Anda di halaman 1dari 43

ASKEP KLIEN DG

GANGGUAN PARENCHYM GINJAL

Oleh:
Faqih Ruhyanudin
faqih@umm.ac.id D-3 Keperawatan UMM
2017
• Pielonefritis UTI/ISK  INFEKSI GINJAL
• Glumerulonefritis
• Nephrotic syndrome

INFEKSI SALURAN KEMIH


BAGIAN ATAS
PYELONEPHRITIS
 Adalah terjadinya inflamasi
pada parenchim ginjal
 Inflamasi terjadi di struktur:
o renal pelvis

o renal tubules

o interstitial tissue
 Termasuk infeksi saluran kemih
bagian atas (upper UTI)
 Pyelonefritis berpotensi menjadi infeksi
ginjal lebih parah jika infeksi menyebar
ke darah
 Infeksi bisa terjadi pada satu ginjal saja
atau kedua duanya.
 Paling sering disebabkan oleh E. Coli
Pathophysiology
 Infeksi biasanya berasal dari uretra yang
naik ke ginjal  paling banyak
disebabkan oleh bacteri/organisme usus
besa (bowel), E. Coli (70 – 80 %)
 Penyebaran secara hematogen JARANG
 Di RS  infeksi didapat sering terkait
dengan coliforms dan enterococci
 Pyelonefritis dapat terjadi AKUT atau
KRONIS
Patologi
 Pembesaran Ginjal  edema
ginjal
 Infiltrasi interstisiil sel sel
inflamasi dan kongesti
pembuluh darah
 Abses pada kapsul dan
corticomedullary junction
 Terjadi kerusakan tubulus dan  Urine keruh dan
glomeruli mengandung pus,
 Pada pyelonefritis Kronis: mukus, dan darah
terbentuk scar, kontaktur, dan
fungsiolesa
Etiologi
Biasanya berhubungan dengan:
 Kehamilan
 Diabetes mellitus
 Polycystic
 Penyakit hipertensi ginjal
 Invasi kuman ke saluran kemih dari kateter,
infeksi tempat lain, obstruksi atau trauma
 Kasus yang paling banyak adalah komplikasi dari
infeksi VU  bakteri ke tubuh dari kulit sekitar
uretra kemudian naik ke VU

Copyright © 2008 Pearson Education, Inc., publishing as Benjamin Cummings


Manifestasi Klinik
 Pielonefritis akut mungkin unilateral atau
bilateral, menyebabkan menggigil, demam, dan
nyeri pinggang
 Studi menunjukkan bahwa pielonefritis kronis
dapat berkembang berhubungan dengan
penyakit ginjal lainnya yang tidak terkait dengan
proses infeksi
 Azotemia (retensi nitrogen dalam darah dalam
jumlah yang berlebihan)  jika cukup nefron
yang tidak berfungsi
TANDA DAN GEJALA (sign & symptom)

 Data Subjektif pada pyelonephritis akut:


o Pasien datang dengan keluhan sakit akut, malaise,
dan Nyeri ketuk di costovertebral angle (CVA)
 Pada fase kronis: menunjukkan gejala biasa-
biasa saja seperti mual dan malaise umum
 Data Objektif hasil pemeriksaan:
oSuhu meningkat
oMenggigil
oPus di urin
TANDA DAN GEJALA (sign & symptom)..

 Tanda tanda sistemik yang terjadi pada pyelonefritis


kronik:
o Peningkatan TD
o Muntah
o Diare
 Bisa terjadi perubahan nyata pada urin:
o Hematuria
o Urin berwarna keruh dan berbau
o Nyeri berkemih
o Peningkatan frekuensi berkemih atau terjadi “anyang
anyangan”
Costovertebral Angle (CVA)

Lokasi costovertebral angle (CVA)


PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

 URINALISIS: terdapat bakteri dan pus


di urin
 Leukositosis
 Perlu dilakukan cek kadar BUN dan
Kreatin  utk memonitor fungsi ginjal
 IVP: teridentifikasi adanya obstruksi
atau perubahan degeneratif
disebabkan proses infeksi
Manajemen Penatalaksanaan

 Pasien dengan tanda dan gejala ringan dapat


diobati secara rawat jalan dengan antibiotik
selama 14 sampai 21 hari
 Antibiotik yang dipilih sesuai dengan hasil
kultur urine dan sensitivitas dan mungkin
termasuk obat spektrum luas
 Menjaga intake cairan adekuat  anjurkan
minum minimal 8 gelas perhari
 Cek kultur urine jika ada indikasi
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Gangguan eliminasi Urin (dysuria, urge, frequency,


