Anda di halaman 1dari 20

Kelompok 4

Bagas Anjasmara (Ketua)


Ari Sutriawan Dwi Noorbayanty
Azisa Nurul Azis Era Riani Ramli
Azizah Baity Ali Frederick Cristian
Sel otot merupakan sel yang terspesialisasi untuk satu tugas,
kontraksi dan spesialisasi ini berada dalam struktur dan fungsi
yang membentuk otot, prototipe untuk mempelajari pergerakan
pada tingkat sel dan molekuler. Mekanisme kerja otot pada
dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang
relatif dari filamen-filamen aktin dan miosin. Selama kontraksi
otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang
bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah
banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan
perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan
sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin
letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-
pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga
kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara
aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin.
Terdapat 3 jenis otot pada vertebrata yaitu : otot
rangka yang berperan untuk semua pergerakan
yang sadar. Otot jantung yang memompa darah
dari jantung serta otot polos yang berperan untuk
pergerakan yang tak sadar dari organ seperti
lambung, intestine, uterus dan pembuluh darah.
Pada otot rangka dan jantung elemen kontraktil
sitoskeleton terdapat pada susunan teratur yang
memunculkan pola karakteristik dari garis yang
berseling.
Otot rangka diikat oleh serabut otot yang
merupakan sel tunggal yang besar yang dibentuk
dari penggabungan banyak sel tunggal selama
perkembangannya. Kebanyakan pada sitoplasma
terdiri dari myofibril yang merupakan serabut
silindris dari 2 tipe filamen : filamen tebal myosin
(d = 15 nm) dan filamen tipis aktin (d = 7 nm).
Setiap myofibril diatur sebagai ikatan unit
kontraktil yang disebut sarkomer yang berperan
pada kenampakan garis dari otot rangka dan
jantung.
Sarkomer terdiri dari beberapa daerah yang dapat
terlihat secara jelas menggunakan mikroskop
elektron. Ujung tiap sarkomer disebut garis Z. Di
dalam tiap sarkomer, daerah gelap (disebut
daerah A karenar anisotropik ketika dilihat
dengan cahaya terpolarisasi) berseling dengan
daerah terang (disebut daerah I karena isotropik).
Daerah-daerah ini berhubungan dengan
kehadiran atau ketidakhadiran filamen myosin.
Daerah I hanya terdiri dari filamen yang tipis :
aktin. Sedangkan daerah A terdiri dari filamen
yang tebal : myosin.
a. Kontraktibilitas yaitu kemampuan untuk
memendek
b. Ekstensibilitas yaitu kemampuan untuk
memanjang
c. Elastisitas yaitu kemampuan untuk kembali ke
ukuran semula setelah memendek atau
memanjang
Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain :
a. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya
kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu
serabut otot karena stimulasi berurutan berseling
beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena
konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang
meningkatkan aktivitas miofibril.
b. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi
tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda
yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua
jalan (summasi unit motor berganda dan summasi
bergelombang).
c. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja
karena pekerjaan itu sendiri. Tetani adalah
peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat
sehingga tidak ada peningkatan tegangan
kontraksi.
d. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam
otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak
lagi dapat dikembalikan ke RS melalui
mekanisme pemompaan.
Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui
mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan
miosin membentuk kompleks akto-miosin yang
dipengaruhi oleh ATP. Miosin merupakan produk,
dan proses tersebut mempunyai ikatan dengan
ATP. Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin
terhidrolisis membentuk kompleks miosin ADP-Pi
dan akan berikatan dengan aktin. Selanjutnya
tahap relaksasi konformasional kompleks aktin,
miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan
dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya
aktin menghasilkan gaya fektorial.
Kontraksi otot terjadi karena adanya rangsangan.
Namun, untuk menggerakan otot biasanya diperlukan
suatu rangkaian rangsangan yang berurutan.
Rangsangan pertama akan diperkuat oleh rangsangan
kedua,rangsangan kedua akan diperkuat oleh
rangsangan ketiga, dan begitu seterusnya. Maka
dengan demikian akan terjadi tonus, atau ketegangan,
yang maksimum. Tiap rangsangan yang diberikan
akan menimbulkan potensi aksi, yang akan
menghasilkan kontraksi otot tunggal pada serabut otot.
Jika setelah berkontraksi otot tersebut mencapai
relaksasi penuh, kemudian potensi aksi kedua
diberikan, akan terjadi kontraksi tunggal yang
kekuatany sama dengan kontraksi yang pertama tadi.
Kontraksi oto dimulai dengan pembentukan kolin
menjadi Asetilkolin yang terjadi di dalam otot.
Proses itu akan diikuti dengan penggabungan
antara ion kalsium, troponium, dan tropomisin.
Penggabungan ini memacu penggabungan miosin
dan aktin menjadi aktonmiosin. Terbentuknya
Aktonmiosin menyebabkan sel otot memendek
(berkontraksi) pada plasma sel, ion kalsium akan
berpisah dari troponium sehingga aktin dan
miosin juga terpisah dan otot akan kembali
relaksasi. Yang terjadi pada waktu kontraksi,
filamen Aktin akan meluncur atau mengerut
diantara miosin kedalam zona H (Zona H adalah
bagian terang antara 2 pita), dengan demikian
serabut otot memendek atau yang tetap panjang
adalah pita A (pita Gelap), sedngkan pita I (pita
terang) dan zona H bertambah pendek waktu
kontraksi.
Lalu ujung miosin dapat mengikat ATP dan
menghidrolisis menjadi ADP. Beberapa energi
dilepaskan dengan cara memotong
pemindahan ATP ke miosin yang berubah ke
konfigurasi energi tinggi. Miosin yang
berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan
diri dengan kedudukan khusus pada aktin
membentuk jembatan silang. Kemudian
simpanan energi miosin dilepaskan dan ujung
miosin lalu beristirahat dengan energi rendah
pada saat ini terjadi relaksasi
Jika potensi aksi yang kedua diberikan saat otot
belum mencapai relaksasi penuh dari relaksasi
pertama akan terjadi kontraksi tambahan pada
puncak kontraksi pertama. Ini dinamakan
penjumlahan kontraksi. bila otot diberikan
rangsangan yang sangat cepat, teteapi masih ada
relaksasi diantara dua rangsangan, akan terjadi
keadaan yang dinamakan tetanus tidak sempurna.
Jika tidak ada kesempatan relaksasi diantara
kedua rangsangan, akan terjadi kontraksi dengan
kekuantan maksimum yang disebut tetanus
sempurna.
Dalam sistem mekanisme kerja otot, komponen yang
berperan dalam kontraksi otot adalah duat set filamen, yaitu
filamen aktin yan tipis dan filamen miosin yang tebal.
Kedua jenis filamen tersebut menyusun sebuah srabut otot.
Setiap serabut otot diatur sebagai ikatan unit kontraktil
yang disebut sarkomer. Sarkomer ini yang membuat
penampakan bergaris atau lurik pada otot rangka atau otot
jantung. Sarkomer terdiri dari beberapa daerah. Ujung tiap
sarkomer disebut garis Z; terdapat daerah gelap yang
disebut daerah A yang hanya terdiri dari filamen miosin,
berselang seling dengan daerah terang yang disebut daerah
I yang hanya terdiri dari aktin; ditepi daerah A filamin aktin
dan miosin saling tumpang tindih; sedangkan daerah
tengah hanya terdiri dari miosin yang terdiri dari zona H;
filamen aktin terikat; filamen miosin terikat pada garis M di
bagian tengah sarkomer.
a. Dalam fase relaksasi pada kontraksi otot,
kepala S1 myosin menghidrolisis ATP menjadi
ADP dan Pi, namun kedua produk ini tetap
terikat. Kompleks ADP-Pi- myosin telah
mendapatkan energi dan berada dalam bentuk
yang dikatakan sebagai bentuk energi tinggi.
b. Kalau kontraksi otot distimulasi maka aktin
akan dapat terjangkau dan kepala myosin akan
menemukannya, mengikatnya serta membentuk
kompleks aktin-myosin-ADP-Pi.

