Anda di halaman 1dari 28

RETARDASI MENTAL

Oleh:
Elpis Husain : 121677714136
Grace F. Toding : 121677714157

Pembimbing:
dr. Andi Soraya, TU, Sp.KJ
DEFINISI
 Menurut PPDGJ-III 
“suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap,
yang terutama ditandai oleh hendaya keterampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensia
yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial”

 Menurut AAMR 2002 


“suatu disabilitas yang ditandai dengan suatu limitasi/keterbatasan
yang bermakna baik dalam fungsi intelektual maupun prilaku adaptif
yang diekspresikan dalam keterampilan konseptual, social dan praktis.”

 Menurut (DSM IV-TR)  sama dengan definisi AAMR tetapi


ditambahkan batas derajat IQ 70
 Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan dan
hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ. Dapat
dihitung dengan :

IQ = MA/CA x 100%

MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes


CA = Chronological Age, umur yang didapat berdasarkan
perhitungan tanggal lahir
 Berdasarkan metode pengukuran tersebut, retardasi
mental berdasarkan tingkat IQ diklasifikasikan sebagai
berikut:
EPIDEMIOLOGI
 Prevalensi retardasi mental pada suatu waktu diperkirakan
adalah kira – kira 1 persen dari populasi. Insidensi retardasi
mental sulit dihitung karena kesulitan mengenali onsetnya
 Prevalensi untuk RM ringan 0,37 – 0,59% sedangkan untuk
RM sedang, berat dan sangat berat adalah 0,3 – 0,4%. 2
Insidensi tertinggi adalah pada anak usia sekolah, dengan
puncak usia 10 sampai 14 tahun
 Retardasi mental 1,5 kali lebih sering pada laki – laki
dibandingkan dengan wanita. Pada lanjut usia, prevalensi
lebih sedikit
 Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar
0.3% dari seluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ
dibawah 70.
ETIOLOGI
1. Kelainan Kromosom
 Sindrom Down
Diagnosis sindrom Down relatif mudah pada anak yang lebih besar
tetapi seringkali sukar pada neonates. Tanda yang paling penting
pada neonates adalah hipotonia umum, fisura palpebra yang oblik,
kulit leher yang berlebihan, tengkorak yang kecil dan datar, tulang
pipi yang tinggi, dan lidah yang menonjol. Dapat dilihat juga tangan
tebal dan lebar, dengan garis transversal tunggal pada telapak
tangan, dan jari kelingking pendek dan melengkung ke dalam
 Sindrom Fragile X
Sindrom fragile X merupakan bentuk retardasi mental yang
diwariskan dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X
 Sindrom Prader-Willi
Kelianan ini akibat dari penghilangan kecil pada kromosom 15,
biasanya terjadi secara sporadic.
Prevalensinya kurang dari 1
dalam 10000. Orang dengan
sindrom ini menunjukkan
perilaku makan yang
kompulsif dan sering kali
obesitas, retardasi mental,
hipogonadisme, perawakan
pendek, hipotonia, dan
tangan dan kaki yang kecil
 Sindrom tangisan kucing (cat-cry [cri-du-chat] syndrome)
Anak-anak dengan sindrom tangisa kucing kehilangan bagian
dari kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat
dan menunjukkan banyak stigmata yang seringkali disertai
dengan penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga
yang letaknya rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme, dan
mikrognatia. Tangisan kucing yang khas Kelainan laring

2. Faktor genetik lain Phenylketonuria (PKU)

• gangguan yang menghambat metabolisme asam phenylpyruvic,


menyebabkan retardasi mental
• PKU ditransmisikan dengan trait Mendel autosomal resesif yang
sederhana dan terjadi pada kira-kira yang di institusi adalah kira-kira
1 persen dalam setiap 10.000 sampai 15.000 kelahiran hidup.
Cont”

