan C).
Pemeriksaan lain (laboratorium, pencitraan, dan lain-lain) dan
konsultasi ke ahli terkait disesuaikan dengan kondisi infeksi
oportunistik.
Klasifikasi klinis
Stadium Klinis 4
Tatalaksana awal

Memberi konseling kepada orangtua mengenai infeksi HIV


Evaluasi dan tatalaksana infeksi oportunistik
Pemberian nutrisi yang cukup
Pengawasan tumbuh kembang dan imunisasi
Bagan pemberian
kotrimoksazol pada
bayi yang lahir dari
ibu HIV positif
Inisiasi profilaksis kotrimoksazol pada anak
PMTCT (Prevention Mother To Child HIV Transmission)
Komprehensif

• Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduktif


Prong 1

• Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif


Prong 2

• Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang
Prong 3 dikandungnya

• Memberikan dukungan psikologis dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta
Prong 4 bayi dan keluarganya
Strategi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Ke Bayi dan Kegiatan Pendukungnya

- Penyuluhan HIV/AIDS ;
Perempuan Usia Reproduktif Cegah Penularan HIV - Pelatihan Perubahan
Perilaku ;
- Penyebarluasan materi cetak tentang
Pencegahan HIV ;
HIV Positif HIV Negatif - layanan VCT; dll.

Perempuan HIV Positif Cegah Kehamilan - Konseling;


- Sarana Kontrasepsi

Hamil Tidak Hamil


- Pemberian ARV;
- Konseling Kesehatan
Ibu Hamil
Cegah Penularan ke Bayi
Perempuan Hamil HIV (+) - Konseling Pemberian
Makanan Bayi ;
- Pe rsalinan yang Aman

Bayi HIV Positif Bayi HIV Negatif


- P engobatan ARV;
- - Pengobatan Infeksi
Oportunistik;
Perempuan Post Partum Dukungan Psikologis,
- Bantuan Pemeriksaan
Kesehatan;
HIV Positif Sosial & Perawatan - Layanan Support Group
- Perawatan Anak,
Imunisasi;
- Bantuan Finansial; dll
STRATEGI I
(Pencegahan penularan usia produktif/ primary prevention)

A  Abstinence
• Absen seks / tidak melakukan hubungan seks

B  Be faithful
Kegiatan bisa : penyuluhan, life
• Bersikap setia kepada pasangan seks skill training, konseling bagi
masyarakat, remaja, pasangan
C  Condom
• Cegah HIV dengan memakai kondom

D  Drug No
STRATEGI II
(pencegahan kehamilan pada ibu HIV +)

MEMBUTUHKAN :
 Layanan konseling & tes HIV sukarela
 Sarana kontrasepsi yang aman & efektif (kondom, kontrasepsi oral
/implant/KB suntik, sterilisasi)
 IUD tidak dianjurkan  infeksi, perdarahan  risiko penularan HIV pada
bayi
STRATEGI III
(Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV +
ke bayi)

 Layanan kesehatan ibu & anak yg komprehensif


 Layanan konseling & tes HIV sukarela
 Pemberian ARV selama kehamilan, persalinan & setelah
melahirkan
 Konseling & pemberian makanan bayi
 Layanan persalinan yang optimal
(3.1) Layanan kesehatan ibu & anak yang
komprehensif

 Sejalan dengam kebijakan umum KIA melipui ANC, pasca


persalinan, kesehatan anak
 Pintu masuk upaya PMTCT
 Pemberian informasi pada ibu & pasangan  sadar unyy
konseling & tes sukarela
 Diintegrasikan dg paket layanan antenatal di puskesmas pada
daerah dg tingkat prevalensi HIV yang tinggi
(3.2) Pemberian ARV selama kehamilan, persalinan
& setelah melahirkan

 Protokol pemberian ARV mengikuti Pedoman Nasional


Pengobatan ARV di Indonesia( pem CD4/Limfosit)
 Utk PMTCT semua ibu hamil diberi ARV pencegahan tanpa
melihat CD4/ Limfosit
 Pemberian ARV melalui jalur RS Rujukan ODHA yang telah
ditentukan Pemerintah
Menilai kemungkinan pemberian ARV

1. Menilai kesiapan pasien dan orangtua/wali


2. Menghindari risiko resistensi obat
3. Memperhitungkan kemungkinan risiko interaksi obat-obat
4. Memperhitungkan kemungkinan risiko obat-makanan
5. Posologi dan formulari obat untuk anak
6. Memperhitungkan risiko pemberian obat pada koinfeksi TB
dan hepatitis
Rekomendasi rejimen inisial (first line) untuk kasus yang belum
pernah mendapat ARV sebelumnya.