c. Pembentukan kompleks ini meningkatkan Pi


yang akan memulai cetusan kekuatan. Peristiwa
ini diikuti oleh pelepasan ADP dan disertai
dengan perubahan bentuk yang besar pada kepala
myosin dalam sekitar hubungannya dengan
bagian ekornya yang akan menarik aktin sekitar 10
nm ke arah bagian pusat sarkomer. Kejadian ini
disebut cetusan kekuatan (power stroke). Myosin
kini berada dalam keadaan berenergi rendah yang
ditunjukkan dengan kompleks aktin-myosin.
d. Molekul ATP yang lain terikat pada kepala
S1 dengan membentuk kompleks aktin-
myosin-ATP.

e. Kompleks aktin-ATP mempunyai afinitas


yang rendah terhadap aktin dan dengan
demikian aktin akan dilepaskan. Tahap
terakhir ini merupakan kunci dalam relaksasi
dan bergantung pada pengikatan ATP dengan
kompleks aktin-myosin.
Kontraksi otot rangka digerakkan oleh impuls
syaraf yang merangsang pelepasan Ca2+ dari
retikulum sarkoplasmik (jaringan khusus
membran internal yang mirip dengan
retikulum endoplasma yang menyimpan ion
Ca2+ dengan konsentrasi yang tinggi).
Pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik
meningkatkan konsentrasi Ca2+ di sitosol kira-
kira dari 10-7 menjadi 10-5 M. Berikut kerja retikulum
sarkoplasma mengatur kadar ion Ca2+ intraselular
dalam otot rangka.
Dalam sarkoplasma otot yang tengah istirahat,
kontraksi ion Ca2+ adalah 10-7-10-8 mol/L. Keadaan
istirahat tercapai karena ion Ca2+ dipompakan ke
dalam retikulum sarkoplasma lewat kerja sistem
pengangkutan aktif yang dinamakan Ca2+ ATPase
yang memulai relaksasi. Retikulum sarkoplasma
merupakan jalinan kantong membran yang halus.
Di dalam tretikulum sarkoplasma, ion Ca2+ terikat
pada protein pengikat Ca2+ yang spesifik yang
disebut kalsekuestrin. Sarkomer dikelilingi oleh
membran yang dapat tereksitasi (sistem tubulus T)
yang tersusun dari saluran transversal (T) yang
berhubungan erat dengan retikulum sarkoplasma.