3. Faktor Prenatal
- Infeksi: rubella, sifilis, CMV, herpes genital
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Alkohol
4. Faktor perinatal
5. Gangguan Didapat Pada Masa Anak-anak
6. Faktor Lingkungan dan Sosiokultural
3. Faktor Prennatal :
• Infeksi: rubella, sifilis, CMV, herpes genital
• Penyalahgunaan obat-obatan
• Alkohol
4. Faktor Perinatal
- Prematuritas
- BBLR
- Perdarahan Intrakranial
- Iskemia Serebral
5. Gangguan didapat pada Masa Anak-anak
- Infeksi: meningitis, ensefalitis
- Trauma kepala: jatuh dari tangga, penyiksaan
- Masalah lain: asfiksia karena ‘nyaris’ tenggelam, pemaparan timbal jangka
panjang, tumor intrakranial
6. Faktor Lingkungan dan Sosiokultural
- Sosioekonomi rendah
- Penelantaran/ kekerasan orang tua
DIAGNOSIS
Diagnosis retardasi mental dapat dibuat setelah mengetahui:
1. Riwayat penyakit  dari anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan neurologis
4. Tes laboratorium
5. Tes psikologis
Kriteria diagnostik untuk RM menurut
DSM IV – TR adalah sebagai berikut :
1. Fungsi intelektual dibawah rata – rata (IQ 70 atau kurang)
yang telah diperiksa secara individual.
2. Kekurangan atau gangguan dalam perilaku adaptif (sama
dengan kekurangan individu untuk memenuhi tuntutan
standar perilaku sesuai dengan usianya dari lingkungan
budayanya) dalam sedikitnya 2 hal, yaitu komunikasi, self-care,
kehidupan rumah-tangga, ketrampilan sosial/interpersonal,
menggunakan sarana komunitas, mengarahkan diri sendiri,
ketrampilan akademis fungsional, pekerjaan, waktu senggang,
kesehatan dan keamanan
3. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun
Berdasarkan karakteristik perkembangan anak
dengan retardasi mental, digolongkan sebagai
berikut:
KLASIFIKASI
Menurut PPDGJ-III retardasi mental dibagi menjadi :
F70 Retardasi Mental Ringan
Bila menggunakan tes IQ baku yang tepat, maka IQ berkisar antara 50 – 69 menunjukkan
retardasi mental ringan.
Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada berbagai tingkat, dan
masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi perkembangan kemandirian dapat
menetap sampai dewasa. Walaupun mengalami keterlambatan dalam kemampuan
bahasa, tapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan bicara untuk keperluan sehari –
hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai
ketrampilan praktis dan ketrampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya
agak lambat daripada normal.
Kesulitan utama biassanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat akademis dan
banyak masalah khusus dalam membaca dan menulis.
Etiologi organik hanya dapat diidentifikasikan pada sebagian kecil penderita. Keadaan lain
yang menyertai, seperti autisme, gangguan perkembangan lain, epilepsi, gangguan
tingkah laku, atau disabilitas fisik dapat ditemukan dalam berbagai proporsi. Bila
terdapat gangguan demikian, maka harus diberi kode diagnosis tersendiri.
F71 Retardasi Mental Sedang
IQ biasanya berada dalam rentang 35 – 49. Umumnya ada profil kesenjangan
dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam
ketrampilan visuo-spasial daripada tugas – tugas yang tergantung pada bahasa,
sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat mengadakan interaksi
sosial dan percakapan sederhana.
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi, ada yang dapat mengikuti percakapan
sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya untuk
kebutuhan dasar mereka.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasikan pada kebanyakan penyandang
retardasi mental sedang. Autisme masa kanak atau gangguan perkembangan
pervasif lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh
besar pada gambaran klinis dan tipe penatalaksanaan yang dibutuhkan.
Epilepsi, disabilitas neurologik dan fisik juga lazim ditemukan meskipun
kebanyakan penyandang retardasi mental sedang mampu berjalan tanpa
bantuan.
Kadang – kadang didapatkan gangguan jiwa lain, tetapi karena tingkat
perkembangan bahasanya yang terbatas sehingga sulit menegakkan diagnosis
dan harus tergantung dari informasi yang diperoleh dari orang lain yang
mengenalnya. Setiap gangguan penyerta harus diberi kode diagnosis
tersendiri.
F72 Retardasi Mental Berat
IQ biasanya berada dalam rentang 20 – 34. Pada umumnya mirip
dengan retardasi mental sedang dalam hal :
 Gambaran klinis
 Terdapatnya etiologi organik
 Kondisi yang menyertainya
 Tingkat prestasi yang rendah
 Kebanyakan penyandang retardasi mental berat menderita
gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang
menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan
perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan saraf
pusat.
F73 Retardasi Mental Sangat Berat
IQ biasanya dibawah 20. Pemahaman dan penggunaan bahasa
terbatas, hanya mengerti perintah dasar dan mengajukan
permohonan sederhana. Keterampilan visuospasial yang paling
dasar dan sederhana tentang memilih dan mencocokkan mungkin
dapat dicapainya dan dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat,
penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan
rumah tangga.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar kasus.
Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang
mempengaruhi mobilitas, seperti epilepsi dan hendaya daya lihat
dan daya dengar. Sering ada gangguan perkembangan pervasif
dalam bentuk sangat berat khususnya autisme yang tidak khas
(atypical autism) terutam pada penderita yang dapat bergerak.
F78 Retardasi Mental Lainnya
Kategori ini hanya digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi
mental dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak
mungkin dilakukan karena adanya gangguan sensorik atau fisik,
misalnya buta, bisu, tuli dan penderita yang perilakunya terganggu
berat atau fisiknya tidak mampu.

