Anda di halaman 1dari 16

TETANUS

ADAM MAHENDRA, S.Ked


012010101055
RSUD DR. SOEBANDI
JEMBER
• BATASAN :

Tetanus adalah suatu keadaan intoksikasi


susunan saraf pusat oleh endotoksin bakteri
Clostridium Tetani, dengan gejala karakteristik
rigiditas otot yang berkembang progresif
disertai eksaserbasi paroksismal.
• PATOFISIOLOGI :
• Clostridium Tetani , suatu bakteri Gram positif
anaerobic dengan spora yang mudah bergerak:
menimbulkan penyakit pada manusia melalui
kontaminasi luka kotor.
• Spora dalam keadaan anaerob membentuk eksotoksin
Tetanolisin dan Tetanospasmin.
• Tetanospasmin mempengaruhi pembentukan dan
pengeluaran neurotransmitter Glisin dan GABA,
sehingga pelepasan neurotransmitter inhibisi
dihambat.
• Tetanolisin mempunyai sifat sitotoksik, dan dalam
konsentrasi tinggi bersifat kardiogenik.
GEJALA KLINIS :

• Masa inkubasi antara terjadinya luka


sampai timbul gejala antara 5 – 8 hari,
biasanya tidak lebih dari 15 hari, dan
periode onset adalah masa timbulnya
gejala ( trismus ) sampai terjadi spasme
otot biasanya 2-3 hari.
KLASIFIKASI

Ada 4 bentuk klinis tetanus yaitu :


• Tetanus local
• Tetanus sephalik
• Tetanus umum
• Tetanus neonatorum
• Tetanus local :
plg ringan, berupa nyeri dan kekakuan otot sekitar
luka diikuti spasme singkat pada otot yg terkena,
kemudian spasme involunter menjadi menetap disebut
rigiditas atau spastisitas tetanik.

• Tetanus sephalik :
terjadi pd luka di wajah atau kepala, masa inkubasi
1-2 hari; terjadi kelumpuhan yg terbatas pd otot wajah
dan kepala berupa trismus dan blepharospasme.
Tetanus umum :yg paling banyak dikenal,
biasanya diawali tetanus local atau menyebar difus
sejak awal.
Gambaran klinis yg ditemukan antara lain :
• 1. Trismus, kaku dan nyeri pada rahang
• 2. Risus sardonikus, disfagi, spasme laring
• 3. Spasme otot leher,badan, perut papan,
opistotonus
• 4. Tungkai ekstensi, lengan fleksi, tangan terkepal
• 5. Spasme / bangkitan tetanik : kontraksi dan
spasme tonik paroksismal otot-otot baik spontan
atau akibat stimuli eksternal ( cahaya, raba, suara)
atau oleh emosi,menimbulkan rasa nyeri hebat
dan pasien tetap sadar
• 6. Hiperaktifitas system saraf simpatis.
Atas dasar gejala klinis diatas maka
dibagi :
• Tingkat Ringan ( I ) :
- trismus ringan dan sedang, kekakuan umum tidak
disertai kejang, gangguan respirasi dg sedikit /
tanpa gangguan menelan.

• Tingkat Sedang ( II ) :
- trismus sedang, kaku disertai spasme kejang ringan
sampai sedang yg berlangsung singkat, disertai
disfagi ringan dan tkipnoe lebih dari 30 – 35 kali /
menit.
• Tingkat Berat ( III ) :
- trismus berat, kekakuan umum, spasme dan kejang
spontan yg berlangsung lama . Gangguan
pernafasan dg takipnoe lebih 40 kali / mnt, kadang
apnoe, disfagia berat dan takhikardi lebih 120 kali /
mnt. Terdapat peningkatan aktifitas saraf otonom yg
moderat dan menetap.