dan atau nocturia) b/d infeksi ginjal.
 Nyeri Akut/Kronik
Pendahuluan
 Glomerulonefritis mengacu pada kelompok
penyakit ginjal dimana ada reaksi inflamasi
di glomerulus
 Glomerulonefritis adalah kerusakan pada
filter kecil di dalam ginjal (glomeruli). Ini
sering disebabkan oleh sistem kekebalan
tubuh menyerang jaringan tubuh yang
sehat.
 Glomerulonefritis diduga melibatkan reaksi
antigen-antibody yang menyebabkan
kerusakan glomeruli, yang menyaring ginjal
 Glomerulonefritis biasanya tidak
menimbulkan gejala nyata. Bisa
didiagnosis melalui tes darah (tes funsi
ginjal) atau tes urin
 Meskipun kasus-kasus ringan
glomerulonefritis dapat diobati secara
efektif, bagi sebagian orang kondisi dapat
menyebabkan masalah ginjal jangka
panjang
 Glomerulonefritis bisa datang tiba-tiba
(akut) atau secara bertahap (kronis).
Perubahan Fisiologi
Proliferasi sel, infiltrasi dari glomerulus
oleh leukosit  glomerulus mengikat
sirkulasi kompleks imun  penebalan
membran filtrasi glomerulus  terjadinya
jaringan parut (scar) dan hilangnya
permukaan filtrasi  gagal ginjal
PENGKAJIAN
Manifstasi Klinis
 penyakit mungkin begitu ringan yang ditemukan
secara tidak sengaja melalui urine rutin
 Riwayat sebelumnya faringitis atau tonsilitis dengan
demam (2-3 minggu sebelumnya); sebagian besar
kasus disebabkan oleh streptococci
 Urine berwarna gelap dan berbusa
 Tidaknyaman diatas CVA
 anemia
Tanda dan Gejala
 Tanda dan gejala glomerulonefritis tergantung pada
apakah bentuk akut atau kronis dan penyebabnya.
Indikasi pertama dari gejala atau dari hasil urinalisis
rutin
 Tanda-tanda glomerulonefritis dan gejala termasuk
1. hematuria
2. proteinuria
3. hipertensi
4. Edema, jelas di wajah, tangan, kaki dan perut
Pemeriksaan Diagnotik
1. Urinalisis:
 Hematuria, proteinuria, sel darah merah, seldarah putih
2. Px Darah
 BUN dan serum kreatinin meningkat
 Kadar Total protein menurun
3. Needle Biopsi
 Mengugkapkan obstruksi kapiler glomerular dari proliferasi sel endotel
KLINIS
1. Diuresis biasanya mulai 1-2 minggu
setelah timbul gejala
a. Renal clearance dan konsentrasi Urea
darah kembli ke normal
b. Proteinuria dan hematuri mungkin masih
terjadi dalam beberapa bulan
2. Recoveri biasanya pada anak anak
dan remaja. Pada lansia biasanya
berkembang menjadi glomerulonefritis
kronis
Masalah / Diagnosis Keperawatan

1. Perubahan pola eliminasi urin


2. Kekurangan protein b.d kerusakan
glomerulus
3. Ketidakseimbangan cairan
4. Potensial gagal ginjal
5. Kelemahan dan anoreksia b.d penyakit
yg mendasari
Planning dan Implementasi
Intervensi Keperawatan
A. Promosi ttg fungsi ginjal
1. Anjurkan bedrest selama fase akut sampai
fungsi ginjal normal
2. Batasi diet protein jika terjadi oliguria dan
peningkatan BUN
a. Berikan karbohidrat bebas/sederhana  energi
dan mengurangi katabolisme protein
b. Batasi protein lebih drastis jika berkembang
menjadi ARF
3. Ukur dan catat intake dan output
4. Berikan cairan sesuai dengan caiaran yg hilang
B. Mencegah Komplikasi
1. Mengenali dan mengobati infeksi penyerta
segera
2. Perhatikan gejala gagal ginjal  nausea,
vomiting, output urine menurun
3. Evaluasi pasien:
a. Hipertensi
b. Gagal jantung dan edema paru
4. Dialisis mungkin bisa dipertimbangkan jika
terjadi uremia dan retensi cairan tidak
terkontrol
A. Pengertian
 Nefrotik sindrom adalah gangguan klinis
yang ditandai dengan (1) peningkatan
protein urine (proteinuria), (2) edema,
(3) penurunan albumin dalam darah
(hipoalbuminemia), dan (4) kelebihan
lipid dalam darah (hiperlipidemia).
B. Etiologi
 Peningkatan permeabilitas kapiler
glomerulus.
 Glomerulonefritis.
 Proliperatif difus.
 Nefropati membranosa.
 Diabetes mellitus.
C. Patofisologi
Reaksi antigen-antibodi