F79 Retardasi MentalYTT


Jelas terdapat retardasi mental, tetapi tidak ada informasi yang cukup
untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori tersebut diatas.
DIAGNOSIS BANDING
Anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan
deprivasi rangsangan yang berat (retardasi mental ini
reversibel bila diberi rangsangan yang baik secara dini).
Kadang-kadang anak dengan gangguan pendengaran atau
penglihatan dikira menderita retardasi mental. Mungkin juga
gangguan bicara dan “cerebral palsy” membuat anak kelihatan
terbelakang, biarpun intelegensianya normal. Gangguan
emosi dapat menghambat kemampuan belajar sehingga dikira
anak itu bodoh. “early infantile” dan skizofrenia anak juga
sering menunjukkan gejala yang mirip retardasi mental.
PENATALAKSANAAN
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan atau
menurunkan kondisi yang menyebabkan perkembangan gangguan yang disertai dengan
retardasi mental.Tindakan tersebut termasuk :
 Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum tentang
retardasi mental.
 Usaha terus-menerus dari professional bidang kesehatan untuk menjaga dan
memperbaharui kebijaksanaan kesehatan masyarakat.
 Aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan anak yang optimal.
 Eradikasi gangguan yang diketahui disertai dengan kerusakan system saraf pusat.
 Konseling keluarga dan genetik membantu menurunkan insidensi retardasi mental
dalam keluarga dengan riwayat gangguan genetic yang berhubungan dengan retardasi
mental. Untuk anak-anak dan ibu dengan sosioekonomi rendah, pelayanan medis
prenatal dan perinatal yang sesuai dan berbagai program pelengakap dan bantuan
pelayanan social dapat menolong menekan komplikasi medis dan psikososial.
2. Pencegahan Sekunder dan Tersier
a. Pendidikan untuk anak
Lingkungan pendidikan untuk anak-anak dengan retardasi
mental harus termasuk program yang lengkap yang menjawab
latihan keterampilan adaptif, latihan keterampilan sosial, dan
latihan kejujuran. Perhatian khusus harus dipusatkan pada
komunikasi dan usaha untuk meningkatkan kualitas hidup.
Terapi kelompok seringkali merupakan format yang berhasil
dimana anak-anak dengan retardasi mental dapat belajar dan
mempraktekkan situasi hidup nyata dan mendapatkan umpan
balik yang mendukung.
b.Terapi perilaku, kognitif, dan psikodinamika
 Terapi perilaku telah digunakan selama bertahun-tahun untuk
membentuk dan meningkatkan perilaku sosial dan untuk
mengendalikan dan menekan perilaku agresif dan destruksi
pasien. Dorongan positif untuk perilaku yang diharapkan dan
memulai hukuman (seperti mencabut hak istimewa) untuk
perilaku yang tidak diinginkan telah banyak menolong.
 Terapi kognitif seperti menghilangkan keyakinan palsu dan
latihan relaksasi dengan instruksi dari diri sendiri, juga telah
dianjurkan untuk pasien retardasi mental yang mampu
mengikuti instruksi pasien.
 Terapi psikodinamika telah digunakan pada pasien retardasi
mental dan keluarganya untuk menurunkan konflik tentang
harapan yang menyebabkan kecemasan, kekerasan, dan depresi
yang menetap.