• 4. Tingkat Sangat Berat :


- gambaran tingkat III disertai gangguan otonom yang
hebat dimana dijumpai hipertensi berat dg takhikardi
atau hipertensi diastolic yg berat dan menetap
( D > 110 mm Hg) atau hipotensi sistolik yg menetap
( S < 90 mm Hg ), dikenal dg autonomic storm
CARA PEMERIKSAAN :

• a. Anamnese : adanya luka kotor


• b. Gejala klinis :
- Trismus, disfagi, opistotonus,
gangguan pernafasan berat
• c. Tidak ada pemeriksaan penunjang
diagnostic yang spesifik
DIAGNOSIS :

Ditegakkan berdasarkan :
• Anamnesis
• Gejala klinis
PENYULIT
• a. Kegagalan respirasi / hipoksia
Penderita tetanus sedang, mengalami hipoksia dan
hipokapnia akibat kerusakan ventilasi-perfusi paru,
walaupun secara klinis dan radiologist normal. Sedang
tetanus berat dg spasme otot yg berat dan lama yang
tidak terkontrol dg relaksan dan sedative dapat
mengarah ke henti jantung dan kematian atau
kerusakan otak dg akibat koma. Komplikasi lain thd
paru adalah atelektasi, bronkopneumoni, aspirasi
pneumoni.
• b. Kardiovaskuler dan otonom
Terutama dimediasi oleh system otonom.
Pada hampir semua tetanus berat terjadi peningkatan
yg menetap dan berlangsung terus dari aktifitas
simpatis dan parasimpatis.
Komplikasi otonom ditandai oleh episode sinus
takhikardi dg hipertensi berat yg segera diikuti dg
bradikardi dan penurunan tekanan darah.
Ketidakstabilan ini merupakan awal dari henti jantung
dan kematian. Sering juga ditemukan aritmia dan
gangguan hantar jantung.
• c. Sepsis yg berakhir dg multi organ failure
( MOF )
d. Komplikasi ginjal : berupa kegagalan fungsi ginjal akibat
sepsis dan kelainan pre renal
e.Komplikasi hematology : berhubungan dg anemia
karena infeksi .
f. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
karena hiperhidrasi, hipokalemi, hiponatremi.
g. Komplikasi metabolic : asidosis respiratorik,
alkalosis respiratorik.
h. Pada kulit : dekubitus dan thromboplebitis
i. Dapat terjadi : fraktur tulang vertebra torakal karena kejang
j. Komplikasi neurologist : berupa neuropati perifer,
optalmoplegi serta gangguan memori dan penurunan
kesadaran.
TERAPI :
I. UMUM
II. KHUSUS
Pasien tingkat II, III, IV sebaiknya dirawat di ruang khusus
dg peralatan intensif dan memadai, dan bila perlu dilakukan
trakheotomi. Stimulasi cahaya, taktil dan auditori sedapat
mungkin dikurangi.

• TIGH (TETANUS IMMUNE GLOBULIN HUMAN) 3000 I.U ATAU


MINIMAL ATS 5000-10.000 U im satu kali / hr ( 5 hr )
-- Deltoid ka& ki, Paha ka & ki, Bokong ka & ki.
• Pen.Proc 2 jt U tiap 6 jam atau Tetrasiklin 2 gram / hari
• Metronidazol 3 X 5000 mg
• Sedativa : Diazepam 10 mg iv sesuai kebutuhan, sampai 500
mg / hari atau maks. 0,7 mg/kgbb/kali pada anak
• ICU atas indikasi
• Trakheotomi ; mutlak pd tetanus tingkat III dan IV.
PROGNOSA :
Faktor-faktor yg mempengaruhi angka kematian :
• Masa inkubasi dan waktu onset, semakin pendek
prognosa makin buruk
• Beratnya gejala klinik, ( spasme dan dis otonomi )
makin berat makin buruk
• Usia, neonatus dan usia tua prognosa makin buruk
• Gizi buruk, prognosa buruk
• Penanganan komplikasi, bila ditangani secara optimal
maka prognosa baik.