Peradangan glomerulus

Permeabilitas membran basalis

Proteinnuria

Hypoalbuminemia

Takanan osmotik kapiler hyperlipidemi

Tekanan hidrostatik kapiler

Transudasi ke dalam intersisiel hipovolemic

ADH GFR
Aidosteon

Retensi Na dan H2O


Edema
D. Manifestasi klinik
Manifestasi utama sindrom nefrotik adalah:
1. Edema. Edema biasanya bervariasi dari bentuk
ringan sampai berat (anasarka). Edema biasanya
lunak dan cekung bila ditekan (pitting), dan
umumnya ditemukan disekitar mata (periorbital)
dan berlanjut ke abdomen daerah genitalia dan
ekstermitas bawah.
2. Proteinuria hebat (paling sedikit 3,5 mg/hari)
hingga menyebabkan hipoalbuminemia.
3. Penurunan jumlah urin : urine gelap, berbusa.
4. Gangguan pola lipid yaitu kolesterol dan
gliserida meningkat.
5. Pucat.
 Hipertensi terjadi pada kira-kira sepertiga
penderita.
 Terdapat keadaan hiperkoagubilitas.
 Hematuri
Anoreksia dan diare disebabkan karena
edema mukosa usus.Sakit kepala, malaise,
nyeri abdomen, berat badan meningkat dan
keletihan umumnya terjadi.
 Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka
panjang).
 Gejala dan tanda penyakit yang mendasarinya
seperti diabetes mellitus, LES, poliarteritis
nodosa, dll.
E. Pengkajian
1. Anamnesa
 Nama
 Alamat
 Umur
 Penyakit yang pernah diderita pasien
 Apakah pasien pernah menderita infeksi
streptokok (faringitis/tonsilitis,dll) apakah pasien
pernah menderita penyakit metabolik, gangguan
sirkulasi mekanis, pernah mengalami toksis, dan
lain-lain.
 Riwayat penyakit saat ini
Riwayat penyakit yang dialami pasien
sehingga pasien memutuskan untuk datang
ke rumah sakit.
2. Aktivitas / istirahat
3. Sirkulasi
4. Integritas ego
5. Eleminasi
6. makanan/cairan
7. Neurosensori
8. Nyeri/kenyamanan
9. Pernafasan
10. Keamanan
11. Interaksi social
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Uji Urine
 Protein urin – meningkat
 Urinalisis – cast hialin dan granular,
hematuria
 Dipstick urin – positif untuk protein dan
darah
 Berat jenis urin – meningkat
2. Uji Darah
○ Albumin serum – menurun
○ Kolesterol serum – meningkat
○ Hemoglobin dan hematokrit – meningkat
(hemokonsetrasi)
○ Laju endap darah (LED) – meningkat
○ Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan
penyakit perorangan.
3. Pemeriksaan Diagnostik
Biopsi ginjal merupakan uji
diagnostik yang tidak dilakukan
secara rutin
G. Penatalaksanaan Medik
 Kelainan nefropati pada anak – anak dapat
ditangani dengan kortikosteroid dengan
dosis prednisone hingga 1 mg/kgBB/hari.
Kortikosteroid tiap 2 hari dapat dicoba. Bila
pengobatan efektif, harus dicoba
diturunkan setelah paling sedikit terkontrol
dengan baik selama 1 tahun.
 Relaps harus pula diobati dengan
kortikosteroid. Bila relaps sering terjadi
maka dosis supresif perlu diberikan.
Cyclophosphamide mungkin membantu
dalam mempertahankan remisi.
 Pada orang dewasa, pengobatan
langsung untuk meminimalkan akibat
dari hilangnya protein dan retensi
garam  menggunakan diet tinggi
protein dan rendah garam.
 Bila edema hebat diuretic thiazide atau
furosemid dengan spironolactone,
triamterene, atau amiloride.
 Hipertensi mungkin memerlukan obat
antihipertensi. Penggunaan
kortikosteroid dapat memperberat
hipertensi.
H. Penatalaksanaan keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan
peningkatan asupan cairan akibat kelebihan
asupan natrium, retensi natrium, hiperglikemia,
ketidakpatuhan terhadap pembatasan cairan,
pertukaran antara darah dan dialisat.
2. Anjurkan bedrest
3. Anjurkan diet utk mengganti protein yg hilang
a. Diet tinggi protein  mengganti jaringan dan
mengembalikan protein tubuh
b. Batasi garam  mengendalikan edema
c. Diet tinggi kalori (25-50 kal/KgBB/hari)
4. Proteksi pasien dari infeksi serum immune
globulin hilang melalui urine
I. Diagnosis Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan/keletihan akibat anemia,
ketidakadekuatan oksigenasi akibat
komplikasi jantung dan paru.
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri)
berhubungan dengan pruritus, retensi
cairan, muntah, kristal urat atau kalium
fosfat pada kulit.
J. Outcome yg Diharapkan
1. Edema hilang
2. Tidak ada tanda proteinuria dan infeksi
3. Pasien Patuh pada diet utk mengganti
protein yg hilang
4. Tidak terjadi komplikasi