c. Pendidikan keluarga
 Satu bidang yang penting dalam pendidikan keluarga dari pasien
dengan retardasi mental adalah tentang cara meningkatkan
kompetensi dan harga diri sambil mempertahankan harapan yang
realistic untuk pasien. Keluarga seringkali merasa sulit untuk
menyeimbangkan antara mendorong kemandirian dan memberikan
lingkungan yang mengasuh dan suportif bagi anak retardasi mental,
yang kemungkinan mengalami suatu tingkat penolakan dan
kegagalan di luar konteks keluarga.
 Orang tua mungkin mendapatkan manfaat dari konseling yang
terus-menerus dan atau terapi keluarga. Orang tua harus diberikan
kesempatan untuk mengekspresikan perasaan bersalah, putus asa,
kesedihan, penyangkalan yang terus-menerus timbul, dan
kemarahan tentang gangguan dan masa depan anak. Dokter
psikiatrik harus siap untuk memberikan semua informasi medis
dasar dan terakhir tentang penyebab, terapi, dan bidang lain yang
berhubungan (seperti latihan khusus dan perbaikna defek sensorik).
d. Intervensi farmakologis
Beberapa penelitian telah memusatkan perhatian pada pemakaian
medikasi untuk sindrom perilaku berikut ini yang sering terjadi di
antara retardasi mental:
1. Agresi dan perilaku melukai diri sendiri
 Beberapa bukti dari penelitian telah menyatakan bahwa lithium (Eskalith)
berguna dalam menurunkan agresi dan perilaku melukai diri sendiri.
 Antagonis narkotik seperti naltrexone (Trexan) telah dilaporkan
menurunkan perilaku melukai diri sendiri pada pasien retardasi mental yang
juga memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan austik infantile. Satu
hipotesis yang diajukan sebagai mekanisme kerja terapi naltrexone adalah
bahwa obat mempengaruhi pelepasan opioid endogen yang dianggap
berhubungan dengan melukai diri sendiri.
 Carbamazepine (Tegretol) dan valproic acid (Depakene) adalah medikasi
yang juga bermanfaat pada beberapa kasus perilaku melukai diri sendiri.
2. Gerakan motorik stereotipik
Medikasi antipsikotik, seperti haloperidol (Haldol) dan
chlorpromazine (Thorazine), menurunkan perilaku stimulasi diri
yang berulang pada pasien retardasi mental, terapi medikasi
tersebut tidak meningkatkan perilaku adaptif. Beberapa anak dan
orang dewasa (sampai sepertiga) dengan retardasi mental
menghadapi resiko tinggi mengalami tardive dyskinesia dengan
pemakaian kontinu medikasi antipsikotik.
3. Perilaku kemarahan eksplosif
Penhambat-β, seperti propranolol dan buspirone (BuSpar), telah
dilaporkan menyebabkan penurunan kemarahan ekspolasif di antara
pasien dengan retardasi mental dan gangguan autistik. Penelitian
sistematik diperlukan sebelum obat dapat ditetapkan sebagai manjur.

4. Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas


Penelitian terapi methylphenidate pada pasien retardasi mental ringan
dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas telah menunjukkan
perbaikan bermakna dalam kemampuan mempertahankan perhatian
dan menyelesaikan tugas. Penelitian terapi metylphenidate tida
menunjukkan bukti adanya perbaikan jangka panjang dalam
keterampilan sosial atau belajar.
TERIMA KASIH