Anda di halaman 1dari 18

Kelompok 1 :

1. Aulia Febriana
2. Fadya Naifa Pranaya
3. Nadia Rachma Fajrianti
4. Nadia Shakira Nasr
5. Pradiati Adiningrum
6. Zahra
Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik
Konflik Internal Lainnya (1948-1965)
A. Peristiwa PKI di Madiun 1948
a. Latar Belakang
Pada masa demokrasi terpimpin, PKI berkembang
menjadi partai yang besar. Hal ini diakibatkan karena
kebijakan pemerintah yang menguntungkan PKI,
seperti:
1. Nasakomisasi seluruh aspek kehidupan
2. Pembentukkan front nasional
3. Politik luar negeri Indonesia yang cenderung ke
negara komunis
Kondisi diatas memungkinkan PKI untuk
bergerak bebas dan memulai
pemberontakan. Usaha usaha persiapan
kudeta yang dilakukan oleh PKI antara
lain:
1. Menggerakan aksi aksi sepihak dan
aksi aksi perebutan lahan pertanian
(Peristiwa Jengkol, P. Indramayu, P.
Bandar Betsy, dll.
2. Melakukan penyusupan faham
komunis ke seluruh komponen
masyarakat (petani, buruh, dll.)
3. Menyebarkan isu dewan jenderal di
angkatan darat yang akan melakukan
kudeta terhadap Presiden Soekarno.
2. JALANNYA PEMBERONTAKAN

Pertentangan politik antara kabinet Hatta dan FDR


meningkat menjadi insiden bersenjata di Solo. Insiden
terjadi pada pertengahan bulan September 1948
antara simpatpisan FDR atau PKI. Pada tanggal 17
September 1948, Divisi Siliwangi berhasil memukul
mundur para pendukung PKI dari Solo, mereka
kemudian mundur ke Madiun.

Pada tanggal 18 September 1948 di Madiun oleh para


tokoh PKI di proklamasikan berdirinya Republik Soviet
Indonesia dengan Musso Presidennya dan Amir
Syarifuddin.

Pada tanggal 19 September 1948 sekitar 200 orang


anggota PKI dan pemimpin pemimpin golongan kiri
yang masih berada di Yogyakarta ditangkap.
3. OPERASI PENUMPASAN PKI
Kekuatan pasukan pendukung Musso digempur dari dua arah, yaitu dari
barat oleh pasukan Divisi II dibawah pimpinan kolonel Gatot Subroto
yang diangkat menjadi Gubernur militer wilayah II (Semarang-
Surakarta) , dan dari Timur diserang oleh pasukan dari Divisi I dibawah
pimpinan Kolonel Sungkono yang diangkat menjadi Gubernur Militer
Jawa Timur, serta pasukan Mobile Brigade Besar(MBB) Jawa Timur
dibawah pimpinan M. Yasin Pada tanggal 19 September 1948.

Pada tanggal 30 September 1948 pukul 16:15 WIB kota Madiun berhasil
direbut kembali. Kaum pemberontak menginggalkan kota Madiun dan
terus dikejar kejar oleh pasukan Pro Pemerintah kewilayah wilayah
pedesaan.Dan Amir Syarifuddin berhasil ditangkap oleh TNI.
B. PERGOLAKAN SOSIAL POLITIK DI
BERBAGAI DAERAH
1. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
Pemberontakan APRA ini dipimpin oleh seorang bekas perwira KNIL
yang bernama Raymond Westerling. Ia memberontak karna menolak
Indonesia menjadi negara kesatuan, dan tetap menginginkan bentuk
negara Federal (serikat). Pemborantakan yang didukung oleh Sultan
Hamid II(Pimpinan negara Kalimantan Barat). Ini dilakukan dengan
membunuh setiap anggota TNI yang mereka temui di Bandung.Salah satu
korbanny adalah Letnan Kolonael Lembong
APRA berhasil ditumpas oleh TNI dalam sebuah
pertempuran yang menentukan di daerah Pacet, tetapi
Westerling berhasil melarikan diri keluar negeri.
2. Pemberontakan Andi Azis