Anak usia ≤3 tahun :


Zidovudine (AZT)+Lamivudine (3TC)+Nevirapine (NVP) ATAU
Stavudine (D4T)+Lamivudine (3TC)+Nevirapine (NVP) --
Anak usia ≥3tahun dan berat badan ≥10 kg
Zidovudine (AZT)+Lamivudine (3TC)+NVP atau Efavirenz
(EFV)
Stavudine (D4T)+Lamivudine (3TC)+NVP atau Efavirenz (EFV)
Pemantauan

Setelah pemberian ARV, pasien diharapkan datang setiap 1-


2 minggu untuk pemantauan gejala klinis, penyesuaian
dosis, pemantauan efek samping, kepatuhan minum obat,
dan kondisi lain. Setelah 8 minggu, dilakukan pemantauan
yang sama tetapi dilakukan 1 bulan sekali.
Pemeriksaan laboratorium yang diulang adalah darah tepi,
SGOT/SGPT, CD4 setiap 3 bulan, dapat lebih cepat bila
dijumpai kondisi yang mengindikasikan untuk dilakukan.
Dosis Oba ARV
Paduan lini pertama bila anak mendapat terapi TB
dengan rifampisin

 Jika terapi TB telah berjalan, maka ARV yang digunakan:

Catatan:
• Apabila sudah ditegakkan diagnosis TB maka segera berikan terapi TB
• Terapi TB harus dimulai lebih dahulu dan ARV mulai diberikan mulai minggu ke 2-8 setelahnya.
• Terapi TB lebih dahulu dimaksudkan untuk menurunkan risiko sindrom pulih imun (immune reconstitution
inflammatory syndrome, IRIS).
Jika akan memulai terapi TB pada anak yang sudah
mendapat ARV:

Catatan:
• Tidak ada interaksi obat antara NRTI dan rifampisin.
• Rifampisin menurunkan kadar NVP sebesar 20-58% dan kadar EFV sebesar 25%.
• Pada pengobatan TB, rifampisin adalah bakterisidal terbaik dan harus digunakan dalam paduan pengobatan TB,
khususnya dalam 2 bulan pertama pengobatan. Pergantian terapi TB dari rifampisin ke non rifampisin dalam masa
pemeliharaan tergantung pada kebijakan dokter yang merawat.
• Efek hepatotoksisitas obat anti TB dan NNRTI dapat tumpang tindih, karena itu diperlukan pemantauan fungsi hati.
Indikasi rawat

Infeksi
Gizi buruk
berat/sepsis

Diare kronis
Pneumonia dengan
dehidrasi
Konseling & pemberian makanan bayi

 Untuk mengurangi risiko penularan HIV melalui ASI, ibu HIV (+) dapat
memberikan susu formula kepada bayinya
 Pada daerah dimana pemberian susu formula tidak memenuhi persyaratan
AFASS (Affordable, Feasible, Acceptable, Sustainable & Safe), bayi dapat
diberikan ASI eksklusif selama 4-6 bulan,
 Pilihan lain ASI melalui manual. Breast pump dan pasteurisasi 65◦c selama
35 menit
 Ibu hamil HIV (+) perlu mendapat konseling sehubungan dg keputusannya
untuk menggunakan ASI / susu formula
Layanan persalinan yang optimal

 Tindakan persalinan pada ibu hamil HIV (+) operasi caesar


terencana pd 38 mg mengurangi transmisi 50-80%.
Keputusan SC terencana tergantung individual
 Hindari ketuban pecah > 4 jam
 Hindari episiotomi, forceps
 Pembersihan vagina sebelum dan selama persalinan
Prognosis

Dengan pemberian antiretroviral, angka morbiditas dan mortalitas


akan menurun.
Daftar Pustaka

 McFarland EJ: Human Immunodeficiency Virus Infection. Dalam : Hay WJ, Levin MJ, Sondheimer JM, dkk
penyunting. Current diagnosis & treatment in pediatric
 Akib AAP. Infeksi HIV pada bayi dan anak. Perempuan ilmiah tahunan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Batam.
Juni 2014
 Djauzi S, Djoerban Z. Penatalakasanaan Infeksi HIV di pelayanan kesehatan dasar. Edisi ke-2. Jakarta: Balai
penertbit FKUI; 2003. p.67.
TERIMAKASIH