Andi Azis memberontak terhadap pemerntah Indonesia didaerah Makasar


Pada bulan April 1950. Pemberontakan yang ia lakukan adalah melarang
masuknya pasukan TNI ke Makasar. Ia menganggap, hanya
pasukannya(Tentara APRIS dari eks-KNIL) sajalah yang berhak menjaga
kemanan di Makasar. Andi Aziz bahkan menahan panglima Tentara Teritorial
Indonesia Timor, Letnan Kolonel A.J. Mokoginfa. Untuk menumpas
pemberontakan ini pemerintah mengirim ekspedisi militer dibawah pimpinan
Kolenel Kawilarang.
3. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)

Gerakan Separatis (Pemisahan diri dari Indonesia) dilakukan oleh


Mr.Dr.Ch.R.S. Soumokil dengan meproklamasikan berdirinya Republik Maluku
Selatan (RMS) pada tanggal 25 April 1950. Pada mulanya pemerintah RI
mencoba bersikap lunak dengan mengirim misi diplomasi yang diketuai oleh
Dr.J. Leimena. Tetapi ketika pihak RMS menolak perundingan damai , maka
pemerintah kemudian mengirim Kolonel A.E. Kawilarang untuk menumpas
RMS dan merebut Ambon .
4. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesi (DI/TII)

a. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat


DI/TII di Jawa Barat di pimpin oleh Sekarmadji Maridjan
Kartosuwiryo. Perlawanannya di dukung oleh kesatuan militer yaitu,
Hizbullah dan Sabilillah, keduanya kemudian di lebur kedalam Tentara Islam
Indonesia. Peristiwa ini dimulai pada tanggal 7 Agustus 1949 setelah
Kartosuwiryo dan pengikutnya menolak intruksi pemerintah untuk mematuhi
keputusan Renville dengan mengosongkan Jawa Barat. DI/TII di Jawa Barat ini
berhasil di tuntas melalui operasi Bharatayudha dengan taktik pagar betis.

Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo


b. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah
DI/TII di Jawa Tengah ini dipimpin oleh Amir Fatah yang di dukung
oleh organisasi militer Angkatan Umat Islam (AUI) pimpinan Kyai Sumalang
dan Batalyon 426. Untuk mengatasi, pemerintah menggelar operasi
penumpasan yang bernama operasi Gerakan Banteng Negara (GBN) yang
dipimpin oleh Letnan Kolonel A. Yani, dan dibentuk pasukan khusus yang
bernama Banteng Raiders

c. Pemberontakan DI/TII di Aceh


Tuntutan untuk mendirikan negara islam juga muncul di Aceh. Di
wilayah serambi mekah ini, Daud Beureuh berhasil mendirikan negara DI/TII,
dan menyatakan geraknnya merupakan bagian dari DI/TII Karto Suwirjo.
Munculnya DI/TII di Aceh ini didorong oleh ketidakpuasan rakyat Aceh
karena Aceh tidak dijadikan provinsi tersendiri, tetapi diubah menjadi salah
satu karesidenan Sumatera Utara. Selain itu, rakyat Aceh kecewa karena
syariat islam tidak boleh diterapkan di Aceh oleh pemerinrtah RI, padahal
sebelumnya, Presiden Soekarno berjanji untuk membolehkan penerapan
syariat islam di Aceh, sebagai syarat bergabungnya Aceh ke dalam RI.
DI/TII di Aceh ini baru dapat diselesaikan setelah diadakan Musyawarah
Kerukunan Rakyat Aceh pada tanggal 17-21 Desember 1962 yang digagas
oleh Pangdam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Jasin.

d. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan


Di Sulawesi Selatan, Kahar Mudzakar mendirikan DI/TII. Salah satu
pendorongnya adalah ketidakpuasan Kahar Mudzakar terhadap kebijakan
pemerintah yang akan membubarkan lasykar perjuangan pimpinannya, yaitu
Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Sebaliknya, ia menuntut kepada
pemerintah agar pasukannya dimasukan ke dalam APRIS (Angkatan Perang
Republik Indonesia Serikat) dengan nama Brigade Hasanuddin. Setelah
tertembaknya Kahar Mudzakar pada suatu operasi militer pemerintah bulan
Februari 1965, pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan mulai mengalami
kemunduran total.
e. Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan
DI/TII di Kalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hajar. Ia mendirikan
kesatuan militer yang bernama Kesatuan Rakyat yang Tertindas. Setelah
tertangkapnya pada tahun 1959, Ibnu Hajar kemudian diajukan ke
Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati pada bulan Juli 1963.
C. Peristiwa Gerakan 30 September PKI
1. Tahap Persiapan
Untuk melakukan pemberontakan, PKI membentuk suatu
biro khusus. Orang pertama dalam organisasi adalah Syam
Kamaruzaman, orang kedua Soepomo, dan orang ketiga adalah
Bono (Waluyo).
Sejak tanggal 6 September 1965 pimpinan biro khusus PKI
berturut-turut mengadakan rapat-rapat rahasia dengan
beberapa orang oknum ABRI yang telah lama dibina untuk
membicarakan persiapan pelaksanaan gerakan.
Dalam rapat-rapat tersebut telah dihasilkan beberapa keputusan
berikut ini :
a. Menyebarkan adanya isu bahwa Dewan Jendral yang akan
mengadakan perebutan kekuasaan pemerintah.
b. Menentukan sasaran gerakan bagi masing-masing pasukan.
1. pasukan Pasopati bertugas untuk menculik atau membunuh
para jenderal AD.
2. Pasukan Bima Sakti bertugas menduduki gedung RRI dan
gedung telekomunikasi.
3. Pasukan Gatotkaca bertugas mengoordinasikan kegiatan di
Lubang Buaya.
c. Menetapkan bahwa gerakan akan mulai dilaksanakan pada
hari Kamis malam tanggal 30 September 1965.
2. Tahap pelaksanaan.

Sebelum terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 tersiar


kabar bahwa kesehatan Presiden Soekarno mulai menurun dan
berdasarkan diagnotis dokter RRC ada kemungkinan Presiden
Soekarno akan lumpuh atau meninggal. Mengetahui hal seperti itu, DN
Aidit langsung mengambil suatu keputusan untuk memulai gerakan.

Rencana gerakan diserahkan kepada Kamaruzaman (Syam) yang


diangkat sebagai ketua Biro Khusus PKI dan disetujui oleh DN Aidit.
Biro Khusus itu menghubungi kadernya dikalangan ABRI, seperti
Brigjen Suparjo. Letkol Untung dari Cakrabirawa, Kolonel Sunardi dari
TNI-AL, Marsekal Madya Oemar Dani dari TNI-AU dan Kolonel Anwar
dari kepolisian.
Menjelang pelaksanaan G 30 S/PKI beberapa kali PKI mengadakan pertemuan rahasia
dengan tempat berpindah-pindah. Dari pertemuan itu PKI menetapkan bahwa Gerakan
30 September 1965 secara fisik dilakukan dengan kekuatan militer yang dipimpin oleh
Kolonel Untung, Komandan Bataliyon I Resimen Cakrabirawa (pasukan pengawal
Presiden) yang bertindak sebagai pimpinan formal seluruh gerakan.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 01.30 Letkol Inf. Untung diikuti Syam, Pono,
Brigjen Soeparjo, Kolonel Ing. Latief tiba di Lubang Buaya. Ia memberikan perintah
pelaksanaan kepada semua komandan pasukan agar segera berangkat menuju sasaran
masing-masing yang telah ditetapkan.

Sebagai daerah pemunduran adalah Pondok Gede karena daerah tersebut berada
dibawah tugas Mayor Udara Sujono, Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan
(PPP) dari pangkalan Halim Perdana Kusuma yang letaknya berdekatan dengan daerah
basis latihan Lubang Buaya. Untuk berbagai tugas dibentuklah beberapa pasukan, yaitu :
1. Pasukan Pasopati tugasnya menculik para Jenderal TNI-AD dan
membawanya ke Lubang Buaya.
2. Pasukan Bima Sakti dipimpin oleh Kapten Inf. Suradi bertugas menguasai
Jakarta dan membaginya menjadi enam sektor.
3. Pasukan Gatutkaca Berfungsi sebagai cadangan yang bertugas menampung
hasil penculikan serta melaksanakan pembunuhan dan penguburan korban-
korban penculikan. Korban-korban penculikan tersebut adalah enam perwira
tinggi dan perwira pertama Angkatan Darat yang dikubur dalam satu sumur
tua dan ditimbun dengan sampah dan tanah.

Ketujuh korban tersebut adalah : Letjen A. Yani, Mayjen MT. Haryono, Brigjen
Panjaitan, yang masing-masing dibunuh di rumahnya. Sedangkan Mayjen
Suprapto, Mayjen S. Parman, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Piere
Tendean dibunuh di Lubang Buaya.